Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Pesona Papi Gula

Terjebak Pesona Papi Gula

Lizzie, seorang mahasiswi seni, menghadapi krisis finansial setelah ayahnya menghentikan seluruh biaya kuliah karena ia menolak menjadi dokter. Terdesak kebutuhan hidup, Lizzie memutuskan menjalin hubungan dengan pria asing kaya bernama Daxon. Menjadi simpanan Daxon ternyata membawa keuntungan tak terduga bagi Lizzie. Selain statusnya yang masih lajang, Daxon adalah sosok pria mapan yang sangat handal dalam memanjakan dan melindungi dirinya di tengah kesulitan.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Oh, Halo Pak Daxon.”

Pria itu tersenyum memamerkan gigi putihnya yang berkilau. “Kalau kau butuh bantuan untuk merealisasikan imajinasi semacam itu, aku dengan senang hati bersedia menjadi modelnya,” tuturnya lagi seolah tidak ingin menyerah dengan topik tersebut.

Wajah Lizzie langsung merah padam. “Oh, aku… uh …. tidak seharusnya kau mendengar hal itu. Aku hanya gugup, dan biasanya itu cukup berhasil untuk … kau tahu motivasi?”

Daxon tertawa lepas, saat itu terjadi Lizzie berharap dia betul-betul sudah mati.

“Ngomong-ngomong materi yang kau sampaikan sangat bagus, dan um … terima kasih,” tutur Lizzie lagi mencoba untuk menutupi seluruh rasa malunya dengan mengalihkan pembicaraan menjadi sesuatu yang lebih normal.

“Tentu saja, senang kalau kau menikmatinya,” kata Daxon. “Tapi apakah kau aslinya seperti ini? seingatku kau cukup berani saat kita berada di … kamarku?”

Lizzie memeluk tasnya lebih dekat, ingin segera kabur darisana. “Jika berkenan tolong jangan bahas hal itu disini, Pak.”

“Bapak? Masih segar dalam ingatanku kalau kau memanggil aku ‘Om tampan’ tapi sekarang kenapa tiba-tiba memanggilku Bapak? Kau sedikit menyakiti hatiku.” Lizzie mengedarkan pandangan, dia mendapati ada beberapa pasang mata yang melihat kearah mereka. Jika dia terus berada disini lebih lama orang-orang akan mulai membicarakan sesuatu yang menyebalkan dan membuat kupingnya panas.

“Aku tidak yakin apakah kau senggang, tapi ada kedai kopi di dekat gedung seni, kurasa kita bisa bicara di—”

“Pak Daxon!” teriak Levin berlari ke arahnya dengan senyum lebar. “Hai terima kasih sudah datang dan menjadi pembicara hari ini. Mata kuliah ini menjadi sedikit lebih menyenangkan daripada sebelumnya.”

Entah Lizzie harus bahagia atau bingung, tapi yang pasti ekspresinya sekarang pasti sekarang tidak enak dipandang. Keberadaan Levin disini sangat membingungkan. Tapi Lizzie berharap mereka tidak mengenal secara personal, mengingat Daxon tadi bahkan terus saja mengungkit soal malam panas mereka. Bisa gawat bila ada orang yang tahu soal itu, terlebih orang itu Levin.

“Begitukah senang sekali aku mendengarnya kalau begitu,” sahut Daxon santai. Saat mereka sedang asyik berbincang Levin mengalihkan pandangannya pada Lizzie.

“Oh? Kau masih disini Lizzie? Bukankah harusnya kau sudah ada di kelas seni sekarang?”

Lizzie mengeluarkan ponselnya dan melihat jam disana. Raut mukanya terkejut. “Kau benar, aku harus segera pergi.”

Dia langsung bergegas pergi, setidaknya Levin memberinya jalan untuk keluar. Lizzie berjanji akan membelikannya minuman nanti, walaupun kemunculannya agak aneh karena beberapa saat yang lalu Marie menyeret dia pula untuk keluar. Kenapa dia bisa ada disini lagi?

***

Lizzie kelur kelas dengan posisi kacau, dia terus terusan melakukan kesalahan dan bahkan berakhir merobek kertasnya berkali-kali karena tidak bisa berkonsentrasi. Untungnya professornya cukup bijaksana dan memberikan keringanan kepada Lizzie untuk mengumpulkan tugasnya dilain waktu. Mungkin Lizzie harus bersyukur karena lagi-lagi situasi memihak padanya sedikit. Setelah ini dia akan pergi ke kedai kopi hanya untuk sekadar memastikan Daxon ada disana. Jika tidak dia akan langsung menyibukan diri dengan tugasnya.

“Bisa aku minta caramel latte?” ujar Lizzie pada sang pramusaji.

“Tentu saja, aku akan siapkan secepatnya.”

“Terima kasih.”

Dia mengurus beberapa barangnya yang ada ditas selempangnya untuk sekadar merapikan dan mencari keberadaan dompetnya. Lizzie sempat melirik buku sketsanya tadi, terpikir baginya untuk mengerjakan sisa tugasnya disini. Tapi kemudian dia ketika dia melirik ke arah meja dimana Daxon sedang duduk dia agak gelisah dan goyah dan terkejut.

Lizzie menggigit bibirnya, alhasil begitu pesanannya selesai dibuat Lizzie malah mengambil kopinya dan berjalan mendekati Daxon tanpa sadar. Sebelum masuk kelas seni tadi dia memang sempat mengajak pria itu untuk minum kopi. Tapi tidak mungkin dia mengingatnya dan benar-benar ada disini menunggunya kan? Lagipula dia seorang pengacara yang sibuk. Sibuk dengan isi kepalanya tidak terasa dia sudah berada di meja pria itu. Daxon menautkan alisnya.

“Sepertinya kau terlambat.”

“Maksudnya?”

“Kau menyuruhku datang kemari kan beberapa saat lalu sebelum temanmu datang dan memotong pembicaraan kita berdua? sekarang aku sudah disini menunggumu selama kurang lebih dua jam,” kata Daxon sambil menyeruput kopi miliknya. “Untung saja aku tidak punya pekerjaan hari ini. Kalau ada tentu aku sudah tidak ada disini dan menunggumu.”

“Ah… maaf,” sahut Lizzie cepat, sambil memperlihatkan seberapa menyesalnya dia. Dia masih membawa buku sketsa di tangannya dan membungkuk meminta maaf pada Daxon. “Aku benar-benar mengalami hari yang aneh.”

“Karena apa?” suara Daxon terdengar menggoda tapi ekspresinya tidak begitu terbaca.

“Karena kau tiba-tiba saja muncul di kelasku sebagai pembicara. Ini seperti sesuatu—”

“Sarkasme, Lizzie,” potong Daxon cepat membuat Lizzie tersedak.

“Menarik sekali, kau memiliki wajah yang sama sepanjang waktu dikelas tapi sekarang kau terlihat lebih rileks.”

“Itu bagian dari pekerjaanku. Mengatur ekspresi wajah dimuka umum adalah hal dasar yang harus dikuasai.”

Lizzie mencondongkan tubuh ke depan dengan bertumpu pada sikunya. “Oh ya, kau seorang pengacara. Itu menjelaskan semuanya.”

“Pengamatan yang bagus. Jadi apa yang kau lakukan di kelas psikologi kriminal padahal statusmu adalah mahasiswi jurusan seni.”

“Itu syarat untuk lulus. Electives.”

Daxon meringis. “Ah, aku ingat omong kosong seperti itu di perguruan tinggi.”

“Oh ya ada yang seperti itu juga di universitas jadul?” Mata Daxon terangkat dan dia menatap wajah Lizzie lekat-lekat sementara gadis itu malah menyeringai seraya menyeruput kopinya.

“Agak kurang ajar ya sekarang,” desis Daxon balas menyeringai padanya. “Aku mau ambil kue, ada yang kau inginkan?”

“No thanks.”

Pria bertubuh tinggi itu bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke konter. Sementara Lizzie sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa ini langkah yang benar? Bisa-bisanya dia bertemu dan mengobrol seperti kawan lama pada pria yang menjadi cinta satu malamnya semalam. Ini saja sudah melanggar aturan. Dia benar-benar merasa isi kepalanya mendadak konslet.

“Ini,” kata Daxon yang tiba-tiba sudah berada dimeja dengan sepiring besar penuh kue. “Aku bertanya pada pemuda disana apa yang biasa kau makan.”

Dia memandang beberapa potong cheese cake dipiring tersebut, mengerutkan alisnya. “Bukankah sudah aku katakan aku tidak ingin apa-apa.”

“Ya aku tahu,” jawab Daxon tenang. “Tapi aku juga bisa melakukan sesukaku, ‘kan?”

Melihat tampilan menggoda dari kue favoritnya, mau tidak mau akhirnya Lizzie menyerah dan memutuskan mengambil sepotong cheese cake untuk dia eksekusi. Sementara Daxon memakan kue rasa kopinya.

“Bagaimana dengan kelas senimu?”

“Sejauh ini baik,” sahut Lizzie singkat. “Tapi aku terkadang merasa bahwa aku melakukan kesalahan dan mengacau. Ya, hal-hal seperti itu.”

“Entahlah, tapi dari penilaianku kau terlihat sangat tertekan untuk sesuatu. Kau bisa dengar ini atau tidak tapi sesekali mengacau itu bukan masalah. Kau masih muda, jadi kau bisa melakukan banyak kesalahan dan memperbaikinya.”

Entah kenapa Lizzie hanya bisa terdiam mendengar sepotong nasehat dari pria itu. Sebenarnya Lizzie tidak terlalu suka membicarakan soal kelas seni-nya. Karena dia merasa muak dan tidak tahan dengan seluruh penolakan yang ayahnya berikan. Ini sulit dan membuatnya tertekan. Tapi disisi lain dia merasa terpenuhi. Pria asing ini rupanya berprofesi sebagai pengacara, dia cukup bijaksana dan tidak mengkritik jurusan yang diambilnya. Orang asing yang memberikannya dukungan bahkan lebih dari ayah kandungnya sendiri.

Lizzie sempat bergidik. Itu adalah pemikiran yang aneh, mengingat dia sudah meniduri pria itu. Gambaran-gambaran saat mereka bersama berkelebat dalam otak Lizzie. Bibir yang sama yang memberinya ciuman panas, lidahnya yang sempat menangkup dadanya. Tangan yang sama yang membelainya di … dimana-mana.

“Kurasa benar,” kata Lizzie seraya memalingkan muka keluar dari jendela. Sementara Daxon memandangnya dengan cermat.

“Tersenyumlah lebih banyak, wajahmu terlihat sangat cantik saat kau bahagia.”

Seketika Lizzie merasa pipinya menghangat oleh kata-kata sederhana pria itu. Dia menyeruput sisa kopinya dalam satu teguk dan kemudian bangkit dari posisinya. “Aku harus pergi,” ujar Lizzie. Dia tidak mau ambil resiko bertingkah aneh dan tidak masuk akal didepan pria itu. Lagipula dia pasti tahu alasannya karena dia mengetahui bagaimana segalanya bermula hingga tercipta relasi rumit ini.

“Aku tidak mendapatkan nomor ponselmu?”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
8.0
Liam Benjamin merasa hancur setelah ditinggalkan kekasihnya akibat rumor impotensi yang menerpanya. Di tengah keputusasaan, ia menyelamatkan Sheeta, seorang wanita hamil yang mencoba mengakhiri hidup di laut. Meski tahu Sheeta mantan PSK, Liam justru mengajaknya menikah kontrak. Namun, Liam sebenarnya pria perkasa yang terbelenggu kutukan masa lalu. Akankah benih cinta tumbuh di balik rahasia dan perjanjian pernikahan mereka yang penuh misteri?
Sampul Novel Cinta Si Kembar (TWINS LOVE)
9.0
Demi membiayai pengobatan sang ibu yang kritis, Maya terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak dari Reno. Di sisi lain, Reno sengaja memanfaatkan situasi sulit Maya untuk menjeratnya dalam ikatan legal yang menguntungkan. Bagi Reno, pernikahan ini hanyalah strategi licik untuk mengamankan harta warisan keluarga sekaligus memperkuat dominasinya di perusahaan. Mereka terjebak dalam kesepakatan gelap yang didasari oleh ambisi dan kebutuhan mendesak.
Sampul Novel Gairah Ranjang CEO Kejam
9.2
Alice Morrigan terpaksa menggantikan posisi kakak kembarnya, Berenice, yang menghilang saat pernikahan dengan Nicholas Chevalier. Sebagai istri pengganti, Alice diperlakukan layaknya pelayan oleh Nicholas yang kejam. Ia kerap menerima kekerasan fisik dan cambukan menyakitkan saat berhubungan intim. Nicholas yang posesif terus mengekang tubuh serta kebebasan Alice tanpa ampun. Di tengah penderitaan ini, mampukah Alice bertahan atau justru berhasil melarikan diri?
Sampul Novel Hanya Istri Kedua
9.3
Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan kebangkrutan, Anyelir terpaksa mengubur mimpinya sedalam mungkin. Ia setuju menjadi istri kedua bagi Serkan Alvaro, seorang pebisnis muda berdarah dingin yang sangat populer. Di balik bantuan finansial yang diberikan, motif Serkan menikahi Anyelir masih menjadi misteri besar. Kini, Anyelir harus menghadapi kerasnya kehidupan rumah tangga yang penuh tanda tanya. Akankah pernikahan ini memberikan kebahagiaan baginya?
Sampul Novel Mysterious Love
8.0
Chen Qianqian adalah bos CyberTech sekaligus pewaris tunggal kerajaan bisnis internet di China. Meski hidupnya sempurna, tekanan keluarga memaksanya segera menikah di usia tiga puluh tahun. Takdir mempertemukannya dengan Bai Chou Fei, putra pemilik jaringan rumah sakit ternama, saat berada di rumah sakit. Meski awalnya sulit, Chou Fei akhirnya menerima lamaran Qianqian. Namun, pernikahan ini justru penuh rintangan emosional. Akankah sandiwara mereka berujung luka atau cinta?
Sampul Novel Permainan Cinta Billionaire's
8.1
Ditinggal Aldo di hari pernikahan memaksa Aletta menikahi Bian demi menjaga martabat keluarga besar. Meski Bian sosok suami yang baik, kehidupan baru Aletta justru dipenuhi cobaan berat saat rahasia kelam mulai terkuak satu per satu. Situasi kian pelik ketika Aldo mendadak muncul kembali membawa kerumitan baru. Akankah Aletta mempertahankan rumah tangganya dengan Bian, atau justru kembali pada cinta lamanya? Ikuti perjuangan cinta penuh intrik ini.