Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terlambat Menyesal: Mantan Istriku Bersinar Terang

Terlambat Menyesal: Mantan Istriku Bersinar Terang

Empat dekade hidup sebagai istri pajangan bos mafia kejam, John, aku akhirnya menyerah saat selingkuhannya, Angel, merajalela. Di tengah proses cerai, aku justru hamil di usia senja sementara Angel terbukti mandul. Aku pun kabur ke desa terpencil saat badai salju demi melindungi bayiku. John yang menyesal kini membuang Angel dan mengejarku hingga berlutut memohon maaf. Namun bagiku, penyesalannya sudah terlambat. Aku menutup pintu rapat bagi masa lalu yang hancur.
Bab
Bagikan

Bab 2

Celia POV:

Angel tidak lagi merasa perlu mengetuk pintu ruang kerja John.

Dia melenggang masuk begitu saja, seolah ruangan berlapis kayu ek itu adalah hak kesulungan yang dimilikinya sejak lahir.

Aku berdiri mematung di ambang pintu, nampan berisi kopi di tanganku terasa semakin berat, seakan gravitasi di ruangan ini menolak kehadiranku.

John duduk di balik meja besarnya, tenggelam dalam tumpukan dokumen.

Sementara Angel duduk di lengan kursinya.

Bukan di kursi tamu.

Tapi di lengan kursi kebesaran Don, tempat yang sakral bagi seorang pemimpin klan.

Dia sedang merokok, cerutu Cohiba milik John terselip santai di antara jari-jarinya yang lentik.

Asap tebal mengepul, memenuhi ruangan dengan bau tembakau yang maskulin, bercampur dengan parfum manisnya yang menyengat.

Dia terlihat nyaman.

Terlalu nyaman.

"John," panggilku pelan, suaraku nyaris hilang di telan ketebalan asap.

John bahkan tidak mengangkat kepalanya.

Dia hanya melambaikan tangan, sebuah isyarat pengusiran yang halus tanpa perlu mengeluarkan suara.

"Nanti saja, Celia," katanya datar, matanya tak beralih dari kertas di hadapannya. "Angel sedang membantuku meninjau laporan dari pelabuhan."

Angel menoleh padaku, menghembuskan asap rokok membentuk awan tipis ke arahku, lalu tersenyum miring.

"Maaf, Celia. Ini urusan bisnis. Kau tahu kan, hal-hal yang rumit dan membosankan bagi wanita rumahan sepertimu."

Aku meletakkan nampan itu di meja samping pintu dengan bunyi 'klak' yang sedikit terlalu keras, satu-satunya protes yang mampu kulakukan.

Mereka tidak peduli.

Malam harinya, meja makan terasa seperti medan perang dingin.

John duduk di kepala meja, sang raja di takhtanya.

Angel di kanannya.

Aku di kirinya.

Posisi istri sah, namun rasanya seperti kursi penonton di barisan paling belakang.

"Lukisanmu," Angel memulai percakapan sambil memotong steaknya dengan gerakan anggun yang dibuat-buat. "Aku rasa warnanya terlalu suram untuk galeri musim semi. Mungkin kau perlu istirahat, Celia?"

John berhenti mengunyah, menatapku sekilas.

Tatapan itu bukan kekhawatiran.

Itu adalah tatapan seorang pemilik yang menilai asetnya yang mulai rusak dan kehilangan nilai jual.

"Aku hanya sedang mencari kedalaman emosi yang baru," jawabku tenang, memotong dagingku dengan presisi bedah untuk menyembunyikan getaran di tanganku. "Seni membutuhkan kejujuran, Angel. Sesuatu yang mungkin sulit kau pahami."

Angel tertawa renyah, suara yang terdengar seperti pecahan kaca, lalu mencondongkan tubuh ke arah John.

"Ingat saat kita di Milan, John? Lukisan abstrak yang kau beli itu? Sangat hidup, tidak seperti ini."

Mereka tertawa bersama.

Suara tawa mereka menciptakan dinding kasat mata yang tidak bisa kutembus.

Malam itu, pintu kamarku terbuka.

John masuk.

Dia jarang datang ke kamarku belakangan ini.

Aroma cerutu Angel menempel di kemejanya, tajam dan menyengat, seperti tanda kepemilikan hewan liar.

Tubuhku menegang secara insting.

Ada bagian dari diriku, bagian yang bodoh dan lama, yang merindukan sentuhannya.

Tapi kemudian, rasa mual itu datang.

Bukan karena jijik mental semata, tapi fisik.

Perutku bergejolak hebat, menolak aroma pengkhianatan itu.

Kepalaku pusing.

Aku menutup mulutku dengan tangan, menahan dorongan untuk muntah.

Wajahku pasti pucat pasi.

John mengerutkan kening, melangkah maju, ada kilatan emosi asing di matanya. "Kau sakit?"

Sebelum aku bisa menjawab, ponselnya bergetar di saku celananya.

Layar menyala.

Nama 'Angel' terpampang jelas.

Ekspresi John berubah seketika.

Dari sedikit kepedulian menjadi fokus penuh pada telepon itu, seolah aku tak pernah ada.

Dia mengangkatnya dan berbalik, berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi padaku.

"Ya, aku ke sana. Tunggu aku."

Pintu tertutup.

Aku ditinggalkan sendirian dengan rasa mual yang semakin menjadi-jadi.

Sementara itu, di tempat lain di rumah besar ini, Luca, teknisi IT kepercayaan keluarga, sedang melakukan perawatan rutin pada server pribadi John.

Matanya menyipit menatap layar monitor.

Dia menemukan folder tersembunyi yang kuenkripsi dengan ceroboh di awal usahaku.

"Penjualan Seni - Cadangan".

Luca bingung, keningnya berkerut dalam, tapi dia memilih untuk diam.

Keesokan paginya saat sarapan, John menatapku tajam.

"Kau berencana membuat pameran di luar jaringan keluarga?" tanyanya tiba-tiba, suaranya membelah kesunyian pagi.

Jantungku berhenti berdetak sesaat.

Luca pasti belum melapor, atau John hanya menebak.

Aku meletakkan garpu perlahan.

"Aku hanya mencari pasar yang lebih luas, John," jawabku, menatap matanya tanpa kedip, menolak untuk tunduk. "Dunia tidak selebar wilayah kekuasaanmu."

Ketegangan di udara bisa dipotong dengan pisau.

Tepat saat John akan membuka mulut untuk membantah, Angel masuk dengan tergesa-gesa.

"John, ada masalah dengan pengiriman di dermaga 4. Polisi sedang menuju ke sana."

Fokus John beralih instan.

Dia bangkit, menyambar jasnya, dan pergi bersama Angel.

Mereka berjalan beriringan, pasangan yang sempurna dalam kejahatan.

Aku duduk diam di meja makan yang kosong, menikmati keheningan yang kini terasa seperti kemenangan.

Aku kembali ke studio, menyalakan laptopku.

Di layar, draf rencanaku terpampang.

Aku menghapus setiap kata "Keluarga" dan "John".

Aku mengetik ulang dengan jari yang gemetar namun pasti.

"Kemandirian".

"Celia".

Aku melihat kata-kata itu bersinar di layar.

Ini bukan lagi sekadar seni.

Ini adalah satu-satunya jalan keluar sebelum aku mati membusuk di rumah ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Mengejar Cinta Adik Mafia
8.0
Rio terjebak dalam pusaran dendam yang berubah menjadi cinta mendalam sekaligus penyesalan pahit. Meski perasaan di antara keduanya begitu kuat, ia dipaksa mengorbankan egonya demi melindungi keselamatan sang pujaan hati. Kisah ini membuktikan bahwa cinta tak pernah salah memilih sasaran, namun perjuangan untuk bersatu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Rio harus menerima kenyataan bahwa mencintai tidak selalu berarti harus memiliki sosok tersebut.
Sampul Novel Darah Sang Mafia
8.9
Dastan, sang pembunuh berjuluk The Black Wings, terpaksa menampung Dara di kediamannya sebagai jaminan utang. Meski awalnya membenci Dara karena dianggap wanita simpanan ayahnya, Dastan mulai luluh setelah kebenaran terungkap. Dara tetap mencintai Dastan walau sering diperlakukan kasar. Di tengah ancaman maut dan dunia mafia yang kelam, mampukah Dara membawa Dastan menuju cahaya, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya dalam kegelapan?
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA
8.3
Kehidupan seorang wanita biasa berubah drastis saat ia masuk ke dunia mafia yang kelam. Terpikat oleh pesona bos kriminal yang sangat berbahaya, ia terjebak dalam pusaran gairah mematikan dan aksi balas dendam yang brutal. Di tengah konflik berdarah ini, ia dipaksa menghadapi dilema batin yang hebat. Kini, ia harus memilih antara mengikuti kata hatinya untuk terus mencintai sang mafia atau tetap memegang teguh prinsip moralitasnya.
Sampul Novel Gadis Barbar dan Cowok Cupu
9.3
Seorang putri bos mafia yang menawan terbiasa menjalani hidup bebas tanpa kekangan aturan siapa pun. Di sekolah, ia justru menaruh hati pada teman sebangkunya sendiri. Pemuda tersebut dikenal sebagai sosok yang sangat culun dan sering kali menjadi sasaran perundungan siswa lain. Meski kepribadian mereka sangat kontras, sang gadis barbar tetap terpikat pada cowok cupu tersebut di tengah kerasnya lingkungan kehidupan dunia bawah dan sekolahnya.
Sampul Novel Malam Panas Bersama Mafia Dingin
9.6
Amora Nouline selalu hidup di bawah bayang-bayang kakaknya, Alana, karena pilih kasih sang ibu. Saat ayahnya sakit parah dan butuh biaya besar, ibu dan kakaknya justru tega mendesak Amora menjual diri. Demi kesembuhan sang ayah, Amora terpaksa setuju meski hatinya hancur. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mafia dingin yang sangat berkuasa. Meski pria itu berwajah tampan, aura kejamnya membuat Amora dilingkupi rasa takut yang luar biasa malam itu.
Sampul Novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua
9.2
Kehilangan suami dan calon bayinya memaksa Nadira Arsyad menjadi ibu pengganti bagi anak bos mafia kejam, Rafhael Satrio. Di balik ketakutan, benih cinta muncul meski terhalang dendam. Terungkap bahwa mendiang suaminya terlibat kematian istri Rafhael, sementara Rafhael gagal menolong sang suami di saat kritis karena konflik bisnis. Kini, Nadira terjebak antara pengkhianatan masa lalu dan perasaan rumit. Akankah cinta menyatukan mereka atau justru menjadi musuh abadi?