
Terjebak Suami Bayaran
Bab 3
Bab 3. Rencana Sang Nona Muda
"Noah Spencer, pria berusia 32 tahun. Ayahnya meninggal sejak ia kecil dan saat ini tinggal bersama ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit karena tertabrak sebuah mobil saat akan menyeberang jalan. Kondisi wanita itu saat ini berada dalam tahap yang mengkhawatirkan karena ketidak adanya biaya untuk operasi."
Seorang pria muda yang Samantha tugaskan untuk menyelidiki pria yang sudah membuatnya tidak bisa tidur semalaman akhirnya menemukan sebuah fakta yang sangat menyenangkan hati gadis itu.
"George, tugasmu adalah pergi ke rumah sakit dan membuat sedikit gebrakan dengan menyuap beberapa orang di sana sementara aku akan ke bengkel."
Samantha tersenyum lebar dengan memainkan sebuah bolpoin di tangan kanannya. George, asistennya di kantor benar-benar layak untuk diberikan hadiah setelah pagi ini membawa berita yang sangat menyenangkan.
"Apakah Anda yakin jika pria itu bersedia menerima syarat dari Anda, Nona?"
George sebenarnya ragu mengingat dari keterangan orang-orang di sekitar bengkel sosok Noah Spencer tergolong pria yang menutup diri dari orang-orang sekitar. Ia hanya tinggal dengan ibunya di sebuah rumah kecil tidak jauh dari bengkel itu.
"Berhasil atau tidaknya aku meyakinkan pria itu tergantung dari kecerdasanmu membuat sesuatu di rumah sakit terkait kondisi wanita itu." Samantha memicing menatap sang asisten yang terlihat ragu. "Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan. Sisanya biar aku yang melakukan. Noah Spencer adalah pria yang akan menjadi suami yang kubeli dengan harga fantastis."
Seringai tipis terbit di bibirnya. Ia akan memberikan kompensasi terhadap pria itu yang tentunya bisa bermanfaat untuk kesembuhan ibunya. Tidak jahat, bukan? Mungkin inilah pembelajaran tentang sifat kemanusiaan yang selalu kakeknya tanamkan padanya. Walau dengan embel-embel simbiosis mutualisme.
"Saya hanya takut jika Tuan Alan Davis mengetahui rencana kita ini, Nona. Beliau pasti akan menggantung saya hidup hidup di pohon mahoni." George menunduk ketika melihat tatapan sang nona yang seakan mencabik tubuhnya.
"Jangan menjadi pengecut jika masih ingin bekerja denganku. Lakukan sekarang juga atau aku akan senang hati menggantikan tugasmu sebagai asistenku. Ada banyak orang yang mengantri di belakangmu, George. Pergilah ke rumah sakit."
Tidak ada nada tinggi diperdengarkan tetapi George tahu jika ucapan Nona Muda Samantha adalah titah wajib yang tidak bisa dibantah.
Samantha meniupkan udara ke wajahnya sendiri, merasakan sejuk sekilas menerpa wajahnya yang berkeringat karena efek berpikir dan merancang skenario semalaman.
Gadis itu tidak yakin jika Alan Davis tidak mengetahui rencananya, tetapi yang paling penting ia sudah memenuhi persyaratan untuk mengambil warisan itu apapun caranya.
***********
Kedatangan wanita dengan penampilan seksi yang mengundang hasrat seluruh pekerja bengkel membuat bengkel mobil itu mengeluarkan aura panas meskipun hari masih pagi dan bengkel baru saja dibuka.
Netra Samantha mampu mengenali sosok pria berpostur tegap yang saat ini membersihkan beberapa peralatan bengkel. Dengan balutan busana formal yang bagus, pria itu akan menjelma sebagai pria tertampan yang ada di kota Pearl Santos.
"Apakah mobil Anda juga akan diservis, Nona?" Seorang pria berperawakan tidak kalah atletis tiba-tiba menghampirinya.
Samantha mengernyitkan alis. Bengkel ini memiliki para pekerja yang sangat tampan dan mungkin itu adalah strategi usaha dari pemilik bengkel.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk mobilku, aku akan membayarnya berapa pun tarifnya."
Samantha mengabaikan tatapan pria itu. Fokus matanya adalah menatap sosok yang berjongkok dengan pakaian bengkel. Tetesan keringat di dahinya membuat gadis itu mendapatkan kembali pikiran liarnya. Damn it! Dia sangat tampan. Wajahnya bak pahatan dewa.
Pria dengan pakaian montir yang tadi sempat menyapa Samantha itu mengikuti arah pandangan wanita seksi ini.
"Noah memang menjadi idola bagi semua wanita," gumam pria itu hingga membuat Samantha menoleh.
"Apakah menurutmu aku terlihat mengaguminya?" Tanpa merasa malu Samantha menanyakan hal itu. Gadis itu terbiasa hidup dengan kebebasan hingga terkadang ia melupakan sopan santun dan etika yang berlaku. Selama tidak terlibat sebuah hubungan bebas, bagi Samantha apapun bisa dilakukan. Lagi pula hanya satu hal itu saja yang dipesan oleh mendiang kakeknya. Sex before marriage adalah pantangan yang harus ia jauhi.
"Sama seperti wanita lain yang menatapnya, maka saya juga melihat kekaguman itu pada diri Anda, Nona. Jatuh cinta pada pandangan pertama adalah istilah yang bisa menggambarkan ekspresi Anda saat ini."
"Omong kosong. Siapa namamu?" Sam bertanya dengan tatapan menyelidik. Sedikit merasakan panas di pipinya karena ucapan pria itu.
"Bretton Hamilton, saya adalah teman Noah."
Pria itu terlihat menampilkan senyum tipis di ujung bibirnya, mengisyaratkan sebuah hal yang tidak mudah untuk ditebak, bahkan oleh netra Samantha yang terbiasa melihat sesuatu dengan tepat dan akurat.
"Pria itu memang tampan, juga terlihat sangat maskulin. Ia memiliki tubuh yang atletis dengan otot di lengannya yang tentu saja keras. Tetapi bukan itu yang kuinginkan. Maksudku tidak secara fisik karena aku memang ingin membuat kerjasama yang lebih luas dengannya." Samantha mengerling ke arah pria bernama Bretton itu.
"Noah sudah diincar oleh Nona Ariana Lawson, putri pemilik bengkel ini. Ia menjadi yang diistimewakan di antara para pekerja di tempat ini."
Dengan setengah berbisik Bretton mengatakan kalimat itu yang kemudian ditanggapi Samantha dengan tersenyum santai.
"Apakah menurutmu menjadi putri dari pemilik bengkel ini bisa mengalahkan diriku yang merupakan pewaris dari Emerson Industries dan Connor Industries?"
Gadis itu tersenyum manis, sedikit mengibaskan rambut panjangnya dengan gerakan anggun dan menggoda hingga tanpa sadar, gerak-geriknya membuat pria tampan yang sedang sibuk dengan alat bengkel di tangannya itu mendesis lirih.
Samantha teringat ucapan Chloe yang mengatakan jika terkadang kesombongan itu menyelamatkan wibawa dan harga diri seseorang. Sekali-kali bersikap lah sombong untuk menunjukkan kepada orang yang berniat merendahkanmu, bahwa kamu berada di atas mereka. Bukan sebuah kalimat bijak, tetapi Samantha tahu jika saat ini ia membutuhkan kesombongan itu.
"Tentu saja kekayaan yang keluarga Anda miliki tidak ada tandingannya di Pearl Santos ini."
"Tidak, bukan begitu, tetapi itu memang benar. Ha ... ha ... bukan kekayaan keluargaku karena aku juga sudah terlahir kaya sejak lahir," ucapnya tanpa merasa bersalah karena sudah memperlihatkan kesombongan di hadapan pria ini. "Apakah mereka sudah berpacaran?" Rasa penasaran mendorong Samantha menanyakan hal itu.
"Belum, Nona. Noah tidak pernah menanggapi seorang wanita yang ingin mendekatinya."
"Sempurna!"
Mata gadis itu berbinar. Bretton sekilas menatapnya. Pria itu ingin tersenyum kemudian menggeleng pelan. Gadis yang unik, pikirnya.
Samantha menatap ke arah jam di pergelangan tangannya. Menghitung detik demi detik dimulai dengan angka dua puluh.
Tindakannya yang beberapa kali menatap jam di pergelangan tangannya membuat Bretton sebenarnya penasaran.
Muda, cantik, kaya raya. Tidak ada yang tidak mengenal Samantha Connors yang memang terkenal sebagai gadis yang kerap dicap sombong oleh para pria di Pearl Santos. Ada banyak pria yang hatinya dipatahkan dalam satu kali perkenalan.
Samantha menghitung dalam hati. Tinggal tiga detik tersisa dan ....
"Noah! Ada kabar buruk dari rumah sakit. Ibumu harus dioperasi sekarang!"
Seorang wanita berpakaian formal berlari untuk menemui Noah. Noah segera meletakkan peralatan bengkel yang berada di tangannya. Terlihat kekhawatiran di wajah tampannya.
"Aku harus segera ke rumah sakit. Brett!" teriak pria itu memanggil sahabatnya.
Pria bernama Bretton yang sejak tadi berada di samping Samantha mendekat ke arah Noah.
"Ibuku harus menjalani operasi, tolong kamu lanjutkan pekerjaanku!"
Ia hendak melangkah. Tetapi keberadaan gadis seksi yang sejak tadi menyita perhatiannya dalam diam itu membuat Noah memutar tubuhnya. Apalagi pria itu merasa gadis yang semalam ia temui di jalan itu memperhatikannya.
"Jangan membawa motor sendirian, biarkan Nic mengantarmu!"
Tidak ingin terjadi apa-apa pada sahabatnya, Bretton kemudian segera melempar kunci motor pada salah seorang pekerja yang lain di bengkel itu.
"Noah, hubungi aku segera jika terjadi apa-apa dengan Bibi!" teriak Bretton ketika dengan terburu-buru Noah segera keluar dari bengkel.
"Aku akan menyuruh orang mengambil mobilku. Orang itu bernama George. Ada hal yang lebih penting untuk kulakukan dan nilainya lebih besar dari jutaan dolar per jam."
Samantha buru-buru berpamitan hingga membuat Bretton seketika menggelengkan kepalanya kembali.
'Nona Muda kaya raya yang mengejar anak gembala. Beruntung sekali kamu, Noah. Tidak ada kisah Cinderella yang ketinggalan sepatu kacanya. Yang ada adalah anak gembala yang mendapatkan hadiah domba dari sang nona.'
Anda Mungkin Juga Suka





