Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Pesona Mafia

Terjerat Pesona Mafia

Hidup Ranty berubah drastis setelah malam penuh petaka bersama Jean Monteque. Pria dewasa itu tidak hanya mengambil kesuciannya, tetapi kini menjadi sosok yang paling ia hindari. Namun, situasi menjadi rumit saat putri kecilnya justru sangat mendambakan kehadiran sang ayah. Ranty kini terjebak dalam dilema besar antara kebencian pribadinya pada sang mafia atau memenuhi keinginan buah hatinya. Keputusan sulit apa yang akhirnya akan diambil oleh Ranty?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Sayang kenapa kamu melamun?" tanya wanita paruh baya yang memperhatikan putranya sedari tadi. Mendiamkan makanan yang sudah dingin sementara makanan dirinya dan sang suami sudah habis.

"Tidak apa-apa," balasnya singkat. Membuang muka tidak mau menatap sang lawan bicara.

Wanita paruh baya tadi bertanya mengela napas pelan mendapatkan respons yang tidak sesuai, mencoba bersabar dengan sikap putra mirip sang suami.

"Bagaimana dengan kekasihmu?" Wanita itu kembali bersuara, mencari topik agar suasana sedikit hidup.

Mereka masih duduk di meja makan rumah utama dengan gaya Eropa. Jika bukan dirinya yang memulai percakapan, maka ruangan ini akan hening tidak ada percakapan.

"Sudah berakhir," jawab Jean dengan raut yang tidak terlihat bersedih.

"Why?" tanyanya kaget. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan cepat mendekati sang putra, mengeser kursi miliknya.

"Dia hanya mencintai harta milik Monteque," ucapnya acuh. Raut wajah dingin yang masih terpasang itu tidak banyak bereaksi melihat wanita tersebut sangat penasaran dengan cerita kisah cintanya.

Monteque adalah marga milik Charles Schopen Monteque. Keluarga mafia Italia yang paling disegani di penjuru mafia lain. Hampir semua mengenal Charles yang sangat kejam dan tidak berperasaan, tidak ada kata ampun untuk orang yang berani menganggunya.

"Are you okay? " tanya Rousseu khawatir. Dirinya tahu seberapa sayangnya sang putra pada mantan kekasih itu. Tapi melihat ekspresi saat membicarakan dia, raut wajah datar itu masih stay. Sehingga menyulitkan dirinya menebak keadaannya saat ini.

"I'm fine."

"Apa perlu Papah turun tangan?" Chales bersuara. Setelah sedari tadi memperhatikan interaksi istri dan putranya. Ia menawarkan diri untuk membalas rasa sakit putranya.

"Tidak usah, biar saya sendiri yang urus. Lagian itu masalah kecil." Jean menolak tawaran pria paruh baya itu.

"Saya sungguh baik-baik saja, hanya memikirkan gadis lain." Mendapatkan tatapan prihatin dari Ibunya, Jean akhirnya mengatakan dengan jujur.

"Siapa gerangan sehingga putra Mamah memikirnya? Apa dia penganti Larry?" Kekepoan seseorang berbeda. Ada yang hanya sekedar kepo ingin tahu ada yang kepo penasaran dan Rousseu adalah kekepoan yang selalu menuntut jawaban. Sebelum rasa penasarannya hilang, ia akan terus bertanya sampai puas.

"Belum jelas." Lagi, menyahut dengan singkat. Entah belum jelas apa yang dimaksud Jean yang pasti jika dalam kamus bahasa Indonesia harus singkat, padat, jelas. Tetapi Jean tidak pernah menjawab sesuai aturan. Selalu menjawab yang kita sendiri mencari tahu jawaban dari maksud tersebut.

"Saya ke kamar lebih dulu," pamitnya.

Kalimat itulah sering Jean Montenque katakan untuk menghindari Rousseu dan rasa penasarannya. Meninggalkan Rousseu yang kini menatap Charles dengan raut cemberut tetapi di hiraukan. Ikut meninggalkan Rousseu yang kesal setegah mati, ingin rasanya menukar tambahkan putra dan suami dengan yang lain.

Jean menatap dinding abu-abu gelap, pikirannya berkelana tidak tahu ke mana. Hatinya tidak tenang, tidak tahu pasti apa yang dirinya mau. Menatap dinding mewah di atas sana. Merebahkan tubuhnya kemudian memejamkan kedua matanya merileskan perasaan resah.

"I'm fine," katanya menyakinkan.

Napas yang mulai teratur itu menandakan akan menuju ke alam mimpi tapi sebuah suara dering dari benda pipih itu membuatnya terganggu.

'Saya akan memberimu pekerjaan besok, perintah dan penjelasan sudah saya kirimkan.' Suara di sebrang sana to the point. Syukurlah Jean tidak mengamuk karena waktu istirahatnya sudah dikacaukan.

Tanpa harus bersusah payah menjawab, Jean memilih mematikan sambungan telepon itu sepihak. Tidak peduli itu adalah hal yang tidak sopan, mengikuti atas perkataan pria paruh baya tadi. Setelah paham dengan pekerjaan besok, kembali merebahakan tubuhnya yang tidak perlu memerlukan waktu lama untuk sampai ke dunia mimpi.

Dipagi harinya, karena Jean mempunyai tugas di negara tentangga sehingga bangun pagi dan sekarang jam tujuh lebih sudah siap berangkat.

Melewati Rousse yang berada di ruang tamu bersama Charles yang sekarang sedang menikmati masa pensiun. Digantikan oleh dirinya, ia juga sudah berpengalaman dan sangat handal mengurus para bedebah.

Jean memang sudah diajarkan dan didik sedari remaja ketika resmi menjadi bagian keluarga Montenque.

Menjalankan mobil kesayangan--black Ferriri, sudah menjelaskan mobil saja harganya bermiliar jadi untuk menayakan berapa kayanya Jean tidak usah ditanyakan. Karena keluarga terkaya di Italia tentu jatuh pada tangan marga montenque.

Jean menikmati perjalananya harus dirusak oleh gadis yang melintas tidak tahu aturan. Dengan amat terpaksa, ia menghentikan laju mobil. Keluar untuk menemui siapa yang dengan bodohnya berdiri di jalan.

"Jika kamu bosan hidup jangan di mobil saya kalau ingin mati," sindiran sarkasme itu melukai hati gadis itu. Mendongkakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memarahinya.

Raut kesal berubah menjadi takut, gadis itu terlihat menciut saat tahu dirinya. Jean sampai menyipitkan matanya untuk mengenali gadis SMA didepannya.

"Om," panggilnya dengan suara yang mirip bisikan itu. Ia menaikkan alisnya melihat gerak-gerik gadis tersebut.

"Boleh tidak saya menumpang ke sekolah di depan sana?" tanyanya meminta izin setelah beberapa menit menguatkan urat malunya.

Di dalam hatinya membatin, berharap tidak mengingat jika mereka pernah bertemu sebelum hari ini. Waktu tetap berjalan, urat malu yang sepertinya putus itu seenak jidatnya gadis itu masuk tanpa persetujuan sang pemilik.

"Om, ayok buruan saya udah telat," teriaknya seraya mengeluarkan kepala dari jendela depan samping pengemudi.

"Ayok buruan!" seruan itu kembali menyadarkan Jean yang terkejut dengan tingkah laku gadis yang di dalam mobil dirinya. Mau tidak mau ia menurut, tidak ingin membuat masalah yang dengan mudah akan Jean bereskan dengan mudah.

Menghela napas kasar Jean lakukan sebelum menyalakan kendaraannya, tanpa mengatakan apapun lagi. Mobil Jean berjalan pelan.

Sebenarnya gadis itu tidak mau menumpang kepada Jean, sekarang pun dirinya canggung. Menumpang dengan tidak sopan apalagi pada orang yang tidak kenal.

Meskipun mereka kemarin baru saja berjumpa secara tidak sengaja tetap saja belum dikatakan mereka kenal.

"Mobil milikku baru saja ke bengkel sementara jam masuk sebentar lagi. Jadi aku menghentikan kendaraan untuk menumpang." Beritahunya tanpa diminta. Gadis itu berceloteh tentang mobil yang bermasalah dan sedang dibenarkan oleh supirnya Di bengkel.

"Sudah sampai," suara Jean menghentikan celotehan gadisnya. Gadis di sampingnya melihat keluar untuk memastikan perkataanya.

Bibirnya dengan tiba-tiba membentuk sebuah kurva yang manis sekali, Jean yang melihatnya seketika darahnya mendesir.

"Terima kasih, ternyata kamu baik." ucapnya lalu menyodorkan tangannya ke arah Jean, mengambil paksa tangan besar Jean kemudian menyaliminya.

"Dadah Om," pamitnya yang sudah keluar dari mobil.

Perlakuan yang tiba-tiba itu membuat Jean tidak bisa berkutik, untuk pertama kalinya ada yang menyaliminya. Biasanya semua orang segan kepasanya tetapi mendapatkan perlakuan barusan hal yang baru didapatkan.

Netralnya menatap gadis itu yang memasuki gerbang sekolah tingkat akhir, menajamkan matanya tidak ingin menyiakan kesempatan yang tidak tahu akan berjumpa lagi atau tidak.

"Ranty, tunggu aku!" teriakan gadis lain menghentikan langkah gadis itu.

"Jadi namanya Ranty?" monolongnya, setelah tubuh gadis itu tenggelam di sekolah. Jean kembali menyalakan mobilnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dari Patah Hati Menjadi Tak Tersentuh
8.6
Delapan tahun membina rumah tangga dengan Elvin Ginanjar, gembong mafia narkoba di Nasara, berakhir tragis tepat di hari jadi pernikahan mereka. Sebuah foto mesra Elvin bersama Lina Malloni, sahabat dekatnya, sambil menggendong putra kandungnya, Owen, menjadi bukti pengkhianatan yang nyata. Alih-alih murka, ia hanya membalas dingin sebelum Elvin dan Owen datang menyudutkannya dengan tuduhan kejam. Tanpa ragu, ia menyodorkan tumpukan dokumen yang telah lama ia siapkan demi mengakhiri segalanya.
Sampul Novel Dekapan Gairah Mafia Kejam
9.7
Isabella Moretti kehilangan segalanya saat Lorenzo Ricciardi, mafia sadis, menghabisi orang tuanya. Bukannya dibunuh, Isabella justru dijadikan tawanan pribadi sang penguasa dunia bawah tanah. Meski Lorenzo dikenal kejam, sisi lembutnya mulai meluluhkan hati Isabella hingga tumbuh gairah di tengah dendam. Namun, situasi rumit saat Isabella hamil anak Lorenzo. Kini ia terjebak antara misi balas mati keluarga atau menyerah pada cinta sang iblis yang telah mencuri hatinya.
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA
8.3
Kehidupan seorang wanita biasa berubah drastis saat ia masuk ke dunia mafia yang kelam. Terpikat oleh pesona bos kriminal yang sangat berbahaya, ia terjebak dalam pusaran gairah mematikan dan aksi balas dendam yang brutal. Di tengah konflik berdarah ini, ia dipaksa menghadapi dilema batin yang hebat. Kini, ia harus memilih antara mengikuti kata hatinya untuk terus mencintai sang mafia atau tetap memegang teguh prinsip moralitasnya.
Sampul Novel DI ATAS RANJANG MAFIA
9.7
Michele Lazzaro Riciteli adalah pemimpin mafia Roma yang kejam dan memiliki kondisi medis langka. Dirinya kebal terhadap rasa sakit fisik, namun ia juga tidak mampu merasakan kepuasan seksual. Hidupnya berubah drastis setelah terlibat cinta satu malam dengan Meghan Crafson, wanita yang secara ajaib bisa menyembuhkan disfungsinya. Demi mempertahankan sensasi yang selama ini hilang, Michele nekat memerintahkan penculikan Meghan. Apa rahasia di balik identitas Meghan sebenarnya?
Sampul Novel Gadis Barbar dan Cowok Cupu
9.3
Seorang putri bos mafia yang menawan terbiasa menjalani hidup bebas tanpa kekangan aturan siapa pun. Di sekolah, ia justru menaruh hati pada teman sebangkunya sendiri. Pemuda tersebut dikenal sebagai sosok yang sangat culun dan sering kali menjadi sasaran perundungan siswa lain. Meski kepribadian mereka sangat kontras, sang gadis barbar tetap terpikat pada cowok cupu tersebut di tengah kerasnya lingkungan kehidupan dunia bawah dan sekolahnya.
Sampul Novel Jeratan Cinta Wanita Pendendam
9.3
Hidup Clarissa hancur sejak usia tujuh tahun setelah pamannya membantai ibu dan adiknya demi merampas harta warisan. Tak hanya kehilangan segalanya, ia pun harus menyaksikan ayahnya disiksa tanpa henti. Didorong dendam membara, Clarissa tumbuh menjadi anggota mafia demi membalas penderitaan keluarganya. Bersama pria yang dicintainya, ia menyusun rencana untuk menghancurkan sang paman. Akankah Clarissa berhasil membebaskan ayahnya dan menuntaskan misi balas dendamnya?