Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

Julian, siswa SMA pecinta basket, menyimpan hasrat pada Tante Namira, pemilik rental PS. Sebuah permintaan pijat sederhana berubah jadi pertemuan intim yang meruntuhkan norma. Pengalaman itu memicu dahaga Julian akan sensasi terlarang dengan wanita-wanita dewasa lainnya, mulai dari dominasi di kelas hingga kehangatan perawat. Di tengah pusaran gairah dan rasa bersalah, ia terus menguji batas moral. Akankah pilihan berisiko ini membakar dirinya atau mengungkap rahasia yang lebih dalam?
Bab
Bagikan

Bab 1

Namaku Julian Dewantara, tapi teman-teman lebih suka memanggilku Jul. Aku siswa kelas 11, dan sejak kecil, dunia basket telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku. Sejak usia dini, aku sudah terbiasa dengan pelatihan yang intensif, mendorong batas kemampuanku hingga tubuhku tumbuh lebih tinggi dari anak seusia-175 cm, dengan otot-otot yang terbentuk dari kerja keras, bukan sekadar genetik.

Soal wajah, kurasa biasa saja. Tapi entah kenapa, orang-orang sering bilang aku punya sedikit 'bule' di sana, Mata cokelatku, hidung yang sedikit lebih mancung dari rata-rata, dan kulit yang lebih cerah memang memberikan kesan itu. Mungkin karena ibuku pernah menikah dengan pria Italia, dan dari pernikahan itulah akhirnya lahirlah aku. Aku adalah buah dari cinta yang pernah mereka miliki, meski hubungan itu akhirnya tak bertahan lama. Setelah perceraiannya, ibuku membesarkanku sendirian, dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang sedikit pun.

Ibuku, seorang wanita tangguh, sekarang membesarkanku sendirian. Dia menjalankan perusahaannya yang berkembang pesat, sering bepergian ke luar kota atau bahkan luar negeri. Meski begitu, komunikasi kami tetap terjaga. Aku belajar banyak darinya tentang kemandirian dan bagaimana menghadapi dunia dengan kepala tegak. Dalam kesibukannya, dia selalu memastikan bahwa aku adalah prioritasnya, dan itu memberiku kekuatan untuk menjadi lebih mandiri. Aku tidak ingin hanya dikenal karena penampilanku. Aku ingin orang melihatku sebagai seseorang yang memiliki nilai, seseorang yang bisa diandalkan, baik di lapangan maupun di luar lapangan.

Dan mungkin itulah yang membuat kehidupanku semakin menarik, di tengah segala tekanan untuk berprestasi dan menjaga keseimbangan antara menjadi diri sendiri dan memenuhi ekspektasi orang lain. Di tengah hiruk-pikuk itu, aku menemukan pelarian kecilku di rental PlayStation milik Tante Namira. Rental PS itu sudah berdiri sekitar dua setengah tahun yang lalu, saat suami Tante Namira, Om Hendi, masih di Indonesia. Enam bulan setelah rental itu buka, Om Hendi mendapat pekerjaan di Australia, dan sejak itu Tante Namira mengelola bisnisnya sendirian. Mungkin itu yang membuatku lebih sering datang ke sana-sesuatu yang membuat jantungku berdegup lebih kencang setiap kali melangkah masuk.

Tante Namira... ada aura yang sulit diabaikan darinya. Setiap gerakannya mengalir dengan anggun, seperti tarian yang tak terucap. Wajahnya selalu menyambut dengan senyum yang lembut, tetapi ada kilatan di matanya yang seolah menyimpan rahasia yang hanya bisa ditebak oleh mereka yang cukup berani untuk mencarinya. Rambut hitam legamnya yang tergerai hingga ke punggung seperti sutra yang mengundang sentuhan, dan ketika dia mengikatnya dengan gaya santai, leher jenjangnya terbuka, mengungkapkan kulit yang begitu halus, menggelitik imajinasi.

Tubuhnya, meski hanya setinggi sekitar 155 cm,tubuhnya adalah perpaduan sempurna antara kelembutan dan daya tarik yang menghipnotis. Pinggang rampingnya melengkung dengan cara yang membingkai pinggul berisinya, setiap langkahnya memancarkan feminitas yang menggoda. Dadanya yang kencang selalu terlihat jelas di balik blus sederhana yang dia kenakan, menciptakan siluet yang sulit untuk diabaikan.

Setiap kali aku duduk di sofa rental itu, berpura-pura sibuk memilih permainan, mataku sering kali tertarik pada sosoknya yang sedang menata koleksi CD atau memeriksa daftar pelanggan. Ketika dia membungkuk sedikit untuk merapikan sesuatu di meja, pandangan mataku dengan sendirinya tertuju pada belahan dadanya yang sedikit mengintip, dan aku harus menahan napas, menahan diri dari membayangkan hal-hal yang seharusnya tidak kupikirkan.

Percakapan sederhana dengannya pun kadang terasa seperti permainan berbahaya. Suaranya lembut, hampir berbisik, tetapi setiap kata yang keluar dari bibirnya membawa getaran yang memicu desir di dada. Ketika dia mendekat, aroma parfumnya yang lembut-campuran melati dan vanila-menggoda hidungku, mengisi ruangan dengan sensasi yang membuat pikiranku melayang.

Namun, sebuah siang yang biasa berubah menjadi awal dari sesuatu yang tidak biasa.

Siang itu, aku sedang merasa bosan. Tanpa rencana, aku memutuskan untuk pergi ke rental PlayStation, mencari hiburan karena ibuku sedang ada urusan perjalanan bisnis ke luar negri. Saat tiba, Tante Namira menyambutku seperti biasa dengan senyumnya yang lembut, senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar sedikit lebih kencang.

"Mau main PS? Langsung aja, Jul," katanya dengan nada ramah.

"Kok sepi, Tan?" tanyaku, mencoba memulai obrolan.

Tante Namira mengusap rambutnya yang tergerai, menguncirnya cepat dengan gerakan yang terasa begitu alami. "Tante baru buka, tadi ada urusan sebentar. Makanya agak telat."

"Oh, gitu..." jawabku sambil mengangguk. Aku masuk ke lorong kecil menuju ruang rental, tempat itu seperti biasa beraroma campuran khas: debu halus, sedikit bau keringat pemain lama, dan aroma manis parfum yang selalu melekat padanya.

Aku memilih konsol di sudut ruangan dan mulai bermain. Tak lama setelah itu, Tante Namira masuk. Dia mengenakan daster cokelat selutut yang sederhana tapi entah bagaimana terlihat begitu memukau saat melekat di tubuhnya. Rambutnya kembali tergerai, melambai ringan saat dia berjalan mendekati sofa usang di sudut ruangan.

"Julian," panggilnya lembut, membuatku menoleh. Ada nada berbeda dalam suaranya, lebih santai, bahkan sedikit manja.

"Iya, Tan?" tanyaku, meletakkan stik PS untuk menatapnya.

Tante Namira duduk dengan gerakan anggun, menyilangkan kakinya perlahan. Dia mengusap punggungnya dengan tangan, lalu menatapku dengan mata teduhnya yang membuatku merasa sedikit salah tingkah.

"Tante mau minta tolong, boleh?"

Permintaannya mengejutkanku. Tante Namira jarang, atau bahkan hampir tidak pernah meminta bantuan padaku. Biasanya dia mengurus semuanya sendiri.

"Apa yang bisa aku bantu, Tante?" tanyaku. Ada rasa penasaran bercampur debar di dadaku.

Dia tersenyum kecil, agak ragu, sebelum akhirnya bicara. "Udah beberapa hari ini punggung Tante pegal banget. Kalau gak keberatan, bisa gak kamu pijitin sebentar?"

Permintaannya membuatku terdiam sesaat. Suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih hangat, atau mungkin hanya perasaanku.

"Boleh, Tante," jawabku akhirnya, mencoba terdengar santai meskipun dalam hati pikiranku berkecamuk.

Aku mengangguk dan menghampirinya. Saat itu, Tante Namira mengenakan daster berwarna cokelat dengan motif batik yang elegan. Daster itu panjang, sedikit di bawah lutut. Guna memudahkan, Tante Namira telah menggulung rambutnya yang panjang ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus. Aroma parfumnya semakin terasa dekat, manis dan memabukkan.

Dia berbalik, memberikan punggungnya padaku. Rambutnya yang panjang jatuh ke samping, memperlihatkan kulit leher dan punggungnya yang halus. Aku mendekat, duduk di belakangnya, tangan bergetar ringan saat menyentuh bahunya.

"Pelan-pelan aja, ya," katanya, nadanya hampir seperti bisikan.

Perlahan, dengan sedikit ragu, aku meletakkan tanganku di punggungnya. Kain daster itu terasa lembut di bawah telapak tanganku. Aku mulai memijat dengan gerakan memutar yang lembut, berusaha meniru gerakan pijat yang pernah kulihat di televisi.

"Enak, Jul," desahnya pelan. "Agak ke bawah sedikit, di bagian pinggang."

Aku menurutinya. Sentuhan tanganku di pinggangnya yang ramping membuat aliran darahku terasa sedikit menghangat. Lekuk tubuhnya terasa jelas di balik kain daster. Aku bisa merasakan setiap gerakannya, setiap tarikan napasnya.

"Agak tekan sedikit, Jul. Di situ pas banget," pintanya lagi, dengan suara yang sedikit bergetar.

Aku menambah tekanan pada pijatanku. Otot-otot di punggungnya terasa tegang. Aku terus memijat, perlahan namun pasti. Semakin lama, sentuhanku semakin berani. Tanganku tidak hanya fokus pada titik-titik yang dia sebutkan, tapi juga menjelajahi lekuk punggungnya, merasakan kehalusan kulitnya di balik kain daster.

Tiba-tiba, Tante Namira sedikit menarik dasternya ke atas, tepat di bagian pinggangnya. "Di sini nih, Jul, yang paling sakit."

Jantungku berdegup kencang. Kulit punggungnya yang putih mulus kini terpampang jelas di depan mataku. Tanpa sadar, jemariku menyentuh kulitnya, merasakan kehangatannya. Sentuhan itu terasa begitu lembut, seperti sutra.

"Pelan-pelan aja, Jul," bisiknya, hampir tak terdengar.

Aku terus memijat, kali ini langsung di kulitnya. Sentuhan kulit ke kulit ini mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuhku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya menjalar ke tanganku. Aroma parfumnya semakin kuat, bercampur dengan aroma khas tubuhnya yang membuatku semakin tegang.

Tante Namira sedikit menggeliat, membuat dadanya yang berisi semakin menonjol di balik dasternya. Pemandangan itu membuat tenggorokanku tercekat. Aku tahu ini salah, sangat salah. Tapi godaan itu terlalu kuat untuk kulawan.

Tanpa sadar, tanganku turun sedikit lebih rendah, menyentuh lekuk pinggulnya yang menggoda. Tante Namira tidak menyentak atau menegurku. Malah, dia sedikit melebarkan kakinya, seolah memberi ruang lebih untuk gerakanku.

Keberanianku semakin bertambah. Jemariku mulai bermain-main di pinggulnya, merasakan setiap lekukan dan konturnya. Kulitnya terasa halus dan lembut di bawah sentuhanku.

"Jul..." desisnya pelan, seperti sebuah erangan tertahan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ALFARO | Berandal gilaku
8.5
Keenan Alfaro seorang anak yatim piatu yang hidup sendiri sejak usia 9 tahun. Bukan hal yang mudah untuknya bisa bertahan sampai usianya menginjak 18 tahun dan duduk dibangku SMA. "BERANI, LAWAN!! GAK BERANI, PULANG!! COWO JANGAN NANGIS!!" Kalimat satu-satunya yang terlontar dari mulut papanya yang membuatnya bertahan menghadapi kerasnya hidup. Tumbuh dengan tanpa pengawasan orang tua menjadikannya pribadi yang urakan dan playboy. Tak takut kepada siapapun dan tak takut menghadapi apapun. Tak pernah menangis hanya karena tubuhnya terluka dan berdarah. Pengecualian yang membuatnya menitikan air mata. Cewe! Mutiara namanya. Murid terpintar seangkatannya yang duduk dibangku kelas 11. Satu-satunya cewe yang meluluhkan hati Keenan diantara ribuan cewe yang ada di jagat raya ini. Keenan, murid beasiswa ini kembali harus duduk di kelas 12 karena satu hal dan menjadi saingan Mutia. --‐‐----------------------------------------------------------------- "Berat?" Tanya Keenan tepat di depan wajah Mutia saat tubuhnya menindih tubuh mungil cewenya ini. Nafasnya menguar mengeluarkan wangi mint yang khas. Mutia menggeleng "Yang berat itu jadi pacar kamu" Bagaimana tidak, seumur hidupnya tak pernah menyangka jika dirinya akan berakhir mendapatkan pembulian di kelas 12 setelah dirinya meminta Keenan untuk mempublikasikan statusnya. --------------------------------------------------------------------- Keenan Alfaro si kere ini memanfaatkan wajah tampannya juga kepintarannya untuk memeras para cewe-cewe kaya di sekolahnya. Rayuan gombalnya membuat mereka tak pernah merasa dimanfaatkan. Tak terima dengan pengakuan yang Keenan buat, para cewe itu mengamuk dan berakhir membuli Mutia. Bukan hanya dari kalangan para cewe, para cowo pun ikut membuli Mutia karena dari mereka banyak yang menjadi sasaran empuk kepalan tangan Keenan. Cowo itu tak terkalahkan dalam hal apapun termasuk adu jotos. Si BERANDAL GILA, itulah sebutannya. Mutia kini menjadi sasaran balas dendam mereka. Akankah Mutia bertahan? Atau malah menyerah??
Sampul Novel Breaking Bad: Menikah dengan Iblis
7.8
Kebodohanku berujung fatal saat aku menikahi pria yang ternyata berhati iblis. Di tengah kondisi fisik yang kian melemah, aku mulai curiga bahwa suamiku sendiri sedang meracuniku secara perlahan. Kejanggalan terus muncul, mulai dari pelayan yang memata-matai hingga keraguan bahwa anakku adalah darah dagingku sendiri. Terjebak dalam penjara rumah tangga ini, aku bersumpah akan mengungkap semua rahasia gelapnya dan membalas dendam meski harus bertaruh nyawa.
Sampul Novel Dasha: Balas Dendam Pada Mantan Suami
8.8
Tepat di usia 27 tahun, Dasha diceraikan suaminya yang berpaling pada Irina. Untuk membalas dendam, Dasha menemui Oscar, dokter bedah yang bersedia mengubah wajahnya. Namun, Oscar mengajukan syarat berat: Dasha harus melayani nafsu seksualnya kapan saja. Demi ambisi menghancurkan sang mantan, Dasha rela menyerahkan tubuhnya pada Oscar yang menyimpang. Mampukah identitas barunya membawa kesuksesan, dan bagaimana kelanjutan hubungan rumit mereka?
Sampul Novel Menaklukan CEO tampan
9.6
Clara harus berjuang membiayai ibu dan kakaknya dengan bekerja sebagai admin sambil kuliah pasca ayahnya tiada. Tekanan pekerjaan dari CEO yang arogan serta patah hati karena dicampakkan kekasih playboy membuat hidupnya kian pelik. Demi mengubah nasib, Clara iseng mengikuti ajang biro jodoh demi mencari pasangan mapan. Tak disangka, ia justru dipertemukan dengan bosnya sendiri. Kini, Clara bertekad menaklukkan hati CEO tampan itu. Berhasilkah ia?
Sampul Novel Menggoda Ibu Tiriku
9.2
Demi membiayai pengobatan keluarga, Sierra Nevada bersedia menjadi istri kontrak seorang konglomerat tua. Namun, ia harus menghadapi Sebastian Sagala, putra tirinya yang tampan sekaligus sangat membencinya. Sebastian bertekad membuktikan bahwa Sierra hanya wanita rakus harta yang harus diusir. Ironisnya, saat Sebastian berusaha menjatuhkan Sierra, ia justru terjebak dalam gairah terlarang dan menginginkan ibu tirinya sendiri lebih dari apa pun.
Sampul Novel NODA DALAM RUMAH TANGGA
9.2
Alka menyerahkan kartu berisi saldo yang akan terus bertambah setiap hari kepada Mira. Setelah memberikan kode akses 222222, ia menginstruksikan istrinya untuk menggunakan uang tersebut sesuka hati. Meski sempat ragu saat memegang gagang pintu, Alka hanya mengucapkan selamat malam dengan kaku sebelum akhirnya melangkah pergi. Mira pun terpaksa menghabiskan malam pertama mereka dalam kesendirian setelah sang suami memilih untuk meninggalkannya.