
The Devil
Bab 3
Hari ini adalah jadwal tanggal sesuai perjanjian kontrak hidup dengan Alardo.
Alina tepar seharian berbaring di atas kasurnya. Tubuhnya benar-benar lemah dengan nyeri yang luar biasa di setiap persendiannya. Bahkan untuk berbicara saja Alina tak mampu.
Dan seperti inilah Alardo ketika nona nya baru saja melewati tanggal akhir bulan.
Pagi-pagi sekali memasak sesuai selera nonanya, memberikan beberapa kebutuhan lainnya termasuk obat-obatan penghilang rasa nyeri. Sejujurnya Alardo bisa menghilangkan rasa sakit Alina dalam sesaat tetapi ia tak mau sebab Alardo yakin begitu i menggunakan kekuatannya lagi untuk Alina maka di bulan berikutnya Alina akan merasakan hal yang jauh lebih sakit lagi. Alardo tak ingin nonanya sebagai makanan menjadi kurang lezat karena hal itu.
“Pagi nona, tidak tertarik menonton acara televisi di bawah?”
Dengan telaten Alardo memberikan kompres di kening Alina sebab gadis itu tiba-tiba saja menjadi demam.
“Ah, tidak sanggup berbicara yah? Baiklah apa tadi malam saya terlalu keras terhadap nona?”
Iris mata biru Alina menatap Alardo bengis. Ingin menyumpal mulut Alardo sebab sudah melihat kondisi dirinya yang seperti ini Alardo masih saja bertanya.
“Sebenarnya saya sengaja, agar hari ini nona memerintah dan kembali bergantung penuh dengan saya. Rasanya akan semakin enak jika nona semakin menjual hidup nona dan mengandalkan saya setiap harinya.”
Tak mau semakin emosi Alina memilih untuk memejamkan kedua matanya. Ia benar-benar geram jika melihat wajah Alardo sekali lagi untuk pagi ini.
“Ingatlah nona, hal ini akan terus berlanjut sampai kematian nona tiba. Setelah itu kontrak hidup selesai dan saya akan kembali mencari target berikutnya agar teman saya semakin banyak kelak.”
Alina bukan orang bodoh. Ia tahu soal tujuan Alardo menawarkan diri. Bukan hanya sekadar mencari makan tetapi juga untuk menyesatkan. Alina tak tahu harus seperti apa lagi, dia kala itu tertekan dengan rasa takutnya kemudian menjalin kontrak dengan Iblis licik seperti Alardo.
Ingin mengulang kembali atau menyesal Alina pikir semuanya akan sia-sia. Sebenarnya Alina merasa sangat sakit pada bagian dadanya. Sebuah rasa sakit yang tak bisa ia jelaskan sampai saat ini.
Alina tak paham semua sikap Alardo padanya benar-benar hannyalah sebuah balasan atas nyawa nya yang ia berikan satu hari. Padahal Alina sendiri tak tahu sampai kapan ia akan bertemu ajalnya. Dan dengan hebatnya Alina justru memberikannya nya sehari setiap bulan.
“Baiklah nona sepertinya butuh istirahat. Mau saya bawakan buku? Siapa tahu nona bisa berbaring tanpa melakukan hal apa pun seperti manusia lemah.”
Alardo hilang dari pandangan Alina. Gadis itu kembali terdiam melirik buku yang tiba-tiba saja ada di atas perutnya.
Alina mendengus kesal, sekali lagi Alardo memberikan buku tentang sejarah dirinya serta ikatan kontrak hidup yang tengah ia hadapi saat ini.
Alina sebenarnya benci membacanya, semua tertulis jelas bahwa iblis seperti Alardo bertujuan menyesatkan manusia ke dalam neraka. Tak lebih dari kata sekadar peduli.
Namun Alina adalah sosok wanita yang mudah sekali jatuh cinta. Enam bulan hidup bersama Alardo dan di perlakukan bak seorang ratu membuat Alina merasa spesial. Walau terkadang mulut dan ucapan Alardo benar-benar tak bisa di maafkan.
Terkadang Alina sempat bertanya kepada Alardo jika dirinya melakukan aksi bunuh diri. Dengan jelas Alina mendengar bahwa Alardo sama sekali tidak keberatan, ia justru menyarankan hal tersebut kepada Alina ketika Alina merengek kesakitan pada setiap akhir bulan.
Sosok Alardo berjalan santai menuju singgah sana yang tak jauh dari hadapannya. Beberapa orang yang berdiri di tepi karpet merah memberikan hormat padanya yakni Alardo sang iblis terkuat dengan segala keistimewaan dan juga calon raja pewaris sang ayah.
“Enam bulan lamanya kau turun ke bumi dan baru kembali Al?”
Alardo langsung disambut pertanyaan dari sang ayah. Dengan santainya Alardo duduk di samping singgah sana ayahnya dan menjawab beberapa hal yang sejujurnya.
“Aku mengikat kontrak dengan manusia.”
Alardo menjawabnya dengan singkat. Mengangkat lehernya kemudian terlihat benang merah yang sama seperti di leher Alina.
Sang ayah benar-benar tak habis pikir. Untuk mencari makan saja Alardo harus pergi ke bumi dan melakukannya sendirian. Tentu seorang calon pewaris takhta tak pantas melakukan hal tersebut, lagi pula istana iblis memiliki banyak persediaan makanan untuk keluarga kerajaan.
“Al itu amat rendah! Bahkan Felix tak melakukan hal seperti itu untuk makannya.”
Ah, Felix adalah saudari tiri Alardo. Entah dari selir ke berapa Alardo sendiri lupa. Tetapi yang jelas dari banyaknya saudara Alardo hanya Felix sosok yang selalu ingin Alardo jatuh dan menjadi seseorang yang buruk.
Namun dengan kesombongan Alardo, pria, itu menganggap nya sebagai bukti bahwa Felix iri terhadap dirinya atas kehebatan yang ia miliki. Terlebih lagi Alardo adalah putra pertama.
“Felix bukan aku, dan aku lebih suka mencari makan dari jerih payahku sendiri. Ingat aku tak sama seperti ayah duduk beribu-ribu tahun di singgah sana ini tanpa melakukan hal apa pun. Ingat ayah tujuan kita menyesatkan para manusia! Jika ayah tetap diam seperti ini manusia-manusia di bumi itu akan menjadi baik! Kita harus merusak seluruh keturunan Adam!”
Alardo benar-benar kesal. Ia hendak pergi setelah kedatangan nya enam bulan lamanya namun ucapan Felix mencampuri urusannya dengan sang ayah membuat Alardo semakin geram.
“Ingatlah Al, kisah Pain sebagai iblis pengkhianat. Dia bahkan lebih kuat di banding dirimu, namun menjadi pecundang setelah jatuh cinta pada makhluk lemah seperti manusia itu.”
Sebagai seorang iblis yang menjalin kontrak hidup dengan manusia mereka tak boleh melanggar syarat dan aturan bahwa iblis tidak memiliki sebuah rasa yang di sebut cinta itu. Mereka akan mati dengan sendirinya karena perasaan tak terdefinisi itu.
“Itu bukan urusanmu Felix!” Alardo menegaskan. Manik matanya juga berubah menjadi merah.
“Aku hanya mengingatkan sebab kau terlihat begitu baik dengan manusia yang terjalin kontrak dengan mu. Melayaninya seperti ratu? Hei Al tidak ada hal itu di dalam kamus kontrak hidup manusia!”
Felix tahu sekali bahwa bibit cerita Pain akan kembali terulang pada sosok pewaris takhta Iblis klan terkuat. Hal ini tentu membuat Felix geli, sosok kakak tirinya itu menjadi pecundang jika memiliki perasaan yang di namakan cinta.
“Dia manusia kontrak ku! Jangan mengurus urusanku, pergilah ke tempat lain dan lakukan hal apa pun yang kau mau. Tetapi ingatlah aku bukan orang lemah, takhta akan tetap menjadi milikku.”
Setelah perdebatannya dengan Felix, Alardo kembali ke rumah Alina. Ingin melihat gadis itu tengah melakukan apa.
Dan benar saja saat Alardo tiba di sana Alina rupanya sudah tertidur lelap dengan buku dalam dekapannya.
Alardo berjalan santai, takut mengejutkan dan membangunkan Alina. Kemudian mengambil buku itu dan tanpa sengaja lembar yang tadinya Alina baca membuat Alardo ikut membacanya.
“Iblis tak pernah memiliki perasaan serumit cinta, mereka tidak akan jatuh cinta.”
Kalimat sederhana. Namun Alardo tak terlalu memedulikannya. Ia menghilang bersama buku itu untuk melakukan persiapan makan malam Alina.
“Alina yang malang.”
Anda Mungkin Juga Suka





