
Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Bab 2
Beberapa bulan kemudian,,
Kini, hubungan ku dengan Rio sudah 2tahun. Setiap bertemu, Rio selalu
mencium bibirku. Meski begitu, aku tetap menjaga mahkotaku. Aku tidak
membiarkan dia merenggut keperawananku.
Setiap malam, aku tak bisa tidur nyenyak. Sejak berpacaran dengannya. Baru
2mnggu pacaran ia sudah berani mencium bibirku. Pikir ku saat itu mungkin wajar
namanya juga pacaran pasti ada adegan kissing nya.
Tapi, lama lama. Rio semakin berani dan aku sulit untuk menghindar saat
pertama kali ia mencium bibir, lalu ke leher. Sejak saat itulah aku jadi sering
buat drama seolah aku cemburu buta atau marah marah karena cemburu. Padahal
tujuan ku adalah ingin putus dengannya. Namun sulit, ia selalu mengancam dengan
melukai tangannya. Ia juga pemarah, hingga selalu merusak ponselnya.
Sabtu minggu ia selalu datang ke rumah. Hingga sulit untukku ber istirahat.
Terkadang, aku merasa takut kehilangannya karena dia telah merenggut ciuman
pertamaku hingga aku takut tak akan ada lelaki lain yang akan menerimaku yang
telah ternoda. Tapi, lama lama aku semakin muak dan lelah. Aku tidak ingin
hubungan yang seperti ini. Percuma aku sholat 5 waktu. Tapi aku membiarkan dia
menciumku yang masih status pacaran.
Kini, aku memutuskan untuk benar-benar putus dengannya. Sebelum dia
melakukan hal yang melebihi batas. Aku takut hidupku semakin hancur karena dia.
Hari ini hari minggu, pukul 05.50 wib. Rio bilang dia akan sampai rumah
sekitar jam 07:00 wib.
Seperti biasa, mamah selalu belanja ke pasar minggu. Pulangnya selalu agak
siang sekitar jam 10. 00 wib.
Aku bergegas untuk mandi, sedangkan mamah bergegas siap-siap akan berangkat
ke pasar minggu.
Jam sudah, menunjukkan pukul 06.00 wib. Tiba-tiba, mamah memberitahu bahwa
di depan sudah ada Rio.
"Laras, Rio sudah ada di depan"
Aku terkejut, karena dia bilang akan sampai jam 7.
"Iya Mah,,"
Mamah berangkat ke pasar minggu, dan aku bergegas menyelesaikan mandi.
Kamar mandi di rumah ku menyatu dengan dapur. Dapurnya lumayan lega. Kamar
hanya ada satu yaitu untuk orangtuaku. Tapi, kamarnya hanya di sekat oleh
triplek bukan bata. Dan, tidak ada pintu. Hanya di tutupi tirai. Ini bukan
rumah milik kami. Kami hanya mengontrak tak punya rumah sendiri.
Setelah selesai mandi, aku sangat terkejut melihat Rio sudah duduk di dalam
rumah. Di ruang tamu dekat pintu dan tentunya ia terlihat jelas menatapku dari
bawah hingga rambut. Tak menghiraukannya. Aku bergegas masuk kamar lalu memakai
baju.
Baru ku buka handuk, Rio membuka tirai kamar dan langsung masuk ke kamar.
Aku menarik handuk untuk menutupi badanku. Tapi, Rio malah manjauhkan
handuknya.
"Kamu ngapain masuk!! Pergi!!"
Tak lama kemudian dia mencium bibirku dengan penuh nafsu. Aku berusaha untuk
lepas darinya. Namun sia sia. Tanganku di pegang erat, saat aku mau menendang
kelaminnya dengan kaki, Rio lebih dulu merebahkan badanku ke kasur, tapi
bibirnya tak hentinya melumat bibirku dengan penuh nafsu. Kakiku sulit sekali
di gerakkan. Tangan pun sama, di genggam erat olehnya. Tenagaku jauh lebih
lemah dari Rio. Pada akhirnya aku pasrah, hanya menangis dan menangis. Tak
menyangka, Rio tega melakukan ini padaku. Ia menghancurkan hidupku.
Saat Rio hampir mau memasukkan kelaminnya, ia tersadar saat melihatku
menangis terisak. Itu berarti mahkotaku masih utuhkan?.
Rio membenarkan celananya lalu duduk dan menutupi badanku dengan handuk.
"Maaf,," Ujar Rio. Terlihat merasa bersalah.
Maaf?? Setelah ia nikmati, mudahnya ia bilang maaf? Apakah dengan maafnya
harga diriku bisa kembali? Tidak! Dia sudah menodaiku, juga menghancurkan masa
depanku!! Tega!!
Aku hanya menangis tanpa menghiraukan ucapannya.
"Pakai bajumu, Aku mau bicara.."
Aku tak menjawab nya, aku tak tau bagaimana aku bisa menjalani hidupku
dengan penuh dosa ini. Rasanya ingin mati saja!
Kesal,sakit, marah. Semuanya menyatu. Hidupku kini hancur, masa depanku
hancur, impian dan cita cita ku pun hancur. Aku malu pada diriku sendiri yang
tak mampu menjaga diri sendiri. Andai Mamah tau, apakah aku akan di usir dari
rumah? Apakah Mamah masih menganggapku anaknya? Aku takut, aku takut Mamah tak
menganggapku anak nya lagi jika ia tahu aku telah di nodai. Aku takut.
***
Setelah satu jam, Laras keluar dari kamar dan duduk berjauhan dengan Rio di
ruang tamu. Laras hanya memandang ke bawah seperti tak sudi lagi melihat Rio.
Karena apa yang telah Rio lakukan itu sudah melewati batas.
"Duduk disini," Ujar Rio sambil menepuk tempat di sisinya.
Laras hanya diam tak menjawab. Ia masih menangis, mata nya sangat merah dan
sembab.
Rio menghampiri Laras dan duduk di sebelahnya. Mencoba meraih tangan Laras,
tapi tangan Laras langsung menghindari tangan Rio dengan cepat.
"Sayang, Maaf. Aku pasti akan tanggung jawab. Aku gak akan ninggalin
kamu. Maafkan aku Laras, Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Maafkan aku."
Ucap Rio.
"Maaf? Tanggung jawab? Apa dengan begitu, harga diriku sebagi wanita
bisa kembali?! Hiks..."
"Aku udah lama pengen putus dari kamu, dan hari ini aku udah siapin
hati dan mental aku untuk ngadepin kamu setelah memutuskan mu. Tapi apa?! Semua
gagal! Hiks..."
"Kamu malah menghancurkan hidupku Rio!! Hiks,, bagaimana bisa kamu
lakukan ini padaku??!! Hiks,,, apa salah ku sama kamu!! Kenapa kamu
tega!!" Ucap Laras sambil menangis.
Rio memeluk Laras, namun Laras menangkisnya. Seolah ia benci di sentuh Rio.
"Aku minta maaf, tolong jangan nangis lagi. Sebentar lagi mamah kamu
pulang."
Tak lama kemudian Bu Fatimah datang.
"Assalamualaikum" Ucap salam Bu Fatimah. Langsung masuk ke dapur.
"Waalaikumslam" Balas Rio pelan.
"Apa aku beritahu mamah? Bahwa Rio telah menodaiku? Nggak,, aku takut
mamah malah mengusirku. Aku takut mamah kecewa padaku. Aku harus
bagaimana?" Ucap Laras dalam hati.
Meski Laras sudah diam. Namun, air matanya tak juga berhenti. Tentu saja,
wanita mana yang bisa tenang setelah di nodai?
Laras, ia anak yang pendiam. Ia bahkan tak bergaul seperti layaknya anak
muda jaman sekarang. Pernah beberapa kali di ajak ke puncak,tapi ia menolak.
Pergaulannya tak sebebas gadis lain. Ia mudah di bodohi,penakut,dan tertutup.
Di saat seperti ini pun ia tak bisa terbuka pada orangtuanya. Ia terlalu
penakut. Wajar saja, umurnya masih 17th kurang. Belum bisa berpikiran
panjang dan banyak rasa takut.
Waktu sudah menunjukan pukul 24.20 wib. Rio sudah pulang sejak pukul 23.00
wib. Seharian, Laras dan Rio hanya saling diam. Rio sudah berusaha meminta
maaf, tapi tak ada sedikitpun respon dari Laras sampai Rio pulang.
Semuanya sudah tidur kecuali Laras. Laras melamun sambil menangis.
Tring,,
Suara pesan masuk di ponsel, Laraspun membuka layar ponselnya.
"Laras, aku minta maaf. Tolong jangan marah lagi. Kamu boleh bilang
kasar, kamu boleh marah.keluarkan semua amarahmu sampai kamu lega. Setelah itu,
aku mohon maaf kan aku. Kamu jangan khawatir. Aku pasti akan bertanggung
jawab"
Laras tak membalas pesan Rio. Ia bangkit dari tidurnya. Menuju dapur. Lalu
meraih pisau yang paling tajam. Ia arahkan pisau yang ia genggam ke dadanya.
Tatapannya sangat kosong, air matanya sudah kering, matanya merah dan bengkak.
Badannya sangat lesu dan pucat. Laras sudah sangat putus asa.
"Gak ada gunanya lagi aku hidup, aku sudah di nodai. Dosaku sudah
terlalu besar. Hidupku telah hancur, harapan dan impian ku pun hancur
bersamaan. Aku tak ingin bersamanya, dari pada harus hidup bersamanya. Lebih
baik aku mati!" Ucapnya dalam hati.
Laras mengangkat pisaunya dengan penuh tenaga dan..
" Apa kamu sanggup menerima hukuman Allah di akhirat? "
Seketika Laras terhenti, pisau yang di ganggamnya jatuh. Ia melihat ke
seluruh arah. Tak ada siapa pun.
" Suara siapa itu? Kenapa suaranya sangat jelas berbisik di
telingaku?" Tanya Laras dalam hati.
Laras bingung.
Laras meletakkan kembali pisau pada tempatnya. Dan kembali ke tempat tidur.
Sebelum itu, ia mencoba mengintip kedua Orangtua nya untuk memastikan. Semuanya
tidur. Setelah memastikan, Laras kembali merebahkan badannya di tempat tidur.
"Tadi siapa? Jelas sekali ada seseorang yang membisikan itu
padaku" Tanya Laras dalam hati.
Anda Mungkin Juga Suka





