Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpikat Cinta Mafia

Terpikat Cinta Mafia

Pasca skandal dengan pejabat yang menghancurkan kariernya, Arum mengasingkan diri ke London untuk menjadi asisten rumah tangga Emir. Emir tampak seperti bankir ramah, hingga Arum bertemu Aslan di sebuah pesta. Aslan membongkar identitas asli Emir sebagai mafia kejam. Awalnya ragu, Arum akhirnya menemukan gudang senjata rahasia di rumah tersebut. Ketakutan, ia kabur namun menyadari dirinya tengah mengandung anak Emir. Sang mafia pun mulai memburu Arum demi memperjuangkan cintanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

BAB 3

Arum mengerutkan dahi, ia sungguh tidak mengerti apa yang Sarah dan Emir bicarakan. Seperti berbahasa Lebanon, Turki, Spanyol entahlah ia sama sekali tidak mengerti. Emir ya itu adalah keponakan Sarah, calon majikannya. Laki-laki itu tampan, ya memang tampan, ia seperti pangeran Arab. Mereka mungkin imigran yang sudah puluhan tahun menetap di London.

Setelah beberapa menit berlangsung, Emir membawa Arum bersamanya. Arum duduk dibelakang, karena tidak etis rasanya ikut majikan duduk didepan bersamanya. Arum menolak ketika tadi Emir menyuruhnya duduk didepan bersamanya.

"Kamu, tidak ada masalahkan dengan ke Imigrasian kamu?".

"Tidak, kamu bisa mengecek semuanya, visa inggris dan paspor saya".

"Bagus kalau begitu. Berapa lama perjalan kamu dari Indonesia ke London?"

"13 jam lebih perjalanan" ucap Arum sekenanya.

"Lama juga ya ternyata".

"Iya".

Suasana menjadi hening kembali, Emir melirik Arum dari kaca dasbor. Wajah itu setengah menunduk, mungkin ia sudah lelah akibat perjalan jauhnya. Arum menatap bangunan rumah bercat putih itu. Rumah itu berpagar tinggi, halaman yang tidak terlalu besar. Rumah yang didesain minimalis modren. Emir mematikan mesin mobil itu, dan disusul Arum. Arum membawa koper miliknya, mengikuti langkah Emir masuk ke dalam rumah itu.

Emir membuka rumah itu,dan dipersilahkan Arum masuk. Arum masuk kedalam rumah itu. Rumah ini begitu nyaman dan modren. Arum tidak menyangka bahwa rumah minimalis ini memiliki kolam renang di taman belakang. Arum kembali menatap Emir, Emir melangkahkan kakinya mendekati Arum.

"Ini rumah saya" ucap Emir.

"Iya".

"Setiap hari kamu hanya perlu mengepel, menyapu, dan membuatkan makanan untuk saya. Saya tidak memilih makanan, apa saja akan saya makan. Kerjakanlah seharusnya kamu kerjakan, saya tidak menuntut kamu. Saya tidak ingin menjadi majikan yang keji, seperti apa yang kamu lihat di TV. Saya hanya ingin rumah saya dalam keadaan bersih, itu saja" Emir mencoba menjelaskan kepada Arum.

"Iya, saya mengerti".

"Dan disini kamar kamu" Emir lalu membuka pintunya kamar. Kamar itu letaknya di belakang dekat dapur.

Arum mengikuti langkah Emir, dan Emir menyerahkan kunci kamar itu untuknya. Arum menerima kunci itu, kembali menatap Emir. Arum menatap ruangan kamar miliknya, kamar sederhana yang simple. Hanya terdapat tempat tidur, meja, dan lemari.

"Terima kasih" ucap Arum.

"Sama-sama, istirahatlah. Mungkin kamu lelah atas perjalanan jauh kamu".

"Iya".

"Semoga kamu betah" ucap Emir, lalu melangkah meninggalkan Arum.

Arum lalu masuk kedalam kamarnya, ia tidak lupa menutup pintu itu kembali. Arum lalu meletakkan koper miliknya di dekat lemari, dan dibukanya koper itu. Arum menyusun pakaiannya yang ia bawa itu kedalam lemari. Setelah itu, Arum membuka jaket kulit yang dikenakannya. Arum menggantungnya disisi lemari. Arum menatap kasur empuk dihadapannya. Jujur selama di pesawat ia tidak bisa tidur nyenyak, karena Arum sudah terbiasa dengan tidur di tempat yang datar seperti kasur seperti ini, bukan kursi pesawat yang sempit itu. Arum mencoba memejamkan matanya sejenak, istirahat lebih baik.

***

Malam harinya Arum mulai melakukan aktivitasnya sebagai asisten rumah tangga. Arum membuka chiler, menatap satu persatu bahan makanan didalamnya. Tidak ada satu pun bahan makanan yang bisa dimasak disana. Arum masih menunggu Emir, Emir menyuruhnya masak, tapi lihat saja, tidak ada satupun bahan makanan yang bisa dimasak.

Arum duduk disalah satu sofa, Arum melirik jam yang didinding. Jam itu menunjukkan pukul 19.12 menit. Semenit kemudian mendengar suara pintu terbuka, Arum menoleh 45 derajat. Ia lalu berdiri, karena itu adalah majikannya Emir.

Emir menatap Arum, pakaiannya sederhana. Hanya mengenakan kaos putih dan rok selutut berwarna nude, yang telah pudar warnanya. Ia cukup sopan mengenakan pakaian itu, ia terlihat fashionable untuk ukuran asisten rumah tangga. Asistennya yang dulu sama sekali jauh dari kata cantik, dan tidak terawat. Jauh sekali perbandingannya dengan Arum.

"Saya, bingung untuk memasak apa. Sementara di chiler tidak ada satupun bahan makanan disana,"

Emir mengerutkan dahi, ia lalu meletakkan tas dan jas itu disisi sofa. Ia lalu berjalan mendekati chiler, dan betul apa yang dikatakan Arum. Tidak ada sedikitpun bahan makanan disana. Emir begitu sibuk, hingga ia lupa untuk mengisi bahan makanan disana.

"Ya, saya lupa untuk berbelanja. Sudah sebulan ini saya makan diluar terus, karena asisten rumah tangga saya yang dulu pulang ke Filipina. Yasudah, ayo ikut saya, kita berbelanja keperluan dapur".

"Sekarang?".

"Iya, karena saya belum makan".

"Iya".

Arum mengikuti langkah Emir. Ia sedikit tidak enak, kepada Emir. Masalahny laki-laki itu baru saja tiba dirumah dan sudah keluar lagi untuk berbelanja bersamanya. Sangat tidak sopan menurutnya.

Beberapa menit kemudiani ia sudah tiba di supermarket lengkap, letaknya tidak begitu jauh dari rumah Emir, sekitar dua kilo meter. Emir membawa troli dan Arum memilih bahan makanan.

"Saya boleh tanya sesuatu?" Tanya Arum.

"Mau tanya apa?".

"Kamu suka makanan seperti apa? Agar saya lebih mudah memasak apa yang kamu suka" Arum memasukan daging sapi, yang sudah di prepack didalam streofoam, Arum memilihnya secara cermat, dan lalu ia masukkan kedalam troli.

"Apa saja, saya tidak pernah memilih makanan. Itu yang tersaji, saya akan memakannya".

"Kamu bisa memasak dari negara kamu, mungkin".

"Kamu mau mencoba makanan dari Indonesia?" Arum memasukan udang itu.

"Tentu saja" ucap Emir.

"Kamu pernah ke Indonesia?" Tanya Arum penasaran. Arum memilih beberapa buah apel dan jeruk lalu dimasukan kembali kedalam troli.

"Tidak pernah, nanti mungkin suatu saat saya akan kesana" ucap Emir.

Emir menghentikan langkahnya, ia menatap Arum, berbincang-bincang seperti ini. Emir merasa ia bukan seperti antara majikan dan asisten. Ia terlihat seperti seorang teman. "Ada yang ingin saya tanyakan kepada kamu".

"Tanya apa?".

"Pendidikan terakhir kamu?".

"Hanya sekolah menengah atas".

Emir bertanya kembali, "Bukankah, Indonesia bukan jajahan Inggris? Kenapa bahasa inggris kamu fasih sekali".

Arum tertawa, ia lalu memasukan beberapa saos tomat dan penyedap masakan. "Ya, memang bukan jajahan inggris, tapi saya pernah kursus beberapa bulan, sebelum memutuskan kesini".

"Begitu ternyata, umur kamu berapa?".

Arum kembali memasukan mentega, tepung, dan gula. Ia akan mencoba membuat kue sewaktu-waktu "25 tahun".

"Kalau boleh tahu, orang tua kamu? Apakah beliau tidak tahu kamu kerja disini. Bersama saya?" Tanya Emir semakin penasaran.

"Saya tidak memiliki orang tua, dan saya dibersarkan di panti asuhan" ucap Arum dan tersenyum.

"Maaf, saya tidak tahu".

"Sudah seharusnya kamu tahu. Kamu majikan saya".

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MEX" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MEX
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Pemenang Dalam Hidupku
8.8
Setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang adiknya dan diabaikan oleh keluarganya sendiri, puncaknya terjadi di hari pernikahan. Ayah, ibu, kakak, serta Jason—tunangannya yang merupakan seorang bos mafia—memilih pergi ke wisuda sang adik. Ditinggal sendirian di altar penikahan dengan rasa malu, ia teringat momen pertunangan saat Jason juga meninggalkannya demi sang adik. Sadar dirinya tak pernah dihargai, ia memutuskan pergi membawa koper dan rahasia kehamilannya demi memulai lembaran baru.
Sampul Novel Cinta Berubah Menjadi Abu
8.6
Nicola Dixon dan Asher tumbuh bersama, terikat utang budi masa lalu yang menyakitkan. Sebagai putri keluarga mafia, Nicola yakin dialah prioritas Asher. Namun, kepulangan Asher dari Segitiga Emas membawa kejutan pahit: seorang wanita hamil yang mengenakan cincin miliknya. Di tengah ketegangan senjata yang mengancam nyawa wanita itu, Nicola memberi pilihan mutlak. Asher harus memilih antara tanggung jawab pada kekasih barunya atau tetap menjadi bagian dari keluarga Dixon.
Sampul Novel Cinta di Tengah Bahaya
8.5
Saat hamil, sang istri terharu menyerahkan seluruh tabungannya pada Arif yang berjanji berubah. Namun, ia justru menyaksikan para penagih utang bersikap hormat pada suaminya yang ternyata bos mafia kaya. Di dalam mobil mewah, Arif dan sahabat kecilnya, Lina, sepakat melanjutkan sandiwara kemiskinan ini untuk menguji kesetiaannya melahirkan anak mereka. Menyadari cintanya selama ini hanya dipermainkan lewat ujian kejam, ia pun menangis dan bertekad menolak cinta penuh kebohongan tersebut.
Sampul Novel Dilema Cinta Narkoboy
8.9
Andrean Kenzo, seorang gembong narkoba, terjebak dalam perjodohan dengan Tita Shanum yang menawan. Demi memenangkan hati gadis itu, Andrean harus bersaing sengit melawan musuh bebuyutannya sendiri. Namun, situasi semakin rumit saat Tita menyadari sebuah rahasia besar bahwa pria yang selama ini ia patuhi bukanlah ayah kandungnya. Di tengah konflik mafia dan asmara, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Tita untuk mendampingi hidupnya?
Sampul Novel Gadis Imigran
8.8
Iris Barcova terpaksa menjalani kehidupan kelam sebagai PSK demi membiayai ayah dan adiknya. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius keturunan mafia menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi medis bagi ayahnya. Meski ada dokter tulus yang mencintainya, Iris justru terjebak dalam dilema hati. Namun, kenyataan pahit mulai terungkap bahwa pria yang ia anggap penyelamat mungkin adalah dalang di balik segala tragedi dan kesialan yang menimpa hidupnya selama ini.
Sampul Novel MAFIA DI KEJAR GADIS OBSESI
9.2
Dunia berlutut di hadapan bos mafia kejam yang dikenal sangat agresif dan tak kenal ampun. Namun, otoritasnya mendadak goyah saat menghadapi seorang gadis pemberani berjiwa pejuang. Berbeda dari orang lain, pebisnis tangguh ini justru berani membangkang, berdebat, hingga menggoda sang mafia tanpa rasa takut. Meski sang bos mencoba segala cara untuk mengintimidasi, keberanian gadis itu justru membalikkan keadaan. Akankah kekejaman sang mafia luluh oleh obsesi unik ini?