
Terpaksa Dinikahi Majikan
Bab 2
"Boleh kok, Azizah. Semua jadi lima puluh ribu, ya?"
"Kok sampai lima puluh ribu, Bi?"
"Karena kamu ngutang, zah. Beda kalau bayar kontan. Kalau kamu bayar kontan, Bibi akan kasih harga normal!"
"Tapi itu kan terlalu mahal, Bi?"
"Kalau kamu ada uang kontan sekarang, akan Bibi kasih murah! Sebab, seperti kata Pela tadi, belum tentu kamu bisa bayar cepat. Perputaran uang Bibi kan jadi tersendat di kamu!"
Azizah terpaksa mengalah demi supaya adiknya bisa makan. Sebelum dia pamit pulang, Pela bertanya kepadanya soal pekerjaan yang dia tawarkan. "Heh Azizah.... Gimana? Kamu jadi kan ngelamar pekerjaan yang aku kasih?"
"Iya, jadi."
"Bagus, lah. Biar kamu bisa bantu bayar hutang! Kasihan Bi Iyun kalau harus bayar hutang sendiri!"
Setahu Azizah, mereka tidak pernah berbelas kasihan kepada ibunya. Yang ada, mereka selalu menghasut ayahnya yang tidak lain adalah adik kandung wanita bernama Ijah itu agar menceraikan ibunya karena ibunya tidak bisa membahagiakan adik bungsunya itu.
Dia pulang dengan mengabaikan cibiran dari sepupunya dan Bi Ijah. Tadinya dia pikir Bibinya sudah berubah jadi orang yang baik saat dibela di depan anaknya. Tapi ternyata masih rakus dengan uang haram.
Bisik-bisik mereka masih terdengar oleh Azizah yang belum jauh dari tokonya. " Kamu berhasil bikin dia putus dari Rudi?"
"Iya, Ma. Rudi mutusin dia di depan aku. Kan aku lebih cantik dari dia, lebih modis dan kaya lagi." Gelak tawa mereka pecah saat membicarakannya.
Rudi adalah mantan pacar Azizah. Dia mengajak Azizah untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Tapi Azizah menolak dengan alasan dia masih ingin membahagiakan adik dan ibunya.
Pela menghasut Rudi agar memutuskan hubungan mereka. Dia merekayasa perselingkuhan Azizah dengan orang lain agar dia bisa memiliki Rudi. Alhasil, Rudi menerima Pela dan memutuskan hubungannya dengan Azizah.
Sesampainya di rumah, Azizah segera memasak nasi dan telur dadar. Melihat adik-adiknya makan dengan lahap, hatinya bercampur aduk. Ada perasaan sedih, haru dan bahagia.
Ucapan salam terdengar dari arah pintu. Suara salam dari seorang wanita yang membuat hati dan perasaan Azizah menjadi nyaman dan tentram. Segala kekhawatiran, kesedihan dan kebingungannya akan hilang saat mendengar suaranya. Dia adalah ibunya. Ibu yang sangat dia sayangi. Jika bisa dia akan menundukkan seluruh isi dunia di kaki ibunya. Tapi apa daya, dia hanya anak manusia yang mempunyai keterbatasan sebagai manusia.
"Wa'alaikummussalam, Bu."
Dengan senyum sumringah ibunya masuk. Ditangannya terdapat satu kantong plastik yang berisi beberapa bungkus lauk masak. Azizah mengambil bungkusan itu dari tangan ibunya agar ibunya bisa menggendong adik bungsunya yang menghambur ke pangkuan ibunya.
"Makanlah, Nak. Itu lauk dikasih Bu Epi langganan Ibu," suruhnya kepada Azizah dan Ainun.
Saat ibunya sedang asyik bersama adiknya, ayahnya pulang dengan sempoyongan, yang tak lain bernama Doni. Ibunya segera memapah ayahnya untuk masuk ke kamar tidur. Tapi ayahnya menghempaskan tangan ibunya dan berjalan sempoyongan ke arah Azizah.
Setelah menarik salah satu kursi di meja makan, dia berkata, "Heh, Azizah. Besok kamu harus ikut dengan Ayah."
"Kemana, Yah?" tanya Azizah cemas.
"Pokoknya, Kamu ikut saja."
"Mau kamu bawa ke mana anakku?" sela Ibunya yang juga cemas. Firasatnya sudah buruk. Darahnya berdesir karena dia tidak pernah berbuat baik kepada anak-anaknya.
"Mau aku jual untuk bayar hutang judiku!"
"Dasar manusia laknat kamu Doni! Dia itu anak kandungmu sendiri! Bukan barang yang bisa kamu jual untuk melunasi hutang judimu!"
Lelaki bernama Doni itu berdiri dari duduknya dan melayangkan sebuah tamparan yang keras kepada istrinya, hingga membuatnya tersungkur.
"Ibu...." Azizah dan Ainun serempak berteriak dan berlari ke arah ibunya. Sedangkan Akbar hanya berdiri mematung dengan mata melotot ke arah ayahnya.
Setelah ayahnya tertidur, Azizah mengutarakan niatnya untuk menjadi pembantu di sebuah rumah mewah yang tidak jauh dari rumahnya.
"Bu.... Sebetulnya, aku sudah mendapatkan pekerjaan."
"Benarkah, Nak? Pekerjaan apa? Dimana?" tanyanya dengan antusias sambil menyeka air matanya.
"Di jalan mawar, Bu. Rumah yang paling besar. Aku jadi pembantu di sana," terangnya.
"Pembantu?"
"Iya, Bu. Jika aku bekerja di sana, Ayah tidak akan bisa menjualku, Bu. Karena di sana diwajibkan menginap. Jadi aku tidak akan ketemu dengan Ayah. Bagaimana menurut Ibu?"
"Tapi, Nak. Apa kamu bisa bekerja sebagai pembantu? Itu pekerjaan kasar, Nak."
"Gak apa-apa, Bu. Aku pasti bisa, kok. Nanti setiap gajian aku akan kirim uang buat Ibu. Jadi Ibu bisa bayar hutang-hutang kita di warung Bi Ijah."
Dia memang ingin agar anaknya keluar dari rumah terkutuk itu agar lepas dari cengkraman ayahnya. Dia tidak mau anaknya dijual oleh suaminya untuk melunasi hutang judinya. Tapi jika anaknya menjadi pembantu, sesungguhnya hatinya agak berat. Tapi demi bisa mempunyai tempat yang aman untuk anaknya berlindung dia pun akhirnya memberikan izin.
"Baiklah, Nak. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk lepas dari ayahmu yang jahannam itu," ucapnya seraya membelai kepala anaknya yang masih sempat-sempatnya tersenyum manis meski air matanya mengalir deras.
Azizah mengemas baju-bajunya yang akan ia bawa ke dalam tas ransel sebelum tidur. Dia ingat pesan ibunya, agar dia keluar dari rumahnya besok pagi-pagi sekali sebelum ayahnya bangun. Karena jika tidak, maka ayahnya tidak akan membiarkan Azizah untuk kabur.
Anda Mungkin Juga Suka





