
Terpaksa menikah dengan CEO
Bab 3
Setelah pernikahan yang dingin, Alia mulai tinggal di rumah besar Dimas. Namun, hatinya masih ingin tetap bersama keluarganya, terutama di saat-saat sulit seperti ini. Ia berharap bisa meyakinkan Dimas untuk membiarkannya tinggal dengan orang tuanya, setidaknya sampai ia bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya.
Suatu pagi, Alia memutuskan untuk berbicara dengan Dimas tentang keinginannya. Setelah sarapan yang sunyi, ia mengumpulkan keberanian dan memulai percakapan.
“Dimas, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting,” kata Alia dengan suara lembut namun tegas.
Dimas menatapnya tanpa ekspresi. “Apa itu?”
“Aku ingin tinggal bersama orang tuaku, setidaknya untuk sementara waktu. Aku merasa masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan semua ini,” ujar Alia, berharap ada sedikit belas kasihan dari suaminya.
Namun, Dimas hanya tertawa sinis. “Kau ingin tinggal bersama orang tuamu? Apa kau pikir ini semua lelucon? Kita sudah menikah, Alia. Dan sebagai istriku, kau harus tinggal bersamaku, bukan orang tuamu.”
Alia mencoba menjelaskan perasaannya. “Aku hanya butuh waktu, Dimas. Situasi ini sangat sulit bagiku. Tolong, mengertilah.”
Dimas menggelengkan kepala dengan dingin. “Tidak ada waktu untuk itu, Alia. Kau harus belajar menjalani hidup ini sesuai dengan aturanku. Dan aturan pertamaku adalah, kau tinggal di sini, bersamaku.”
Alia merasa hatinya hancur mendengar kata-kata itu. Ia tahu bahwa berdebat lebih jauh hanya akan memperburuk keadaan. Dengan berat hati, ia menerima kenyataan bahwa ia harus tinggal di rumah besar itu, jauh dari keluarganya.
Hari-hari berlalu dengan lambat di rumah besar Dimas. Alia merasa seperti tawanan di dalam rumahnya sendiri. Setiap sudut rumah mengingatkannya pada perjanjian yang mengikatnya dengan Dimas, dan setiap kali ia mencoba menghubungi orang tuanya, Dimas selalu memonitor percakapan mereka.
Suatu hari, ketika Dimas pulang lebih awal dari biasanya, Alia mencoba sekali lagi untuk berbicara dengannya. "Dimas, bisakah kita bicarakan tentang tempat tinggalku ini lagi? Aku merasa sangat kesepian di sini."
Dimas menatapnya dengan dingin. "Kau sudah tahu jawabannya, Alia. Aku tidak ingin mendengar keluhan lagi. Kau harus belajar menerima keadaan ini."
Alia hanya bisa menunduk, menahan air mata yang hampir tumpah. Ia merasa semakin terisolasi dan tidak berdaya.
Suatu malam, ketika Alia sedang duduk sendirian di ruang tamu, ia menerima panggilan dari ibunya. Bu Darma terdengar sangat cemas. “Alia, bagaimana keadaanmu di sana? Ibu sangat khawatir.”
“Aku baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir,” kata Alia dengan suara yang mencoba terdengar tenang, meskipun hatinya berkecamuk.
“Alia, Ibu tahu ini sangat sulit untukmu. Tapi ingatlah, kita selalu ada untukmu. Jika kau butuh sesuatu, jangan ragu untuk menghubungi kami,” kata Bu Darma dengan penuh kasih.
“Terima kasih, Bu. Aku akan selalu ingat itu,” jawab Alia dengan air mata mengalir di pipinya.
Setelah menutup telepon, Alia duduk merenung di ruang tamu yang luas namun terasa sangat kosong. Ia tahu bahwa hidupnya kini berada di tangan seorang pria yang tidak memiliki belas kasihan, dan ia harus mencari cara untuk bertahan dalam kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian ini.
Pada suatu hari, Alia mendapat kesempatan berbicara dengan salah satu pelayan rumah, Bu Ratna. Mereka duduk di dapur, mencoba mencari secercah harapan di tengah kesulitan.
“Bu Ratna, aku merasa sangat terjebak di sini. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Alia dengan suara penuh kepedihan.
Bu Ratna, yang sudah bekerja lama di rumah Dimas, menatap Alia dengan mata penuh simpati. “Nona Alia, hidup ini memang tidak selalu adil. Tapi yang penting, Nona harus tetap kuat dan jangan menyerah. Pasti ada jalan keluar dari semua ini.”
“Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan, Bu Ratna. Dimas begitu kejam dan tidak berperasaan,” ujar Alia dengan mata berkaca-kaca.
“Nona, dalam hidup, kita harus belajar untuk bertahan di tengah badai. Jangan biarkan keputusasaan menguasai hati Nona. Percayalah, suatu hari nanti, Nona akan menemukan kebahagiaan yang sejati,” kata Bu Ratna sambil menggenggam tangan Alia erat-erat.
Dalam hati, Alia tahu bahwa ia tidak boleh menyerah. Ia harus terus berjuang dan mencari cara untuk membebaskan dirinya dan keluarganya dari perjanjian yang menyiksa ini. Dengan dukungan dari keluarganya dan orang-orang di sekitarnya, ia yakin bahwa suatu hari nanti, ia akan menemukan kebahagiaan yang sejati.
Begitulah, Alia menjalani hari-harinya dengan tekad dan keberanian yang semakin kuat. Meskipun jalan yang harus ia tempuh terasa berat dan penuh rintangan, ia tahu bahwa dengan tekad dan keberanian, ia akan mampu mengatasi segala halangan yang menghadangnya. Dan di balik setiap cobaan, selalu ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Anda Mungkin Juga Suka





