
Terpaksa Menikahi Duda Lumpuh
Bab 2
Terpaksa Menikahi Duda Lumpuh
Part 2
Malam itu hujan turun sangat deras. Aksa mengemudi dengan cepat karena Delisha baru saja mengadu kalau pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya belum selesai. Delisha disuruh membuat video menyanyi bersama ayah bunda. Aksa tahu kalau besok dia akan sangat sibuk, jadi pria itu menyempatkan diri untuk menemani putrinya mengerjakan tugas sekolahnya sebab sang istri sudah mengaku sangat sibuk dan dia tidak memiliki kesempatan untuk menemani sang putri.
“Pelan-pelan, Mas!” ucap Riyanti pada sang suami. Wajah wanita cantik itu terlihat sangat cemas. Namun tiba-tiba dia kembali sibuk dengan ponselnya yang baru saja berdering beberapa saat lalu.
Riyanti memandang sang suami yang sedang menyetir di sebelahnya. Wanita itu sebenarnya sedikit ketakutan jika Aksa tahu kalau di pesta ulang tahun temannya tadi, mantan manajernya yang lama kembali meminta nomornya yang baru.
Riyanti sebenarnya sangat ingin kembali pada profesi lamanya. Namun Aksa melarang dan pria itu tentu saja menjamin nafkah yang jauh lebih banyak daripada yang biasa Riyanti hasilkan. Sebenarnya, Riyanti bisa menghasilkan lebih banyak dari hasil profesi selingan rahasia yang biasa dipakai oleh para selebritis tidak laku yang masih butuh banyak uang dan tidak mau bekerja keras untuk memenuhi kehidupan mereka. Tapi jelas, Riyanti masih bukan artis papan atas atau artis dengan bayaran tertinggi saat Aksa memintanya agar menjadi istrinya. Riyanti masih memasang topeng polosnya di hadapan pengusaha kaya yang mau menjamin hidupnya.
Inilah Riyanti sekarang. Istri yang baik dengan satu anak gadis yang cantik tapi masih sibuk ke sana kemari dengan segala gaya sosialitanya tapi tidak lagi terekspos media.
“Pesan dari siapa, Sayang?” tanya Aksa yang merasa kalau sang istri menyembunyikan sesuatu darinya.
“Teman,” jawab Riyanti. Wanita itu bergegas mengganti nama Bagas menjadi Bunga secepat mungkin.
“Boleh lihat?” tanya Aksa. Bukannya tidak percaya atau terlalu posesif, Aksa hanya merasa kalau Riyanti gugup ketika dia membaca pesan. Begitu melihat pesan yang isinya hanya bercanda dan gossip, Aksa kamudian mengabaikan Riyanti yang kembali berbalas pesan dengan Bagas yang namanya diganti menjadi bunga itu.
Hujan turun semakin lebat. Bahkan sekarang bertambah buruk dengan adanya badai akibat angin kencang. Aksa dilema antara melajukan mobilnya atau melambatkan kecepatan mobilnya. Jika Aksa melajukan mobilnya, maka dia bisa saja menabrak sesuatu di depannya. Atau jika Aksa melambatkan laju mobilnya, dia bisa saja terkena pohon yang roboh. Angin benar-benar kencang. Aksa memutuskan melajukan kecepatan mobilnya. Riyanti masih asik dengan ponselnya. Wanita itu merasa aman saja karena dia memakai sabuk pengaman dan jalanan yang mereka lewati juga merupakan jalan tol.
“Papa jangan terlalu cepat!” Delisha protes.
Aksa menoleh kebelakang sebentar.
“Jangan takut, sayang. Kita akan baik-baik saja,” ucap Aksa mencoba menenangkan ketakutan sang putri.
“Iya, sayang. Tidak usah takut. Papa kamu ini ahli menyetir. Kita tidak mungkin kecelaka ….”
Bugh!
Mobil yang dikemudikan Aksa menabrak sebatang pohon yang langsung tumbang dan mengenai sisi kanan kemudi. Aksa terhimpit antara pohon dan kemudi. Kepala pria itu terjepit. Sementara itu, Riyanti dan Delisha juga terkena benturan keras. Beruntung mereka tidak kenapa-kenapa.
Riyanti yang masih sadar langsung menghubungi polisi terdekat. Wanita itu mengirimkan lokasinya. Selang sepuluh menit menunggu, Ambulance dan Polisi datang ke tempat kejadian perkara. Riyanti dengan mudah diselamatkan. Sementara Delisha pingsan karena kepalanya terbentur kursi pengemudi terlalu keras. Yang memakan waktu lama adalah proses pengeluaran Aksa dari sana.
“Bu, apa yang Ibu rasakan?” tanya salah seorang petugas medis. Riyanti yang masih syok apalagi melihat banyaknya darah yang keluar dari kepala suaminya tidak bisa berkata-kata lagi. Riyanti diberi air minum. Dia menatap putrinya Delisha yang terbaring di atas ranjang dalam ambulance.
“Dia baik-baik saja. Sebaiknya Ibu tidak usah khawatirkan dia. Anak Ibu hanya pingsan biasa. Dalam beberapa jam dia akan sadar. Hanya ada luka kecil di dahinya. Itu tidak akan jadi masalah besar,” ucap petugas medis yang ada di dalam ambulance pada Riyanti. Riyanti hanya mengangguk. Kejadian tadi membuatnya sangat takut. Wanita itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia yang terhimpit oleh pohon dan bagaimana rasa sakitnya.
Riyanti benar-benar wanita egois yang sama sekali tidak pantas untuk Aksa. Lihatlah dari caranya yang merasa beruntung sebab pohon itu menghimpit suaminya. Menunjukkan betapa liciknya wanita itu.
**
“Bagaimana ini?” tanya polisi yang membantu mengeluarkan Aksa dari sana. Satu ambulance sudah menunggu.
“Kita harus berhati-hati. Kepalanya bisa saja sudah retak,” ucap rekannya yang lain. Begitu pohon itu berhasil diangkat sebentar, Aksa langsung dikeluarkan dari sana. Mobilnya di sisi kemudi sudah remuk.
Petugas medis langsung membawa Aksa ke dalam ambulance. Beruntung hal yang mereka takutkan tidak terjadi. Tengkorak kepala dan otak Aksa tidak retak dan remuk seperti yang ditakutkan. Pria itu baik-baik saja. Namun benturan yang teramat keras sudah membuat Aksa dalam keadaan koma. Tubuhnya langsung dipasangi berbagai macam kabel darurat. Aksa terus mengeluarkan darah dibagian telinga.
Ambulance melaju. Hujan sudah reda. Tidak ada lagi bekas badai yang tersisa selain dingin yang memeluk malam.
Aksa ada dalam pintu kehidupan dan kematian. Riyanti yang ada di rumah sakit, begitu melihat suaminya dalam ruangan unit darurat yang sama dengannya, wanita itu langsung saja mendekat. Wanita itu tidak berkata apa-apa lagi. Dia menatap Aksa sambil bertanya-tanya apakah lelakinya sudah mati. Tapi tidak, jika Aksa sudah mati dia pasti tidak ada di sini. Pria itu pasti sudah dibawa dalam unit gawat darurat.
“Aksa!”
Riyanti menoleh ke belakang. Tampak Ibu mertuanya masih dengan pakaian tidur dan mata sembab berlari menangisi sang putra yang terbaring tidak sadarkan diri dengan darah yang terus menetes di telinga.
“Aksa … bangun, nak. Riyanti! Kenapa anakku bisa seperti ini ….” sedu sedan sang mertua masih membuat Riyanti tak bergeming. Riyanti masih kaget dengan kejadian yang baru saja dia alami hari ini dan dia tidak bisa merespon apapun.
“Jawab Riyanti!” Mellisa meneriaki menantunya. Sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan karena bukan Riyanti yang menjadi penyebab kecelakaan.
Riyanti bergeming. Ibu mertuanya terus menerus menggoncang tubuh sang menantu.
“Semua ini pasti gara-gara kamu, kan? Kamu suka sekali pergi ke pesta. Coba saja tidak kamu ajak anak saya pergi ke pesta dan dia ada di rumah, dia pasti tidak akan seperti ini ….!” Ibu mertuanya terus saja menyalahkan Riyanti.
Petugas medis yang sejak tadi merasa terganggu dengan kekacauan yang dibuat Mellisa langsung menyuruh wanita itu pergi dengan tegas.
“Mohon jangan buat kekacauan di sini!”
Sebelum keluar, Mellisa masih menyalahkan menantunya.
“Jahat kamu, Riyanti! Semua ini gara-gara kamu.”
Riyanti masih diam. Namun diam-diam juga kebencian menguar di dadanya.
Anda Mungkin Juga Suka





