Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak dengan sang CEO

Terjebak dengan sang CEO

Pasca dijebak mantan kekasihnya, seorang wanita terpaksa menghabiskan malam dengan pria asing. Demi balas dendam, ia nekat menikahi pria misterius itu dan memanfaatkan statusnya sebagai istri sah di tengah berbagai skandal suaminya. Meski dikhianati berulang kali, ia tetap bertahan hingga akhirnya memilih pergi. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Ia pun terheran mengapa sang CEO masih terus mengejar dan mengusik hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Hotel Mandapa, sebuah hotel bintang lima di Kota Daka.

Tempat di mana Lala Setiawan merayakan ulang tahunnya yang ke-22 dengan sebuah pesta yang hampir berakhir. Tampak pipinya yang memerah sehingga terlihat seakan baru saja dipoles dengan pewarna. Ia mulai berjalan terhuyung-huyung.

Ketika lift sampai di lantai delapan, Sarah Ferdina mengeratkan genggamannya pada tangan Lala, tanda bahwa ia sudah bertekad untuk tidak membiarkannya tidur dengan Mike Gabian.

Setelah yakin dengan keputusannya, ia menarik Lala menuju kamar di ujung koridor. Pelayan kamar baru saja selesai melakukan tugasnya di kamar itu dan hendak pergi ketika Sarah dan Lala tiba di sana.

"Tolong biarkan pintunya terbuka. Kamar ini ditempati oleh temanku, dan aku ingin bertemu dengannya." Tanpa curiga sedikit pun pelayan kamar itu membiarkan pintu kamar terbuka dan pergi dengan mendorong trolinya.

Di dalam kamar, Sarah melihat seorang pria dari belakang, pria itu memiliki tubuh yang tinggi dan sedang mengenakan jubah mandi.

'Pria ini bisa!' pikir Sarah. Ia mendorong Lala dengan kasar ke dalam kamar tanpa ragu-ragu, dan dengan cepat menutup pintu.

Sarah mendongak untuk mencari keberadaan kamera pengawas. Untungnya, kamar itu terletak di titik buta dan ia tidak menemukan apa yang dicarinya.

Sambil merapikan rambut panjangnya yang bergelombang, ia pun pergi menuju kamar lain seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam kamar ujung koridor lantai delapan, Lala disergap kebingungan, entah bagaimana ia bisa sampai di kamar ini. Sebuah kamar dengan cahaya remang di mana saat ini seorang pria berbalik dan menatapnya dengan tajam.

Ia menggigil, merasakan betapa dinginnya tatapan pria di hadapannya.

Rasa tidak nyaman menyerang dan membuatnya tidak dapat berpikir tentang semua kejadian ini. Dengan terhuyung-huyung ia mencoba untuk berdiri dan menghampiri pria itu. Ia membutuhkan sesuatu. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dibutuhkannya.

"ENYAH!" teriak Heri Nasution, nama pria yang sedang bersama Lala saat ini. Kini ia dapat melihat wajah Lala dengan jelas setelah wanita itu berusaha menghampirinya.

Untuk pesta ulang tahunnya, penata rias profesional telah menata rambut hitam panjang Lala menjadi kepang yang indah, semakin menonjolkan kecantikan dan keanggunannya. Mengenakan gaun terusan berwarna putih, bentuk tubuh Lala yang menawan dan seksi pun semakin terlihat jelas.

Bagian bawah gaunnya berbentuk busur, dihiasi berlian kecil yang bersinar, menampakkan kaki putihnya yang jenjang di sisi kanan.

Sandal berhias berlian dengan hak setinggi 3 inci semakin menampilkan karakter Lala yang menyenangkan, jujur, dan tulus.

Dengan tidak sopan Lala melepas salah satu sandal yang dikenakannya itu hingga terlihat seakan dia menendangnya. Pada cermin yang ada di dekatnya, ia melihat rona merah yang tidak wajar di wajahnya.

"Aku merasa tidak enak badan. Bolehkah aku minta segelas air dingin?" Lala mencoba melepaskan sandal yang tersisa di kakinya dengan cara yang sama.

Sandal itu akhirnya terlepas dan terlempar sejauh tiga meter setelah Lala memeluk leher pria itu dengan tangan kanannya.

Hanya dari samar aroma parfum yang dikenakannya, orang bisa tahu bahwa Lala bukanlah perempuan biasa, wangi bunga lili air dengan kombinasi bunga bakung lembah yang dikeluarkan oleh Indulgence, salah satu merek ternama di dunia.

Dari ujung kepala hingga ujung kaki wanita ini, satu kata yang bisa mewakili apa yang ditampilkannya, keanggunan. Seorang wanita muda yang kaya salah masuk kamar? Apa mungkin?

Heri melepaskan pelukan Lala di lehernya dan kemudian tanpa ragu berjalan menuju pintu.

Karena gagal menopang tubuhnya, Lala jatuh berlutut dengan satu tangannya masih dipegang oleh Heri.

"Apa yang terjadi di sini?" Heri menjadi tidak sabar, ia melepaskan genggamannya pada tangan Lala dan hendak menelepon meja resepsionis.

Tepat ketika ia mengangkat gagang telepon, tanpa ia sadari Lala telah berdiri dan memeluknya di pinggang dari belakang.

"Aku merasa panas. Tolong selamatkan aku." Caranya yang memohon dengan lembut memiliki pesona khusus di malam yang gelap ini.

"Jadi siapa yang memberitahumu tentang kedatanganku di Kota Daka hari ini, dan siapa yang mengirimmu..." Heri meletakkan kembali gagang telepon dan kemudian menatapnya dengan dingin dan tajam.

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Lala mendorongnya dengan keras ke sofa dan menerkamnya.

"Hei! Aku... sedang tidak enak badan sekarang. Aku memerintahkan... kamu untuk menyelamatkanku!"

Memerintahnya?

Heri berusaha mendapatkan kembali ketenangannya, ia mencibir dan mendorong tubuh Lala menjauh tanpa ragu.

Memang harus diakuinya wanita ini sangat menawan. Namun siapa pun yang mengirim wanita ini pasti meremehkan kemampuannya untuk mengendalikan diri.

"Untuk terakhir kalinya, ENYAH!"

Lala terhuyung mundur beberapa langkah sebelum akhirnya terdiam. Ia hampir tidak bisa mendengar perkataan Heri. Satu-satunya yang ia rasakan adalah dirinya semakin menderita melihat bibir tipis Heri yang menawan bergerak membuka dan menutup saat pria itu berbicara.

Lala membuka ritsleting tak terlihat di bagian belakang gaunnya, sehingga penutup tubuhnya itu jatuh ke bawah tanpa suara.

Dihadapkan dengan tubuh telanjang Lala, Heri kehilangan kendali. Sepertinya ia memiliki saingan kuat, yang telah dengan berani mengirim wanita luar biasa cantik ini padanya.

Meskipun dalam kondisi yang tidak sadar, namun Lala tahu bahwa pria itu akan mengusirnya kembali. Ia menerkam pria itu lagi.

Heri tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.

"Aduh! Sakit. Sialan!"

Heri terkejut dengan reaksi normal Lala selama beberapa detik berikutnya. Pria itu melambat dan mengubah posisi beberapa kali.

Pada akhirnya, Heri tidak memberinya belas kasihan.

Keduanya baru tertidur lelap ketika waktu telah menjelang fajar.

Matahari telah bersinar dengan terang.

AC yang disetel pada suhu yang terlalu rendah membangunkan Lala dari tidurnya. Ia membuka matanya, bermaksud menarik selimut agar ia bisa kembali tidur dengan nyenyak.

Namun ternyata selimut yang dicarinya tergeletak di lantai.

Tunggu! Ada yang salah. Kenapa seluruh tubuhnya terasa sakit? Kenapa ia tidur di hotel?

Lala langsung duduk dan tidak menemukan ada orang lain di kamar mewah ini, namun ia memerhatikan bahwa di lantai adalah pakaiannya dan pakaian orang lain dan... jubah mandi?

Ia menatap tubuhnya sendiri dengan kaget. Sebagai seorang wanita yang sudah dewasa, ia tahu betul apa yang telah terjadi padanya.

Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi?

Bukankah tadi malam Sarah mengantarkannya ke atas untuk beristirahat? Apa yang sebenarnya terjadi setelahnya? Siapa pria itu?

Sialan! Ia sama sekali tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi.

Duduk di tempat tidur dengan penuh kebingungan, hampir saja Lala menangis.

Lala turun dari tempat tidur, dengan kaki yang terasa lemah berusaha pergi ke jendela dan menyingkap tirainya.

Cahaya matahari yang menyilaukan mata menunjukkan bahwa saat ini sudah lebih dari tengah hari. Ia menduga ini sudah sore.

Lala masih belum paham kenapa hal yang begitu buruk bisa sampai terjadi padanya. Apa yang salah?

Melihat pemandangan yang ada di jendela, ia tahu bahwa dirinya masih berada di Hotel Mandapa. Pemandangan di luar cukup indah. Angin sepoi-sepoi yang bertiup dan mengayunkan tirai jendela, membawa aroma bunga. Tirai jendela berwarna merah muda itu berkibar tertiup angin yang berhembus. Sungguh suasana dan pemandangan yang menyenangkan. Namun saat ini dia sedang tidak ingin menikmati semuanya itu.

Ia sama sekali tidak mengerti Ia menggosok alisnya, sambil menghela napas seakan ingin membuang pikiran yang saat ini membebaninya. Dalam masalah ini, tidak ada kata-kata yang berguna.

Di meja samping tempat tidur, Lala melihat ada dua kotak kemasan yang sangat indah. Ia membuka kotak itu dan di dalamnya tampak sepotong gaun sifon putih.

Lala berencana untuk mandi dan meninggalkan tempat ini sesegera mungkin. Dengan susah payah ia berjalan ke kamar mandi, dan menemukan beberapa perlengkapan mandi pria yang mahal. 'Ini pasti milik pria itu' tebaknya.

Lala menggelengkan kepala, dan kemudian menyalakan keran bak mandi. Setelah bak mandi penuh dengan air hangat, Lala pun berendam dan tenggelam dalam pikirannya.

"Siapa pria tadi malam?"

Ia bergumam dan berusaha mengingat kejadian di malam liar yang baru saja dilaluinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Buy One Get You
8.4
Audia terpaksa membatalkan niat resign setelah ayahnya, Pak Sapto, tertipu rekan bisnis. Demi melunasi utang, sang ayah menjual rumah beserta isinya kepada Ibu Sosro seharga 1,5 miliar. Sialnya, Audia yang tertidur di dalam ikut terjual sebagai aset. Sang bos, Affangga, yang masih patah hati dan membenci Audia karena mirip mantan tunangannya, tak punya pilihan. Ibu Sosro langsung memanfaatkan momen ini untuk menyeret mereka berdua ke pelaminan.
Sampul Novel Cinta Sang Pewaris
9.4
Nathaniel Albar, pewaris bisnis dingin yang terobsesi pada nama baik, bertemu Alya Nabila, gadis sederhana yang gigih. Awalnya, Nathan terus menguji dan mencoba menjatuhkan Alya setelah insiden wawancara kerja yang fatal. Namun, di balik sikap kerasnya, Nathan memiliki rencana terselubung saat merekrutnya. Ketika masa lalu kelam Nathan terkuak, Alya harus memilih antara cinta atau keselamatan diri. Mampukah ketulusan Alya mencairkan ambisi beku sang pewaris?
Sampul Novel Harga yang Harus Dibayar : Sugar Baby
8.0
Arina merupakan sosok gadis cerdas dan ambisius yang terjebak dalam pusaran dunia mafia setelah bertemu Alvaro. Sebagai pemimpin jaringan bisnis ilegal berpengaruh di kota, pria berusia awal 40-an tersebut terobsesi menjadikan Arina miliknya. Alvaro tidak ragu memanfaatkan kekayaan serta kekuasaannya demi mendapatkan apa yang diinginkan. Kini, kehidupan Arina berubah total saat dirinya dianggap sebagai permata berharga oleh sang penguasa gelap tersebut.
Sampul Novel Hari Pamermu, Hari Kematianku
8.2
Demi menghindari kemiskinan saat Andre bangkrut dan diburu musuh, sang protagonis memilih pergi bersama pria kaya lain. Meski Andre memohon dan menyatakan tidak bisa hidup tanpanya, penolakan dingin dan siraman wiski menjadi akhir hubungan mereka di Jalan Wandara. Enam tahun berlalu, Andre kembali ke Kota Yorin sebagai taipan keuangan sukses. Berniat memamerkan tunangan barunya sebagai bentuk balas dendam, Andre justru harus menghadapi kenyataan pahit bahwa wanita yang dicarinya telah meninggal dunia.
Sampul Novel Kesempatan Keduaku, Penyesalannya
8.7
Wasiat mendiang ayah mengharuskan Alya menikahi anggota keluarga Adhitama saat ia berusia 22 tahun. Dulu, ia mencintai Bima meski pria itu kejam, berselingkuh dengan Jelita, bahkan tega meracuninya hingga tewas setelah menikah. Namun, keajaiban membawanya kembali ke masa lalu tepat di hari ulang tahunnya. Kini, Alya terbangun dengan ingatan pahit tentang pengkhianatan Bima. Ia bertekad mengubah takdir dan tidak akan memilih pria yang sama lagi.
Sampul Novel Menguncimu di Hatiku
8.0
Pertemuan takdir menyatukan Lyla dan Yosua dalam pernikahan singkat yang berakhir dingin. Tiga tahun berlalu, Lyla kembali sebagai sosok mandiri dari keluarga terpandang bersama anak kembarnya. Saat Yosua mencoba mengejarnya kembali, ia justru mendapati mantan istrinya tak lagi mudah ditaklukkan. Dalam sebuah pertemuan tak terduga, Yosua yang angkuh mencoba memaksakan kehendak, namun Lyla dengan tegas mengingatkannya bahwa hubungan mereka telah lama berakhir.