
The Bastard Bodyguard
Bab 3
Oliver memutuskan untuk keluar, hanya untuk mencari udara segar. Berjalan- jalan sekitaran tempat itu. Mungkin membawa moodnya kembali membaik.
Dengan menggunakan hoddie hitam dan jeans panjanh serupa dengan warna hoddie yang digunakan Oliver. Menambah ketampanannya berkali- kali lipat.
Baru saja Oliver keluar dari dalam flat milik sahabatnya. Seorang wanita memperhatikan dirinya. Dengan tatapan kagum dan menggoda.
Oliver tidak peduli pada wanita itu. Tidak berminat membalas tatapan mata menggoda dari wanita yang tengah menatapnya.
Akan tetapi. Siapa sangka wanita yang berada di depan flat sahabatnya menegur dan menyapa Oliver. "Hai, apa kau orang baru di flat itu?"
Oliver tak menggubris sapaan dan pertanyaan dari wanita itu, tanpa menoleh atau berhenti.
"Cih! Dasar pria aneh!" lanjut wanita itu, setelah sapaan dan pertanyaannya tidak di balas oleh Oliver.
Namun, satu yang membuatnya wanita itu penasaran dengan Oliver, sikap cueknya membuat wanita bernama Oline ingin tahu siapa Oliver sebanarnya.
••••
Setelah berada di luar flat sahabatnya, Oliver memutuskan untuk berjalan- jalan tak jauh dari sana. Sekaligus mencari makanan untuk mengisi perutnya.
Oliver tidak membawa motor kesayangannya. Ia ingin melihat- lihat seputaran kota besar ini. Lingkup kota yang merupakan pusat dari pefilman dunia.
"Not bad!" ujar Oliver setelah berjalan lumayan jauh dari flat sahabatnya.
Kemudian Oliver terus berjalan mencari cafe atau kedai untuk mengisi perutnya.
Tetapi, siapa sangka ada seseorang menabraknya, dan membuatnya terjatuh.
"Shit!" umpat Oliver.
"Oh, i'm so sorry! Aku tidak sengaja!" ucap orang yang menabrak Oliver.
Oliver tidak menyangka yang menabrak dirinya adalah seorang wanita berparas cantik dan membuat Oliver kagum dengan kecantikan wanita itu.
"Apa kau tidak punya mata!" Oliver tersadar dari lamunannya. Dan ia menatap wanita itu, tajam.
"Hah! Tuan, aku tidak punya waktu untuk meladeni dirimu! Dan maaf jika aku membuatmu terjatuh, tapi sepertinya kau tidak mengalami luka!" ucap wanita itu.
"Sialan!" umpat Oliver, tidak terima ucapan wanita itu.
Wanita yang menabrak Oliver terus menoleh kebelakang. Tidak mendengar ucapan terakhir pria yang di tabraknya.
"Oh shit!" umpat wanita itu, melihay tiga orang berbadan besar mengejarnya.
Wanita itu pun berlari tanpa membangunkan Oliver yang tengah melihatnya berlari menjauh.
Terdengar suara teriakan meneriaki nama wanita itu, lantang. Memanggil nama wanita itu dengan sebuatan nona muda.
"Nona muda, berhenti!" ucap salah satu pria berbadan besar itu.
"Berpencar! Jangan sampai tuan besar marah dan menghukum kita!" ujar pria berbadan besar lainnya. Meminta temannya berpencar.
Akan tetapi, salah satu dari mereka menghampiri Oliver dan bertanya padanya. "Tuan, maafkan nona muda yang telah menabrak anda! Jika terjadi sesuatu atau anda terluka, anda bisa datang dan meminta tanggung jawab pada tuan besar," ucapnya menyerahkan kartu nama.
"It's okay!" balas Oliver mengambil kartu nama itu. Tanpa membaca.
Lantas, Oliver memasukan kartu nama ke dalam saku celananya. Dan pergi dari jalanan itu.
••••
Kedai D'Orion.
Sekitar lima belas menit dari tempat Oliver di tabrak. Kini, ia berada di sebuah kedai.
Oliver memasan makanan untuk mengisi perutnya yang lapar dan segelas bir.
Hanya sekitar lima belas menit makanan dan minuman yang dipesan Oliver datang. Ia pun langsung menyantap makanannya tanpa menunggu lama.
Teringat sesuatu yang diberikan oleh pria berbadan tegap tadi, Oliver merogoh saku jeans hitamnya. Disela- sela menyantap makanan.
Betapa terkejutnya saat membaca kartu nama itu. Tersenyum penuh arti, seakan Tuhan memberikannya izin untuk membalaskan dendamnya.
"Tanpa perlu mencari. Tuhan, telah membukakan pintu untukku," desis Oliver. Bersmirk.
"Well, sepertinya aku memang harus kesana. Dan tujuan yang sudah aku susun rapi."
Oliver pun melanjutkan makanannya. Dengan senyuman yang sulit di artikan oleh orang- orang yang melihatnya.
Setelah ia menghabiskan makanannya. Oliver pun membayar dan segera pergi dai kedai itu. Bersiap, untuk esok hari pergi ketempat orang yang membuatnya seperti ini.
••••
1 hari kemudian.
Oliver bangun lebih awal pukul enam pagi. Hanya untuk mendatangi pria itu.
Ya, Oliver sudah memikirkan matang dan menuntaskan semua dendamnya. Dengan mendatangi kediaman Franklyn sebagai awal rencana yang sudah dibuatnya.
Sekitar tiga puluh menit, Oliver sudah siap dengan pakaian rapi dan siap berangkat menuju kekediaman Franklyn.
Perjalan dengan menggunakan motor kesayangannya. Tidak membuat Oliver kesusahan mencari alamat tersebut.
Hanya memakan waktu kurang dari satu jam, Oliver sampai di kediaman Franklyn. Melihat betapa megahnya mansion keluarga yang dianggap menjadi penghancur hidupnya.
Di luar mansion Franklyn terdapat lima penjaga, Oliver mematikan mesin motornya dan menghampiri kelima penjaga itu.
"Morning, apa benar di sini tempat kediaman keluarga Franklyn?" tanya Oliver, berpura- pura bersandiwara.
"Ya, benar."
"Bisakah aku bertemu dengan pemilik mansion ini?" tanya Oliver lagi. Masih dengan kepura- puraannya.
"Maaf, anda siapa?"
"Kemarin saya mendengar bahwa tuan rumah sedang mencari bodyguard untuk putrinya, dan maksud kedatangan saya kemari ingin melamar menjadi bodyguard."
Penjaga mansion itu pun melihat penampilan Oliver dari atas hingga bawah. Tak ada kekurangan satupun, cocok jika menjadi bodyguard nona mudanya.
Lantas, penjaga itu membuka gerbang dan menyuruh Oliver masuk ke dalam. Dan menunggu sang tuan rumah untuk menemuinya.
Tak berselang lama, pria paruh baya yang masih gagah turun dari tangga bersama wanita yang terlihat masih cantik walau umurnya sudah tidak lagi muda.
Ya, pria itu adalah Lucas Samuel Franklyn bersama istri tercintanya Ashley Gabriella Franklyn yang tersenyum ramah pada Oliver.
"Maaf menunggu lama. Ada apa anda mencari saya?" tanya Lucas.
Oliver tidak menjawab langsung, ia nampak menahan emosinya. Namun, ia berusaha untuk tidak gegabah dalam bertindak. Mencoba untuk tidak menghajar pria tua di depannya.
"Oh, ya maaf. Ke datangan saya kemari ingin menjadi bodyguard untuk putri anda," ujar Oliver. Menyampaikan maksud ke datangannya.
"Apa kau tahu pekerjaan yang kau inginkan?" tanya Lucas. Menatap Oliver lekat.
"Ya tuan, saya tahu pekerjaan yang akan saya lakukan. Dan saya siap untuk menjaga dan melindungi putri anda dua puluh empat jam penuh."
"Apa kelebihanmu? Aku tidak ingin putriku dalam bahaya untuk kesekian kalinya."
"Tuan, saya tidak perlu menjelaskan tentang kelebihan yang saya miliki. Saya hanya ingin menunjukan bahwa saya pantas untuk menjadi bodyguar putri anda," jelas Oliver.
"Kau tahu anak muda. Banyak pria yang ingin menjadi bodyguard putriku. Tapi nyatanya pria- pria itu hanya beralibi. Tujuan utamanya adalah memikat putriku. Aku suka pria semacam itu, apa kau paham!" terang Lucas. Ia sudah sangat lelah menghadapi pria- pria dengan sengaja menyamar menjadi bodyguard hanya untuk mendapatkan putrinya.
"Tuan tenang saja! Saya memang tidak ada keinginan untuk mendekati putri anda. Saya murni ingin bekerja dengan tuan Franklyn." ucap Oliver, meyakinkan Lucas.
Akan tetapi, Ashley yang sejak tadi diam. Memperhatikan wajah Oliver yang tidak asing baginya. Seperti mengenal seseorang. Tapi ia lupa siapa orang itu.
Tidak ingin ambil pusing, Ashley pun mengiyakan. Tanpa berpikir panjang. "Kau bisa menjadi pengawal pribadi putriku mulai besok." timpal Ashley. Tanpa berunding dengan Lucas– suaminya.
Lucas terkejut mendengar penyataan istrinya. Ia tidak mengerti, kenapa sang istri bisa langsung menerima pria muda di depannya. Tanpa melihat keahlian yang dimiliki.
Anda Mungkin Juga Suka





