
Terpaksa menikah dengan CEO
Bab 2
Dimas tertawa sinis. "Kau tidak salah, Alia. Ini murni bisnis. Jangan ambil hati."
Keesokan harinya, hari pernikahan tiba dengan cepat. Alia mengenakan gaun pengantin putih yang indah, namun hatinya terasa hampa. Di sampingnya, Dimas berdiri dengan sikap angkuh dan tanpa ekspresi. Upacara pernikahan berlangsung dengan mewah dan megah, namun bagi Alia, semua itu terasa kosong.
Ketika akhirnya mereka mengucapkan janji pernikahan, Alia merasa seolah jiwanya keluar dari tubuhnya. Ia tahu bahwa pernikahan ini bukanlah tentang cinta, melainkan sebuah perjanjian yang dipaksakan oleh keadaan.
Di pesta pernikahan, Dimas tetap menunjukkan sikap dinginnya. "Ingat, Alia. Ini semua untuk bisnis. Jangan berpikir kita akan menjadi keluarga bahagia."
Alia hanya bisa menunduk, menahan air mata yang hampir tumpah. Di tengah keramaian pesta, ia merasa sangat kesepian.
Setelah pernikahan, Alia pindah ke rumah mewah milik Dimas. Rumah itu besar dan megah, tetapi terasa dingin dan tidak ramah. Setiap sudut rumah mengingatkan Alia pada perjanjian yang mengikatnya dengan Dimas.
Setiap hari, Dimas pergi bekerja lebih awal dan pulang larut malam. Mereka jarang berbicara, dan ketika berbicara pun, percakapan mereka selalu singkat dan formal. Alia mencoba menjalani hari-harinya dengan melakukan hal-hal yang bisa mengalihkan pikirannya dari rasa sakit yang ia rasakan.
Suatu malam, ketika Dimas pulang lebih awal dari biasanya, Alia memberanikan diri untuk berbicara. "Dimas, bisakah kita berbicara sebentar?"
Dimas menatapnya dengan mata dingin. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku ingin tahu, kenapa kau begitu kejam padaku? Aku tidak mengerti apa salahku."
Dimas menghela napas panjang. "Ini bukan tentang kau, Alia. Ini tentang ayahmu yang telah menghancurkan banyak hal."
Alia terdiam, merasa semakin terperangkap dalam situasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tahu bahwa hidupnya kini berada di tangan seorang pria yang tidak memiliki belas kasihan, dan ia harus mencari cara untuk bertahan dalam kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian ini.
Hari demi hari berlalu dengan lambat, setiap detiknya terasa seperti beban berat yang harus ia pikul. Namun, Alia tahu bahwa ia harus tetap kuat, demi dirinya sendiri dan demi keluarganya. Dengan tekad yang semakin kuat, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menemukan jalan keluar dari kegelapan yang menyelimuti hidupnya.
Pada suatu hari, Alia mendapat kesempatan berbicara dengan ibunya, Bu Darma. Mereka duduk di ruang tamu yang luas namun dingin, mencoba mencari secercah harapan di tengah kesulitan.
"Alia, kamu harus tetap kuat. Kita akan menemukan jalan keluar dari semua ini," kata Bu Darma dengan suara lembut namun tegas.
"Ibu, aku merasa begitu terjebak. Dimas begitu dingin dan kejam. Aku tidak tahu bagaimana harus menjalani hidupku sekarang," jawab Alia dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu bukan sendirian, Alia. Ibu dan Papa akan selalu ada untukmu. Kita harus bertahan dan mencari cara untuk keluar dari situasi ini," ujar Bu Darma, menggenggam tangan putrinya erat-erat.
Dalam hati, Alia tahu bahwa ia tidak boleh menyerah. Ia harus terus berjuang dan mencari cara untuk membebaskan dirinya dan keluarganya dari perjanjian yang menyiksa ini. Dengan dukungan dari keluarganya, ia yakin bahwa suatu hari nanti, ia akan menemukan kebahagiaan yang sejati.
Begitulah, Alia memasuki babak baru dalam hidupnya, penuh dengan tantangan dan harapan. Meskipun jalan yang harus ia tempuh terasa berat dan penuh rintangan, ia tahu bahwa dengan tekad dan keberanian, ia akan mampu mengatasi segala halangan yang menghadangnya. Dan di balik setiap cobaan, selalu ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Anda Mungkin Juga Suka





