
The hot chef and me
Bab 3
Jena mengecek semua hal yang harus ia pantau sebelum meninggalkan unit apartemennya. Walau hanya unit kecil model studio, sudah terasa nyaman untuknya tinggali seorang diri. Reese pun sempat berpikir untuk menyewa apartemen dekat dengan tempat Jena, namun Jena melarang, karena hobi sahabatnya itu yang suka membawa kekasihnya ke tempat ia tinggal, membuat Jena risih.
"Aku hari ini akan berkunjung ke food truck milik rekan lamaku Reese, dan, sepertinya, akun vlog ku mau aku hentikan. Aku harus mencari pekerjaan yang jauh lebih menghasilkan uang." Jena berbicara dengan Reese di ponselnya sambil berjalan menyusuri trotoar, ia baru melihat lowongan kerja sebagai marketing restoran di salah satu sudut kota Newyork, tak ada salahnya ia mencoba peruntungannya.
"Aku akan mencobanya, sebagai tenaga pemasaran, doakan aku berhasil Reese, demi menyelamatkan hidupku dari hutang kepada Ayah dan Ibu, dan kembali bangkit." Jena memasukan ponselnya ke dalam tas yang ia bawa setelah selesai berbicara dengan Reese. Ia harus berjalan menuju tiga blok lagi sebelum sampai.
Langkah kakinya begitu tegap juga yakin jika ia akan mudah mendapat pekerjaan, sifat optimis dan tak suka hanya menunggu datangnya keajaiban Tuhan, ia gunakan untuk mencari rejekinya. Berusaha. Dengan begitu, Tuhan pasti akan memudahkan rejekinya.
Ia berdiri bersama banyaknya manusia yang menunggu lampu lalu lintas berhenti di warna merah, ia akan menyebrang bersama-sama. Kerumunan manusia layaknya semut yang berjalan beriringan, sudah pemandangan biasa bagi Jena setelah pindah ke kota yang dijuluki tak pernah tidur itu, sejak beberapa tahun lalu.
Ia hanya gadis desa, kedua orang tuanya merupakan pemilik perkebunan apel, anggur dan ternak sapi di daerah negara bagian Amerika. Sangat kaya raya, hanya saja, tak suka dengan kehidupan kota yang menurut mereka terlalu liar dan bebas.
Jena memiliki dua Kakak laki-laki. Tumbuh menjadi gadis mandiri dan sedikit tomboy, membuatnya tak susah untuk hidup sendirian di kota, hanya saja, saat ia meminjam modal usaha kepada kedua orang tuanya, mereka mengingatkan Jena, jika gagal, maka ia harus pulang dan membantu bekerja di perkebunan dan peternakan, juga, bersiap di jodohkan dengan putra sang opsir polisi ternama di sana.
Wanita itu bertekad tak akan pulang sebelum berhasil menjadi sukses dan mengembalikan uang modal usaha yang ia pinjam.
***
Suara bel pintu restoran terdengar setelah Jena mendorongnya. Ia mengucap salam seraya berjalan masuk ke dalamnya. Tampak seorang pria dengan setelan jas licin datang menghampiri, Jena pun menyampaikan maksud dan tujuannya.
Tak butuh waktu lama, ia keluar restoran dengan wajah tak senang. Posisi yang ia inginkan baru saja terisi. Ia berjalan kembali, kali ini tujuannya cafe-cafe kecil. Ternyata hasilnya sama, sudah empat cafe ia datangi, namun tak ada lowongan atau, justru sudah terisi.
Ia mengusap wajahnya dengan tangan, duduk di toko kecil menjual minuman segar dan roti, ia memakannya dengan santai.
"Jena," suara sesorang menyapanya. Jena terbelalak. Ia beranjak dan menyapa pria tersebut sambil memeluknya.
"Sedang apa? Wajahmu tampak kusut, di mana Reese?" tanya pria bernama Maden, ia merupakan teman masa kuliah Reese, dari penampilannya, Jena bisa menyimpulkan jika Maden, sudah sangat sukses.
Mereka asik berbincang, Maden sesekali tertawa saat dengan semangat membara, Jena memaki mantan manajer keuangannya yang menggelapkan dana cafenya. Menyebabkan ia bangkrut seketika.
"Bagaimana jika, kau bekerja denganku?"
"Aku, di tempat mu? Tidak...tidak...tidak..., kamu bankir, dan aku hanya seorang food vlogger yang hobi masak. Jangan bergurau denganku Maden, tak lucu." Jena menyedot minumnnya.
"Bekerja sebagai juru masak, Jena, di rumah kami, karena begitu boros jika setiap hari memesan makanan di restoran dan juga seringnya makan terpisah dengan anggota keluarga." Lanjut Maden. Helaan napas juga terdengar berat dari Maden. Jena menatapnya dengan serius.
"Aku ingin merasakan makan pagi, dan malam bersama semua anggota keluargaku, bisakah kau bekerja denganku, Jena?" bujuknya.
Jena mengerjapkan kedua matanya, pikirannya kini terpusat pada satu kata "UANG", Jena pun menanyakan tugasnya apa saja jika ia menerima pekerjaan itu. Maden tak banyak meminta, hanya meminta Jena menyiapkan masakan untuk dua waktu itu dan, berbelanja sendiri. Maden dan keluarganya hanya menerima bersih dan cukup menikmati.
"Aku akan membayarmu cukup besar, Jena, tolong jangan kau tolak, kedua orang tua dan adikku juga pasti senang jika kau menjadi juru masak keluarga kami."
Jena terkekeh. Ia ingat, keluarga Maden memang baik kepadanya, Maden, walau satu perguruan tinggi dengan Reese - bukan seperti Jena yang hanya lulusan sekolah menengah atas - mereka saling mengenal dan berteman cukup baik.
"Apa kabar keluargamu, Maden? Sudah satu tahun sejak kau pindah bekerja, aku dan Reese tak mengunjungi kalian." Jena menunduk. Ia tersenyum seraya menikmati roti dan minumannya.
"Mereka baik. Yeah ... kau tau adikku bukan, Madeline, dia sudah masuk perguruan tinggi dan tetap manja. Apalagi ia sendirian di rumah, beberapa teman tak menyukainya, hanya karena Madeline pintar dan akan menjadi calon dokter sukses."
Jena terkekeh, ia ingat Madeline begitu cerewet dan senang menceritakan apa saja kepala Jena dan Reese. Ia mengangguk, menerima tawaran pekerjaan menjadi juru masak untuk keluarga Maden.
"Kapan aku mulai bekerja, Maden?" Wajah Maden begitu senang, ia beranjak seraya menatap wajah Jena dengan senyum mengembang.
"Sekarang. Kita belanja ke supermarket," ajak Maden sembari mengulurkan tangannya. Jena menyambut dan tersenyum.
"Kau sunggu malaikat baik hati yang dikirim Tuhan untuk menyelamatku Maden." Jena tersenyum penuh rasa syukur. Maden menepuk-nepuk punggung tangan Jena.
"Kau bisa mengandalkanku jika kau butuh sesuatu, Jena, aku akan selalu ada di sampingmu." Maden melirik Jena yang begitu riang. Sedangkan di dalam hati Maden, ia bersorak begitu bahagianya.
Selama ini, ia begitu mengagumi Jena yang begitu periang, ramah dan hangat. Sejak pertama kali ia dikenalkan kepada Jena oleh Reese, saat itu juga, Maden begitu jatuh hati kepada wanita itu.
Dengan menggunakan mobil mewah milik Maden yang berprofesi sebagai seorang bankir di bank besar di Newyork, mereka pergi menuju ke supermarket besar di pusat kota.
Maden dan Jena tertawa bersama saat mereka melakukan kegiatan itu. Jena terbelalak saat Maden memberitahu gaji yang akan di berikannya kepada Jena. Seribu lima ratus dollar, di luar uang belanja setiap harinya. Jena tak percaya, ia bahkan sampai memeluk leher Maden yang jelas membuat pria tersebut terkejut tak percaya dengan perlakuan wanita di dekatnya itu.
Wanita itu masih takjub, ia langsung menghitung dengan cepat berapa lama ia harus bekerja dengan Maden untuk bisa melunaskan hutang kepada orang tuanya dan tetap tinggal di apartemen kecil itu yang tergolong murah.
Anda Mungkin Juga Suka





