
Terjebak Dalam Ikatan Penuh Kebencian
Bab 3
Pagi hari menyapa, cahaya matahari menembus celah gorden, menyinari kamar yang berantakan. Alana terbangun dengan tubuh yang terasa remuk redam. Ia membuka matanya perlahan, mencoba membiasakan diri dengan cahaya. Ia merasakan beban berat di atasnya. Michael. Pria itu masih tertidur pulas, tubuhnya menindih Alana.
Alana menatap ke bawah, matanya membelalak kaget. Ia telanjang. Dan yang lebih mengejutkan, penis Michael masih tertanam di dalam vaginanya. Alana merasakan panas dan nyeri yang luar biasa. Ia mencoba untuk bergerak, namun tubuhnya terasa kaku.
"Mmmph..." desah Michael, ia terbangun dari tidurnya.
Ia menatap Alana, matanya yang tajam seolah menembus jiwanya. Ia tersenyum sinis, senyum yang membuat Alana merinding. "Kau sudah bangun?" bisiknya.
"Lepaskan aku," ucap Alana, suaranya bergetar.
Michael menggelengkan kepalanya. "Tidak akan," bisiknya. "Kau milikku, Alana. Selamanya."
Ia bangkit dari tempat tidur, berdiri, namun penisnya masih di dalam vagina Alana. Alana terkejut, ia merasa seperti boneka yang dimainkan. Michael berjalan menuju kamar mandi, sambil terus menggerakkan pinggulnya. Alana tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa pasrah.
"Ahhh... Michael..." desah Alana, tak bisa menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Michael tersenyum sinis, ia terus menggerakkan pinggulnya. "Kau suka?" bisiknya, suaranya terdengar serak.
"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Alana, namun ia tak bisa membohongi tubuhnya. Tubuhnya bereaksi, ia merasa geli, ia merasa nikmat. Ia membenci dirinya sendiri.
Michael membawa Alana masuk ke kamar mandi. Ia memutar keran, mengisi bak mandi dengan air hangat. Ia melepaskan penisnya dari vagina Alana, dan memasukkannya lagi setelah ia selesai mengisi bak mandi. Ia membaringkan Alana di dalam bak mandi. Air hangat memanjakan kulitnya, namun ia tak bisa merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah nyeri dan kebencian.
Michael masuk ke dalam bak mandi, menindih Alana. Ia kembali menggerakkan pinggulnya, mencium bibir Alana. "Ahhh... Kau nikmat sekali, Alana," desahnya.
Alana hanya bisa diam, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah. Ia memejamkan mata, berharap semua ini segera berakhir.
Michael mengeluarkan penisnya dari vagina Alana, ia mengangkat tubuh Alana, mendudukkannya di wastafel. "Kau terlihat cantik dari sini," bisiknya.
Michael berdiri di depan Alana, ia memasukkan penisnya ke dalam vagina Alana. Ia menggerakkan pinggulnya, menyemburkan spermanya ke dalam. Alana menjerit, namun Michael membungkamnya dengan ciuman.
"Ahhh... Nikmat," desah Michael, ia terus menggerakkan pinggulnya.
Michael membalikkan tubuh Alana, meminta Alana untuk menungging. Alana menurut, ia kini berlutut di atas wastafel. Michael memasukkan penisnya ke belakang. Alana menjerit, ia tak pernah membayangkan akan merasakan hal ini.
"Kau suka, kan?" bisik Michael, suaranya terdengar mengancam. "Kau suka, kan?"
"Tidak! Aku benci!" teriak Alana, air matanya mengalir deras.
Michael tak peduli. Ia terus menggerakkan pinggulnya, terus menyemburkan spermanya. Ia mengangkat tubuh Alana, membawanya keluar dari kamar mandi, kembali ke ranjang.
Ia membaringkan Alana di atas ranjang, ia menindihnya, dan kembali memasukkan penisnya ke dalam vagina Alana. "Kau milikku, Alana," bisiknya. "Kau hanya milikku."
Alana hanya bisa menangis, ia merasa hancur, ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah. Ia tak bisa kabur, ia tak bisa lari. Ia kini terjebak dalam neraka, bersama seorang pria yang ia benci. Pria yang akan menghancurkan hidupnya.
Anda Mungkin Juga Suka





