
Ternyata Ada Aku Dan Istrimu! "Tapi Aku Bukan Pelakor"
Bab 3
Belum Sebulan setelah pertemuan itu, dia menembak ku lewat telepon, akhirnya dia mengatakannya juga, ternyata dia memang mencintaiku. Kirain cuman iseng aja. Dari Awal aku sudah tau klo dia menyukaiku semenjak sebelum pertemuan itu terjadi, namun aku gak terlalu berharap banyak padanya. Gak sebegitu antusiasnya ingin mengenalku lebih jauh klo dia gak menyukaiku.
Kali ini lagi-lagi aku dinyata'in cinta lewat telepon, dasar ya cowok gak punya keberanian untuk mengatakannya langsung di hadapanku. Kenapa hari itu aku langsung menerimanya. Aku juga jadi bingung, aku gak punya cara untuk menolaknya demi pertimbangan sikap baiknya dia terhadapku selama ini, kenapa aku gak mencobanya. Aku juga lagi butuh seseorang untuk melupakan seseorang yang telah meninggalkanku. Ini bisa dibilang hanya pelarian semata. Diapun juga sama. Jadi, gak ada yang salah, kan?
Hari demi hari, di saat lagi di landa asmara dan cinta yang menggebu-gebu, kemanapun aku pergi bersamanya. Terkadang, kuliahku jadi korban, kadang pun aku gak masuk di saat sibuk nge-date. Hari-demi hari berlalu, aku mulai sangat mencintai dia, apapun aku korbankan untuk dia baik materi maupun non materi. Di sini jangan berpikir macam-macam yah, belum sejauh itu kok. Aku selalu ingat kata-kata kakek. Tapi, aku harus korbanin uang dan waktu untuk pergi bersama dia, jalan berdua kemanapun kaki kami melangkah pergi.
Segala macam cobaan kami lalui bersama selama udah berbulan-bulan bersama, aku harus mendapatkan nilai buruk dari salah satu mata kuliah. Karena aku sering bolos. Aku harus kehilangan dompet dan uang ratusan ribu. Aku harus melalui masa pahit bersama keluargaku.
Ketika ayahku dan pamanku harus mendekap dipenjara selama dua tahun lebih akibat kasus pemukulan yang seharusnya gak bersalah. Aku tau ayah gak bersalah, dia hanya menyelamatkan pamanku. Paman adalah saudara kandungnya ayah. Karena dia menyelamatkan istrinya dari perselingkuhan dari sang sopir. Dia seorang yang dipukuli ayah yang tak lain adalah sopirnya pamanku. Ayah sudah gak tahan atas pengakuan pamanku yang memergoki istrinya berdua di kamar melakukan hubungan suami istri yang bukan muhrimnya. Na' Uzubillah. Perzinaan gak boleh dibiarin seperti itu bukan. tapi paman gak berani melawan laki-laki itu, dia hanya pingsan ketika melihat kejadian langsung di depan matanya.
Meski ayah main hakim sendiri, tapi klo dibiarin seperti itu akan semakin jatuh ke dosa paling besar, dosa yang paling besar apalagi orang sudah berumah tangga. Masih adakah kata ampun bagi orang seperti itu, ayah dan pamanku yang gak bersalah itu justru dijerumuskan ke penjara. Dimana sisi keadilan negeri ini, yang bersalah, yang berzina, justru itu yang dibenarkan. Hukum negeri ini hanya butuh bukti semata, kalo orang lagi berzina apa itu bisa dinyatakan bukti yang bisa diperlihatkan untuk umum??"
Di mana hati nurani para hakim-hakim itu, membela yang salah. Apa mesti dengan rekaman video baru bisa percaya. Terus klo gak punya alat rekam, atau gak sempat merekamnya. Apa itu gak cukup masuk akal. Wahai para pelaku hukum?? Walaupun aku udah membuka aib keluargaku, tapi gak ingin kejadian itu terulang bagi orang lain.
Selain itu, cobaan terus datang kepadaku, sore itu menjelang mahgrib aku pulang dari tempat biasa, dari danau menghabiskan waktu bersama. Aku mengalami kecelakaan, aku korban tabrak lari ketika aku menyeberangi jalan raya. Semenjak itu, Aswar punya firasat sebelumnya dia seperti gak mengijinkan ku menyemberangi jalan raya sendirian, padahal sebelum-sebelumnya, dia slalu mengantarku. Maklum sore itu sangat ramai di saat orang-orang pulang kerja.
Penabrak itu jatuh dan kemudian terlempar jauh bersama jauh. Kayaknya dia gak pa-pa sih, justru dia memarahiku, salahnya sih larinya sih kencang banget, hingga aku gak melihatnya dari belakang mobil, dan mobil itu sejak tadinya berhenti, tapi motor itu dari arah belakang, tiba-tiba menghantamku, menghantam kepalaku. Namun saat itu aku jatuh dan kepalaku jadi pusing banget tapi masih sempat aku berdiri. Saat itu, luka aku gak cukup parah.
Namun luka di kepalaku, mengeluarkan darah hingga teman-temanku sekilas membantuku mengobatinya, hanya lecet dibagian lenganku karena saat itu aku memakai jaket hingga gak sampai begitu parah, terus jam tangan yang aku pake, jadi pecah sih menghantam aspal. Sempat aku mau di bawa ke rumah sakit terdekat tapi aku gak mau, aku gak ingin keluargaku tau kalo aku habis kecelakaan, aku juga memiliki keluarga dekat di sini tapi aku gak berani memberi tahunya, pasti dia akan mengintrogasiku kok bisa terjadi, aku dari mana, aku bersama siapa. Karena mereka gak menginginkan aku pacaran. Mereka mengatakan aku harus konsentrasi kuliah. Tapi, aku gak menurutinya, jadi aku harus backstreet. Dan aku juga gak ingin membuat mama jadi khawatir memikirkanku, apalagi ayah. Aku gak ingin membuat mama menjadi stress mikirin aku dan ayah.
Saat itu, sesampai aku di rumah kost, aku langsung menghubungi Aswar yang masih di jalan pulang, dia sempat panik, tapi aku jadi berharap dia kembali tapi aku juga gak mengijinkanya. Kasihan juga sih dia, harus kembali lagi, apalagi udah masuk waktu shalat maghrib. Dan sekarang efek kepalaku yang terbentur di bagian setir motor, aku harus merasakan sakit kepala yang cukup parah. Hanya luka ringan tapi efeknya lebih besar, saat itu pula aku baru selesai menyelesaikan ujian semester. Dan aku masih sementara ujian untuk beberapa hari ke depannya saat kecelakaan itu terjadi.
Tepat pada hari Sabtu kejadiannya. Aku terbaring lemah selama sehari penuh di hari minggu itu. Dan hari senin pun kemudian aku harus memaksakan diri ke kampus ikut ujian kembali, rasa sakit itu sangat mengganggu konsentrasiku. Kepalaku masih tetap diperban sampai beberapa hari kemudian.
Sepenggel kisah ini, gak seberapa banyak cobaan yang harus aku tanggung saat itu. Aku juga memikirkan gimana bisa aku terus melanjutkan kuliah di saat ayah gak bekerja lagi. Aku sempat putus asa, dan sempat terpikirkan untuk berhenti aja. Aku gak mungkin melanjutkannya tanpa uang, aku juga butuh makan, butuh pembayaran rumah kost-an, Aku malu memiliki ayah di penjara, pemikiran pertama kalo orang-orang tau pasti mereka mengira orang yang dipenjara itu adalah orang jahat yang bersalah. Makanya aku gak pernah memberi tau teman-temanku. Tapi, Aswar tau tentang apa yang terjadi dengan keluargaku.
Tapi kami gak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya butuh kesabaran dan jalan terbaik agar aku bisa terus melanjutkan pendidikan sampai selesai, dan aku juga memikirkan Aswar ketika aku harus meninggalkan kota ini, berarti aku harus meninggalkan dia juga. ini gak boleh terjadi, pasti ada jalan keluarnya, pasti ada solusinya.
Anda Mungkin Juga Suka





