
The Bastard Bodyguard
Bab 2
Pertikaian antara paman dan keponakan berlangsung lama. Oliver yang terpancing emosi memukul Rasic. Hingga menimbulkan luka lebam di wajah pria tua itu.
"Aku sudah muak denganmu! Sejak dari kecil kau selalu memukulku jika aku tidak menurut perintah sialanmu, sekarang aku bukanlah anak kecil yang selalu kau tindas, aku tahu apa yang harus aku lakukan tanpa kau suruh! Berhentilah memerintahku atau aku yang akan menjait mulut sialanmu itu!" ujar Oliver, geram terhadap Rasic.
Setelah puas, Oliver bangu dari tubuh sang paman. Meninggalkan pria tua yang sudah tak berdaya atas pukulan Oliver.
"Keparat! Jika bukan karena aku. Kau sudah membusuk di neraka!" ujar Rasic, membalas perkataan Oliver.
Oliver berhenti, lalu ia membalikan tubuhnya. Menatap Rasic, mencemooh sambil berdesis. "Cih...! Aku juga tidak berharap diselamatkan oleh pria pencundang seperti dirimu yang hanya tahu balas dendam tapi sendirinya tidak bisa membalas semua perbuatan pria itu pada ibuku, kau pria yang tidak bisa diandalkan Rasic, lebih baik aku tidak mengenalmu sebagai pamanku!"
Oliver pun pergi meninggalkan sang paman. Pergi dari tempat terkutuk itu, dengan membawa dendam yang sudah mendarah daging dalam dirinya.
Ia berharap kepergiannya dapat bertemu dengan keluarga yang telah menghabisi ibunya. Walaupun pria itu berada di ujung dunia Oliver akan mencarinya dan membuat pria itu membayar atas kematian sang ibu.
Setelah Oliver keluar dari tempat tinggalnya selama ini, ada seseorang yang memperhatikan Oliver. Gadis yang diam- diam mencintai pria dingin itu.
"Oliver, kau mau kemana?" tanya gadis itu bernama Maria.
Sekilas Oliver hanya melirik, tidak menggubris pertanyaan Maria.
"Oliver aku bertanya padamu! Kau mau kemana? Kenapa kau membawa tas? Apa kau ingin meninggalkanku?"
"Diamlah Maria! Kau tidak perlu tahu kemana aku pergi."
"Apa aku tidak ada artinya buatmu? Kau meninggalkan aku begitu saja. Tanpa memberitahuku!" ujar Maria. Sendu.
"Aku akan kembali setelah urusanku selesai." tanpa melihat wajah Maria, Oliver pergi meninggalkan wanita itu.
Sementara Maria menatap kepergian Oliver, ada rasa kecewa dalam dirinya di tinggal pria yang di cintai tanpa memberitahu kemana Oliver pergi.
••••
Oliver memutuskan untuk mencari pria yang sudah menjadi penyebab kehancuran hidupnya selama ini. Ia bertekad pergi ke kota besar dengan menggunakan motornya.
Perjalanan dari Dakota menuju Los Angeles memakan waktu 24 jam yang akan Oliver tempuh.
Untungnya Oliver membawa sejumlah uang yang cukup banyak untuk membiayai hidupnya di kota besar, dan memungkinkanya untuk bertahan hidup sebelum mendapatkan pekerjaan disana.
Untuk tempat tinggal mungkin Oliver akan tinggal dengan salah satu sahabatnya, sebelum ia mendapatkan flat untuk di tinggalinya selama berada di Los Angeles.
Hari pun mulai berganti malam. Sudah hampir seperempat perjalanan Oliver tempuh. Kini, ia sedang mengis bahan bakar untuk motornya dan beristirahat sejenak mengisi tenaga tubuhnya.
Untung saja di tempat pengisia bahan bakar terdapat mini market, disana Oliver membeli beberap makanan instans untuk disantap. Samar- samar ia mendengar seseorang sedang bercerita tentang orang yang dicarinya selama ini.
"Apa kau sudah mendengar berita kali ini?" kata seorang pria bertanya pada temannya.
"Berita apa?"
"Apa kau tidak tahu? Putri bungsu dari salah satu keluarga berpengaruh di negara ini sedang mencari seseorang khusus untuk melindungi putri bungsunya."
"Maksudmu? Putri bungsu dari keluarga Franklyn!"
"Siapa lagi kalau bukan keluarga pengusaha itu! Kau tahu keluarga Franklyn akan membayar mahal jika bisa menjaga putri bungsu kesayangan Franklyn."
"Tapi sayangnya aku tidak berminat!" ucap pria itu, menimpali ucapan temannya yang membahas keluarga Franklyn.
"Kenapa kau tidak berminat! Pria di luar sana berbondong- bondong melamar pekerjaan itu. Tapi kau–!" tunjuk teman pria itu. "Kau itu pria aneh! Aku saja ingin sekali melamar, tapi sayangnya aku tidak punya keahlian bela diri, seperti dirimu."
"Ck...! Sudahlah tidak usah membahas lagi. Lebih baik fokus saja bekerja."
Setelah perbincangan kedua pria itu. Mereka kembali bekerja. Dan datanglah Oliver yang tersenyum penuh arti.
Oliver menghampiri mereka yang sibuk di kasir. Melayani para pengunjung yang datang.
Setelah sekian lama mengantri Oliver membawa barang belajaannya untuk di hitung.
"Good evening, sir! Apa tuan ingin menambah lagi barang belanjaannya?" tanyanya, ramah.
"Tidak!" ujar Oliver.
Kasih mini market pun mulai menghitung setelah mendengar Oliver tidak ingin menambah barang belanjaannya.
Setelah menghitung totol barang belanjaan. Dan menyebutkan total belanjaan. Oliver mengeluarkan lembaran dollar dan memberikan pada kasir.
"Bolehkah aku bertanya?" kata Oliver.
"Apa yang ingin anda tanyakan, tuan?"
"Aku mendengar pembicaraan kalian tadi. Apa aku boleh pekerjaan apa yang dibutuhkan oleh keluarga itu?"
"Oh, tuan ingin melamar menjadi bodyguar?"
"Bodyguard?" tanya Oliver lagi.
"Ya tuan, keluarga Franklyn sedang mencari bodyguard untuk putri bungsunya. Dan gaji yang di tawarkan sangatlah besar! Jika saja saya bisa bela diri mungkin saya akan melamar pekerjaann itu!"
Dengan seulas senyuman tipis tanpa ada yang menyadari, Oliver tertarik dengan pekerjaan itu. Ia pun bertekad untuk melamar pekerjaan untuk menjadi bodyguard putri bungsu Franklyn.
Lalu, Oliver meminta pria itu untuk memberitahu alamatnya.
"Bisakah kau memberitahu dimana alamatnya?"
"Tuan mau melamar di sana?" tanya pria itu, sedikit tidak percaya.
"Ya, aku akan melamar menjadi bodyguar!
"Tunggu sebentar tuan. Aku akan mengambil kertas dan pulpen."
Pria itu pun membubuhkan alamat itu dan memberikannya pada Oliver.
Sementara Oliver tersenyum senang. Ia sudah mendapatkan target yang dicarinya. Hanya tinggal menunggu saatnya yang tepat untuk membalas semuanya pada keluarga sialan itu.
Setelah mendapatkan alamatnya. Oliver langsung menancapkan gas. Mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata- rata.
••••
Hari mulai berganti, setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Oliver tiba di Los Angeles dan kini ia berada di salah satu flat tempat sahabatmya tinggal.
"Aku pikir kau tidak jadi datang?" tanya sahabat Oliver, melihatnya di luar.
"Ck...! Apa kau akan tetap membiarkanku berdiri terus di depan flatmu!"
"Ah... Hampir saja aku lupa! Masuklah, anggap rumahmu sendiri!"
Oliver masuk ke dalam. Setelah mendapat izin dari sahabatnya dan duduk di sofa kecil.
Sekilas Oliver mengamati setiap ruangan flat milik sahabatnya. Tidak ada yang buruk dan cukup untuk menumpang selama beberapa hari kedepan.
Namun, sahabat Oliver sejak tadi melihat pergerakan matanya. "Seperti yang kau lihat. Flatku memang kecil tapi percayalah tempat ini sangat nyaman untuk di tempati. Penghuni- huni disini pun tidak pernah rusuh dan mencampuri urusan orang lain," ujar sahabat Oliver bernama Justin.
Pria bertatto dan penuh piercing di bibir dan telinganya. Menjelaskan pada Oliver tentang kenyamanan flat yang di tempati Justin saat ini.
"Bukankah itu bagus! Tidak ada satu orang pun mengusik kedamaianmu!"
"Memang tidak ada. Tapi sayangnya flat ini sangat sepi. Jarang ada yang mau dengan flat kumuh seperti ini. Mereka yang tinggal di flat ini hanya bertahan satu bulan saja."
"Sangat bagus! Aku suka dengan flatmu. Apa kau bisa menyewakan satu flat disini?" tanya Oliver. Meminta Justin untuk menyewa tempat tinggak Oliver di Los Angeles.
"Aku akan bicara pada pemiliknya lusa."
"Okay! Aku akan menunggu!
Oliver pun kembali terdiam. Memikirkan caranya agar ia bisa menjadi bodyguard dan membalas dendamnya.
Justin melihat sahabatnya pun bertanya pada Oliver. Tidak seperti biasanya Oliver terdiam. "Whats wrong dude!"
"Hanya sedikit lelah! Bisakah aku kau membiarkan aku beristirahat sebentar," kata Oliver. Dengan sebuah alasan menutupi sesuatu yang sedang di rencanakannya.
"Beristirahatlah! Aku akan keluar sebentar! Jika kau menginginkan sesuatu katakan saja!"
"Pergilah! Dan bawakan aku minuman!" pinta Oliver. Hanya itu yang diingingkannya.
"Okay, aku akan membawanya!"
Justin keluar dari flatnya. Entah pergi kemana. Mungkin ada pekerjaan yang harus dilakukan sahabatnya itu.
Selepas kepergian Justin. Oliver tidak benar- benar tidur. Memikirkan, bagaimana ia sampai kesana tanpa ada satu orang pun yang curiga atau mengetahui niat busuknya. Akan tetapi, berpikir secara logika. Mana mungkin pria itu tahu tentang dirinya, sedangkan pria itu hanya mengenal ibunya saja. Bukan dirinya.
Lantas, Oliver pun tersenyum setelah mendapatkan sebuah ide untuk rencananya.
"Sebentar lagi semuanya akan terbayar lunas. Dan aku pastikan kau akan mati di tanganku!"
Anda Mungkin Juga Suka





