
Terjebak Nafsu Dua CEO
Bab 3
Bagi Rubi, tak heran lagi jika mendengar kabar itu. Ia hanya mampu menggelengkan kepala dengan pelan, merahasiakan perlakuan Karine dari perusahaan, menjaga nama baik perusahaan.
Rapat sebentar lagi di mulai tetapi atasan belum juga terlihat. Sebelum itu Yuna memilih meninggalkan ruangan formal menenangkan pikiran sejenak.
Di lain sisi, Rubi juga mengikut. Ia penasaran akan apa yang sebenarnya di pikirkan Yuna kali ini cukup tertekan.
"Rapat bentar lagi tuh, ngapain malah ke tempat lain."
"Rubi, gua masih terbayang kejadian tadi malam." Ungkapan Yuna mengundang perhatian sebagian karyawan lain, membuatnya mendekat. Ia tahu, Yuna tentu mengetahui hal mengganjal entah itu mengenai Pak Bilang ataupun Karine yang sama-sama telat ke kantor saat ini.
"Maksudnya?" tanya Rubi penasaran.
Yuna tipe orang yang tak bisa menyembunyikan sesuatu sendirian, dengan lancar ia bercerita membuat semua bola mata tertuju padanya.
"Jadi kamu juga relain keperawanan kamu ke Pak Bilang? Plis lah Yuna, terlanjur Karine yang digilir dua CEO, kamu nggak usah!" balas Rubi prihatin.
Yuna menarik napas dengan dalam, berusaha bercerita dengan santai tanpa melibatkan emosi. Jujur saja ia ikut dendam dengan dua atasannya itu terlebih lagi Karine dengan Yuna pernah menjadi teman dekat sebelum bekerja di perusahaan masing-masing.
"Ya kali gua relain! Otak gua masih normal, walau sempat gunung sama paha gua di sentuh dikit."
"Sama aja kalau gitu Lo udah ternodai! Maunya sama CEO!"
"Jelas, miliarder. Siapa yang nggak mau sama CEO? Hidup terjamin, nggak perlu susah payah nyari kerjaan udah bisa makan sambil baring!" Tia yang juga karyawan di tempat itu tentu ikut geram. Sebenarnya ia tak geram karena emosi tetapi ia geram mengapa bukan ia saja yang di rebut perawannya oleh atasan.
"Dasar otak udang! Mau CEO perusahaan apapun gua juga nggak mau. Nggak cukup sama satu wanita dan selalu haus akan sentuhan wanita! Geli banget!"
Perbincangan itu berlanjut tanpa ada yang menyadari. Jam juga sudah lewat dari waktu rapat sepertinya rapat kali ini akan di tunda.
Entah ke mana Pak Bilang dan Pak Arum pergi. Sampai saat ini tak ada juga tanda-tanda kedatangan. Dengan begitu para karyawan bebas untuk melakukan apa saja di sana. Mungkin bergosip bisa untuk mengatasi sedikit rasa capek.
"Eh ngomong-ngomong, bisanya ya ada duta perusahaan yang rela digilir padahal tujuannya cuman buat kerja sama perusahaan. Kok malah jebol jadi wanita simpanan?"
"Udahlah, itu emang udah takdir Karine buat jadi wanita simpanan. Mau bagaimanapun udah terlanjur. Karine juga pasti menikmati tubuh para atasan gila!" Hanim sangat bodoh amat dengan perbincangan semacam itu. Ia tak bisa jika seseorang terus-terusan membicarakan aib orang lain. Rasanya telinga ingin pecah.
Dengan memutar bola mata malas, Yuna bangkit dari tenggeran kursinya. "Lo ngomong kayak gini emang nggak kasihan sama duta perusahaan yang udah dua tahun digituin? Yang awalnya mau kembangkan dan lanjutkan bisnis ayahnya eh malah jadi wanita simpanan CEO."
Hanim ikut bangkit, berjalan menghampiri posisi Yuna yang pandangannya tak meleset di hadapan komputer. Lagak wajahnya seakan menantang. "Kasihan di mananya? Karine memang pantas dapatin itu. Buktinya lekuk tubuhnya aja mendukung buat digilir, tapi emang rasanya senikmat itu. Aku udah pernah coba bareng mantan dulu. Kamu cobain aja, pasti bakalan kecanduan."
"Nggak dulu. Itu cocok untuk pelacur!"
Memang bagi Yuna agak susah menyadarkan teman-temannya. Sebagian besar saja sudah pernah melakukannya maka itu mereka sengaja tak mendukung aksi Yuna untuk melaporkan perbuatan atasan. Jika melaporkan juga posisi mereka yang akan terancam.
"Susah, teman kita kebanyakan otaknya udah dicuci pikiran negatif. Pergaulannya emang sebebas itu, mereka udah pernah rasain jadi wajar aja kalau mereka dukung Karine."
"Tapi bagaimana dengan kita yang masih perawan? Apa harus ngikut sama mereka? Di tempat ini hanya 20% yang masih ori, lebihnya bekas semua! Saran gus belajar bela diri itu ampuh banget!" Siapa lagi yang bisa mengarahkan teman-temannya jika bukan Yuna? Hanya ia yang bisa mengimbangi keadaan.
"Aelah nggak usah sok nasihatin Lo. Di sini kebanyakan nggak perawan karena emang udah dari SMA jual diri. Bayangin harus bayar SPP, kost, belum lagi uang makan dan kebutuhan lainnya."
Sedangkan Rubi, ia memilih keluar dari lingkungan perdebatan itu mengingat terdapat pekerjaan lain yang harus ia selesaikan, namun sebelum itu pikirannya berputar untuk menuju komplek Karine untuk menemuinya di sana. Jaraknya juga tak terlalu jauh hingga Rubi memutuskan untuk berjalan.
Tampak ia tak segan-segan melewati rombongan ibu-ibu komplek yang tentu saja pandangannya mengikuti kemana pria itu melangkah.
Tok ...
Tokk ...
Tokkk ....
Tangannya dengan ringan melantunkan ketukan agak keras pada dasar tembok komplek Karine yang terbuat dari triplek.
"Karine," panggil pria berpakaian rapi dengan lekuk tubuh agak tegak.
"Karine? Kamu ada di dalam?" Sekali lagi Rubi mengulagi setelah tak ada balasan panggilan dari arah dalam.
"Tunggu!" teriak Karine dari dalam.
Clakk
Dibukanya pintu tersebut, memperlihatkan wajah lesu Karine dengan daster tipis transparan kesukaan yang ia gunakan. Bahkan Rubi saja langsung tertuju pada dua bola menggelantung yang mengecap keluar.
"Rubi?" Ia mengucek pelupuk matanya sesekali mengerutkan alis setelah cahaya terang dari arah luar menerpa wajahnya. Tampak ia baru saja bangun.
Tak perlu basa basi, Rubi mendaratkan tubuhnya pada kursi plastik tetap di teras komplek Karine, sepertinya ada hal penting yang ingin ia bahas. Kini Karine ikut menduduki kursi lainnya.
"Karine, gua bukannya mau ikut campur urusan pribadi lo, tapi gua, Yuna sama Tia ikut prihatin sama kondisi lo yang semakin diperbudak nafsu." Ia berbicara sedikit memelankan suaranya, berharap tak ada tetangga yang ikut penasaran.
"Yuna cerita ke kamu kejadian semalam?"
"Mau sampai kapan lo kayak gini? Mau ada karyawan yang lain yang jadi korban juga? Pak Bilang sama Pak Arum terlalu terobsesi dengan wanita perawan. Kasian keluarga lo yang udah berharap lo bisa lanjut bisnis ayah lo sampai jadi duta eh malah jadi simpanan CEO. Kasihan keluarga atasan yang harus di selingkuhi. Lo ngerti maksud gua kan?"
Karine bangkit dari duduknya, sedikit berjalan ke arah depan sembari melipat tangannya di dada.
"Keluarga mana yang kamu maksud, Rubi? Gua sekarang hidup sebatang kara. Andai bukan karena jadi simpanan para CEO nggak mungkin perusahaan ayah gua bisa bertahan selama ini. Andai bukan karena tuntutan CEO nggak bakal ada bisnis ayah gua di perusahaan itu. Gua cuman mau pertahanan bisnis ayah gua."
Nyesek. Itu yang dirasakan Rubi saat itu juga. Keinginannya untuk mengolok-olok Karine terhenti akibat ucapannya gadis itu barusan. Hingga sampai saat ini Rubi belum juga membalas ucapan Karine, tubuhnya masih terduduk meratapi Karine dari belakang.
"Sedangkan keluarga Pak Bilang atau Pak Arum? Jujur gua juga rada bersalah tapi mau gimana lagi. Ini semua bukan salah gua. Yang minta juga para atasan. Jadi gua nggak bisa lawan. Lagian kalau bukan kayak gini mau dapat uang makan di mana gua sedangkan orang tua gua udah nggak ada."
Anda Mungkin Juga Suka





