Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TEROR ASOKA

TEROR ASOKA

Meski hanya anak angkat, Asoka Lavanya Ekadanta tumbuh besar dalam limpahan kasih sayang keluarga Dirandra. Namun, hidupnya dihantui serangkaian teror misterius sejak kecil yang kian membahayakan. Demi melindungi orang-orang terkasih, Asoka memilih menjauh dan berjuang sendirian. Mampukah ia mengungkap dalang di balik ancaman maut ini sembari merebut kembali hati wanita yang tulus mencintainya? Sebuah perjalanan penuh aksi demi mengakhiri dendam masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Saya teman kuliah Erni, Bu,” ujar Setya tersenyum lebar menunjukkan keramahan.

Akan tetapi hal yang berbeda terlihat di selebar wajah Nyinya Witun. Wajahnya yang pucat terlihat semakin pucat ditambah dengan keringat dingin yang mulai terlihat menghiasai dahinya.

“Ibu …” panggil Erni yang tidak terkejut melihat sang ibu yang semakin pucat. Perasaannya bukan semakin lega bisa mempertemukan Setya dengan Nyonya Witun tetapi menjadi firasat tidak enak. Sepertinya kedua orang dihadapannya saling kenal.

Nyonya Witun menoleh kepada sang putri. “Ibu capek. Mau tidur dulu. Kamu pulang aja sana istirahat.”

“Tapi … ada Mas Setya datang ini. Beliau yang membantu Erni bisa mengoperasi Ibu,” balas Erni dengan raut sungkan dan sedikit lega, paling tidak ibunya tidak lagi menuduh yang bukan-bukan.

“Dia yang membayar?” tanya Nyonya Witun menatap lekat sesaat pada Erni dan menoleh pada Setya yang berdiri di ujung ranjang Nyonya Witun dengan senyum yang masih tersemat.

“Iya Bu. Emangnya kalian saling kenal?”

“Nggak,” jawab Nyonya Witun cepat, sebelum Setya sempat berucap meski mulut pemuda itu sudah terbuka.

“Oh … yaudah sih, kalau gitu. Ibu jangan khawatir aku akan kembalikan uang yang kita pinjam dari mas Setya,” kata Erni berusaha menghibur sang ibu dengan getar di dada mengingat kembali syarat konyol yang diajukan oleh Eriska. Entah apa yang sedang direncanakan oleh Eriska dan Setya, Erni tidak ingin menduga atau bahkan memikirkannya meski rasanya mengganjal di hati. Kesehatan sang ibu dan urusan hutang piutang lebih penting saat ini. Apalagi dirinya sudah menjadi pengangguran sejak sang bos tersinggung dengan ucapannya.

“Pulang sana, urus rumah pasti berantakan kamu tinggal di sini.”

Tanpa membalas apapun, Erni segera bangkit dari duduknya dan membereskan barang bawaannya dan pakaian kotor sang ibu sebelum beranjak menuju pintu keluar. Meninggalkan Setya bersama dengan sang ibu. Erni benar-benar tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi meski ada rasa berhutang budi dengannya.

Erni berjalan cepat menuju tangga darurat, dia tidak mau menggunakan lift agar tidak bertemu dengan Setya. Erni sangat yakin jika pria itu pasti akan menyusulnya.

Tebakan Erni tidak meleset, tak berselang lama setelah wanita tua dan pemuda tampan itu saling menukar tatapan tanpa kata. Pemuda itu menyusul keluar dan menghela napas kesal karena tak lagi menemukan keberadaan Erni. Dengan langkah kesal dirinya menuju motor sportnya dan menghubungi seseorang.

“Cari tahu alamat Erni Elawati yang asli.”

“Bukankah alamatnya sudah tertulis di data pasien?” balas suara wanita.

“Kamu pikir jika alamat yang ditulis asli, aku akan menghubungimu?”

“Baiklah akan segera aku cari tahu. Oh ya, kenapa kamu tidak tanyakan kepadanya saja? Kamu masih di rumah sakit bukan?”

Setya berdecak kesal. Jika saja Erni tidak menghilang seperti hantu sudah pasti dirinya tidak akan kehilangan jejak dan memiliki alasan untuk mengantarnya pulang. Setya jengkel juga pada dirinya sendiri karena terlalu lamban bereaksi di ruang rawat inap tadi. Itu semua karena dia tidak tahu juga Witun yang dikenal adalah ibu dari seorang Erni Elawati.

*

Beberapa kali Asoka, dalam seminggu ini menyambangi rumah wanita itu tetapi selalu kosong. Para tetangga juga tidak tahu ke mana perginya, sungguh aneh. Wanita itu seperti ditelan bumi. Hans dan Fano juga sama sekali tidak bisa menghubungi Erni.

“Kamu benar-benar, tidak akan datang Erni?” gumam Asoka seraya menatap foto dirinya dan ketiga sahabatnya dua laki-laki—Hans dan Fano serta satu perempuan bernama Erni, foto yang diambil saat kelulusan mereka di bangku SMA. “Bisa-bisanya dia menghilang seperti ini,” gerutunya kesal. Seumur hidup jarang sekali Asoka kesal karena sikap orang lain yang mengabaikannya.

Asoka sengaja menunda acara pesta ulang tahunnya seminggu sejak dia melihat Erni berboncengan dengan pria asing itu. Tidak ada semangat untuk merayakan tahun ini. Padahal dia sendiri sudah mengimpikan perayaan seru bersama dengan orang-orang penting dalam hidupnya. Terlebih sekarang dia memiliki kekasih yang tidak hanya cantik tetapi juga penyabar dan bisa menerima kekurangannya. Namun di sisi lain, dia merasa Erni justru menjauhinya begitupun dengan sang kekasih yang tiba-tiba melarangnya berhubungan lagi dengan Erni.

“Aku tidak mau kamu masih berurusan lagi dengan Erni. Aku tidak suka dia selalu ada diantara kalian,” rajuk Eriska saat mereka makan malam di café tak jauh dari kos wanita itu.

“Kenapa? Dia sahabatku sejak sekolah dulu. Kami tidak ada perasaan lebih,” jawab Asoka seraya menatap lekat wajah sang kekasih yang kini semakin masam mendengar jawabannya. Asoka sendiri pun mendengar jawabannya sendiri merasakan sesuatu yang lain, seperti tidak pas tapi jelas tidak mungkin dia ungkapkan saat ini bisa-bisa wanita yang duduk berseberangan dengannya ini meledak, marah.

“Tidak ada persahabatan laki-laki dan perempuan Asoka. Masa hal sederhana seperti ini aja kamu nggak paham?!”

Asoka menghela napas panjang. “Siapa bilang tidak bisa? Kamu hanya terbawa opini netizen saja. Buktinya persahabatan kami berempat baik-baik saja. Kami tidak pernah berebut mendapatkan perhatian Erni apalagi sampai berantem. Lalu, salahnya di mana?”

Mata Eriska menyipit, kesal. “Kamu sungguh tidak paham kalau aku cemburu ya? Aku dan dia sama-sama wanita. Aku bisa tahu hanya dengan melihat tatapannya kepadamu saja sudah berbeda.”

“Jangan mengada-ada Eriska. Aku tidak suka kamu menghina teman-temanku. Mereka orang yang berjasa dalam hidupku.”

Eriska mendengkus jengah. “Baiklah tapi aku tidak mau menunda pestamu lagi. Lagian kenapa sih, nggak mau dirayakan? Keluargamu tidak akan bangkrut dengan sekali perasaan ulang tahun.”

Oleh sebab itu, kali ini Asoka sudah tidak punya alasan untuk menunda lagi atau pacarnya akan semakin merajuk. Asoka sudah harus memikirkan prioritas lain dalam hidupnya. Dia sendiri menyadari jika selama ini terlalu bergantung dengan para sahabatnya.

“Hans, jemput aku ya nanti?” tanya Asoka di sambungan telepon seraya memilih kemeja yang akan dikenakan.

“Iya. Pakai saja kemeja biru yang aku belikan dulu.”

“Bagaimana kamu tahu aku sedang memilih kemeja?”

“Ambu tadi yang ngasih tahu. Katanya kamu ngeluh nggak punya kemeja padahal loh, tuh ngegantung 3 lusin. Ha ha ha, kamu ini jadi seperti perempuan aja. Banyak pakaian tapi bilang nggak punya.”

“Memangnya cuma perempuan saja yang bisa galau. Aku sepertinya terlalu tegang dengan pesta di klub. Bagaimana jika kita pindah tempat?”

“No … no … no … Abangku bisa ngamuk kalau kamu batal. Dia udah seneng banget seorang Ekadanta mau memakai ruang VVIP untuk pesta. Kapan lagi dari keluargamu bisa pesta di tempatnya.”

“Iya deh.”

*

“Ada yang lain lagi Kak. Kami ada promo tebus murah hari ini dengan pembelian minimal lima puluh ribu, kakak bisa membeli barang dalam katalog ini dengan hanya membayar setengahnya saja. Tetapi hanya berlaku untuk satu item saja,” kata kasir minimarket kepada Erni.

Sore ini Erni sedang membeli beras dan bahan pokok lainnya. Kebetulan sang ibu juga sudah kembali ke rumah. Ke kontrakan mereka yang terbaru. Erni benar-benar meninggalkan rumah mereka yang lama.

“Enggak deh.” Meski sangat tergoda dengan produk di katalog yang memang ada beberapa yang sangat dia butuhkan saat ini. Namun mengingat bahwa dirinya harus berhemat sampai mendapatkan pekerjaan sesungguhnya. Ibunya tidak boleh tahu, jika dirinya adalah pengangguran.

Erni duduk di barisan kursi yang memang disediakan oleh minimarket tersebut untuk pengunjung yang sekedar menikmati kopi dan kudapan sebelum melanjutkan perjalanan. Memang letak mini market yang berada di pinggir jalan raya utama lintas kabupaten menjadikan tempat tersebut sebagai persinggahan untuk sekedar melepas lelah sesaat.

Erni baru menegak es kopi di tangan saat seorang kenalannya datang mendekat. “Ada lowongan pekerjaan untukku?” tanyanya tanpa basa-basi, bahkan sebelum teman prianya itu memarkirkan sepeda motornya dengan benar.

“Ada. Tapi untuk sementara ini cuma sementara.”

“Nggak apa-apa, sementara juga yang penting aku kerja. Kerja di mana?”

“Nah itu masalahnya. Aku nggak yakin Mak Witun akan mengizinkan kamu.”

“Kalau begitu jangan bilang Ibu. Aku butuh banget kerja, uang semakin menipis. Kamu tahu kan?”

“Kami butuh tambahan LC di klub. Ada pesta VVIP orang kaya malam ini. Kalau kamu mau, cepat pulang dan mandi pakai baju biasa aja. Aku akan pinjamkan pakaian buat kamu di klub nanti. Jam 7 aku jemput.”

“Siap.” Tentu saja, Erni tidak akan melewatkan pekerjaan ini apapun alasannya. Kapan lagi punya kesempatan.

*

“Kamu mau ke mana?” tanya Nyonya Witun begitu Erni menutup pintu kamar dan sudah berdandan rapi.

“Ada kerjaan dikit Bu.”

“Sama siapa?”

“Fajar yang kasih.”

“Fajar yang kerja jadi sekuriti itu? Memang kerjaan apa?”

“Bantuin jadi pelayan di restoran tempat temannya kerja. Katanya butuh tambahan pekerja untuk malam ini. Ada pesta orang kaya katanya, tamunya banyak.” Erni merasa lega, paling nggak dia punya alasan meski tidak jujur 100%.

“Tapi kamu baru aja balik kerja. Masa udah pergi lagi. Mbok ya, cari kerjaan yang beneran.”

“Ini juga beneran Bu, nggak ada salahnya kan sementara Erni kerja paruh waktu? Erni digaji loh.”

“Ya udahlah terserah kamu deh.” Nyonya Witun lalu berbalik kembali ke kamarnya. “Jangan lupa bawa kunci rumah sekalian. Pasti kamu akan pulang malam.”

“Iya Bu.”

Mereka berdua tidak tahu apakah yang akan terjadi malam ini. Apakah pintu rumah kontrakan itu akan terbuka oleh Erni atau gadis itu menghilang untuk selamanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cantika : DESTINY OF LOVE
9.5
Pertemuan tak terduga dengan Jaden menyeret hidup Cantika ke dalam pusaran takdir yang mencekam. Melalui ultimatum posesif bahwa tak ada orang lain yang boleh memilikinya, Jaden mengurung Cantika dalam belenggu obsesi yang menyesakkan. Kini, Cantika dihadapkan pada pilihan sulit: melarikan diri dari dominasi pria itu atau justru terjerat perasaan cinta saat identitas asli Jaden terungkap. Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang rahasia dan ambisi.
Sampul Novel Darah Sang Mafia
8.9
Dastan, sang pembunuh berjuluk The Black Wings, terpaksa menampung Dara di kediamannya sebagai jaminan utang. Meski awalnya membenci Dara karena dianggap wanita simpanan ayahnya, Dastan mulai luluh setelah kebenaran terungkap. Dara tetap mencintai Dastan walau sering diperlakukan kasar. Di tengah ancaman maut dan dunia mafia yang kelam, mampukah Dara membawa Dastan menuju cahaya, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya dalam kegelapan?
Sampul Novel Guru Tampan Seorang Yakuza
8.1
Akeno Taoka, anggota Yakuza dari klan Barakujaga, menyamar menjadi guru SMA di Tatsuno demi misi rahasia. Targetnya adalah Reina Akinara, putri pemimpin klan musuh, Tuan Kudesai. Akeno bertekad menjadikan Reina alat balas dendam atas kematian orang tuanya yang dibunuh secara licik. Namun, sebuah fakta mengejutkan mengenai identitas asli Reina terungkap di tengah rencana tersebut. Akankah dendam Akeno tetap membara, atau justru ia akan luluh oleh pesona Reina?
Sampul Novel Kronik Kenikmatan Abadi
9.6
Di balik harapan tinggi dan persahabatan baru, ia menyembunyikan sisi manipulatif yang luar biasa. Meski terlihat mendukung orang-orang di sekitarnya, ia sebenarnya mengendalikan setiap aspek kehidupan mereka melalui rangkaian pesta mewah dan perjalanan panjang. Dengan mendominasi festival serta hari libur di kotanya, ia mengubah tatanan dunia demi kepentingan pribadi. Bagi para mantan penjahat, ia adalah mimpi buruk nyata yang mengatur takdir mereka dalam kendali absolut.
Sampul Novel PANGERAN AGUNG
9.6
Kerajaan Mandala memiliki sosok pemimpin luar biasa bernama Pangeran Agung. Sebagai raja yang sangat dihormati, ia dikenal luas karena kearifan serta keadilannya dalam memerintah rakyat. Keberaniannya yang tak tergoyahkan saat menghadapi berbagai rintangan menjadikannya teladan bagi semua orang. Cerita ini mengikuti jejak sang penguasa bijaksana dalam menjaga kedamaian wilayahnya melalui dedikasi dan keteguhan hati yang luar biasa di tengah tantangan.
Sampul Novel PEDANG HALILINTAR
8.4
Jalu tumbuh sebagai pejuang aliran hitam di bawah asuhan guru abadi yang terasing di Pulau Tengkorak. Sang guru mengutusnya menaklukkan dunia persilatan, namun perjumpaan dengan pertapa Gunung Pesagi mengubah haluan hidup Jalu menuju jalan kebenaran. Saat sang guru berhasil bebas berkat bantuan iblis, Jalu harus menghadapi sosok yang membesarkannya itu dalam pertempuran besar demi menjaga kedamaian dunia yang kini menjadi tanggung jawabnya.