Sampul Novel Terjebak Pesona Papi Gula

Terjebak Pesona Papi Gula

9.6 / 10.0
Demi membiayai kuliah seni setelah dukungannya diputus, Lizzie nekat mendekati Daxon. Terjebak Pesona Papi Gula menjadi awal misinya memanfaatkan kekayaan sang billionaire. Dalam romance novel ini, Lizzie harus memilih antara ambisi karier atau konsekuensi hubungan dengan pria yang memanjakannya.
Ringkasan Terjebak Pesona Papi Gula
Lizzie, seorang mahasiswi seni, menghadapi krisis finansial setelah ayahnya menghentikan seluruh biaya kuliah karena ia menolak menjadi dokter. Terdesak kebutuhan hidup, Lizzie memutuskan menjalin hubungan dengan pria asing kaya bernama Daxon. Menjadi simpanan Daxon ternyata membawa keuntungan tak terduga bagi Lizzie. Selain statusnya yang masih lajang, Daxon adalah sosok pria mapan yang sangat handal dalam memanjakan dan melindungi dirinya di tengah kesulitan.
Baca Selengkapnya

Terjebak Pesona Papi Gula Bab 1

Daxon bangun perlahan-lahan, mulutnya terasa aneh dan anggota tubuhnya juga terasa begitu berat. Dia menghadap ke arah samping dan berharap melihat … yang jelas bukan bantal kosong. Dengan kepala yang terasa pening, pria itu mengangkat sedikit beban tubuhnya dengan siku seraya melihat ke sekeliling ruangan. Dia berada di kamar pribadinya, ‘kan? Melihat ada laptop dan beberapa situasi yang familiar Daxon langsung berasumsi bahwa dia betul-betul ada di kediamannya.

Dia memperhatikan sekitar sebelum bola matanya memperhatikan ada dua gelas yang berisi sedikit anggur, botolnya bahkan terguling di atas karpet yang menyebabkan nodanya berada disana. Tapi yang menarik perhatian justru adalah sepasang sepatu bertali yang teronggok dan tak pas diantara seluruh kemewahan rumahnya.

Seketika ingatannya mengalir kembali.

Dia membawa pulang seorang gadis semalam, dia juga mengingat bagaimana wanita itu meleleh hanya dengan sedikit sentuhan darinya. Bagaimana rasa bibirnya ketika Daxon membawanya dalam sebuah ciuman. Ya, ciuman yang begitu hangat dari sekian banyaknya ciuman yang pernah dia rasakan seumur hidupnya.

Perempuan yang dia bawa agak sedikit berbeda dengan tipe-nya. Dia lebih pada tipe yang petite, tapi Daxon bersumpah bersedia melakukan apa saja untuknya. Waktu mereka selesai saja dia masih bisa berguling seraya menggodanya untuk ronde tambahan. “Mau melakukannya lagi?”

Tentu saja jawabannya adalah “Jelas, iya.”

Tapi siapa dia dan siapa namanya. Daxon berusaha keras mengingatnya.

Tepat dalam kesulitan itu, pintu kamar mandi terbuka dan seorang gadis melangkah keluar dalam kondisi telah berpakaian lengkap seperti semalam. Celana jeans sobek di bagian lutut dan kaos oblong bergambar metalica dengan kemeja kotak-kotak sebagai outer. Gadis itu tersenyum padanya.

Lagi-lagi kilat itu menyambar Daxon lagi.

“Lizzie,” sebut Daxon tiba-tiba tanpa bisa sadari.

“Halo, Om tampan,” sahut Lizzie mendekat, lalu dengan acuh tak acuhnya dia mengangkat tangan seperti meminta sesuatu, menodong Daxon tidak peduli dengan tatapan tanya yang pria itu arahkan kepadanya. “Mana uangku?”

“Kau mau langsung pergi sepagi ini?”

Sebuah kernyitan muram melintasi wajah mungil gadis itu. “Aku ada kewajiban yang perlu dilakukan. Harusnya aku pergi sejak semalam, jika saja kau sudah memberikanku bayaran.”

“Ah,” kata Daxon dilanda kekecewaan yang tidak terjelaskan. Tapi kemudian dia sadar akan sesuatu hal yang penting. Tiba-tiba saja dia bisa membaca bahasa tubuh Lizzie yang tegang. Pria itu menyadari betul bahwa tidak ada gunanya mengulur waktu. Dia kemudian menyeret tubuhnya untuk mengambil sesuatu dari celana yang dia kenakan semalam. Mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya tanpa dihitung terlebih dahulu.

Lizzie langsung memberinya sebuah ekspresi riang. Diberinya Daxon kecupan singkat sebelum mengambil lembaran uang itu. “Kau tahu? Tadi malam itu malam yang sangat panas, tapi aku tidak berniat untuk memulai sebuah hubungan. Bahkan hubungan kasual sekali pun. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin memikirkanmu sebagai imajinasiku … dan bukan orang sungguhan yang akan berpapasan denganku di tempat umum.”

Itu yang pertama. Daxon merasa kagum untuk sesaat. Biasanya dialah yang berusaha untuk meloloskan diri setelah sebuah one night stand sementara para perempuan akan mencoba mengorek informasi pribadinya. Daxon sebetulnya tidak suka dengan situasi terbalik ini, tetapi harga diri yang dia miliki cukup untuk menahan seruan dan meloloskan Lizzie meskipun dirinya masih sangat penasaran pada gadis itu.

“Aku lumayan suka dengan idemu,” sahut Daxon.

Lizzie melemparkan kepalanya ke belakang sebelum akhirnya tertawa, seluruh ketegangan akhirnya mereda. Tapi sebelum benar-benar pergi, wanita itu menyempatkan untuk memberinya sebuah ciuman selamat tinggal yang panas.

“Terima kasih untuk yang tadi malam dan tips-nya. Percayalah itu malam yang luar biasa yang pernah aku rasakan seumur hidupku.”

Daxon tersenyum. “Aku juga,” katanya. Sesungguhnya saat itu dia betul-betul sedang bersungguh-sungguh.

Beberapa saat setelahnya Lizzie mengambil sebuah tas selempang dan mengenakannya sambil meniupkan sebuah kiss bye. “Dah, Om tampan.”

“Dah, baby girl.”

Kemudian Lizzie menghilang dari balik pintu kamarnya.

“Selamat datang kembali ke realita, kalau begitu,” kata Daxon untuk dirinya sendiri.

***

Lizzie menjatuhkan tas selempangnya dengan malas ke lantai. Tubuhnya begitu tidak bertenaga ketika membaringkan diri di atas ranjang. Suara detik jarum jam berdetak konstan, menghipnotis dirinya untuk bergulir menutup mata. Ada hela napas mengisi jeda sebelum kantuk menyerang. Dia betul-betul lelah setelah digempur nyaris semalaman oleh si om-om tampan yang dia temui untuk mendapatkan uang dengan cara mudah di bar.

Padahal hari ini dia ada kelas, tapi tubuhnya terasa lunglai begini. Mungkin saja bolos bisa jadi opsi pilihan. Lagipula sekarang Lizzie punya cukup uang untuk bertahan lebih dari satu bulan. Pria yang dia temui lumayan royal, bahkan Lizzie kaget bukan main saat dia menyodorkan uang dengan jumlah fantastis untuk satu malam.

“Baru pulang kau?”

Setengah mati Lizzie berusaha untuk tidak marah, tapi tetap saja dia menggeram pada akhirnya. Kantuk yang ada jadi memudar, memaksa kedua kelopak mata membuka melirik pada sosok pria yang menjadi teman sekamarnya.

“Ya, Armant?”

Pemuda itu menghela napas, menggosok batang hidungnya dengan sedikit emosional. “Kenapa kau harus bertingkah begini? Ketika kuberi kau kelonggaran kau malah bersikap makin seenaknya.”

“Maksudmu apa? apa tidur dipagi hari tidak diperkenankan?”

“Lizzie, kau tahu betul aku sedang membicarakan hal lain. Kau pergi ke bar semalaman dan baru pulang di pagi buta. Aku mengkhawatirkanmu. Kau bisa saja terluka, Lizzie. Kau bahkan tidak menelepon salah satu dari kami untuk mengatakan lokasimu. Kau bisa saja mengalami hal-hal buruk. Tolong kurangi kebiasaanmu itu! tidak baik bagimu untuk keluar malam apalagi kau itu perempuan. Kejahatan kali ini sedang—”

“Oh ayolah Armant!” Lizzie tidak tahan untuk mengeluarkan suara rintihan panjang dan agak keras. Dia seorang pria tapi kenapa omelannya melebihi ibunya sendiri? terkadang ada dimana Lizzie merasa tak tahan dengan sikap Armant yang seperti seorang kepala di rumah ini. Dia tidak banyak berharap sebenarnya, hanya ingin pagi yang damai tanpa harus mendapatkan penghakiman dan omelan yang malas untuk dia dengarkan.

“Aku tidak mabuk-mabukan oke? Aku juga tahu untuk tidak menerima minuman apapun dari orang asing. Kau selalu berulangkali mengatakan hal yang sama padaku sampai aku bosan. Aku bukan orang tolol, Armant, oh … sial! Kau menghancurkan moodku.”

“Kalau begitu berhentilah bertingkah seperti ini.”

“Bisakah kau tidak ikut campur dalam kehidupan pribadiku? Aku sudah memiliki orangtua menyebalkan, aku tidak ingin kau juga mengisi daftar itu dihidupku. Aku sudah dewasa! Aku tidak perlu kau yang harus mengasuhku setiap saat!”

“Tapi kau masih saja membuat keputusan yang kekanak-kanakan,” kata Armant lagi yang tampaknya masih ingin mendebat Lizzie.

Sungguh, Lizzie tidak pergi ke bar untuk mencari masalah atau setidaknya apa pun yang dipikirkan oleh Armant tentangnya. Dia hanya berakhir disana karena terlalu stress atas penolakan yang diberikan oleh sang ayah dan hendak menarik seluruh dukungan dana untuk keperluan kuliahnya. Dia hanya mencoba untuk melupakan masalahnya sejenak dan mencari nafkah dengan cara yang mudah. Bukankah setiap orang punya titik dimana tidak kuat menahan banyak tekanan dan punya cara untuk masing-masing untuk mengatasi stress? Itulah yang Lizzie sedang lakukan tapi Armant jelas tidak akan bisa mengerti hal itu.

“Kau tidak akan pernah mengerti. Persetan! Sudahlah, jangan ganggu aku!” ungkap Lizzie seraya bergumam, mencoba menghapus sisa amarahnya.

Tapi hanya selang beberapa lama saja Lizzie ditarik dari belakang dan dipeluk dengan lembut. Kedua mata Lizzie membelalak. Tapi dia tahu siapa pelakunya. Orang yang sama yang memberinya luka. Armant. Pria itu memeluknya dengan erat dan membenamkan kepalanya di bahu Lizzie, jika sudah begitu Lizzie hanya bisa menghela napas.

“Maafkan aku, Lizzie aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya khawatir,” ujar pria itu penuh kasih. Sekali lagi Lizzie melebur dan kembali memberi maaf padanya seperti biasa.

“Tidak apa-apa,” gumam gadis itu. “Justru aku yang harusnya minta maaf karena telah berteriak padamu.”

“Tidak apa-apa.” Dia mencium puncak kepala Lizzie dengan sayang lalu melepaskannya. “Aku akan pergi bekerja, semoga harimu menyenangkan ya, Lizzie.”

“Ya, terima kasih.”

Bukankah selalu seperti itu? bahasa cinta dengan saudara dan keluarga memang terkadang tidak bisa dimengerti. Saling berteriak, saling memaki dan menghakimi lalu diakhir berbaikan kembali. Sebuah pola yang sama dan sudah Lizzie hafal diluar kepala.

Meskipun Armant tidak terhubung karena hubungan darah. Tapi kedekatan mereka justru jauh lebih dari itu. Dia selalu menjadi pelindung untuknya dan sikapnya yang seperti itu adalah bukti bahwa dia menyayanginya. Walau kadang berlebihan dan Lizzie muak juga.

Setelah sendirian di rumah, tiba-tiba Lizzie mendapati notifikasi dari ponselnya. Dia membuka dan menemukan pesan yang masuk ke kotak masuknya.

Jangan lupa hari ini ada kelas psikologi kriminal. Aku dengar hari ini professor mengundang narasumber khusus untuk studi kasus dan katanya, dia sangat tampan. Kau pasti akan terkesima saat sudah melihatnya nanti.

Siapa pun orangnya, sepertinya tahta pria maskulin paling tampan dalam memori Lizzie masih dipegang oleh Daxon. Si om-om senangnya yang sudah memberi dia uang tunai dengan jumlah fantastis.

“Kalau hari ini aku bertemu dengannya lagi, kurasa akan lucu. Aku tidak pernah dapat pengalaman begitu, hah … apa kami bisa bertemu lagi ya?”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terjebak Pesona Papi Gula

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Rheina, gadis lugu yang terjebak dalam lingkungan beracun, awalnya berniat membebaskan sahabatnya dari cengkeraman tuan tanah. Namun, situasi memburuk saat ayahnya justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat. Konflik keluarga yang kelam ini akhirnya menyeret Rheina ke dalam lembah kenistaan. Ikuti liku perjalanan hidup Rheina saat ia terjerat dalam cinta segitiga rumit bersama dua pria di tengah tekanan hidup yang penuh kata kasar dan adegan dewasa.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Demi melindungi nyawa buah hati yang tidak berdosa, Neva Zetrix terjebak dalam situasi yang sangat memilukan. Ia terpaksa menekan harga dirinya dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson setiap hari. Perjuangan hidup Neva ini didorong oleh kasih sayang seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang anak. Di tengah tekanan dari sosok Brian yang dominan, Neva harus bertahan dalam dinamika hubungan yang penuh dengan pengorbanan batin.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel Menyusui Bayi Mafia
9.7
El Zibrano Elemanus memberikan tawaran gila kepada Lea untuk menyusui putranya dengan imbalan kekayaan yang tak terbatas. Lea yang masih berstatus pelajar menolak keras karena merasa permintaan itu tidak masuk akal bagi gadis seusianya. Namun, El tidak menerima penolakan dan bersikeras bahwa ia bisa mewujudkannya melalui caranya sendiri. Di bawah tekanan sang bos mafia, Lea terjebak dalam situasi intim yang mengancam masa depan dan harga dirinya.
Sampul Novel Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
9.2
Enam tahun menikah rahasia dengan seorang direktur, sang istri harus menerima kenyataan pahit saat suaminya melarang putra mereka memanggilnya ayah. Ketika sang suami kembali mengabaikan ulang tahun anak mereka demi sekretarisnya, keputusan bulat pun diambil. Surat cerai dilayangkan, dan dia pergi membawa putranya selamanya. Kepergian tiba-tiba ini meruntuhkan ketenangan sang miliarder yang seketika kehilangan kendali mencari istrinya. Namun, kali ini penantiannya akan sia-sia.
Sampul Novel Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin
7.9
Clayden Ardhanesa, yang dahulu dikenal sebagai Bradford, pernah menguasai dunia sebelum melepaskan kejayaannya demi cinta. Dia memilih hidup sederhana demi melindungi sang istri secara rahasia. Sialnya, setelah sukses, wanita itu justru menganggap Clayden tidak berguna lalu menceraikannya. Namun, roda nasib berputar saat reputasi Clayden kembali mengguncang dunia, menyisakan penyesalan mendalam bagi mantan istrinya yang kini hanya bisa bersimpuh dan menangis tanpa henti.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan