
The Irresistable Hostage
Bab 3
Setelah mendapatkan teguran dari pria beraura dingin nan menyeramkan itu, Ariana memutuskan masuk ke dalam kamar yang telah diberikan untuknya. Cepat-cepat ditutupnya pintu itu dan dia berdiri menahan pintu dari dalam.
Napasnya menggebu marah dan kesal.
Tawanan, katanya? Huh! Kalau memang begitu, tidak lebih baik dari ditahan di kantor polisi tadi. Nasibnya masih belum berubah.
Ariana mendengus kesal dan berusaha mengatur emosinya. Saat itulah, dia baru sungguh-sungguh menatap ke sekelilingnya. Seketika, dia membelalak takjub.
Kamar yang diberikan untuknya sangatlah luas. Ini seperti presidential suit di hotel. Interior designnya pun mewah nan elegan.
Semuanya terlihat putih bersih dan berkilau. Bahkan furniturnya bergaya klasik dan sangat berkelas. Ariana berkeliling takjub melihat semua itu.
Jika ruangan di tempatnya berdiri saat ini adalah ruang tamunya, maka ruangan yang di dalamnya adalah kamar tidur. Dia masuk ke dalamnya dan menghempaskan dirinya di kasur mewah berseprai putih bersih itu dan menerawang ke langit-langit kamar.
Ya, setidaknya ditawan di tempat seperti ini masih lebih baik daripada sepuluh tahun di penjara di negara asing. Setidaknya, dia masih mempunyai kesempatan untuk bisa melarikan diri. Hal itu akan dia pikirkan nanti. Untuk sekarang, Ariana ingin menikmati kemewahan ini dulu.
Hari sudah sore saat itu. Ariana pun menuju kamar mandi dan mulai mengisi air di bathtub bermodel klasik berwarna kuning keemasan. Saat air hangat mulai memancar, Ariana menambahkan sabun bathbomb beraroma anggur yang ada di samping bathtub.
Aroma anggur yang lembut tiba-tiba terasa sangat membuai. Saat bathtub penuh dengan air, busa sabun juga ikut memenuhi bathtub.
Ariana melepas semua pakaiannya sampai ia benar-benar polos tanpa sehelai benangpun. Setelah menggelung rambut panjangnya ke atas, ia merendam dirinya ke dalam air berbusa itu. Kehangatan melingkupinya dan otot-otot tubuhnya mulai rileks.
Satu jam lebih Ariana berendam dan tertidur di dalam bathtub. Airnya juga telah mulai mendingin. Ariana terbangun dan bergegas keluar dari bathtub. Diraihnya handuk putih yang tergantung di tiang handuk.
Dia mengelap semua busa yang tersisa dan mengeringkan tubuhnya. Setelahnya, gadis berambut hitam panjang itu melangkah keluar kamar mandi, tanpa melilitkan handuknya di tubuh.
Tak disangka-sangka, pria beraura dingin menyeramkan itu berdiri di pintu kamar. Tubuhnya menjulang tinggi, semakin memancarkan aura intimidasi.
Ariana memekik kaget dan cepat-cepat menutupi tubuhnya dengan handuk yang di tangannya.
Agak terlambat memang. Pria itu telah melihat semuanya. Pun saat ditutupi handuk, Ariana hanya menutupi bagian depan saja, bukan melilitnya. Bagian samping tubuhnya dan belakang tidak tertutup.
"Kenapa kau masuk ke sini?" bentak Ariana dalam bahasa Inggris.
Pria di hadapannya itu malah tetang-terangan menelisik tubuh Ariana, dari atas sampai bawah. Dari bawah sampai atas kembali. Tetap, tiada senyum di wajahnya.
Namun, Ariana bisa menangkap bara api yang seakan terpercik di kedua matanya yang cokelat. Mata itu semakin tak bisa lepas memandang tubuhnya.
Setelahnya, kaki panjang pria itu mulai melangkah, mendekati Ariana.
Ariana terpaku di tempatnya. "Ma- mau apa kau? Jangan mendekat!"
Gadis itu mengeratkan genggamannya pada handuknya yang menutupi bagian depan tubuhnya. Justru itu semakin mempertontonkan bagian samping tubuhnya.
Lekuk pinggul Airana semakin jelas terpampang ditambah kaki jenjang Ariana, jelas menambah hasrat pria itu padanya.
Pria itu terus saja melangkah menuju ke Ariana. Pelan tapi pasti. Jarak antara mereka semakin tipis. Kedua mata pria itu berkilat-kilat penuh gairah memandangi Ariana. Hanya kilat sepatu pantofelnyalah yang mampu menandingi kilat hasrat di matanya.
Ariana tahu tubuhnya masih sangat terbuka dan terlihat di beberapa bagiannya.
Tetapi, pria itu telah berdiri di hadapannya hanya berjarak satu meter saja.
Ariana mulai bergerak mundur. Pria itu semakin maju. Sampai akhirnya Ariana terhalang dinding di belakangnya. Dia tak bisa mundur lagi.
Tanpa diduganya, pria itu malah mencengkeram rahangnya, membuat Ariana mendongak menatapnya. Tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat Ariana tak bisa bergerak selain menatap sepasang matanya yang kelam, dalam, dan dingin.
Wajah pria itu semakin mendekat pada Ariana. Dihirupnya aroma anggur dari tubuh Ariana dengan mata terpejam. Pria itu semakin dimabuk hasrat.
Ariana memberanikan diri berkata tajam pada pria itu, "Jangan macam-macam. Sekalipun kau dewa penyelamatku, aku takkan menyerahkan tubuhku padamu!"
Pria itu semakin erat mencengkeram rahang Ariana. Dia berdesis tajam seraya mengeratkan rahang kakunya. "Apa katamu? Kau sudah menjadi milikku. Aku menebusmu sangat mahal!"
"Hargaku jauh lebih mahal dari itu!" tukas Ariana berani, menatap langsung ke wajah pria itu.
Sebagai balasannya, pria menyeramkan itu mendengus ke wajah Ariana. "Kau pikir berapa harga tebusanmu tadi, hah? US $ 100.000."
Ariana terperangah. Sebesar itu? Jika dirupiahkan, sekitar 1,5 miliar rupiah? Itu sama saja setara dengan harga perusahaan ayahnya yang sedang krisis. Tetapi, tidak mungkin dia meminta ayahnya menjual perusahaan hanya untuk mengganti uang tebusannya pada pria ini.
Diteguhkannya hatinya. Dia berkata lagi pada pria mengerikan itu, dengan memasang raut galak. "Apa? Hanya segitu? Nilaiku lebih dari itu!"
"Nilaimu lebih dari itu? Hahaha, jangan mimpi kau! Kau pikir kau siapa? Tubuhmu saja bahkan hanya begini. Masih jauh dari standarku!"
Ariana tak terima dihina fisiknya. Dia menjawab dengan berani. "Itu karena kau hanya menilai dari fisik luarku saja! Kalau kau tahu inner valueku, uangmu itu takkan berarti apa-apa. Bahkan seluruh kekayaanmu pun takkan sebanding dengan nilaiku!"
"Hah! Kau berkhayal terlalu tinggi!" Kemudian, pria itu tertawa sinis.
Dan tanpa aba-aba lagi, bibir pria itu mulai menyapu telinga Ariana. Perlahan kemudian, turun ke leher gadis itu. Sebelah tangannya yang besar mulai menyentuh atas lutut bagian dalam Ariana, dan merayap naik hingga ke bagian pribadi Ariana, yang biasanya tertutup panties. Diremasnya Ariana di sana.
Ariana tercekat dan berusaha mendorong pria itu. Namun, pria itu seakan sudah kerasukan amarah yang bercampur gairah yang bergejolak. Tak dipedulikannya penolakan Ariana. Tubuh kuning langsat Ariana terlihat sangat manis dan menggoda. Pun ukuran dada Ariana yang biasa dan tidak berlebihan, juga empuk saat disentuh, semuanya begitu menggoda pria itu untuk mencicipinya.
Dengan tangan penuh tenaga yang di luar perkiraan Ariana, pria itu mendorongnya hingga terhempas ke atas kasur empuknya. Handuknya tersingkir dari atas tubuh Ariana. Kini, sepasang mata terbakar gairah itu semakin menggelap saat menatap tubuh polos Ariana.
Ditindihnya tubuh Ariana tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk melawan. Dilumatnya bibir gadis itu dengan penuh nafsu.
Ariana ingin melawan, tapi tenaga pria itu sangatlah besar. Dia tidak punya kesempatan untuk memukul pria itu sedikitpun. Sampai akhirnya tangan kasar pria itu mulai menyentuh dadanya.
Ariana seperti tersengat. Dia kembali meronta dan mendorong pria itu. Yang terjadi kemudian, malah kedua tangannya ditahan pria itu di atas kepalanya.
Gadis itu semakin susah melawan dengan kedua tangan di atas kepalanya.
Dadanya kini dengan leluasa dibelai oleh bibir pria itu. Ariana menahan rasa nikmat yang tiba-tiba melandanya.
Hingga saat akhirnya bibir itu mulai menjelajah leher Ariana, gadis itu mulai berteriak kembali. "Lepaskan aku, kau jahanam! Lepaskan aku! Jika kau lakukan ini, kau sama dengan binatang busuk!"
Mendengar makian kasar Ariana, pria itu terhenti dan menatapnya tajam. Ariana tak menyesal mengucapkan semua itu. Dia takkan menarik ucapanya lagi. Bagi gadis 22 tahun itu, akan semakin terhina dia jika membiarkan dirinya ternodai tanpa melawan sedikitpun.
Tetapi, itu pemikirannya sebelum pria itu kemudian melumat pucuk dadanya kembali. Kali ini dengan lebih rakus, membuat Ariana menggelinjang geli yang jauh lebih nikmat dari tadi. Tubuhnya seakan tersengat percikan listrik yang mengaliri sekujur pembuluh darah dan nadinya. Saat itu juga sesuatu dalam diri Ariana mulai merekah.
Rasa yang sangat asing menguasai Ariana, membuat gadis itu semakin gelisah. Tubuhnya yang ikut menikmati semua sentuhan pria itu membuatnya lebih ketakutan. Teriakannya melemah dan perlawanannya mulai surut,
Bibir pria itu masih bermain-main di dada Ariana. Rasa frustrasi melanda Ariana membuat gadis itu menangis malu.
"Hentikan! Aku akan mengembalikan uangmu. Hentikan ini!" Di sela sedu sedan tangisnya, Ariana semakin terisak.
Dalam sekejap, pria itu menghentikan aksi gilanya, dan menatap Ariana.
Hampir setiap malam dia melakukannya dengan berbagai wanita seksi di luar sana. Mereka semua menikmatinya. Bahkan meminta lagi, dan lagi. Tapi, gadis ingusan di depannya ini malah memohon agar dia berhenti? Tidakkah dia menikmatinya?
Seketika hasratnya merosot jatuh. Dia bangkit, menelisik tubuh polos Ariana sekali lagi, dan dengan rahang yang mengeras marah, pria itu melangkah cepat keluar dari kamar sialan itu.
Kelegaan melingkupi Ariana. Tetapi tangisnya semakin menjadi-jadi. Tubuh gemetarnya meringkuk di atas kasur bagaikan bergelung tanpa ada yang menjadi tempatnya bernaung.
Anda Mungkin Juga Suka





