
Terjebak Dalam Ikatan Penuh Kebencian
Bab 2
Alana keluar dari kamar mandi, handuknya melilit tubuhnya yang indah. Malam pertama pernikahan. Tak ada cinta, tak ada romansa. Hanya ada kebencian dan keputusasaan. Ia memejamkan mata, berusaha menguatkan diri. Ia tahu apa yang akan terjadi, dan ia benci akan hal itu.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin, tubuhnya yang ramping dan tinggi, rambutnya yang basah terurai. Ia membuka lemari, mengambil bikini tipis berwarna hitam yang sudah disiapkan oleh pelayan. Bikini itu terlihat menggoda, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah, dengan payudara yang besar dan kencang. Ia memakainya dengan tangan gemetar. Ia melakukan ini bukan karena ia menginginkannya, tetapi karena ia terpaksa. Ia harus memberikan Michael pewaris. Itu adalah syarat dari keluarganya.
"Demi Ayah, demi keluarga." gumamnya, suaranya bergetar.
Ia membuka pintu kamar mandi, Michael sudah berdiri di depan pintu. Ia menatap Alana, matanya yang tajam menelusuri setiap inci tubuhnya. Alana merasa merinding. Ia benci cara Michael menatapnya. Tatapan itu seolah-olah ia adalah sebuah objek, bukan seorang manusia.
"Sudah siap?" tanya Michael, suaranya terdengar serak.
Alana hanya diam, menatapnya tajam. Ia tak sudi menjawab. Ia hanya ingin semua ini cepat berakhir.
"Keluargaku membutuhkan pewaris," ucap Michael, suaranya terdengar dingin. "Kita akan melakukannya malam ini."
Alana tak menjawab, ia hanya menatap Michael dengan tatapan penuh kebencian. Ia melakukan ini karena keluarganya, ia harus. Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia adalah Alana Evander, ia tidak akan pernah menyerah.
Michael mendekatinya, tangannya meraih pinggang Alana, menariknya mendekat. Alana mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Michael terlalu kuat. Ia tak berdaya. Michael menundukkan kepalanya, mencium bibir Alana. Ciuman itu terasa dingin dan tak berperasaan, seolah-olah ia sedang mencium benda mati.
Michael mendorong tubuh Alana ke kasur, menghempaskannya. Alana terkejut, namun ia tak melawan. Ia hanya memejamkan mata, menunggu apa yang akan terjadi. Michael membuka handuknya, telanjang bulat. Penisnya menggantung besar dan tegang, siap untuk memulai aksinya. Alana terkejut melihat ukuran penisnya, ia tak menyangka sebesar itu. Ia merasa takut, ia ingin berteriak, namun suaranya tak keluar.
Michael naik ke atas tubuh Alana, menindihnya. Ia merobek bikini Alana, membiarkan tubuhnya telanjang. Alana mencoba berontak, namun Michael mencium bibirnya, mengunci mulutnya. Ciuman itu turun ke lehernya, ke payudaranya. Ia memainkan puting Alana, tangannya meremas payudara Alana dengan kuat.
"A-ahhh..." desah Alana, tak bisa menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia menekan kepala Michael, memintanya untuk berhenti, namun Michael tak peduli. Ia terus menjilati payudara Alana, menggigit putingnya. Alana tak bisa menahannya lagi, ia merintih kesenangan.
Michael menundukkan kepalanya, menjilati perut Alana, turun ke bawah, ke vaginanya. "Begitu basah," bisiknya, suaranya terdengar serak.
Ia memasukkan jarinya ke dalam lubang Alana, membuat lubang. "Sakit!" teriak Alana, air matanya mengalir. "Berhenti!"
Michael tak peduli, ia terus memasukkan jarinya, memutari selaput daranya. Alana merasa geli, ia tak bisa menahannya lagi. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan desahannya.
Michael mengarahkan penisnya ke dalam lubang Alana. Penisnya setengah masuk. "Sakit! Berhenti, kumohon!" teriak Alana, air matanya mengalir deras.
Michael tak peduli. Ia menghentakkan pinggulnya, sampai selaput dara Alana robek. Darah mengalir, Alana menjerit kesakitan. Ia masih perawan. Ia merasa sakit, ia merasa hancur. Ia ingin mati saja.
Michael terus menggerakkan pinggulnya, mencium bibir Alana, memasukkan lidahnya. Ciuman itu terasa panas, Alana tak bisa menolak. Ia hanya bisa pasrah.
"A-ahhh... Sialan!" desah Michael, ia mengeluarkan cairan spermanya, menyembur ke dalam tubuh Alana.
Kaki Alana melingkar di pinggang Michael, ia tak bisa mengendalikan dirinya lagi. Michael membalikkan tubuhnya menjadi duduk bersandar di tepi ranjang, penisnya masih menyatu di dalam vaginanya. Michael meremas pantat Alana, begitu nikmat. Ia terus menyemburkan spermanya ke dalam.
"Ahh... Begitu nikmat!" desah Michael, ciuman mereka masih menyatu.
Michael meminta Alana untuk menungging. Alana menurut, ia kini berlutut di atas ranjang. Michael memasukkan penisnya ke lubang Alana, ke belakang. Alana menjerit, ia tak pernah membayangkan akan merasakan hal ini.
Michael menggerakkan pinggulnya, terus menyemburkan spermanya. "Ahh... Begitu nikmat!" desah Michael, suaranya terdengar serak.
Michael mengubah posisi, ia terbaring di kasur, meminta Alana untuk duduk di atasnya, menghadap ke belakang. Alana menurut, ia duduk di atas tubuh Michael, memasukkan penisnya ke dalam vaginanya. Michael mengeluarkan spermanya, menyembur ke dalam.
"Ahh... Nikmat," desah Michael, ia meremas payudara Alana dari belakang.
Alana membaringkan tubuhnya di atas tubuh Michael, menghadap ke belakang. Penis Michael masih di dalam vaginanya. Michael terus meremas payudara Alana, ia menjambak rambut Alana dengan tangan kirinya. Ia terus menyemburkan spermanya ke dalam tubuh Alana.
"Ahh... Kau nikmat, Alana," desah Michael.
Alana hanya bisa menangis, ia merasa hancur, ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah.
Anda Mungkin Juga Suka





