Sampul Novel Terjerat Cinta Duda Dingin

Terjerat Cinta Duda Dingin

8.9 / 10.0
Kinara Larissa Putri telah mencintai satu pria sejak remaja hingga usianya kini hampir tiga puluh tahun. Kesabaran Kinara berbuah manis saat ia akhirnya menikah dengan Arka, duda tampan yang ia dambakan. Namun, Arka ternyata sosok kaku dan egois yang menikahinya hanya demi sang anak, bukan cinta. Di tengah dinginnya sikap suami, muncul pria lain yang tulus mencintai Kinara. Sanggupkah Kinara bertahan dalam rumah tangga penuh paksaan ini saat godaan baru datang menyapa?

Terjerat Cinta Duda Dingin Bab 1

SEBENING CINTA KINARA

Namaku Kinar. Kinara Larissa Putri. Kini usiaku menginjak 25 tahun. Tak kusangka sudah seperempat abad aku menikmati indah dunia.

Banyak hal pula yang kulewati, suka dan duka. Patah, bangkit lalu patah lagi dan bangkit lagi adalah hal yang biasa kualami.

Seperti akhir-akhir ini, suara bising itu kembali menyesaki telinga. Seolah tak ada kata lain yang lebih pantas untuk kudengar. Selain perawan tua.

Ya ... itulah sebutan baru untukku. Untuk gadis berusia 25 tahun yang belum berumah tangga, sementara gadis lain seusia itu sudah beranak pinak bahkan ada pula yang sudah menjanda, entah ke berapa kalinya.

"Sri, cobalah kamu kenalkan Kinar sama teman suamimu yang duda beranak tiga itu. Barang kali mereka cocok. Kasihan dia. Hampir menginjak kepala tiga belum ada yang melamar juga!" ucap Bu Deswita penuh cibiran.

"Kinar sudah biasa sendiri, mungkin malas mengurus suami. Makanya nggak kawin-kawin!" timpal Bu Ambar.

"Husssttt ... Kinar itu nunggu teman masa kecilnya melamar. Itu Si Arka, kalian ingat, kan?"

"Mana mau Arka sama dia. Secara Arka itu tampan, mapan dan digandrungi banyak wanita. Pastilah banyak wanita yang antri untuk menjadi istrinya, apalagi sekarang dia menduda."

"Kinar cinta mati sama dia, Jeng. Makanya mau nunggu terus, entah sampai kapan. Kasihan, harus diruqyah Si Kinar ini!"

Semuanya saling sindir, seolah sengaja membuat moodku kembali berantakan. Seperti biasanya.

"Sama siapa, Jeng? Arka? Waduh, harusnya Kinar itu introspeksi. Terlalu jauh perbedaan dia dengan Arka. Meski dulu teman main bersama, tapi sudah belasan tahun lalu, kan?"

"Buruan nikah, Kinar. Percayalah, Arka itu bukan jodohmu. Kamu nggak pantas buat dia!"

"Jangan sok jual mahal. Apalagi sok cantik. Udah sama Pak Umar aja, duda beranak dua itu kan suka sama kamu. Atau sama Pak Sunan? Dia lagi cari bini ketiga. Cocoklah sama kamu!"

"Kita seumuran loh, Kin. Aku aja udah hamil ketiga, eh kamu kawin aja belum!"

Kuhirup napas dalam dan menghembuskannya. Rasanya tangis dan teriak histeris pun percuma. Ibu-ibu itu memang terbiasa menghina. Seolah tak ada filter di setiap kata yang terucap dari bibirnya.

Tiap kali bertemu dengan gerombolan ibu-ibu itu, pasti hatiku kembali terluka. Ucapan-ucapan mereka sering kali menancapkan duri-duri duka. Meski aku sudah berusaha biasa saja menghadapinya, tetap saja ada ngilu dan perih yang menjalar dalam dada.

Apalagi sejak kepergian ibuku dua tahun lalu, seolah mereka puas mencaci maki aku tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Tak ada lagi yang mereka takuti. Toh, aku memang tak punya siapa-siapa lagi. Tak ada yang membela, kecuali diri sendiri.

Mereka tak salah, mungkin memang akunya saja yang tak mau berubah. Cinta itu. Cinta saat masa kecil dulu, entah mengapa begitu terpatri di hati. Seolah tak ada lelaki lain yang bisa mengganti.

Berulang kali mencoba menerima ungkapan cinta laki-laki lain, tapi rasanya tak sanggup. Lagi dan lagi aku memilih mundur. Ada rasa bersalah dalam hati saat menerima mereka, seolah aku sudah mengkhianatinya.

Dia yang nyatanya tak pernah peduli. Dia yang sudah memiliki anak dan istri. Meski kini bergelar duda karena ditinggal pergi istrinya menghadap Illahi.

"Umurmu tak lagi muda, Kinar. Jangan bermimpi terlalu tinggi untuk mendapat pria lajang. Sudahlah, lebih baik kamu mau sama Pak Sunan. Hidupku bakalan mapan dan tenang. Jadi istri ketiga tak jadi soal, kan? Lagipula istri-istrinya akur semua. Sudah pada tua pula, kemungkinan besar kamu yang akan paling disayang."

"Jangan ngimpi Arka mau sama kamu. Kalian nggak cocok sama sekali!"

"Mentang-mentang sekarang Arka mudik, kamu kembali berharap, Kin? Aku cuma kasihan aja sama kamu, kalau makin patah hati. Takutnya kamu frustasi dan bunuh diri," ucap Ayu. Dia juga sahabat masa kecilku dulu.

Aku tahu, dulu Ayu juga menyukai Arka, sama sepertiku. Namun dia mudah move on karena memang sudah berulang kali ganti pacar. Dia pun sudah menikah setahun lalu dengan teman kantornya.

Tiap kali bertemu denganku, dia terus saja menyindir soal Arka. Soal kesetiaanku yang akan sia-sia belaka. Tentang pengorbananku hanya dipandang sebelah mata. Lagi-lagi karena aku dan Arka memang sangat berbeda.

"Kamu pengangguran! Terlahir dari golongan biasa pula. Harusnya kamu tahu diri, Kin. Atau jangan-jangan kamu sengaja sok setia sama Arka hanya demi hidup enak dengannya? Sekarang dia kan jadi orang kaya."

Kata-kata Ayu kembali menyulutkan luka. Aku tak tahu kenapa sahabatku itu sedemikian tega mengucapkan kata-kata pedas tiap kali bertatap muka. Seolah dia tak rela jika aku terus setia pada Arka bahkan tetap menunggu kedatangannya.

"Kalau aku beneran sama Mas Arka, apa kamu cemburu, Yu?" tanyaku kemudian. Dia menatapku tajam lalu meletakkan punggung tangannya ke keningku.

"Kamu waras, kan? Atau sudah setengah gila karena gagal move on?"

Suara tawa mengejek pun terdengar diantara mereka. Ibu-ibu itu terbahak melihatku yang mungkin mendadak pias.

"Kalau nggak mau kawin, setidaknya kamu cari kerja sana, Kin. Udah nggak kawin, nganggur, mau makan apa kamu nanti kalau tabungan ibumu sudah habis!"

Aku hanya tersenyum tipis. Mereka tak sadar jika kepergian ibuku sudah dua tahun lamanya. Sebanyaj itukah tabungan ibu hingga bisa menghidupi anak pengangguran sepertiku selama dua tahun?

Logika yang keliru. Mereka tak tahu, kalau selama dua tahun belakangan aku pun bekerja. Pekerjaan santai, tapi menghasilkan yang mungkin tak pernah mereka kira berapa gaji perbulannya.

"Kamu harusnya ingat pesan terakhir ibumu, Kin. Buruan nikah biar ada yang jagain."

"Kalau memang maunya cuma sama Arka. Coba aja lamar duluan. Nggak apa-apa kan kalau perempuannya yang agresif? Daripada nunggu dilamar tapi nggak datang-datang."

"Atau kamu aku antar ke toko sembakonya Pak Sunan, Kin? Barangkali dengan kerja sama dia, kamu bisa jatuh cinta. Bukannya kata pepatah, cinta datang karena terbiasa bersama?"

Seketika kembali terdengar gelak tawa mereka. Kucoba kembali membendung air mata yang hampir luruh ke pipi. Beristighfar berulang kali supaya tak ikut tersulut emosi.

Mungkin aku memang salah, sudah menunggu yang tak pasti. Namun setidaknya aku sudah berdoa setiap hari, berharap dijauhkan jika memang tak berjodoh, tapi bila berjodoh kuharap DIA berkenan mendekatkan.

Ternyata, kini dia memang mendekat. Sejak 15 tahun lalu tak pulang, akhirnya kini dia pulang ke kampung halaman bersama anak dan ibunya. Tante Dina yang tak lain adalah sahabat almarhum ibuku juga.

Mereka tetap berhubungan, meski tinggal di kota yang berbeda. Bahkan Tante Dina juga ikut mengantarkan ibu ke peristirahatan terakhirnya. Dua tahun silam.

"Kinar ... Almarhum ibumu sudah menceritakan semuanya. Termasuk alasan apa hingga saat ini kamu masih tetap sendiri. Tante akan membantumu."

Bisikan Tante Dina kala itu kembali terngiang di benakku. Entah apa yang direncanakannya, tapi kemarin dia menelpon. Mengajakku bertemu untuk membahas sesuatu.

"Itu Arka. Ganteng banget dia sekarang," gumam Ayu dengan tatapan cinta. Aku tahu, dia pun masih menyimpan sejuta rasa. Hanya saja dia pendam dalam-dalam karena sekarang sudah berumah tangga.

Aku tak menoleh, masih pura-pura sibuk dengan ponsel di tangan. Bahkan saat samar kulihat seseorang berdiri di sampingku.

"Kinar, ikut aku. Mama memanggilmu."

💕💕💕

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terjerat Cinta Duda Dingin

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
8.3
Menghadapi sisa hidup tiga hari akibat gagal hati akut, seorang istri harus menelan pil pahit saat suaminya, David, memberikan kuota pengobatan terakhir kepada adik angkatnya, Emma. Dianggap lebih pantas hidup, ia pun dipaksa mengalah. Demi menutupi ajal yang mendekat, ia menandatangani surat cerai, menyerahkan perusahaan perhiasan, bahkan membiarkan putrinya memanggil Emma sebagai ibu. Di balik pujian keluarga yang menganggapnya kakak yang baik, sebuah misteri kematian yang tragis siap mengejutkan mereka semua.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan yang hancur karena dikhianati calon istrinya nekat memaksa Zahra menikahinya demi melampiaskan rasa kecewa. Zahra pun terkejut dan menolak mentah-mentah tawaran gila tersebut. Namun, Rayhan tak menyerah dan menjanjikan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra mau menggantikan posisi mempelai wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima kesepakatan ini dan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri pengganti bagi pria dingin seperti Rayhan?
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Mira Aditya terjebak dalam perjodohan orang tuanya dengan Rafiq Jaya. Alih-alih bahagia, ia justru menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya telah menikahi kekasih lamanya, Elena Faris, secara rahasia. Menjadi sosok yang terpinggirkan dalam rumah tangganya sendiri, Mira harus menanggung luka batin yang mendalam. Di tengah kehampaan dan rasa kecewa yang kian menggunung, Mira kini dihadapkan pada pilihan sulit antara terus bertahan atau pergi mencari kebebasan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan