Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Peran Figuran

Terjebak Peran Figuran

Azalea, mantan pekerja keras yang bereinkarnasi ke dunia novel tragedi, hanya ingin hidup tenang di desa terpencil. Namun, rencana itu hancur saat saudara tirinya menipu Azalea untuk menggantikannya sebagai calon permaisuri di istana. Di tengah kutukan penyihir yang menimpa Putra Mahkota Xavierth, Azalea terpaksa terjun ke pusat konflik utama. Kini ia harus bertahan hidup di antara para tokoh penting sambil mencari cara agar tidak ikut hancur dalam akhir cerita.
Bab
Bagikan

Bab 2

Plak!!!

Azalea menahan napas saat sebuah tamparan dilayangkan pada Madelyn. Dia tidak tahu sejak kapan salah satu Ksatria maju selangkah dan langsung melayangkan pukulan pada Madelyn.

Itu adalah Ksatria wanita! Azalea merasakan gemetar di seluruh tubuhnya saat Ksatria itu langsung menarik rambut Madelyn dan menghempaskannya, memaksa wanita itu mencium tanah.

"Sesali perkataanmu di neraka," ucap Ksatria itu seraya mengeluarkan pedang dari pinggangnya.

"Dame Ailyn!"

Sratt!

Pedang mengkilat itu segera dibasahi oleh darah, menutupi teriakan Ksatria lain yang mencoba menghentikan aksi Ksatria bernama Ailyn.

Pemandangan di sekitar Azalea berubah gelap saat sebuah tangan menutupinya. Warna merah yang sebelumnya terlihat membasahi tanah dan sepatu para Ksatria juga ikut tertutupi. Azalea gemetar, tubuh kecilnya mengkerut melihat pembunuhan nyata di hadapannya.

"Nenek?" Azalea memanggil dalam kebingungan saat wanita renta yang sebelumnya menutupi pandangannya menarik tangan gadis itu menjauh dari jendela.

"Mulai sekarang, siapa pun yang bertanya namamu, bilang kalau kau adalah Zhea dan kau adalah cucuku."

Azalea menelan ludah saat memasuki sebuah ruangan, bau menyengat dari berbagai tumbuhan obat dan ramuan di ruangan itu membuatnya mengerutkan hidung.

"Mereka pasti akan mendatangi setiap rumah untuk memberi peringatan agar tidak mengatakan apa-apa tentang kedatangan mereka ke desa ini," ucap wanita renta yang sibuk membuka lemari dan mengeluarkan sebuah ramuan yang terletak di paling ujung.

Azalea mendekat saat wanita itu, Marry, memberi isyarat. "Ini apa, Nek?" tanyanya ketika cairan berwarna biru yang baru saja dikeluarkan Marry menguarkan bau harum yang tidak cocok dengan bau lainnya.

Marry tidak segera menjawab, tangannya dengan cekatan meraih sebuah botol kecil dan menuangkan cairan di tangannya.

"Buka matamu dengan lebar, Zhea."

Azalea menurut ketika Marry memegang dagunya. Gadis itu mendongak dan melebarkan mata sesuai instruksi, sedikit terkejut saat cairan dalam botol kecil itu diteteskan ke matanya.

"Sebisa mungkin tahan untuk tidak menutup matamu," ucap Marry saat melakukan hal yang sama pada mata yang lain. "Nah, sekarang tutup mata sampai aku memintamu untuk membukanya."

Azalea memejamkan mata, mengangguk patuh dan tidak membuka matanya meski merasa Marry berjalan menjauh. Gadis itu mendengar sesuatu ditarik dan didekatkan padanya. Sebuah kursi kayu diletakkan di belakang Azalea.

"Duduklah!" ujar Marry sedikit tergesa.

Terdengar ketukan pintu di depan. Azalea yang juga ikut panik langsung duduk dan tidak sempat bertanya saat merasakan sesuatu membasahi rambutnya.

Sisa cairan dalam botol kecil yang ada di tangan Marry ditumpahkan seluruhnya pada rambut perak Azalea.

"Kamu boleh membuka matamu sekarang dan pegang ini! Campuran bunga Arvensis dan rumput Acalypa berguna untuk menghentikan pendarahan, mengobati luka dan bisa digunakan pada pembengkakan."

Azalea menatap penumbuk kayu yang disodorkan Marry, terdapat rumput Acalypa dan bunga Arvenis yang belum selesai ditumbuk. Gadis itu langsung melakukan pekerjaannya, membiarkan Marry keluar dari ruangan dengan tergesa dan menyahut panggilan di luar.

Rambut panjang Azalea jatuh ke depan saat gadis itu menunduk, netranya melebar saat melihat warna asing pada surainya. Warna perak berkilau itu sudah tidak ada. Azalea hanya melihat warna coklat, warna rambut umum yang dimiliki rakyat kekaisaran Xavierth.

Tidak perlu penjelasan detail, Azalea bisa menebak bahwa warna matanya juga pasti berubah. Gadis itu sedang sibuk menatap warna baru rambutnya ketika mendengar beberapa langkah mendekat.

Seperti tebakan Marry sebelumnya, dua orang Ksatria Lionhart datang. Azalea sedikit terkejut saat para Ksatria itu bahkan tidak mengetuk pintu saat memasuki ruangan. Cara mereka menerobos sangat kasar.

Ada banyak hal tentang dunia ini yang belum Azalea ketahui. Ruang lingkupnya sempit dan sepertinya dia tidak akan punya kesempatan untuk menjelajah, tapi ketidaksopanan para Ksatria yang nampak gagah itu merusak seluruh imajinasinya tentang dunia fantasi.

"A-ada apa, Nek?" Azalea tergagap saat salah satu Ksatria menghampiri dan melototinya terang-terangan.

"Bocah, apa kau keluar dari ruangan ini lima belas menit lalu?"

"Aku tidak keluar lagi sejak kembali dari hutan setelah mengumpulkan akar rumput Acalypa," ucap Azalea gugup, wajahnya memucat seiring dengan tatapan tajam yang dia terima.

"Hei, sudahlah, berhenti melototi anak kecil! Dia ketakutan!" Ksatria lain menegur sembari menepuk bahu temannya.

Azalea menghela napas lega saat dua Ksatria itu pergi. Dia sempat mendengar kata-kata peringatan yang dilontarkan pada Marry tentang kedatangan Ksatria Lionhart hari ini. Entah harus bersyukur karena penduduk desa tidak dibantai demi menutupi tindakan kasar para Ksatria atau harus bersedih karena kehilangan satu-satunya orang yang merawatnya, Azalea tidak tahu.

Gadis itu terduduk di lantai dan menyembunyikan di wajah di tekukan lutut, air matanya mengalir tanpa bisa dicegah.

"Madelyn," panggilnya lirih.

Meski selalu melontarkan kata-kata kasar dan memaksanya melakukan pekerjaan berat, Madelyn tidak pernah memukul atau membiarkannya kelaparan. Azalea juga tidak kedinginan saat malam.

Madelyn mungkin tidak terlihat seperti wanita yang hangat atau baik hati, tapi ketegasannya mengajarkan Azalea untuk belajar hidup. Dia bahkan sudah tahu bagaimana menghasilkan uang sendiri. Belum lagi uang yang selalu disisihkan sedikit demi sedikit untuk ditabung. Azalea bisa menggunakan uang tabungannya untuk hidup tanpa melakukan apa-apa selama setahun penuh.

Tapi, Madelyn tidak mengajarinya untuk bermalas-malasan. Dunia asing yang tidak dipahami oleh Azalea ini terasa semakin menakutkan.

Saat hidup sebagai gadis yatim piatu bernama Keana, dia bisa bertahan karena beasiswa yang terus diberikan berkat kecerdasannya. Sekarang, tidak peduli secerdas apa Azalea, status keluarga adalah penentu masa depan.

Dia tidak bisa menikmati kehidupan sebagai putri seorang Duke saat ayah kandungnya sendiri yang membuangnya. Sekarang Azalea bahkan tidak bisa mengatakan namanya atau menunjukkan warna mata dan rambutnya.

"Bangunlah, mereka sudah pergi. Tubuh Madelyn juga sudah dibersihkan. Aku tidak tahu ke mana mereka membuang mayatnya."

Suara Marry terdengar seperti angin lalu. Azalea sibuk menangis dan mengasihani hidupnya. Satu-satunya orang yang bisa dia anggap sebagai keluarga sudah tidak ada. Keberadaannya tidak pernah diinginkan siapa pun.

Sebenarnya kenapa? Kenapa dia selalu dibuang? Entah di kehidupan ini atau kehidupan sebelumnya, gadis itu selalu sendirian.

"Nak," Marry memanggil pelan, tangannya mengusap lembut surai gadis kecil yang tengah menangis. "Membalas dendam atas kematian keluarga atau melupakannya dan memilih melanjutkan hidup sambil berpura-pura tidak mengetahui apa pun, kamu memiliki hak untuk menentukan apa yang menurutmu benar untuk dilakukan."

Membalas dendam? Azalea mengangkat wajah, menatap raut teduh wanita renta yang menatap hangat padanya.

"Aku tidak memiliki kekuatan apa pun untuk membalas dendam," lirih gadis itu sembari mengusap pipi, berusaha menghapus cairan bening yang terus jatuh dari matanya. "Tapi, kalau aku melanjutkan hidup sambil berpura-pura tidak tahu apa pun, aku tidak akan berani menemui Nyonya Madelyn setelah mati nanti."

Marry tersenyum. "Kalau begitu hiduplah sebagai orang biasa untuk sekarang, sambil belajar dan mengumpulkan kekuatan untuk membalas dendam. Aku akan mengajarimu semua hal yang kutahu. Lalu, kau mungkin belum tahu, tapi sebenarnya para penduduk di desa ini memiliki keahlian yang sangat hebat."

Bersamaan dengan itu, Azalea mendengar langkah-langkah mendekat. Beberapa wajah yang dikenalnya sebagai tetangga, para petani dan peternak, pedagang dan pencari kayu bakar seperti dirinya memasuki ruangan.

"Kita akan memulai pelajaranmu besok," ucap Marry sembari mengusak sayang surai gadis yang kini berhenti menangis.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Dunia gempar melihat deretan gigolo tampan dan berharta yang justru mengejar cinta seorang gadis desa miskin. Meski dianggap lugu, ia sebenarnya pembunuh berdarah dingin yang telah mencelakai para pria tersebut. Keanehan memuncak saat para gigolo ini justru merasa terhormat jika harus meregang nyawa di tangannya. Mengapa mereka tetap memuja sosok yang berbahaya bagi hidup mereka? Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang obsesi yang tidak masuk akal bagi orang awam.
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Pasca kematian gurunya, Zhao Erhu menerima wasiat terakhir yang sangat mengejutkan. Ia diperintahkan turun gunung untuk menemui tujuh kakak perempuan seperguruannya. Tugasnya bukan sekadar mencari mereka, melainkan harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Instruksi aneh ini membuat semua orang tercengang, namun sang guru menegaskan bahwa ini adalah misi penyelamatan nyawa. Tanpa melakukan hubungan intim itu, nyawa kakak-kakaknya akan berada dalam bahaya besar.
Sampul Novel Immortal and The Beast
9.1
Pasca perang berdarah 100.000 tahun silam, Theodore bangkit melalui mantra kuno. Namun, alih-alih pulih dalam 10.000 tahun, roh sang Immortal justru terbangun di masa depan dalam tubuh pemuda lemah yang sering dirundung. Di dunia yang kini terancam monster, ia bertekad menjadi Hunter, pahlawan pembasmi makhluk buas. Meski raga barunya rapuh, pengalaman tempur dari masa lalu akan membantunya menaklukkan tantangan demi mengubah nasib malang sang pemilik tubuh.
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD
8.8
Seorang profesor ambisius melontarkan kutukan pahit kepada seorang bocah tanpa identitas. Ia meramalkan bahwa sang anak akan hidup dalam kesendirian total, tanpa ikatan, dan kehilangan semua hasil kerja kerasnya karena dikhianati dunia. Namun, bocah itu tidak gentar. Dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki, ia menantang balik pernyataan sang ilmuwan. Ia menegaskan bahwa akhir dari permainan takdir ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan bagi siapa pun.
Sampul Novel Istriku Disiksa Sampai Gila
9.4
Kepulanganku yang tak terduga dari Taiwan ke kampung halaman justru disambut oleh kenyataan pahit yang menghancurkan jiwa. Aku menemukan istri tercintaku telah kehilangan kewarasannya, sementara buah hati kami dikabarkan sudah tiada. Di balik duka ini, muncul kecurigaan mendalam terhadap kebenaran yang ada. Benarkah semua kesaksian dari pihak keluargaku bisa dipercaya? Aku harus mengungkap misteri kelam di balik tragedi yang menimpa keluargaku.
Sampul Novel Mafia dalam penjara
8.5
Seorang narapidana harus menjalani masa hukuman di balik jeruji besi demi menebus dosa masa lalunya. Namun, ia segera menyadari adanya kejanggalan besar yang menyelimuti seluruh area lembaga pemasyarakatan tersebut. Atmosfer yang tidak biasa dan berbagai kejadian misterius mulai memicu rasa curiga yang mendalam. Apa sebenarnya rahasia gelap yang tersembunyi di dalam penjara ini? Ikuti perjalanan penuh aksi dan teka-teki ini hingga akhir cerita.