
The Killer
Bab 3
Kepergian Lucas mendapat sorakan kekecewaan mereka yang haus akan pertunjukan si Preman Kampus dengan mangsa barunya.
"Ah, payah! Gitu aja nyerah, katanya Preman Kampus. Masa mundur dengan mudah," sindir salah satu dari penonton bullying.
"Ternyata Preman Kampus juga kalah sama jabatan ya, hahaha.."
"Get out of my way!" teriak Lucas sambil mendorong kerumunan tersebut, harga dirinya serasa terinjak. Baru kali ini dia dipermalukan sedemikian rupa, apa lagi di depan banyak orang.
"Kamu yakin lepasin si Cupu itu?" bisik Rian.
"Kita pergi dulu, aku nggak mau kelakuanku di kampus terendus oleh ibuku."
"Yaah, sayang banget. Padahal lagi seru-serunya." Rian kecewa atas keputusan yang diambil oleh Lucas. Sebenarnya dari mana dia dijuluki Preman Kampus, kalau masih berada di bawah bayangan ibunya.
"Bisa diam nggak! Kamu nggak tau 'kan seberapa mengerikannya ibuku kalau marah. Bukan hanya kartu kreditku yang diambil, tapi kebebasanku juga!"
Lucas Abraham, putra tunggal dari Rianti Abraham. Pemilik perusahaan PT Abraham's Tbk yang bergerak di sektor tambang batu bara. Rianti memberikan kebebasan kepada Lucas dengan satu syarat, jangan sampai menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan perusahaan peninggalan suaminya.
Sebab itu lah Lucas bullying yang dilakukan oleh Lucas terbatas. Biasanya dia melakukan aksi pembullyian hanya di sekitar kampus, di tempat yang tidak banyak di lalui orang. Kalaupun ada yang melihat kelakuannya, Lucas tinggal memberikan ancaman sehingga mereka tidak ada yang berani melaporkan dirinya. Namun sejak kedatangan Aaron Smith pertukaran mahasiswa dari Canada di kampusnya menjadi pemicu sumbu emosi di hati Lucas, Aaron memang tidak banyak bicara lantaran keterbatasan bahasa yang dia kuasai.
"Sebenarnya kamu kenapa sih, kok bisa benci banget dengan Aaron? Bukannya dia nggak pernah bikin ulah sama kamu?" tanya Rian.
"Aku benci dia, sejak dia datang ke kampus kita dia selalu menjadi perhatian orang. Apa lagi para dosen, hampir semuanya memuji kecerdasan si Cupu itu. Lebih parahnya lagi, kabar si Cupu itu bahkan sampai ke telinga ibuku. Kamu bisa bayangin betapa aku marahnya saat Ibu selalu membandingkan aku dengan si Cupu itu?"
Sejujurnya Lucas tidak perlu jawaban atas pertanyaannya, Rian yang anak petani biasa mana paham rasanya menjadi dirinya yang setiap saat di tuntut agar bisa mendapat nilai tinggi, supaya bisa meneruskan perusahaan keluarganya.
"Halah, gitu aja. Kirain masalah serius, tapi aku bisa sedikit memahami perasaanmu. Aku nih ya, nggak suka sama si Aaron itu karena dia terus menerus buat aku jengkel. Aku minta tolong ngerjain tugas tapi dia tidak mau," tutur Rian.
Rian masih terus mengoceh, dia pikir Lucas masih setia mendengarkan keluh kesahnya. Namun sayangnya, Lucas justru meninggalkannya sendirian di tengah lapangan basket.
"Luc! Sialan malah ditinggal!" Seru Rian, yang kemudian berlari menyusul Lucas.
Kemarahan di hati Lucas masih belum padam, kalau saja Bianca tidak mengacau, dia pasti sudah menghajar si Aaron sampai tidak bisa berangkat ke kampus selama seminggu. Ancaman Paul yang membawa nama Dekan Alex Miller, ayah Bianca. Lucas terpaksa harus mundur, jika tidak ingin dia berurusan dengan ibunya.
"Awas saja, aku akan membalas penghinaan ini jauh lebih menyakitkan dari apa yang aku terima hari ini." Seringai licik Lucas membuat Rian bergidik ngeri, pasti Lucas sudah mempunyai rencana balas dendam.
"Mampus tuh si Aaron, gak ada ampun bagi dia sekarang," gumam Rian.
Anda Mungkin Juga Suka





