Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Pernikahan Palsu CEO

Terjebak Pernikahan Palsu CEO

Kainan terdesak untuk segera menikah demi menyelamatkan perusahaan miliknya dari kehancuran total. Secara tak terduga, ia justru terlibat dalam ikatan pernikahan dengan Levin, putra dari rival bisnis terbesarnya selama ini. Di tengah persaingan sengit antara dua korporasi mereka, ada rahasia besar yang disembunyikan Levin di balik tawaran kerja sama ini. Akankah hubungan palsu ini berujung pada kehancuran atau justru menjadi awal dari sebuah cinta sejati?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pada mata hazel yang terbelalak, Kainan melihat seorang pria asing dalam keadaan terikat di atas kursi. Pria berjas mahal dengan tubuh proporsional duduk tenang meski dalam keadaan seperti itu. Tidak terlihat jelas wajahnya, sebuah kain hitam menutup kedua mata miliknya. Kain itu hanya menyisakan sudut pipi dengan tulang rahang yang tegas, serta rambut bagian depan yang menjuntai menutupi keningnya.

Tidak akan ada yang menyangka bahwa pria dengan penutup mata itu adalah pria yang berperan sebagai ujung tombak sebuah perusahaan. Meski jabatannya hanya sebagai direktur utama, dia adalah pria yang cakap dalam pekerjaannya.

"Si-siapa?" Pertanyaan itu dilontarkan Kainan dengan nada tegang. Bahkan, dengan mata yang membulat sempurna. Kakinya kaku tidak bisa digerakkan, tetapi otak wanita itu sudah menemukan kewarasan. Efek mabuknya telah hilang bersama ketakutannya saat ini.

"Siapa kau? Apa maumu!" Bentakan lantang berasal dari pria itu. Meskipun begitu, sikap tenangnya berkebalikan dengan situasi saat ini.

Pria yang tidak juga menyebutkan namanya itu adalah Levin Gerald, pria lajang yang usianya sudah menginjak kepala tiga. Namun, wajahnya yang tampan mampu menyamarkan usianya.

"Si-siapa? A-aku?" Kainan menjawab dengan tidak mengerti. Ujung jarinya ditunjukkan pada dirinya sendiri, lalu menggeleng tanpa sempat menjawab pertanyaan pria asing itu.

Levin yang terikat terdiam sesaat. Dia sedang mengenali situasi yang terjadi padanya saat ini. Bukankah begitu aneh bahwa orang yang dikira Levin telah menyekap dirinya, justru terlihat tidak mengetahui apa pun.

Itu hal yang wajar bagi Levin. Dia tidak mengetahui apa yang terjadi sebelum dirinya jatuh pingsan. Seorang tidak dikenal memukulnya dengan benda tumpul hingga dia jatuh tak sadarkan diri. Sesaat setelah sadar, dia telah mendapati dirinya sudah terikat di suatu tempat yang tidak dikenal. Di tempat itulah Kainan datang tanpa tahu apa yang terjadi.

"Wanita?" ucapnya meraba dari suara Kainan. Dari sumber suara itu, Levin dapat mengetahui arah pergerakan Kainan yang mendekat. Terlihat jelas bahwa dia sedang dalam keadaan waspada. "Siapa yang memerintahkanmu? Apakah kakakku dibalik penculikan yang kau rencanakan?"

Kainan mengerjap tidak mengerti. Dia memiringkan wajah cantiknya dengan penuh tanya. "Apa maksudmu? Aku … menculikmu?"

Levin terdiam. Pria terikat itu kembali mengoreksi ucapannya yang salah. "Bukan kau yang melakukan itu?"

"Tentu saja tidak. Untuk apa aku menculik orang yang tidak aku kenal?" Kainan mendesah tidak percaya akan tuduhan pria itu. "Kalaupun aku diberi kesempatan untuk melakukan kejahatan, akan aku lakukan pada dua wanita menyebalkan itu."

Syeril dan Jenni adalah dua orang dalam gerutu Kainan. Begitu kesalnya wanita itu sehingga sosok mereka terbayang dalam situasi saat ini.

Levin tidak terlalu menanggapi ucapan Kainan yang tidak dimengerti. Dia mencoba membebaskan diri dari ikatan yang menjerat erat pada kedua tangannya. "Itu tidak penting sekarang. Bisakah kau membuka ikatan ini?"

"Ikatan? Apa kau orang jahat yang sengaja diikat? Apa kau akan menyerangku nantinya?" sanggah Kainan penuh dengan curiga.

Wanita berambut merah itu mendekat tepat di hadapannya. Dan ….

'Srak!'

Kainan membuka kain penutup mata Levin. Seketika itu, dua mata di antara mereka saling bertemu, bertatap lekat hingga hanya meninggalkan jeda untuk saling diam tidak berkomentar.

Pada mata hazel Kainan, dia dapat melihat iris hitam pria itu. Tatapan tajam dengan mata almond membuatnya terkesimah sesaat. Akan tetapi, wanita itu lebih terbuai dengan lekuk indah dari garis di wajahnya.

"Tampan," komentar Kainan yang menyadarkan kebisuan pria itu. Namun, wanita itu bereaksi dengan cepat. Dia menggeleng menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Ah, kau tidak setampan itu. Mulutku hanya kelepasan bicara."

Levin terdiam. Pada mata gelap miliknya, dia dapat melihat seorang wanita dengan rambut merah sebahu, lengkap dengan gaun cocktail yang juga sama-sama merahnya. Pria itu tidak menghentikan tatapannya. Itu membuat Kainan menjadi salah tingkah. Dia menunduk dan menggosok kepalanya yang tidak gatal. Dalam gerakan itu, sesekali dia melirik wajah tampan pria di hadapannya.

"Apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi?" Kainan membuang wajah bodohnya menjauh pada Levin.

"Apa kau tidak melihat keadaanku? Lekaslah buka ikatan ini, bila tidak kau bisa pergi sesegera mungkin." Levin terlihat tenang, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Dia sedang resah memandang keluar jendela. Tepat pada sebuah jendela kecil yang ada dibelakangnya. Pria itu memastikan bahwa si penculik sebenarnya belum juga datang.

"Aku hanya perlu melepaskan ikatanmu saja, kan?" Kainan merendahkan tubuhnya dan memastikan ikatan pada tangan Levin pada punggungnya. "Baik, akan aku lakukan. Aku juga bukan orang jahat yang tega meninggalkan orang sepertimu sendirian."

Kainan mulai melancarkan aksinya. Dia sedang berusaha membuka ikatan di tangan Levin. Namun, tidak mudah. Tali yang berukuran tebal itu terikat begitu erat.

"Bagaimana?” tagih Levin ikut memastikan.

"Tidak bisa." Lawan bicaranya menggeleng dengan wajah putus asa. Wanita itu kembali mencobanya kembali. Namun, usahanya tidak berhasil lagi.

"Kau bisa menggunakan lighter untuk membuka tali itu," saran Levin. Kainan kembali menatapnya, mata hazel tampak cerah menyambut ide pria itu.

"Kau memilikinya?"

"Kau bisa mencari di dalam saku jasku dan-" Kata-kata dari Levin terhenti. Tanpa menunggu aba-aba, jari Kainan melesat masuk di dalam jas Levin.

"Ergh …," desah Levin dengan kepala terangkat. Matanya terpejam bersama perasaan menggelitik di sekitar tubuhnya.

"Pria mesum!" cerca Kainan membuyarkan kenyamanan Levin. Pria itu tidak mengelak akan tuduhan Kainan. Dia lebih tertarik pada lighter yang sudah berpindah di tangan wanita itu.

"Kau mendapatkannya?" tanya Levin memastikan. Kainan mengangguk senang. Sebuah benda kotak berwarna hitam dipamerkannya pada Levin. Benda itu adalah pemantik api yang selalu dibawanya dalam saku jas.

"Kau bukan perokok? Lalu untuk apa membawa lighter? Padahal, aku tidak menemukan satu batang pun rokok di dalam sakumu," kritik Kainan sambil memantik lighter. Sebuah api muncul dari ujung benda itu. Dengan cekatan, Kainan membakar ujung tali secara perlahan.

"Diamlah! Jangan bergerak-gerak, kalau tidak tanganmu yang akan terbakar!" ancam Kainan pada Levin yang sebenarnya tidak bergerak sedikit pun.

Terlihat jelas rasa kesal pada ekspresi pria itu, tetapi diurungkan. Dia tampak sibuk berjaga dan memandangi jendela di belakangnya.

Tidak lama, sebuah cahaya datang dari luar jendela. Cahaya itu datang dari sorotan lampu mobil yang baru datang. Ada orang lain yang juga tiba di tempat itu. Bisa saja mereka adalah komplotan penculik yang sebenarnya. Seketika itu, ketenangan Levin terguncang. Dia kembali melihat Kainan yang belum juga berhasil melepaskan ikatan talinya.

"Pergilah! Kau harus pergi secepat mungkin!" Dengan ucapan lantang dan bernada rendah, Levin memerintahkan Kainan. Sontak saja mata hazel wanita itu terangkat pada Levin. Kainan memiringkan kepala. Dari ekspresinya, terlihat jelas bahwa dia tidak menyadari situasi yang sedang terjadi.

"Ikatanmu belum juga terbuka," gerutu wanita itu memandang Levin dengan putus asa.

"Itu tidak penting sekarang. Kau harus pergi, kalau tidak-"

'Tap! Tap! Tap!’

Derap suara langkah kaki mendekat dari luar pintu. Levin yang menyadari hal itu hanya bisa melihat Kainan dengan resah. Dia tahu saat ini nyawanya terancam, tetapi Levin tidak ingin menyeret wanita itu ke dalam masalahnya.

"Terlambat!" tegas Levin yang mendengar suara kaki itu lebih jelas. Dia harus segera mencari cara sebelum penculik sesungguhnya membuka pintu dan mendapati Kainan. Penjahat itu tidak akan tinggal diam. Saksi mata dalam kasus kejahatan akan mengancam kebebasannya. Menyapu bersih saksi mata bukanlah pekerjaan yang sulit untuk dilakukan.

Levin harus segera memikirkan cara untuk menyelamatkan wanita tidak bersalah itu. Dia melambungkan tatapannya di sekitar. Pria itu harus mencari tempat persembunyian yang aman untuk Kainan.

Suara langkah kaki itu berhenti tepat di balik pintu. Namun, Levin belum juga menemukan apa pun. Dalam ruangan kosong yang tidak memiliki perabotan, mustahil ada sedikit ruang untuk menyembunyikan wanita bertubuh ramping sepertinya.

"Sembunyi di balik pintu dan pergilah saat sudah tidak ada orang!" Lagi-lagi Levin memberikan perintah yang tidak dimengerti Kainan.

Ini adalah suasana genting di mana nyawa orang tidak bersalah seperti Kainan dipertaruhkan. Namun, wanita itu tidak menyadari bahaya yang dapat mengancam nyawanya. Sedetik dia terdiam, sedetik lagi dia mengeluh.

"Kau menyuruhku pergi? Tidak! Aku sudah bilang akan membantumu melepaskan ikatan ini," tolak Kainan tanpa berpikir. Wanita keras kepala itu membuat Levin kehabisan kata. Namun, dia harus segera membuat Kainan menuruti ucapannya.

"Pergi sekarang juga!" Itu adalah perintah Levin dengan nada tinggi.

Kainan terdiam sesaat. Pada mata pekat Levin terlihat jelas rasa khawatir yang tertuang dalam ekspresinya.

Selangkah Kainan mundur, selangkah lagi dia bersembunyi di balik pintu sesuai perintah Levin. Rupanya, gertakan pria itu begitu ampuh.

'Brak!'

Pintu terbuka dari luar, seorang pria gendut dengan penutup kepala datang. Pria itu terlihat tidak berbahaya, tetapi di ujung jarinya menggenggam sebuah senjata tajam.

Kainan yang bersembunyi hanya bisa menyaksikan saat pria itu hendak mengayunkan pisau. Ujung tajam dari benda itu siap menancap di dada kiri Levin.

Mata hazel Kainan terbelalak penuh ketakutan. Dia ingin menjerit, tetapi itu adalah hal yang tidak boleh dilakukannya. Kedua tangan wanita itu membungkam mulutnya sendiri. Dia juga ingin membungkam jantungnya agar suara debaran keras tidak terdengar di telinga penjahat itu.

Ujung pisau dari pria gemuk siap menancap pada sasaran.

'Srak!'

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GUV" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GUV
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Angkatku Tak Tahan
7.9
Kehidupan mewah seorang istri dari keluarga miliarder mendadak berubah menegangkan. Meski memiliki segalanya, ia kini terancam oleh perubahan sikap anak angkatnya yang semula perhatian menjadi sangat posesif. Kecurigaan bermula dari tatapan aneh hingga sentuhan berani saat ia sedang yoga. Puncaknya, sang anak yang tidak bisa lagi menahan diri nekat menjebaknya dengan segelas air yang telah dicampur obat, membawa hubungan mereka ke batas yang berbahaya.
Sampul Novel Andai Aku Boleh Memilih
7.9
Kenanga Wulan, mahasiswi berprestasi, menderita akibat tekanan ibu tirinya, Mirna, hingga akhirnya diusir dari rumah. Mirna sengaja menyembunyikan kekayaan kiriman ibu kandung Kenanga demi memisahkan Bastian dari kenangan mantan istrinya. Di sisi lain, Firda mendesak putranya, Ghaffarel, untuk menikahi Kenanga demi menyelamatkannya dari hubungan tak wajar dengan Raiya. Meski Kenanga mencintai Arkatama, ia terjebak dalam skema pernikahan yang penuh rahasia dan pengkhianatan.
Sampul Novel Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari
8.8
Kehidupan Arlina berubah drastis setelah mengetahui dirinya hamil dan harus menikahi dosen mudanya sendiri, Profesor Rexa. Meski awalnya tinggal di kamar terpisah, Rexa perlahan mendekati Arlina dengan berbagai alasan hingga mereka hidup bersama. Di Universitas Sterling, Rexa dikenal sebagai profesor termuda yang misterius karena cincin di jarinya. Identitas Arlina sebagai istri sekaligus dokter bedah jantung hebat akhirnya terungkap di depan kelas saat Rexa memperkenalkannya secara langsung.
Sampul Novel Gairah Terpendam Tuan Ahli Waris
7.9
Jill merasa hancur setelah dikhianati oleh kekasihnya selama tiga tahun. Di tengah kemarahannya, ia justru terlibat cinta satu malam yang panas dengan Revel, seorang pewaris kaya raya yang selalu memancing emosinya. Meski awalnya hanya hubungan singkat, sosok Revel terus membayangi pikiran Jill. Apakah ini cinta atau sekadar obsesi? Keadaan menjadi semakin rumit saat terungkap bahwa Revel ternyata memiliki kaitan rahasia dengan masa lalu Jill yang tak terduga.
Sampul Novel Magnet Cinta Sang Penguasa
9.5
Evelyn adalah desainer berbakat yang kesulitan mewujudkan mimpinya karena modal terbatas. Saat pameran di New York, ia bertemu Alexander, miliarder ambisius yang menawarkan bantuan karier. Di balik sosoknya yang kaku, Alexander ternyata humoris dan penyayang hingga membuat Evelyn jatuh hati. Meski cinta mereka bersemi, perbedaan status dan rasa iri dari pihak luar mulai mengancam. Kini, keduanya harus berjuang mempertahankan hubungan dari badai rintangan.
Sampul Novel Menikahi Ayah Sahabatku
9.0
Almira Devara terpaksa akan dinikahkan ayahnya dengan juragan desa demi melunasi hutang. Selina, sahabatnya yang kaya, merasa iba dan meminta ayahnya sendiri, Diran Mahendra, untuk menikahi Almira. Meski awalnya enggan, duda sukses itu setuju demi menolong Almira. Kini, Almira harus menjalani rumah tangga dengan pria yang jauh lebih tua. Di sisi lain, Diran masih menutup hati akibat trauma masa lalu. Bisakah cinta tumbuh di antara mereka?