Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tersenyumlah, Aku Akan Membalasmu

Tersenyumlah, Aku Akan Membalasmu

Hidup Alya Nirmala berubah drastis setelah salah paham berujung pada pernikahan paksa dengan Rafly Pranata, miliarder paruh baya sahabat kakeknya. Meski mencintai pria lain, ia terpaksa tunduk pada takdir. Empat bulan berselang, Rafly wafat dan mewariskan harta melimpah bagi Alya. Di tengah status janda kaya yang jadi incaran, sebuah insiden menyeretnya ke dalam pernikahan kontrak dengan pengusaha muda misterius berusia 32 tahun yang penuh pesona.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, rumah Alya Nirmala terasa sunyi. Lampu-lampu kristal yang biasanya memantulkan cahaya hangat kini hanya menjadi saksi bisu dari kesendirian yang menekannya. Alya duduk di sofa ruang keluarga, memeluk lututnya, menatap ke luar jendela yang menampilkan taman luas di halaman belakang. Suasana sepi membuatnya kembali terseret dalam kenangan empat bulan terakhir-bulan-bulan yang mengubah hidupnya selamanya.

Setelah kematian Rafly Pranata, hatinya terasa hampa. Ia kehilangan seorang suami yang, meski pernikahannya dimulai secara paksa, sebenarnya menunjukkan sisi hangat dan perhatian. Rafly bukan pria muda, tapi perlahan Alya belajar menghargai sikapnya, caranya menatap, dan cara dia memedulikan setiap detail hidupnya. Dan kini, semua itu sirna dalam sekejap karena serangan jantung mendadak.

Tangannya menggenggam tepi sofa, seolah berusaha merasakan kehadiran Rafly sekali lagi. "Aku... harus kuat, Alya," bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Namun di hatinya, keraguan dan rasa takut terus mengintai. Bagaimana mungkin seorang gadis muda menghadapi dunia yang tiba-tiba berubah seperti ini?

Pagi harinya, Alya harus menghadapi kenyataan yang lebih rumit. Ia duduk di ruang kerja Rafly, dikelilingi dokumen dan berkas bisnis yang kini menjadi tanggung jawabnya. Tangannya menelusuri tumpukan surat kontrak, laporan keuangan, dan dokumen properti. Semua itu membuat kepala Alya berdenyut. Ia belum siap untuk dunia bisnis, tapi tak ada pilihan lain. Warisan Rafly bukan hanya berupa harta, tapi juga tanggung jawab yang harus dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang salah.

Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.

"Masuk," panggil Alya.

Seorang pria muda melangkah masuk dengan langkah mantap. Rambutnya hitam rapi, jas hitam yang menempel di tubuhnya membuatnya terlihat elegan dan berwibawa. Alya segera mengenalinya dari berita sosial dan lingkaran bisnis: Kael Arindra, pengusaha muda berusia 32 tahun yang dikenal tajam dalam strategi dan tak pernah membuat kesalahan besar.

"Selamat pagi, Nona Alya," sapa Kael dengan senyum tipis yang penuh misteri. "Aku datang untuk membicarakan bisnis Rafly Pranata."

Alya menegakkan tubuhnya, mencoba menahan gelombang perasaan campur aduk. "Silakan duduk, Pak Kael. Silakan jelaskan maksud kedatangan Anda," jawabnya sopan.

Kael duduk, menatap Alya dengan serius. "Aku tahu ini tidak mudah bagimu... setelah kematian Rafly. Tapi ada satu masalah besar yang harus segera diselesaikan. Investasi Rafly di beberapa perusahaan baru-baru ini menghadapi kerugian besar akibat kesalahan mitra bisnis. Jika tidak segera ditangani, nama baik dan aset yang ditinggalkannya bisa hilang dalam waktu singkat."

Alya menelan ludah. "Aku... aku akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan semuanya," katanya terbata. "Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana."

Kael tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. "Itulah alasanku datang. Aku bisa membantumu, tapi ada satu syarat yang harus kau pertimbangkan."

Alya menatapnya curiga. "Syarat apa?"

Kael menarik napas, matanya menatap lurus ke arah Alya. "Aku akan membantumu menyelamatkan semua aset, mengamankan perusahaan, dan menjaga reputasimu. Tapi untuk itu, kita perlu melakukan pernikahan kontrak. Hanya kontrak. Tidak lebih."

Hati Alya melonjak. Ia terdiam, mencoba menelan kata-kata. Pernikahan kontrak? Bagaimana bisa ia menjalani itu di tengah luka yang baru saja ia alami? Dan Kael, seorang pria muda yang menarik, menawarkan hal itu begitu saja...

"Apa maksud Anda, Pak Kael?" suara Alya terdengar ragu, campuran antara ketakutan dan penasaran.

"Ini perjanjian legal. Kita menikah secara resmi, tapi hanya untuk jangka waktu tertentu. Semua properti, bisnis, dan asetmu akan aman selama kontrak ini berjalan. Setelah itu, kita bisa mengakhiri pernikahan ini dengan damai," jelas Kael.

Alya menggeleng. "Aku... aku tidak tahu... Ini terdengar seperti mimpi buruk."

Kael menatapnya dengan lembut tapi tegas. "Aku mengerti ketakutanmu. Tapi jika kau menolak, aset yang ditinggalkan Rafly bisa jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kau tahu betapa rapuhnya dunia bisnis, Alya. Kau masih muda, dan dunia ini tidak menunggu siapa pun."

Alya terdiam, pikirannya berputar. Benar, ia masih muda. Ia juga tidak ingin kehilangan semua yang Rafly tinggalkan. Ia mencintai Rafly, tapi kini kenyataan berkata lain. Dengan berat hati, ia menatap Kael dan mengangguk perlahan.

"Baiklah... jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan semuanya... aku setuju," katanya, suaranya nyaris bergetar.

Kael tersenyum tipis, menepuk tangannya di atas meja. "Keputusan yang bijak. Aku jamin, aku tidak akan menyulitkanmu."

Hari-hari berikutnya, Alya menjalani kehidupan baru yang asing. Bersama Kael, ia menandatangani dokumen, menghadiri rapat bisnis, dan mempelajari seluk-beluk dunia yang sebelumnya tidak pernah ia sentuh. Kael, meski tampak tegas dan dingin, kadang menunjukkan sisi perhatian yang membuat Alya merasa sedikit aman.

Namun hati Alya tetap hancur. Setiap kali melihat dokumen atau menghadiri acara bisnis Rafly, kenangan tentang suaminya muncul dengan kuat. Ia merindukan perhatian, senyum, dan kata-kata hangat Rafly. Kini, ia berada di dunia yang sama sekali baru, dunia di mana Kael adalah mitra dan pelindungnya sekaligus, tapi juga pengingat akan kenyataan pahit yang harus ia terima.

Suatu sore, setelah rapat panjang, Alya duduk sendirian di balkon rumahnya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga dari taman yang tertata rapi. Ia menatap langit senja, mencoba mencari ketenangan.

Tiba-tiba, Kael muncul di belakangnya, duduk tanpa permisi. "Kau terlihat lelah," ucapnya pelan.

Alya menoleh, matanya bertemu dengan tatapan Kael yang lembut. "Aku... masih mencoba menerima semuanya. Rasanya seperti aku kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali," jawabnya jujur.

Kael mengangguk, seolah memahami perasaan itu. "Aku mengerti... Rasanya berat. Tapi kau tidak sendiri. Aku akan ada di sini, membantumu melewati semua ini."

Alya menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. "Aku... tidak tahu bagaimana caranya," bisiknya.

Kael menepuk bahunya lembut. "Satu langkah pada satu waktu. Kita akan melewati ini bersama. Jangan khawatir tentang masa depan yang belum pasti. Fokus pada saat ini dan apa yang bisa kau kendalikan."

Hari demi hari, Alya mulai terbiasa dengan Kael. Hubungan mereka meski formal, tapi ada rasa nyaman yang perlahan tumbuh. Kael bukan Rafly, tentu saja. Tapi ada ketenangan dalam cara Kael memandang dan menemaninya. Sementara di hatinya, kenangan Rafly tetap hidup, membuatnya merasa bersalah karena mulai menerima kehadiran Kael.

Suatu malam, ketika mereka meninjau laporan keuangan perusahaan Rafly, Alya tanpa sengaja menatap Kael lebih lama dari biasanya. Kael tersenyum samar, menatap balik. Dalam sekejap, suasana menjadi canggung, tetapi tidak ada kata yang keluar. Alya menoleh, menundukkan kepala, dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang cepat.

"Sepertinya aku harus belajar banyak tentang dunia bisnis," gumam Alya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Kael menatapnya, matanya penuh arti. "Dan aku akan membantumu belajar. Tidak ada yang perlu kau takuti. Kau lebih kuat dari yang kau kira, Alya."

Alya menatap Kael sejenak, lalu tersenyum tipis. Ia tahu, meski sulit dan penuh dilema, perjalanan hidupnya baru saja memasuki babak baru. Babak di mana ia harus belajar menjadi wanita tangguh, menghadapi luka, dan mungkin, membuka hati untuk sesuatu yang baru-meski rasa cinta yang lama masih menghantui.

Namun Alya juga sadar satu hal: meski pernikahan ini hanya kontrak, dan meski hatinya masih penuh luka, dunia tidak akan menunggu. Setiap langkah harus ia ambil dengan hati-hati, karena dalam satu kesalahan, segalanya bisa hancur.

Dan begitu malam itu berakhir, Alya menatap langit dari balkon kamarnya, menenangkan diri. "Aku harus bertahan. Untuk Rafly... untuk diriku sendiri... dan untuk masa depan yang belum jelas," bisiknya.

Malam itu, bintang-bintang tampak berkelap-kelip, seolah memberi harapan baru. Alya tahu, perjalanan ini baru dimulai, dan tantangan yang menunggunya akan jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Tapi satu hal pasti: ia tidak akan mundur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Yang Ku Bawa Dalam Rahimku
8.6
Baru seminggu bekerja di kediaman Arsanta, Alesha Devandra mengalami tragedi kelam saat Reiner yang sedang mabuk akibat dikhianati kekasihnya melampiaskan amarah padanya. Alesha yang trauma memilih kabur ke desa, namun ia justru mendapati dirinya hamil. Kini ia terjepit antara menuntut tanggung jawab pada Reiner yang mungkin lupa, atau membesarkan bayinya sendirian di tengah cibiran. Akankah Reiner mengakui darah dagingnya saat rahasia ini terungkap?
Sampul Novel BENIH PRESDIR LUMPUH
7.8
Fiona Isabella Fawzi terjebak dalam pernikahan yang tak diinginkannya sebagai pengantin pengganti bagi seorang pria lumpuh. Perbedaan usia serta kondisi fisik sang suami menjadi beban mental bagi Fiona yang masih muda. Di sisi lain, ia aktif dalam geng Trio FAM Alliance yang kerap memicu onar. Bertekad meraih kebebasan, Fiona menyusun berbagai taktik licik demi mengakhiri ikatan tersebut. Akankah rencananya berhasil atau ia justru terjerat takdir?
Sampul Novel Budak Seksi Tuan Cedric
8.2
Falisha Marbella, mahasiswi berusia 19 tahun, terjebak dalam tragedi saat kekasihnya, Ben Andrigo, meninggal dunia di sisinya. Ayah Ben, Cedric Andrigo, seorang miliarder kejam yang menguasai bisnis ilegal, menyalahkan Falisha atas kematian putranya. Didorong dendam membara, pria arogan ini bersumpah menyiksa hidup Falisha. Cedric menjadikan Falisha budak pemuas nafsu demi membalas dendam. Mampukah Falisha lepas dari jerat penderitaan dan kekejaman Cedric?
Sampul Novel Duda Pilihan Papa
9.6
Terjerat utang besar, Anwar Mahendra terdesak menyerahkan Ashiqa, putri tunggalnya, kepada rentenir. Demi melindungi masa depan sang anak, Anwar memohon bantuan Rama, duda kaya yang pernah berutang budi padanya, untuk menikahi Ashiqa. Meski terkejut, Ashiqa terpaksa menerima perjodohan ini. Kini, Rama harus menghadapi dilema antara menumbuhkan benih cinta dalam pernikahan mereka atau melepaskan Ashiqa demi kebahagiaan pilihan hatinya sendiri.
Sampul Novel Gairah Nakal Sang Billionaire
8.5
Raisa Aquila Nazara, wanita cantik berusia 25 tahun, terjerat dalam skema jahat Helena, ibu dari kekasihnya sendiri. Jebakan itu membawanya berakhir di satu kamar dengan Raka Mirza Bramantyo, CEO tampan berumur 27 tahun yang dikenal sebagai seorang player. Setelah malam tak terduga itu terjadi, Raisa harus menghadapi kenyataan pahit atas apa yang mereka lakukan. Akankah insiden memalukan ini menjadi akhir segalanya atau justru awal hubungan baru bagi mereka?
Sampul Novel His Darling Debtor
9.2
Dunia Clara runtuh saat ayahnya kabur membawa uang milik Tuan Blackwell. Tanpa pilihan lain untuk menebus utang tersebut, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya dan menjadi wanita simpanan sang miliarder. Di balik perjanjian dingin ini, Clara terjebak dalam pusaran emosi terlarang dan rahasia masa lalu yang perlahan terkuak. Hubungan penuh konflik ini pun menjadi ujian berat yang akan mengungkap seberapa kuat ikatan sejati di antara mereka berdua.