
Terjebak Pesona CEO Dingin
Bab 3
Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan tegang mereka di kantor. Arlena dan Leonard menjalani hari-hari mereka dengan pikiran yang campur aduk. Keduanya berusaha menjalani kesepakatan untuk 'mencoba' menjalani perjodohan ini, meskipun ketegangan di antara mereka masih sering terasa seperti jarak yang tak terlihat.
Di satu sisi, Arlena masih dihantui perasaan luka yang dalam dan kekesalan terhadap Leonard. Namun, di sisi lain, ia mencoba merelakan, memulai hidup baru tanpa terus-menerus dibayangi trauma masa lalu.
Sementara itu, Leonard menjalani hari-harinya dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Meski dirinya berusaha bersikap tegas dan profesional, ia merasa tergugah setiap kali teringat tatapan kecewa Arlena. Suatu hal di dalam dirinya seolah mendesaknya untuk melindungi wanita itu, untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah ia lakukan.
---
Di Suatu Pagi, di Rumah Arlena
Arlena sedang duduk di ruang tamunya, menyesap teh hangat sambil memikirkan rencana ke depannya. Pagi itu ia merasa sedikit lega, karena akhirnya bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri tanpa gangguan. Namun ketenangannya terhenti ketika ponselnya berdering. Nama Leonard tertera di layar.
"Ada apa lagi?" gumamnya sambil menatap ponsel dengan cemas.
Perasaannya bercampur antara enggan dan penasaran. Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan.
"Ya, ada apa, Leonard?" tanyanya dengan nada dingin.
"Aku ingin kita bertemu hari ini. Ada sesuatu yang perlu kita bahas," jawab Leonard, suaranya terdengar tegas namun hangat.
"Bahas apa lagi? Bukankah kita sudah sepakat tentang semua ini?" Arlena mencoba mempertahankan nada dingin, meskipun ada sedikit kegugupan di hatinya.
"Ini tentang... rencana pernikahan kita," ucap Leonard. "Aku ingin mendiskusikan beberapa hal denganmu. Aku tahu ini mendadak, tapi bisakah kita bertemu?"
Arlena terdiam sejenak. Hatinya menimbang, namun akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah, di mana kita bertemu?"
"Kafe di dekat kantormu. Aku akan menunggumu di sana jam 11," jawab Leonard, sebelum menutup telepon.
---
Di Kafe
Arlena tiba di kafe tepat waktu. Ia melihat Leonard sudah duduk di salah satu meja di sudut, tampak sibuk membaca sesuatu di ponselnya. Arlena menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum menghampiri Leonard. Pria itu mendongak dan tersenyum singkat saat melihatnya datang, namun senyum itu tidak bisa menyembunyikan ketegangan di matanya.
"Terima kasih sudah datang, Arlena," Leonard memulai percakapan setelah mereka berdua duduk.
"Jadi, apa yang ingin kau bahas?" Arlena menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Leonard dengan ekspresi waspada.
Leonard menghela napas, menatap Arlena dengan tatapan serius. "Aku tahu hubungan kita tidak mudah. Tapi aku ingin kita benar-benar mempertimbangkan pernikahan ini dengan matang. Aku... tidak ingin membuatmu merasa terjebak atau terpaksa."
"Terjebak?" Arlena tersenyum pahit. "Apakah kita tidak memang sudah terjebak dalam situasi ini sejak awal?"
Leonard terdiam, merasa tertampar oleh kenyataan yang diucapkan Arlena. Meski begitu, ia berusaha mengendalikan diri, mengangguk pelan. "Ya, mungkin benar. Tapi aku ingin kita memiliki hubungan yang baik, setidaknya... untuk menghormati ikatan ini. Aku ingin mencoba menjadi suami yang... layak untukmu."
Arlena terkejut mendengar ketulusan dalam nada suaranya. Ia tidak menyangka Leonard akan mengatakan hal semacam itu. Sekilas, ia melihat kesungguhan di mata pria itu-sesuatu yang membuatnya sedikit tersentuh, meskipun hatinya masih enggan menerima.
"Leonard... aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu. Setelah semua yang terjadi...," Arlena berhenti sejenak, menelan ludah. "Kau tahu, malam itu bukan sesuatu yang bisa aku lupakan begitu saja."
Leonard merunduk, mengangguk pelan. "Aku tahu. Dan aku minta maaf, Arlena. Aku tahu permintaan maafku tidak akan menghapus apa yang sudah terjadi. Tapi jika ada cara yang bisa kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik, aku akan melakukannya."
Arlena terdiam, berusaha memproses kata-kata Leonard. Ada nada tulus dalam ucapannya yang membuat hatinya goyah, meski masih ada ketidakpercayaan yang meliputi dirinya.
"Leonard... aku akan mencoba, tapi jangan harap aku bisa langsung menerima semuanya. Luka ini... tidak mudah sembuh."
Leonard mengangguk penuh pengertian. "Aku mengerti, Arlena. Aku tidak akan memaksamu. Kita bisa melangkah pelan-pelan. Aku hanya ingin kau tahu, aku sungguh berniat memperbaiki hubungan ini."
Arlena tersenyum kecil, senyum yang penuh kesedihan namun juga kelegaan. Mungkin, hanya mungkin, ia bisa memberikan kesempatan kecil untuk mencoba.
---
Hari-Hari yang Berjalan Pelan
Setelah pertemuan itu, hubungan mereka perlahan berubah. Leonard berusaha menunjukkan perhatiannya, meski Arlena masih menjaga jarak. Setiap kali mereka bertemu, ada ketegangan yang seolah tak kunjung hilang, namun juga ada percikan kecil harapan yang mulai tumbuh.
Suatu malam, Leonard menjemput Arlena untuk makan malam bersama. Malam itu terasa berbeda, keduanya berbicara dengan lebih santai, bahkan ada beberapa tawa yang mulai menghiasi percakapan mereka. Arlena perlahan mulai merasa nyaman, meskipun hatinya masih penuh keraguan.
"Arlena, aku tahu aku bukan pria sempurna, bahkan mungkin jauh dari itu. Tapi aku sungguh berharap kita bisa... memulai dari awal," ujar Leonard di tengah makan malam mereka, menatap Arlena dengan penuh harap.
Arlena terdiam, menatap pria di hadapannya. Malam itu, di balik segala kebingungan yang ia rasakan, ada secercah kehangatan yang membuatnya merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa mulai memaafkan pria ini.
---
Namun, ketika perasaan Arlena mulai perlahan membuka diri, masalah baru muncul. Di saat hubungan mereka mulai sedikit membaik, mantan kekasih Leonard, seorang wanita bernama Mira, tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Di suatu acara formal yang dihadiri Leonard dan Arlena, Mira datang menghampiri mereka. Dengan senyum angkuh dan tatapan penuh ejekan, ia memandang Arlena dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Oh, jadi ini istri barumu, Leonard?" Mira berbicara dengan nada meremehkan. "Tidak kusangka seleramu berubah drastis."
Arlena terkejut, namun ia mencoba tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh provokasi itu. Leonard, yang melihat ekspresi terluka di wajah Arlena, langsung menggenggam tangan istrinya dan menatap Mira dengan dingin.
"Mira, tolong jangan buat masalah," ucap Leonard dengan nada tegas. "Arlena adalah istriku, dan aku menghormatinya."
Mira tersenyum sinis, melipat tangannya di dada. "Oh, begitu ya? Tapi apakah kau sungguh yakin, Leonard? Karena dari yang aku lihat, kau masih tampak bimbang."
Arlena merasa hatinya sakit mendengar kata-kata itu, namun ia berusaha mempertahankan wibawanya. Sementara itu, Leonard menarik napas panjang, lalu menatap Mira dengan tatapan tajam.
"Mira, aku tidak ingin mendengar apapun darimu lagi. Aku sudah membuat pilihan, dan pilihan itu adalah Arlena. Jadi, tolong, pergi dari sini."
Mira terdiam sejenak, lalu dengan tatapan tajam, ia berbalik dan pergi. Setelah kepergian Mira, Arlena merasa hatinya masih sakit. Ia tahu bahwa bayang-bayang masa lalu Leonard akan selalu menjadi ujian bagi hubungannya. Namun, malam itu, saat Leonard menggenggam tangannya erat, ia merasakan sedikit ketulusan di sana.
Mungkin, hanya mungkin, Leonard benar-benar tulus ingin memperbaiki semuanya.
Anda Mungkin Juga Suka





