
The Beautiful Replacement
Bab 2
ARCHE Salaras Hadiratma adalah anak bungsu dari Saka Byakta Hadiratma—seorang pengusaha besar yang namanya mengisi daftar investor beberapa perusahaan terkenal.
Seraphine tersedak cola yang dia sesap kala dia membaca layar laptop yang menunjukan pekerjaan Arche.
"Han, si Arche-arche ini dirut PINS lho!" teriak Sera. PINS adalah perusahaan media nomor 1 di dalam negeri. Perusahaan itu cukup bergengsi dan siapa-siapa yang memegang posisi penting disana tentu adalah orang-orang hebat.
Sera mengingat lagi wajah Arche. Rasanya lelaki itu masih muda, terasa tak masuk akal dirinya bisa menduduki posisi puncak di rantai perusahaan sebesar PINS. Terasa prestisius. Kemungkinan besar, selain kaya raya Arche Salaras juga memiliki otak ber-IQ tinggi.
"Lah emang, lo kerja jadi public pigure kok aneh enggak tahu," timpal Hani meledek.
Sera mengarahkan kursor tuk meng-klik opsi gambar. Seketika foto-foto Arche yang dominan memakai pakaian formal terlihat jelas di depan mata. Sera menopang dagu menikmati ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu.
"Dia tuh sangat sangat kaya say, anak laki satu-satunya," tambah Hani. "Mana ganteng lagi, buktinya lo kesemsem kan!"
Ledekan terakhir Hani berdasar pada apa yang sedang Sera lakukan; menikmati kerupawanan wajah Arche.
"Nope. Gue liatin dia karena lagi cari alasan kenapa laki-laki sesempurna ini mau sama Sari," gumam Sera.
"Emang Sari-sari tuh siapa sih?"
"Kakak kandung gue."
"WHAT?"
"Secara darah ya gue saudaranya, tapi udah sejak lama gue anggap dia mati." Sera mengedikkan bahunya. "Gue enggak mau ngomongin dia jadi jangan bahas lagi!"
"Okay, okay," sahut Hani menurut.
Sera menutup laman pencarian di laptopnya. Sudah cukup informasi yang dia dapatkan. Arche Salaras Hadiratma benar-benar lelaki kaya raya. Bagi Sera itu sudah cukup.
Sekarang Sera ingin fokus membuat catatan-catatan yang akan dia katakan kepada Arche besok nanti. Ya, Arche menjadwalkan besok sore untuk membicarakan persoalan hak asuh.
"So, nanti gue harus gimana pas ketemu sama si Arche?" tanya Sera naik ke atas ranjang untuk bergabung dengan Hani.
Hani sedang menonton serial romance dengan kaki saling menopang. Perempuan itu menoleh menatap Sera.
"Gue enggak bisa ngasih saran karena gue belum tahu apa yang ditawarin Arche."
"Kemarin sih bilangnya Sari bikin surat wasiat kalau dia mau ngasih hak asuh anaknya ke gue. Kayaknya anaknya masih kecil."
"Bisa jadi Sari juga ngasih warisan. Maybe sih."
Wajah Sera semakin berbinar-binar.
"Tapi kok bisa sih Sari ngasih hak asuh ke lo kalau bapak anak itu masih hidup?"
"Mungkin si Arche ini gay, atau KDRT," jawab Sera asal. "Makanya Sari lebih percaya sama gue, padahal gue harusnya jadi list terakhir orang yang dia mintai bantuin ngurus anak."
Hani bergidik ngeri mendengar jawaban nyeleneh Sera.
"Gue jadi makin bingung Ra, intinya lo ambil celah yang nguntungin lo. Lo urus tuh anak kalau anak itu punya warisan atau enggak nafkah bulanan gede."
"Dan?"
"Dan lepasin anak itu kalau Arche ngerasa lo enggak layak, dengan syarat dan ketentuan pastinya. Intinya ambil yang duitnya gede."
***
DENGAN kemeja flanel berwarna biru dongker yang dipadupadankan dengan jeans semata kaki, Lovita Seraphine sudah datang di restoran yang sudah ditentukan sejak awal.
Dirinya datang 5 menit lebih awal, sebuah hal prestisius.
Dia memang penuh semangat jika berhubungan dengan uang.
"Halo!" Seorang lelaki berkumis tipis tiba-tiba berdiri di depan Sera dan menyapa ramah. "Ibu Lovita?"
Sera menunjuk dirinya. Yah, dia Lovita. Mengangguk, Sera balas menyapa ramah. "Bapak siapa ya?"
"Wah, Ibu mirip sekali dengan Ibu Sari," kata lelaki itu tersenyum tipis. "Perkenalkan, saya Mario, pengacaranya Pak Arche."
Mario mengulurkan tangan. Sera menjabatnya demi kesopanan, kendati di dalam hati dia benar-benar jengkel sebab Arche tidak datang. Lelaki itu hanya mengirimi pengacaranya.
Seriously? Ini urusan anaknya! Apa memang dia sejatinya tidak menyayangi anaknya?
"Maaf Pak Mario, jadi Pak Arche tidak datang?" tanya Sera.
"Iya Bu, Pak Arche berhalangan hadir," jawab Mario meringis. "Tapi saya sudah lebih dari cukup mewakili suara beliau."
"Awalnya saya pikir ini akan jadi obrolan sesama anggota keluarga, alih-alih mengutus Bapak dan menjadikan pertemuan ini benar-benar kesepakatan," keluh Sera pura-pura kesal. Seolah-olah dia peduli dengan nasib anak Sari, padahal faktanya dia hanya memperdulikan uang.
"Iya Bu, mohon maaf, Pak Arche sedang ada urusan di luar kota."
"Kemarin malam dia ada waktu ke bar, kenapa ketika benar-benar menjanjikan waktu malah tidak datang? Ups, atau jangan-jangan dia memang kebetulan sedang ada di bar?" Sekarang Sera benar-benar jengkel. "Padahal jika memang urusannya melibatkan Pak Mario, sejak awal saja Pak Mario datang ke saya."
"Sebenarnya saya sudah mencoba menghubungi Ibu lewat manager Ibu, tetapi nomor saya diblokir. Pak Arche memutuskan mendatangi Ibu setelah beliau tahu posisinya malam itu tidak jauh dari bar."
Oh seperti itu, gumam Sera tak benar-benar tertarik mendengar penjelasan Mario.
"Mohon maaf jika ini membuat Ibu tidak nyaman," kata Mario meringis.
"Okay, to the point saja! Mana surat wasiatnya?"
"Saya akan membacakannya—"
"Saya ingin mendapatkan bentuk aslinya! Bukan dibacakan!" seru Sera memotong ucapan Mario.
Mario terlihat gugup. "Oh maaf Bu, tetapi file asli surat wasiat itu ada di tangan Pak Arche, saya hanya akan menyampaikan inti dari suratnya."
"Sebutkan alasan kenapa saya harus percaya bapak menyampaikan isi yang sebenarnya tanpa ada kekeliruan?" tanya Sera.
"Karena saya hanya akan menyampaikan apa yang saya ketahui," jawab Mario dengan suara tegas. "Surat itu tidak hanya berisi informasi tentang Ibu Sera, tetapi beberapa pihak. Alasan Pak Arche tidak mau memberitahukannya kepada Ibu Sera tentunya karena menyangkut privasi beliau juga. Saya harap Ibu Sera mau bersikap kooperatif dengan mendengarkan apa yang menjadi hak ibu saja."
Sera mendengkus kencang setelah Mario menyudahi kalimatnya. Sera benar-benar membenci pengacara! Mereka pintar bersilat lidah. Sera tak yakin dia bisa menawar harga kesepakatan jika memang harus lekas diputuskan.
"Jadi apa yang menurut Bapak menjadi hak saya dalam surat itu, huh?" tanya Sera ketus.
"Ibu Sari menyerahkan hak asuh Nona Summer kepada Ibu Sera," jawab Mario.
"Oh jadi nama anak itu Summer? Berapa umurnya?"
"Nona Summer baru 3 tahun."
"Kasihan sekali," cemooh Sera. "Apa dia ngasih alasan kenapa harus saya?"
"Karena Ibu satu-satunya keluarga Ibu Sari. Itu yang ditulis beliau."
Sera mendengkus kencang. Masalah gini aja gue dianggap keluarga, gerutu Sera.
"Okay begini aja deh ya Pak Mario, saya mau to the point. Saya udah lama enggak komunikasi sama Sari, apa dia ninggalin warisan?"
Mario tercengang.
"Maksud saya, warisan buat Summer. Kalau saya jadi wali dia, otomatis saya yang pegang kan uangnya?" seru Sera menambahkan.
"Ibu Sari tidak menurunkan warisan apapun Bu."
Sera mengumpat keras. Tidak bisa ditahan.
"Terus biaya hidup anak itu?"
"Tentunya ada nafkah dari Pak Arche."
Nah, nah! Ini yang Sera harapkan!
"Berapa?" tanya Sera to the point. "Anak orang kaya dia pasti banyak pengeluaran, kan? Makannya juga enggak sembarang, dan—"
"Begini Bu, saya mewakili Pak Arche ingin menawarkan kerjasama kepada Ibu."
Sera berbinar menunggu apapun yang akan diucapkan Mario.
"Pak Arche ingin Ibu menyerahkan hak asuh sepenuhnya kepada Pak Arche, namun Ibu tidak perlu khawatir sebab ada keuntungan yang akan Ibu terima."
Mario kemudian menyebutkan nominal uang yang akan Sera dapatkan ketika menandatangani surat perjanjian dimana disana ditulis, Sera tidak akan mengambil Summer Hadiratma dari Arche. Sera benar-benar terkejut mendengar nominal uang itu. Namun Sera tidak bodoh, dia yakin bisa menghasilkan uang lebih banyak jika memutuskan mengurus Summer.
"Mohon maaf Pak, dengan ikatan persaudaraan saya dan Sari yang amat kental, saya menolak tawaran ini karena ini termasuk penghinaan. Summer adalah keponakan saya, satu-satunya keluarga saya, jadi saya akan mengambil hak asuh Summer," jawab Sera pura-pura tersinggung sudah ditawari perjanjian.
Sera tersenyum dalam hati. Dia benar-benar senang hendak menjadi lintah penyedot harta.
Arche Salaras Hadiratma adalah Tuan Muda yang harus dimanfaatkan.
"Jadi itu keputusan ibu?"
"Iya," jawab Sera tegas.
"Sebelum itu, saya akan menjelaskan beberapa keuntungan jika Ibu menerima perjanjian yang sudah Pak Arche buat—"
"Tidak perlu, saya akan mengurus Summer. Dan kalau si Arche itu enggak suka keputusan ini, dia sendiri lah yang harus datang menemui saya!" seru Sera dengan tegas. Suaranya tak terbantah. Begitu menggebu-gebu.
Sera ingin menegaskan jika dirinya tidak main-main hari ini. Dia memang tak berpendidikan, kasta akademiknya sangat jomplang dengan Arche maupun Mario—akan tetapi jangan salah, untuk urusan uang Sera benar-benar berusaha sekuat tenaga tuk mendapatkannya.
Anda Mungkin Juga Suka





