
Terjerat Pesona Mafia
Bab 3
"Tahu kenapa saya turun tangan?"
Seorang laki-laki duduk di kursi kayu dengan kaki kanan yang menumpang di kaki lainnya. Menatap seorang laki-laki tua di hadapannya duduk di lantai seraya tangan yang diikat di belakang. Ia bertanya dengan polos seakan tidak tahu apa-apa.
"Saya baru ingat belum memperkenalkan diri ataukah kau sudah mengenal saya?" laki-laki muda itu kembali bertanya, menaikkan alisnya tinggi menunggu respons yang tidak akan pernah dijawab karena mulutnya dilakban.
"Suttt, jangan memberontak! Tali yang saya gunakan menggunakan kawat, mungkin saya tebak pergelangan tangan kau sudah luka." ujarnya santai.
Melihat laki-laki tua itu memberontak ingin dilepaskan, ia memberi kode untuk membuka lakban di mulutnya. Ingin tahu apakah ada yang laki-laki tua ini katakan sebelum dijemput ajalnya.
Tangan tangannya yang mengerti maksud tuanya tentu saja segera melakukan perintah tanpa disuruh dua kali.
"Lepaskan saya bajingan!" umpatnya setelah ia bisa berbicara, tidak memedulikan bibirnya yang merasa kebas dan lengket. Tangannya pun terus digerakkan berharap kawat yang dimaksud bisa segera putus lalu nanti akan mencari jalan keluar untuk kabur dari ruangan gelap ini.
"Waw," laki-laki yang diberi umpatan itu tercengah. Terkejut dengan sambutan pertama yang diberikan. Spontan saja berdiri dari duduk santainya, berjalan perlahan menghampiri pria yang sudah diringkus.
Dari wajahnya tidak ada tanda ia ketakutan, di dalam hatinya ia puji. Untuk pertama kalinya ada yang memberontak dan tidak merasa ketakutan dengan dirinya.
"Saya suka kamu," kalimat itu keluar dari kedua bilah Jean. Mengatakan dengan jujur, jemarinya ia tempelkan di pipi laki-laki tua itu yang terkejut dengan perkataannya.
Senyum tipis itu membentuk, hanya terlihat samar. Tidak ada yang mengetahuinya karena laki-laki tua tadi memberontak tiba-tiba diam seribu bahasa. Tangan kanannya pun tidak bisa melihat sebab berada di belakang.
Kalian jangan berpikir Jean menyukai karena kejujuran dan senyuman, bukan suka ke lawan jenis maksudnya. Hanya Jean menyukai pemberontakan, semakin memberontak semakin ia semangat untuk bermain-main.
"Aku senang jika kau ingin bermain-main," bisiknya tepat di telinga. Aura yang mencengkeram karena perkataan itu membuat tubuh pria tua itu merinding, sedikit memundurkan tubuhnya untuk memberi jarak.
"Saya mendapatkan perintah, ada seseorang yang menyuruh saya untuk melenyapkan calon menteri," Ceritanya mengelilingi laki-laki tua itu yang kini sudah tidak berjongkok lagi.
"Katanya, ia ingin menjadi menteri jadi untuk calon yang lainnya ia menugaskan saya untuk mengurusnya," lanjutnya memberitahukan alasan Jean menyekap laki-laki yang tidak bisa di deskripsikan antara pasrah atau akan memberontak.
"Kau tahukan siapa yang saya maksud? Dia masih warga sini kok," imbuhnya menjelaskan sang pelaku.
"Jadi sebelum dimulai, adakah yang ingin kau katakan?" tanya Jean mengakhiri ceritanya. Kembali berjongkok untuk menyesuaikan tinggi tubuhnya, mendekatkan wajahnya untuk melihat ekspresinya.
"Oke, kalau begitu saya anggap tidak ada." tiba-tiba saja selera Jean untuk membunuh laki-laki itu lenyap. Ia kira akan ada pemberontakan maka ia akan dengan senang hati memberikan hadiah kenang-kenangan sebelum pergi.
"Karl," panggil Jean seraya berdiri. Mendudukkan diri di kursi kayu untuk menyaksikan kematian.
"Ambil alih." suruhnya yang tidak bisa ditolak. Sang empu yang mendapatkan giliran dengan patuh mengambil alih. Mendekati laki-laki tua itu, berdiri tidak jauh seraya menodongkan pistol yang kecepatannya tidak perlu ditanyakan.
Suara bunyi tembakan itu dengan nyaring memenuhi ruangan basecamp milik Jean. Memang di setiap penjuru negara keluarga Jean mempunyai basecamp yang sengaja dibuatnya, selain menandakan wilayahnya basecamp digunakan untuk kepentingan seperti ini, menyelesaikan tugas dan tempat tinggal para anggota mafia tim Jean.
Darah bercucuran mengotori lantai, laki-laki itu sudah tidak bernyawa lagi. Terbaring dengan tubuh meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Bau anyir dari darah itu menusuk ke indra penciuman Jean, lama berdiam menatap mayat itu. Setelah memastikan tugasnya selesai ia beranjak dari duduknya.
Tapi, baru selangkah akan keluar Jean membalikkan tubuhnya menghadap tangan kanan yang sudah sepuluh tahun menemaninya. "Cari data Ranty salah satu siswa Hing School!" perintahnya. Sang empu mengangguk patuh, lagi-lagi tidak akan menolak semua perintah Jean sebab dirinya bekerja untuk dia.
"Nama lengkapnya Tuan?" tanyanya spontan saja saat tersadar tidak disebutkan oleh tuannya. Nama Ranty pasti banyak digunakan, ia tidak yakin jika berhasil menemukan yang tuannya cari.
"Kau pikirkan saja bagaimana mencari tahu dia," sahutnya kesal karena ia juga tidak mengetahui.
"Jika boleh tahu dia siapa?" Mendapatkan pertanyaan begitu Jean mengeram, giginya saling beradu. Tatapan tajam ia layangkan pada Karl Leeuwenhoek yang dengan berani bertanya.
"Lakukan saja perintahku!" jawabnya yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan Karl Leeuwenhoek—tangan kanannya bersama mayat.
Jean kini sudah berada di mobil, menunggu Karl selesai mengurus mayat. Dirinya juga sudah memberitahukan kepada menteri itu jika tugasnya sudah selesai dan bayaran sudah berada ditangannya.
Perkataan Karl kembali berputar dikepalanya, ia mendesis tidak suka. Kenapa juga harus pertanyaan itu yang keluar? Dirinya juga tidak tahu alasannya, tiba-tiba saja nama itu terbesit di kepalanya tanpa diminta.
"Kenapa pula ia ada di sana?" tanyanya kesal ketika teringat pertemuan pertamanya yang terlihat ketakutan.
"Cepat kembali ke rumah saya!"
Sadar Karl sudah duduk di kursi kemudi, ia langsung saja berkata. Merasakan mobil sudah melaju kedua matanya terpejam menghentikan pikirannya yang berkelana mengingat kehajian kemarin.
Lama terpejam ternyata sudah tertidur lelap meninggalkan keheningan untuk Karl yang mengemudi. Ketika dibangunkan ternyata sudah sampai di kediaman miliknya.
"Jangan lupa tugas, saya tunggu segera!" kata Jean mengingatkan sebelum memasuki kediamannya.
"Bagaimana mungkin dia bisa membuatku ke pikiran. Memang dia siapa sampai kepalaku rasanya pening tidak mengerti dengan semua ini. Hati dan pikirannya terus mengingatkan dia."
Jean yang tidak memiliki pekerjaan lain memilih mengistirahatkan tubuhnya sebelum besok akan berperang, dirinya mempunyai kegiatan perang besok dan sekarang harus mengembalikan staminanya lebih dulu.
Membersihkan diri lebih dulu, tidak perlu menghabiskan waktu lama. Jean sudah keluar setelah lima belas menit masuk ke dalam kamar mandi, hanya mengenakan celana pendek dengan tubuh yang sengaja tidak mengenakan pakaian apapun.
Jika ada wanita mungkin akan pingsan melihat pemandangan yang sungguh menggoda iman, perut sixpack itu membentuk. Otot di tangannya pun tidak mau kalah, sangat terlihat keras ditambah kulit yang sangat bersih.
Jangan lupakan! Wajah tampan itu siapa saja akan dengan senang hati melemparkan diri untuk bisa dekat dengan Jean meskipun hanya sebentar. Rahang tegas dengan jakun yang sungguh menggoda, ciptaan mana lagi yang bisa mengalahkan Jean Montenque.
Keinginan untuk menyelami mimpi harus memudar mendapatkan notif berunntun dari benda tipis di atas narkas. Ia yang penasaran segera mengambil seraya mendudukan tubuhnya, handuk kecil masih berteger di atas rambut untuk mengeringkannya.
Membuka satu-satu sebuah dokumen, melihat dari foto seketika mengerti apa isi dari yang Karl kirimkan. Membuka dokumen lain saat bukan dokumen tersebut yang dicari, membaca nama lengkap dengan melihat foto adalah hal pertama sebelum membaca lebih banyak lagi.
Didokumen ke sepuluh, ia menemukan data yang lengkap sesuai permintaannya. Kembali menyelami data itu, setelah puas ia menyimpan di tempat semula dan mulai menutup mata.
"Kamu akan menjadi milikku." gumamnya tanpa sadar sebelum kesadarannya benar-benar lenyap.
Anda Mungkin Juga Suka





