Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Dimadu

Terpaksa Dimadu

Hati Ririn hancur saat berkunjung ke rumah mertua dan mendapati kenyataan pahit bahwa Arman, suaminya, akan menikah lagi. Meski tanpa restunya, rencana pernikahan itu tetap berjalan hingga Ririn terpaksa menerima dipoligami. Ia pun mengajukan syarat untuk mengurus seluruh persiapan acara tersebut sendirian. Namun, di balik sikap pasrahnya, Ririn menyimpan rencana besar. Strategi ini hanyalah taktik cerdik untuk memberi pelajaran bagi suami dan keluarga mertuanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Di ruangan yang harusnya dingin ini, kulihat Mas Arman bercucuran keringat.

Kupandangi satu persatu wajah yang beberapa saat lalu begitu kuhormati.

Bapak mertua. Orang yang selama ini begitu kusegani. Tak menyangka ia akan tega melakukan hal ini padaku.

Ibu mertua. Wanita yang selama ini dengannya aku berusaha menahan sabar. Wajah itu, entah kenapa seperti menampakkan senyum kemenangan. Tutur lembutnya sejak dahulu memang pura-pura.

Para ipar. Kakak-kakak dari suamiku ini seperti tak mau tahu. Aku penasaran, jika mereka berada di posisiku apa yang akan mereka lakukan.

"Jadi gimana, Rin? Bapak berhutang budi banyak pada Pak Handoko. Salah satu caranya ya hanya itu," ucap Bapak.

Aku terdiam tak menanggapi.

"Lagi pula, bukankah di agama dibolehkan lelaki menikah sampai empat kali," ucap Ibu.

Aku mendongak menatapnya. Ajaib sekali wanita ini. Sesaat yang lalu ia meminta maaf dengan lembut. Namun, sekarang belum juga ada satu jam ia berkata seolah ini hal yang mudah.

Aku menatap Mas Arman. Lelaki itu sejak tadi tak juga bersuara. Hanya butiran keringat sebesar biji jagung yang menetes dari dahinya.

Aku menghela napas panjang. Kucoba memupuk kekuatan. Aku sendiri. Masalah ini harus selesai dengan caraku. Tak ingin kulibatkan keluarga yang ada di kampung.

"Ririn terserah Mas Arman saja, Pak," ucapku. Aku harus kuat, sekuat tenaga kutahan agar tak menangis di depan mereka.

Kulihat Bapak tersenyum. Senang sekali sepertinya.

"Nah, Arman. Sudah beres. Apa yang perlu dikhawatirkan lagi. Ririn sudah setuju," ucapnya pada suamiku.

"Tapi, Pak," ucap Mas Arman. Ia seraya melihat ke arahku.

Ayo, Mas. Kenapa diam? Ayo tolak permintaan bapakmu. Aku ingin lihat kesungguhan cinta yang selama ini kau selalu ucapkan.

Aku menunggu Mas Arman menyanggah ucapan bapaknya. Namun, ternyata jawabannya di luar dugaan.

"Ya, sudah. Kalau begitu Arman setuju." Bagai ada petir di siang bolong, tubuhku bergetar mendengar ucapan Mas Arman.

Sekuat tenaga aku menahan bulir bening yang hendak melesak ke luar. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau ini terjadi.

Bersamaan dengan hancurnya hatiku, aku mendengar Bapak tertawa dengan keras. Ibu mertua mengucap syukur. Bahagia sekali sepertinya mereka.

Harus kucegah, setidaknya aku tak mau sakit sendiri.

"Tapi, Ririn punya syarat, Pak." Dengan lantang aku berucap.

Ruangan yang beberapa saat lalu riuh dengan suasana sukacita mendadak senyap.

Semua mata memandang ke arahku. Terlihat Ibu mertua mengerutkan keningnya.

"Ririn mau calon bertemu dengan calon madu Ririn sebelum memutuskan Mas Arman boleh menikah lagi atau tidak," ucapku.

Terlihat helaan napas dari Bapak dan Ibu.

"Oh, tenang aja, Rin. Nanti kamu pasti suka. Anaknya baik, cantik, sudah gitu kaya lagi. Ya setidaknya pas dengan Arman. Pokoknya mantu idaman ibu, deh." Ibu mertua begitu antusias membicarakan wanita yang akan menjadi maduku.

Saat ia mengatakan itu, ada yang tercubit di dalam sini. Sakit sekali. Ia sepertinya menyadari perubahan di wajahku.

"Ibu juga mau merasakan punya mantu kaya, Rin. Karir bagus, cantik, besan yang bisa dibanggakan. Apalagi Arman anak lelaki satu-satunya," ucapnya lagi.

"Setidaknya, calon mantu ibu yang ini tak hanya pandai menghabiskan uang suami saja," ucapnya menyindirku.

Bagaimana ia memandangku selama ini? Ah, aku tahu aku tidak kaya. Akupun rela meninggalkan karirku yang tak hebat demi berbakti pada keluarga ini. Tapi, tak bisakah itu mengambil hatinya. Kebaikanku selama enam tahun ini.

Tak bisakah ia melihat perjuanganku yang bertaruh hidup dan mati demi melahirkan generasi penerus keluar ini. Aku rela pindah dan jauh dari orang tua demi Mas Arman fokus pada pekerjaannya. Jarak tempuh satu jam membuat Mas Arman capek kalau harus bolak balik dan aku mengalah demi itu.

Mendadak aku menjadi rapuh saat mengingat ada anak yang harus diperjuangkan.

"Ririn minta secepatnya, Pak. Setelah itu, Ririn akan beri keputusan," ucapku.

"Oh, tentu. Besok kita bicarakan hal ini lagi. Lebih cepat lebih baik."

Setelah pembicaraan itu, aku dan Mas Arman pulang ke rumah kami. Aku diam sepanjang jalan. Ia pun tak berusaha mengajakku mengobrol.

Aku Ririn sebenarnya sangat sakit hati ketika keluarga suami memintaku agar mau dimadu. Ah, bukan meminta sepertinya. Tapi, memaksa. Mau tak mau harus mau.

Suami yang aku harapkan menjadi tameng dan mau menolak pernikahan keduanya, ternyata hanya diam. Bagai kerbau dicicil hidungnya oleh burung gagak ia hanya diam.

Saat itu, rasanya ingin sekali aku berteriak perceraian. Namun, ada Haidar. Anak lelaki lima tahun, buah cinta aku dan suami yang harus diperjuangkan masa depannya.

Menikah dengan Mas Arman enam tahun lalu, merupakan sebuah anugerah terindah yang kudapatkan. Mendapatkan suami tampan, pekerja keras, dan yang terpenting sangat mencintaiku membuatku menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Dahulu, meski penolakan datang bertubi dari keluarganya terutama sang ibu, Mas Arman tetap maju. Ia memperjuangkan hubungan kami sampai Ibu mertua mau menerimaku.

Tapi, sepertinya ia belum sepenuhnya menerimaku. Karena, sejak menikah kami tak boleh tinggal berjauhan dengannya. Mulai dari tempat tinggal, model rumah, dan hal-hal sepele dalam kehidupan pernikahan kami semua diatur olehnya. Baik Bapak maupun Ibu mertuaku.

Aku berusaha sabar dan menurut saja. Sampai permintaan tak masuk akal itu terlontar dari mulut mereka.

"Rin ...," lirih Mas Arman memanggil namaku. Saat ini kami sudah berada di rumah kami. Tak jauh dari tempat tinggal mertuaku.

"Hmm." Aku menjawab sambil mengusap punggung Haidar yang sedang tertidur pulas.

"Maaf," ucap Mas Arman.

Aku bergeming.

"Mas gak bisa nolak," ucapnya lagi.

"Kenapa?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibirku. Sekuat tenaga aku berusaha menahan tangis.

"Mas gak bisa, Rin," ucapnya.

"Iya, kenapa?" desakku.

"Kamu tahu, kan Ibu dan Bapak?" Ia balik bertanya.

"Aku tahu," ucapku singkat.

Terlihat wajah penuh lega di sana.

"Mas minta dukungan dan sedikit pengorbananmu, Rin." Mas Arman menggenggam tanganku.

Pengorbanan? Apa lagi ini? Bukankah selama ini aku yang banyak berkorban. Aku berhenti bekerja, jadi babu di rumah ibunya, berusaha menurut meski hati tak mau. Lalu pengorbanan seperti apa lagi?

"Mas minta kamu mau dimadu. Mas mohon. Mas hanya ingin berbakti," tutur Mas Arman.

Berbakti. Ya, itu yang selalu dijadikan senjata kedua mertuaku. Bagi mereka Mas Arman bukan anak berbakti karena memaksa menikah denganku.

"Kalau begitu, Mas sudah siap apapun keputusanku?" tantangku.

Mas Arman terbelalak.

"Memang apa keputusanmu?" tanyanya.

"Besok kita akan tahu," ujarku.

Kita lihat besok, Mas. Apa kamu akan terkejut dengan keputusanku? Bahkan sepertinya bukan hanya kamu saja, tapi Ibu dan Bapak juga.

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Boy and Secret
9.2
Kenzo dan Alesha terjebak dalam pernikahan paksa akibat tuntutan orang tua. Hubungan tanpa cinta ini menjadi semakin rumit karena mereka harus menyembunyikan status tersebut dari publik. Situasi kian pelik saat Alesha hamil, memicu ketakutan luar biasa dalam dirinya. Meski penuh tekanan dan lika-liku, keduanya berupaya membangun komitmen di tengah badai emosi. Inilah perjalanan sulit mereka dalam menghadapi rahasia besar serta tanggung jawab yang tak terduga.
Sampul Novel Dua Wajah Suami Romantisku
9.5
Vanessa Putri Ardian menjalin kasih dengan Eksa Susanto, mantan gurunya yang jauh lebih dewasa. Meski penuh lika-liku akibat perbedaan usia, kedewasaan Eksa membawa mereka hingga ke jenjang pernikahan. Namun, konflik rumah tangga mulai muncul saat masalah keturunan dan kehadiran Risang Aditya Sidharta, kembaran Eksa, menguji kesetiaan mereka. Saat wajah yang identik menyukai wanita yang sama, mampukah Eksa tetap menjadi satu-satunya suami bagi Vanessa?
Sampul Novel ENIGMA: When We Are
8.1
Elang Albimanyu adalah pemuda dari keluarga broken home yang mendambakan kehangatan sebuah rumah. Baginya, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan kasih sayang tulus. Di tengah pencariannya, ia jatuh hati pada Sabiru Anantasya, sang wakil ketua OSIS yang masih terjebak bayang masa lalu. Meski sering dibuat kesal oleh sikap judes Sabiru, Elang tetap berjuang. Di antara rumitnya perasaan dan tanggung jawab organisasi, mampukah cinta Elang mengubah segalanya bagi Sabiru?
Sampul Novel Kau Pilih Dia Saat Aku Mengandung Anakmu
9.4
Hati Sarah hancur ketika Dimas, suaminya, justru lebih peduli pada Citra daripada dirinya yang tengah mengandung. Di tengah masa sulit itu, sang sahabat mulai menunjukkan ambisi licik untuk merebut posisi Sarah. Kini, Sarah berdiri di persimpangan jalan yang menyakitkan. Haruskah ia tetap bertahan dalam pernikahan yang retak demi calon bayinya, atau memilih pergi demi menjaga harga diri serta kedamaian hidupnya? Inilah perjuangan batin seorang istri.
Sampul Novel Luka Lara
9.6
Setahun menikah, Larasati tak menyangka dirinya hanyalah istri kedua. Kebaikan Abimana dan mertuanya ternyata semu. Kebenaran pahit terungkap tepat setelah putranya lahir; Bima mengaku hanya memanfaatkannya demi keturunan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Larasati hingga mereka akhirnya berpisah. Di tengah luka batin yang begitu mendalam, mampukah Larasati bangkit dan kembali membuka pintu hatinya untuk pria baru yang ingin menyembuhkan lara tersebut?
Sampul Novel Satu Malam Bersama CEO Duda
7.8
Azka, seorang CEO duda, terjebak dalam skandal setelah seseorang membiusnya di sebuah pesta. Ia terbangun di ranjang yang sama dengan Zia, wanita asing yang tak ia kenal. Akibat desakan keluarga Zia dan ancaman lapor polisi yang bisa merusak reputasinya, Azka terpaksa menikahi Zia. Meski awalnya menolak, rasa iba muncul saat melihat Zia diperlakukan buruk oleh keluarganya sendiri. Mampukah pernikahan paksa ini berbuah manis atau justru penuh luka?