
Terjerat Gairah Sang Lady Boss
Bab 3
Api semakin membesar. Gorden di dekat jendela dapur pun ikut tersulut api. Jesslyn semakin takut melihat api yang kian membesar.
"Asap dari mana ini?" Louis mencari sumber dari asap tersebut. Dia melihat api yang semakin membesar di dapur. Tanpa pikir panjang, ia berlari menuju dapur. Ketika Louis sampai di dapur, ia melihat Jesslyn yang sedang ketakutan. Tepat di depan Jesslyn terdapat gorden yang jatuh termakan api. Louis berusaha menyelamatkan Jesslyn dari kobaran api yang semakin membesar. Dia berlari menerjang kobaran api yang sudah merambat ke beberapa perabotan rumah tangga milik Jesslyn.
Ketika sampai di depan Jesslyn, Louis langsung menggendong Jesslyn ala bridal. Louis fokus berusaha membawa Jesslyn keluar dari kobaran api. Berbeda dengan yang dirasakan lady boss cantik ini. Jesslyn tidak lagi merasa takut saat ia digendong oleh Louis. Pandangan Jesslyn hanya tertuju kepada raut wajah sang penolongnya. Sesampai di luar dapur, Louis menurunkan Jesslyn dari gendongannya.
"Apakah di rumah ini tersedia tabung pemadam?" tanya Louis yang masih tampak khawatir.
"A-- ada, di sana!" Jesslyn menunjuk tabung pemadam di sudut ruangan sambil masih terpaku melihat Louis.
Louis dengan cekatan mengambil tabung pemadam dan langsung berlari kembali ke dapur untuk memadamkan api.
Satu jam telah berlalu.
Api sudah dapat dipadamkan oleh Louis. Gorden dan beberapa perabotan rumah tangga lenyap di makan sang jago merah.
"Api sudah padam. Mengapa bisa terjadi kebakaran?" tanya Louis yang melepas letih di sofa ruang tamu Jesslyn.
"A-- aku tidak tahu." Jesslyn menundukkan kepalanya. Seperti seekor kucing lugu yang sedang usai dimarahi oleh majikannya.
"Hahaha ... Seorang lady Boss, CEO dari lima perusahaan ternyata tidak bisa membuat secangkir kopi!" Louis tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Kenapa kamu sangat suka mengejekku, Tuan?"
"Sebenarnya saya tidak sedang mengejek Anda, Nona Jesslyn. Akan tetapi ini lah yang sedang terjadi. Hahaha ...." Louis kembali tertawa mengingat kejadian itu.
"Tertawa lah sepuas hatimu, Tuan."
"Di sini aku merasa gerah. Apakah bisa melanjutkan perbincangan kita di tempat yang lebih sejuk? Mungkin di halaman misalnya."
"Tentu, kita ke halaman belakang saja. saya akan mengembalikan air minum dingin untuk kamu, Tuan."
"Anda mau mengambil di mana, Nona?"
"Di kulkas ruang makan."
"Saya mengira Anda mau mengambilnya di kulkas dapur. Kalau di dapur lebih baik jangan. Karena masih banyak benda-benda yang panas akibat terbakar tadi."
"Hahaha ... Apakah kau melupakan sesuatu? Aku seorang CEO dari lima perusahaan. Tenanglah Tuan, ada beberapa kulkas yang tersedia di rumah ini."
"Hahaha ... Benar juga! Saya hampir melupakan hal itu, Nona."
Jesslyn mengantarkan Louis ke halaman belakang terlebih dahulu, barulah kemudian ia mengambilkan dua kaleng soda untuk dirinya dan Louis.
"Terima kasih, Nona!" ucap Louis seraya menerima sekaleng soda dari Jesslyn.
"Apakah istrimu tidak akan marah, jika kau tidak pulang ke rumah malam ini?" Jesslyn mengambil posisi duduk tepat di samping Louis.
"Hahaha ...."
"Kenapa kau malah tertawa, Tuan. Apakah menurutmu pertanyaanku ini lucu?"
Kini mereka berdua sedang memandang ke langit yang tanpa henti menurunkan salju.
"Mengapa Anda menanyakan soal istri saya? Bukankah Anda sendiri yang mau jadi istri kedua saya? hahaha ...." Louis meneguk kembali soda yang bawa.
"Oh, sial! Kalimat yang ku ucapkan, kini kembali kepada diriku sendiri."
"Anda terlalu berani dalam mengambil keputusan, Nona."
"Bisakah kau tidak selalu berbicara formal kepadaku?" sela Jesslyn.
"Baiklah, Nona. Aku akan berbicara biasa. Kalau boleh tahu, apa masalah yang membuatmu tampak seperti wanita gila seperti tadi? Ada lagi, apakah kamu sering tiba-tiba mencium dan memeluk orang asing seperti yang kau lakukan kepadaku?"
"Terlalu rumit, Tuan. Aku selalu gagal dalam menjalin hubungan cinta. Hingga dua tahun yang lalu, aku menemukan seorang pria yang menurutku cocok untukku. Aku memang menyayangi dia. Memang aku sering disibukkan dengan urusan bisnis tetapi aku selalu memberikan semua yang ia inginkan sebagai gantinya. Selama kami berhubungan, dia belum pernah melamar ku hingga detik ini. Ketika aku tanya mengapa, dia selalu menjawab bahwa aku masih terlalu disibukkan dalam bisnisku. Iya, dia memang membuatku bersemangat dalam bekerja dengan terus memberiku dorongan untuk bekerja lebih keras lagi. Akan tetapi tadi malam menjadi akhir kisah kami. Hubungan dua tahun yang kami jalin, telah kandas begitu saja." Jesslyn menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Saat ini Louis tidak tahu harus berbuat apa kecuali menjadi pendengar yang baik untuk Jesslyn.
"Tadi malam aku mendapatkan undangan ulang tahun dari salah satu klien-ku di sebuah bar. Aku melihat Leo, kekasihku bersama seorang wanita. Dia mengatakan bahwa wanita itu adalah istrinya yang ia nikahi satu tahun yang lalu. Kau tahu itu artinya, Tuan?" Jesslyn memandang wajah Louis.
"Itu artinya kamu telah dihianati. Kamu juga dibohongi selama satu tahun terakhir ini?" Louis mengambil kesimpulan.
"Iya, Tuan. Satu tahun ini aku telah dibohongi. Dia juga menguras hartaku yang ternyata dia berikan kepada istrinya. Selama satu tahun juga wanita itu mengetahui bahwa Leo memang menjalin hubungan denganku. Dia pun memperbolehkan itu terjadi, mungkin karena Leo memberikan banyak uang dariku untuk wanita itu." Jesslyn kembali menangis.
"Jadi ini alasanmu memintaku untuk menjadikan kau istri kedua ku? Sama halnya kamu ingin wanita lain merasakan penderitaanmu yang kau rasakan saat ini. Nona ingatlah, tidak semua wanita hanya menginginkan uang."
"Jika tadi kau tidak menghentikan mobilku, ingin rasanya aku menabrakan mobilku ke sebuah tiang atau pohon. Jika perlu aku ingin loncat dari jembatan. Sayangnya kau telah datang menghentikan laju mobilku. Aku tidak tahu harus berterima kasih atau harus marah karena kau menghentikan mobilku. Akan tetapi aku pun tidak mengerti mengapa tanpa basa-basi aku langsung berani mencium dan memelukmu saat itu. Apakah kamu tahu yang aku rasakan saat mencium dan memelukmu?" Jesslyn meluapkan semua isi hatinya. Sedangkan Louis hanya terdiam dan mendengarkan.
"Tiba-tiba aku merasa nyaman dan tenang, ketika aku memelukmu. Aku ingin memilikimu, Tuan. Aku rela walau kau menjadikan aku istri keduamu. Aku rela jadi ibu sambung anak-anakmu. Kalau perlu bawa istri dan anakmu ke rumahku. Kita hidup berdampingan. Aku rela membiayai semua kehidupan kalian. Aku janji akan baik dengan istri pertamamu. Aku akan menjadi ibu sambung yang baik untuk anakmu. Aku juga janji tidak akan pernah bertengkar dengannya. Jika istri pertamamu menginginkan dibangunkan sebuah usaha seperti butik, toko kue, atau toko perhiasan. Aku pasti akan menurutinya di hari pernikahan kita, itu akan menjadi ucapan terima kasihku untuk dirinya."
"Hahaha ... Menyedihkan sekali hidupmu, Nona. Seorang lady boss, cantik, kaya raya, dan terkenal kini sedang mengemis cinta kepada seorang polisi lalu lintas biasa. Hahaha ... Sungguh sangat lucu! Tetapi maaf sedikitpun saya tidak tertarik dengan tawaran yang Anda berikan."
Louis beranjak dari tempat duduknya.
Anda Mungkin Juga Suka





