
Terpaksa Menikahi Mafia
Bab 3
Kelima anak buah Alano sudah berjajar rapi di ruang kerjanya dengan memakai pakaian serba hitam, karena itulah peraturan yang diberikan oleh Alano. Jika berkumpul, mendapatkan panggilan darinya atau pun menjalankan tugas mereka harus menggunakan pakaian serba hitam.
Mereka adalah orang kepercayaan Alano, mereka berperawakan atletis dan berotot serta memiliki wajah yang tampan. Selain itu, mereka adalah orang yang sangat patuh kepada Big Boss. Itu sebabnya Alano pikir mereka adalah orang yang tepat untuk menjalankan tugasnya kali ini karena mereka pasti bisa menjaga rahasia. Salah satu diantara kelima anak buahnya itu adalah Rafael.
“Aku memanggil kalian semua ke sini karena aku mempunyai tugas yang sangat penting untuk kalian,” ucap Alano membuka pembicaraan. Laki-laki berdarah Italia itu sedang duduk di kursi kerjanya sembari memainkan gelas berisi wine.
“Kami siap menerima tugas,” jawab anak buahnya secara serempak.
“Oke, denganrkan baik-baik. Aku akan berikan kalian sebuah tugas, yaitu carilah seorang perempuan yang cantik, seksi, miskin dan tidak mempunyai keluarga, tapi jangan wanita pelacur.” Alano menjelaskan tugas yang harus dikerjakan oleh kelima anak buahnya itu. Mereka saling berpandangan karena ini pertama kalinya Alano memberikan tugas yang menyangkut tentang perempuan.
“Kalau aku boleh tau, perempuan itu untuk apa, Big Boss?” tanya Rafael.
“Perempuan itu akan aku jadikan istri, namun hanya pernikahan di atas kontrak,” jawab Alano dengan santainya.
Semua anak buahnya terbelalak, mereka saling berpandangan satu sama lain. Sepertinya masih menjadi misteri besar untuk mereka kenapa seorang laki-laki seperti Alano malah memilih untuk menikah kontrak daripada menikah sungguhan, padahal dia adalah laki-laki yang diinginkan oleh semua wanita. Bahkan selama ini mereka tidak pernah melihat Alano dekat dengan perempuan mana pun.
“Tapi kenapa harus menikah kontrak, Boss? Bukankah kamu bisa mendapatkan perempuan seperti apapun yang kamu inginkan. Kenapa harus mencari perempuan yang miskin dan tidak mempunyai keluarga?” tanya Rafael lagi.
“Iya, Boss. Apa yang dikatakan oleh Rafael itu benar,” yang lain ikut membenarkan.
“Kalian tau kalau aku itu tidak percaya pada perempuan, aku juga tidak percaya pada cinta. Tapi ayahku bersikeras menyuruhku untuk menikah dan mengancam akan bunuh diri jika aku tidak menikah. Itu sebabnya aku ingin mencari wanita yang mau dinikahi tapi berdasarkan kontrak dan perjanjian,” jelas Alano.
“Lalu apa imbalannya untuk kami jika kami berhasil menemukan perempuan yang cocok untukmu?” tanya Rafael lagi. Diantara semua anak buahnya hanya Rafael yang paling dekat dengan Alano, Rafael adalah tangan kanan Alano. Itu sebabnya dia berani banyak membuka suara karena yang anak buah Alano yang lain lebih banyak diam karena takut.
“Kalian tenang saja, aku akan memberikan imbalan yang sangat besar untuk siapapun yang berhasil merekomendasikan satu wanita yang tepat untukku, aku akan memberi kalian uang sebesar 50.000$,” terang Alano.
Semua yang ada di sana tercengang kecuali Alano, mereka tidak menyangka kalau bayarannya akan sebesar ini. Tentu siapapun akan langsung tergiur untuk melakukan misi ini. Seperti layaknya mendapatkan sebuah harta Karun, mereka sangat antusias sekaligus gembira karena ini adalah kesempatan yang langka, mereka tidak pernah diberikan tugas dengan hadiah yang fantastis seperti ini sebelumnya.
“Bagaimana? Apa kalian bisa?” tanya Alano.
“Yeah, kami bisa,” jawab mereka serentak.
“Great, kalau begitu kalian boleh pergi. Tapi sebelumnya aku hanya ingin mengingatkan bahwa pada tengah malam nanti kita akan melakukan transaksi dengan Mr. Bibble, dia yang sudah memesan senjata sebanyak 50 buah kepada kita, jadi persiapkan dengan baik segalanya. Aku tidak mau kalian membuat kesalahan sekecil apapun, karena kesalahan kecin sekalipun bisa saja membuat kita tertangkap polisi.” Alano kembali memperingati anak buahnya untuk berhati-hati.
Bagaimana pun bisnis sampingan yang dia jalankan itu cukup berbahaya karena itu melanggar peraturan pemerintah di Italia. Tapi karena Alano suka menjalankan bisnis gelap seperti itu, bukan hanya karena keuntungan yang dia dapatkan sangat besar, Baginya pekerjaanya itu justru menantang dan juga seru. Alano jadi seperti mempunyai dua identitas yang berbeda. Jadilah dia tidak ingin berhenti menjalankan bisnis gelap itu meskipun kekayaannya sudah melimpah.
Alano selalu berada di balik layar, tangannya tetap bersih karena dia tidak mengerjakan bisnis gelap itu secara langsung, dia selalu menyuruh para anak buahnya. Bahkan kebanyakan dari kliennya juga tidak tau bahwa Alano adalah dalang dibalik semua itu. Alano hanya dikenal sebagai seorang CEO dari sebuah perusahaan ternama di Milan. Namun tak bisa dipungkiri bahwa karena bisnis gelap itu dia mempunyai musuh yang menjadi pesaingnya dalam jual beli senjata ilegal.
“Baik, Big Boss. Kami akan menjalankan semua tugas dengan baik!”
“Oke, silahkan, kalian boleh pergi,” ujar Alano.
“Terimakasih, Big Boss.”
Rafael dan teman-temannya keluar dari ruangan Alano, dalam benak mereka penuh dengan wajah wanita-wanita yang sudah mereka kenal sebelumnya, memikirkan manakah wanita yang mungkin cocok untuk Alano. Tentu saja mereka akan bersaing karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini.
Begitu pun dengan Rafael, dia memikirkan banyak wanita di kepalanya karena selama ini banyak sekali wanita yang telah singgah di hidupnya.
“Jesslyne cantik, seksi, tapi dia masih mempunyai keluarga. Lalu Vanya manis, cantik, tapi dia pelacur. wanita yang aku kenal hampir semuanya adalah pelacur, dan mereka juga kebanyakan masih memiliki keluarga, lalu siapa yang akan aku rekomendasikan kepada Big Boss?” sepanjang jalan Rafael terus memikirkan hal itu, namun belum ada yang tepat menurutnya.
Tak terasa Rafael telah sampai di apartemennya, pikirannya terlalu sibuk sehingga Rafael baru sadar kalau dia sudah sampai di apartemennya.
“Hi, Sayang. Aku pulang,” kata Rafael.
Tapi tak ada jawaban dari Felicia, sepertinya gadis itu masih marah kepada Rafael karena tadi dia ditinggalkan begitu saja ketika dia masih bicara.
“Hi, Baby. Aku sudah pulang, kenapa kamu diam saja?” tanya Rafael seraya menghampiri Felicia yang saat itu sedang duduk sambil menonton tv.
Rafael langsung memeluk pinggang Felicia dan bergelayut manja di pundaknya. Rafael tau kalau kekasihnya itu sedang bad mood kepadanya.
“Hay, sayang. Apa kamu mau mencampakkan aku seperti ini? Jangan marah lagi, Sayang. Aku minta maaf karena tadi aku telah meninggalkanmu begitu saja, tapi kamu kan tau kalau aku mendapat panggilan dari Bigg Boss.” Rafael mencoba menjelaskan kembali sekaligus membujuk Felicia agar tidak marah lagi kepadanya. Tak lupa Rafael juga memberikan kecupan manis di kening, pipi dan juga bibir mungil milik Felicia.
“Kalau sudah aku cium, berarti kamu tidak boleh marah lagi. Tapi jika aku lihat, kamu lebih cantik saat marah seperti ini,” goda Rafael sambil menatap wajah Felicia sangat dekat sampai membuat gadis itu merasa salah tingkah dan akhirnya tak bisa lagi menahan senyum.
“Waw, apalagi saat tersenyum seperti itu kamu semakin cantik saja,” ujar Rafael, karena gemas dia kembali mencium bibir Felicia.
“Kamu selalu bisa membuatku bahagia dan melupakan kemarahanku,” kata Felicia sambil tersipu malu.
Rafael semakin menyadari bahwa kekasihnya sangat cantik, rambut panjang sebahu yang sedikit bergelombang dengan mata lentik, hidung mancung, dengan pipi yang sedikit tirus, dan bibirnya yang mungil membuat Felicia terlihat sangat cantik dan anggun. Saat itulah terbesit satu hal gila dalam benak Rafael, dia berpikir untuk menyerahkan Felicia kepada Alano.
Anda Mungkin Juga Suka





