Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak dalam Godaan Ipar

Terjebak dalam Godaan Ipar

Elara adalah wanita mandiri yang keras kepala, namun hidupnya berubah sejak mengenal keluarga Kaden. Kaden merupakan suami dari kakak angkatnya, Marisol. Meski dikenal sangat setia, Kaden justru mulai merasa terpikat oleh pesona Elara yang polos namun menantang. Kini, Elara terjebak dalam dilema besar antara rahasia gelap dan perasaan terlarang. Ia harus memilih: menyerah pada godaan berbahaya sang ipar atau menjauh demi melindungi kebahagiaan orang-orang tercinta.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam terasa panjang bagi Selina. Setelah kejadian di taman, ia sulit memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan wajah Damian kembali mengganggu pikirannya. Kata-katanya terus terngiang: "Aku juga menginginkanmu."

Selina berguling di atas ranjang, menekan bantal ke wajahnya, berharap rasa bersalah bisa hilang begitu saja. Namun hati kecilnya justru semakin gaduh. Ia tak bisa menyangkal lagi-ada bagian dari dirinya yang merindukan sesuatu yang seharusnya tak boleh ia inginkan.

Air matanya mengalir tanpa sadar. Apa yang sudah aku lakukan? Aku akan menghancurkan kakakku sendiri...

Pagi berikutnya, suasana rumah tampak seperti biasa. Clarissa sibuk menyiapkan sarapan sambil menyenandungkan lagu pelan, seolah dunia baik-baik saja. Damian duduk membaca koran, wajahnya tenang, terlalu tenang, seakan kejadian semalam tak pernah ada.

Selina menuruni tangga dengan langkah pelan, jantungnya berdegup ketika melihat Damian. Mereka hanya sempat bertukar tatapan sekilas sebelum Selina buru-buru duduk dan menyibukkan diri dengan menuangkan teh.

"Selina, aku rencanakan nanti kita makan malam di luar, ya? Mungkin ke restoran Italia favoritmu," kata Clarissa sambil tersenyum hangat. "Kita bertiga. Sudah lama kita tidak pergi bersama."

Selina hampir tersedak teh yang baru diteguknya. "Bertiga?" ulangnya, gugup.

"Ya," jawab Clarissa santai. "Aku, kamu, dan Damian. Kenapa? Kamu tidak suka?"

Selina melirik Damian yang masih berpura-pura membaca koran. Ia menelan ludah. "Bukan begitu, Kak. Aku hanya... kaget saja."

Damian menurunkan koran perlahan. "Aku ikut saja. Kalian yang pilih tempatnya."

Selina berusaha tersenyum, meski hatinya menolak keras ide itu. Bagaimana mungkin ia bisa duduk satu meja dengan Clarissa dan Damian, berpura-pura tidak ada apa-apa?

Sepanjang siang, Selina terus gelisah. Ia mencoba fokus bekerja, tapi pikirannya dipenuhi bayangan makan malam itu. Seolah tak cukup, Damian mengirim pesan singkat yang membuat darahnya berdesir.

Damian: Jangan takut. Aku akan jaga agar tidak ada yang curiga.

Selina menatap layar ponselnya lama sekali. Jari-jarinya gatal ingin membalas, tapi ia memilih menghapus pesan itu tanpa menanggapi. Ia tahu, semakin ia memberi ruang, semakin sulit ia keluar dari jerat ini.

Malam tiba lebih cepat dari yang Selina harapkan. Mereka bertiga masuk ke restoran Italia mewah di pusat kota. Lampu gantung kristal berkilauan, musik lembut mengalun, dan aroma pasta segar memenuhi udara.

Clarissa tampak cantik malam itu dengan gaun biru sederhana, sementara Damian tetap memukau dengan setelan gelapnya. Selina sendiri memilih gaun putih polos, berharap tampil sesederhana mungkin agar tidak mencuri perhatian.

Namun sejak mereka duduk, Selina merasakan tatapan Damian menempel padanya, membuatnya sulit bernapas. Ia mencoba menghindar, berpura-pura sibuk membuka menu, tapi bayangan mata itu menghantui setiap geraknya.

"Selina, kamu mau pesan apa?" tanya Clarissa riang.

"Uh... mungkin lasagna saja," jawab Selina cepat.

Damian ikut menimpali, suaranya tenang namun menggema di telinga Selina. "Aku pesan hal yang sama. Selera kita sepertinya mirip."

Selina menunduk, pura-pura tidak peduli, tapi pipinya terasa panas. Clarissa tertawa kecil. "Wah, cocok sekali kalian berdua. Adikku memang selalu tahu makanan enak."

Perkataan itu menusuk seperti pisau di hati Selina. Kalau Kakak tahu apa yang sebenarnya terjadi...

Percakapan berlanjut ringan sepanjang makan malam. Clarissa banyak bercerita tentang pekerjaannya, sementara Damian sesekali menanggapi. Selina lebih banyak diam, berusaha terlihat tenang, padahal dadanya bergejolak setiap kali tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan Damian di bawah meja.

Saat hidangan penutup datang, Clarissa pamit ke toilet sebentar. Begitu ia pergi, suasana meja langsung berubah.

Damian mencondongkan tubuhnya sedikit. "Kamu terlihat cantik malam ini," bisiknya.

Selina menegang. "Jangan bicara seperti itu. Ini gila, Damian."

"Gila karena aku jujur?" Damian menatap dalam. "Aku tidak peduli kalau aku terdengar salah. Aku hanya tahu aku tidak bisa berhenti memikirkanmu."

Selina menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata. "Damian, tolong. Jangan lakukan ini. Kamu suami kakakku."

Damian menggenggam tangannya di bawah meja, erat, penuh tekad. "Dan kamu... membuatku merasa hidup dengan cara yang Clarissa tidak pernah bisa."

Selina buru-buru menarik tangannya, detik itu juga Clarissa kembali dengan senyum cerah.

"Maaf lama, antrian panjang sekali," katanya riang.

Damian segera kembali duduk tenang, seakan tidak pernah ada yang terjadi. Sementara Selina sibuk menahan diri agar tidak pecah di depan kakaknya.

Perjalanan pulang dipenuhi hening. Clarissa yang duduk di kursi depan sibuk bercerita tentang rencana liburan, sementara Selina di kursi belakang hanya menatap keluar jendela. Damian menyetir dengan wajah datar, tapi sesekali matanya terlihat dari pantulan kaca spion, memandang ke arah Selina.

Sesampainya di rumah, Clarissa langsung masuk kamar, meninggalkan Damian dan Selina di ruang tamu.

Suasana jadi menegangkan.

Selina hendak melangkah naik tangga, tapi Damian menahan pergelangan tangannya. "Selina..."

"Lepaskan aku," bisiknya, suaranya bergetar.

"Tidak sampai kamu jujur," balas Damian, menatapnya tajam. "Katakan padaku kalau kamu tidak merasakan apa-apa. Katakan, dan aku akan berhenti."

Selina menatap matanya, air mata mulai mengalir. "Aku... aku tidak bisa."

Damian mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Selina. "Itu saja sudah cukup."

Selina gemetar, tubuhnya seakan kehilangan kekuatan. Ia tahu malam itu garis batas semakin kabur.

Keesokan harinya, Selina merasa semakin terjebak. Setiap gerak Damian, setiap tatapan, semakin mengikat dirinya. Ia berusaha menjaga jarak, tapi Damian seolah tak pernah membiarkannya.

Puncaknya terjadi sore itu, ketika Clarissa mendapat panggilan mendadak dari kantor dan harus menginap semalam untuk perjalanan dinas.

"Aku titip rumah sama kalian, ya," kata Clarissa sambil merapikan koper. "Jangan khawatir, aku pulang besok sore."

Selina langsung panik. Ia menatap Damian yang berdiri tak jauh, wajahnya sulit ditebak.

Ketika Clarissa pergi, suasana rumah mendadak berubah. Sunyi, mencekam, seakan hanya ada mereka berdua di dunia ini.

Selina mencoba mengunci diri di kamar, tapi Damian mengetuk pintu.

"Selina, kita harus bicara. Kita tidak bisa terus pura-pura."

Air mata Selina pecah. Ia tahu malam itu akan menjadi titik balik. Antara kehancuran... atau penyerahan.

Malam semakin larut. Damian duduk di ruang tamu, menunggu. Selina masih di balik pintu kamar, berperang dengan hatinya sendiri.

Suara hatinya berbisik: Jika aku membuka pintu itu, tidak ada jalan kembali.

Tangannya gemetar, tapi perlahan ia meraih gagang pintu.

Pintu berderit terbuka, dan tatapan Damian langsung menembus dirinya.

Selina tahu, apapun yang terjadi malam itu akan mengubah hidup mereka selamanya.

Rumah itu terasa terlalu sunyi malam itu. Setiap detik jam dinding yang berdetak di ruang tamu terdengar begitu keras di telinga Selina. Ia duduk di tepi ranjang, wajahnya pucat, tangan dingin. Pikiran dan hatinya terus bertarung: harus menutup pintu rapat-rapat, atau membiarkan diri hanyut dalam arus yang sudah ia tahu berbahaya.

Namun, semakin ia mencoba mengusir bayangan Damian, semakin kuat sosok itu hadir. Tatapan matanya, suaranya yang berat, sentuhan singkat yang masih membekas di kulitnya-semua menghantui.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Pelan, tapi tegas.

"Selina," suara Damian terdengar dari balik pintu. Dalam, rendah, dan memaksa jantungnya berdetak tak beraturan.

Selina menggenggam erat selimut di tangannya. "Damian, tolong... jangan lakukan ini. Kita harus menjaga jarak."

Hening sejenak. Lalu suara itu lagi, kali ini lebih lirih. "Aku tidak bisa. Kamu tahu aku tidak bisa."

Air mata menggenang di mata Selina. Ia bangkit, berjalan pelan menuju pintu. Setiap langkah terasa seperti membawa dirinya semakin dekat ke tepi jurang. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu.

Seketika, pintu terbuka. Damian berdiri di sana, tubuh tegapnya disinari cahaya lampu koridor. Tatapannya dalam, tajam, penuh rasa yang tidak ia sembunyikan lagi.

Selina menunduk, berusaha menghindar. "Damian... aku mohon, jangan buat ini semakin sulit."

Damian melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ruangan seketika terasa lebih sempit, udara menegang.

"Aku sudah terlalu lama berpura-pura, Selina," katanya dengan suara bergetar menahan emosi. "Semakin aku mencoba menjauh, semakin aku ingin mendekat."

Selina mundur setapak, punggungnya menyentuh dinding. "Kamu suami kakakku," bisiknya. "Aku tidak bisa-aku tidak boleh-"

"Tapi kamu juga tidak bisa membohongi perasaanmu sendiri," potong Damian cepat. Ia mendekat, jarak mereka hanya tinggal sejengkal. "Aku lihat di matamu, Selina. Aku tahu kamu merasakannya juga."

Air mata jatuh membasahi pipi Selina. "Aku benci ini. Aku benci karena kamu benar."

Damian mengangkat tangannya, menyentuh pipi Selina dengan lembut. "Kalau memang kita benci ini, kenapa terasa begitu sulit untuk melepaskannya?"

Selina gemetar. Sentuhan itu seperti api, membakar setiap sisa pertahanan yang ia punya. Hatinya berteriak untuk lari, tapi tubuhnya justru terpaku.

Detik berikutnya, Damian mendekat lebih jauh, bibirnya hampir menyentuh kening Selina. Nafas hangatnya terasa di wajah gadis itu.

"Damian, tolong..." suara Selina bergetar.

"Sekali saja," bisik Damian. "Izinkan aku jujur, meski hanya malam ini."

Dan sebelum Selina sempat berpikir, bibir Damian menyentuh keningnya dengan lembut. Hanya sesaat, tapi cukup untuk membuat tubuh Selina melemas. Ia menutup mata, air matanya jatuh lebih deras.

"Kenapa harus aku?" tanyanya lirih.

"Karena aku tidak bisa memilih kepada siapa hatiku jatuh," jawab Damian, suaranya serak.

Selina memalingkan wajah, berusaha mengendalikan dirinya. "Kalau kita teruskan ini... kita akan menghancurkan Clarissa. Kamu siap kehilangan dia?"

Pertanyaan itu membuat Damian terdiam. Ia menarik napas panjang, wajahnya menegang. "Aku tidak ingin kehilangan siapa pun. Tapi aku juga tidak sanggup berpura-pura lagi."

Selina berbalik, memunggunginya. Tangannya menutupi wajah yang penuh air mata. "Damian, aku tidak sekuat itu. Aku tidak bisa menanggung rasa bersalah ini."

Damian mendekat, berdiri tepat di belakangnya. "Maka biarkan aku yang menanggungnya. Aku yang salah. Aku yang lemah. Tapi jangan berpura-pura kamu tidak merasakan apa-apa."

Selina membalik tubuhnya dengan cepat, menatap Damian dengan mata yang berkilat oleh air mata dan amarah. "Ya! Aku merasakannya! Aku benci mengakuinya, tapi aku merasakannya! Senang? Sekarang kamu puas?"

Damian memejamkan mata, menghela napas berat. "Aku tidak ingin kepuasan, Selina. Aku hanya ingin kejujuran."

Hening panjang menyelimuti ruangan. Selina terduduk di tepi ranjang, wajahnya tertunduk, bahunya terguncang oleh tangis. Damian duduk di lantai di depannya, mencoba menahan diri untuk tidak menyentuhnya lagi.

"Kita akan hancur, Damian," bisik Selina di sela tangisnya. "Kamu tahu itu."

Damian menatapnya, matanya merah menahan emosi. "Kalau memang takdir kita adalah kehancuran, maka biarlah aku yang terbakar lebih dulu. Tapi jangan suruh aku berhenti merasakan ini."

---

Malam itu berakhir tanpa kata-kata lagi. Damian akhirnya keluar dari kamar Selina, meninggalkan gadis itu dalam lautan air mata. Namun, sesuatu telah berubah. Batas yang mereka pertahankan selama ini retak parah, dan keduanya tahu tidak ada jalan kembali.

---

Keesokan paginya, Selina bangun dengan mata bengkak. Ia menghindari Damian sepanjang pagi, memilih berdiam di kamar. Namun, rasa canggung semakin sulit disembunyikan.

Saat siang menjelang, Damian mengetuk pintunya lagi, kali ini hanya sebentar. Ia meninggalkan secarik kertas di depan pintu, dengan tulisan singkat:

"Aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan selalu menunggu kejujuranmu."

Selina menggenggam kertas itu erat-erat, hatinya berteriak, tubuhnya gemetar. Ia tahu, perlahan-lahan, dirinya semakin terseret ke dalam jurang gelap yang tak ada jalan keluar.

---

Sore harinya, Clarissa pulang. Senyum lelah tapi bahagia menghiasi wajahnya. Ia langsung memeluk Damian dan Selina bergantian.

"Aku rindu kalian," katanya riang. "Semoga kalian baik-baik saja selama aku pergi."

Selina terdiam. Damian tersenyum samar, mengangguk pelan. Hanya mereka berdua yang tahu, kebenarannya jauh dari kata baik-baik saja.

---

Malam itu, saat Clarissa sudah tertidur pulas, Selina keluar ke balkon kamarnya. Udara dingin menusuk kulit, tapi pikirannya lebih dingin lagi.

Ia menatap ke arah kamar Damian yang jendelanya sedikit terbuka. Dan entah kenapa, seakan sudah disepakati tanpa kata, Damian juga keluar, berdiri di balkon kamarnya.

Mata mereka bertemu di bawah sinar rembulan. Tanpa suara, tanpa gerakan. Hanya tatapan panjang, penuh perasaan terlarang yang tidak bisa mereka sembunyikan.

Selina menggenggam pagar balkon erat-erat, berusaha menahan air mata. Dalam hati, ia tahu: ini baru permulaan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asisten Pribadi CEO yang Terlalu Mempesona
8.2
Demi membalas budi sahabat yang membiayai pengobatan anaknya, Wilona Anastasia bertahan menjadi asisten Marten Dewangga Yanuardi. Meski Marten adalah CEO muda yang arogan dan keras kepala, pesona Wilona perlahan melunakkan sifat kekanakannya hingga ia terobsesi pada asistennya itu. Namun, sebuah rahasia besar membayangi hubungan mereka yang kian intens. Akankah cinta Marten tetap bertahan saat mengetahui bahwa Wilona sebenarnya adalah seorang janda beranak satu?
Sampul Novel Dalam Pelukan (Sang ) CEO
9.1
Kevin Hadiwajaya, CEO sukses berjuluk monster berwajah malaikat, terobsesi menjadikan asisten pribadinya, Sarah Rania, miliknya seutuhnya. Namun, langkah Kevin terhalang oleh Hansen Rudolf, sahabat kecilnya yang juga mencintai Sarah dengan kelembutan. Di tengah persaingan sengit dua pria ini, Sarah terjebak dalam pertarungan emosi yang memilukan. Akankah ia bertahan dalam pelukan sang bos yang tegas, atau berpaling pada Hansen yang selalu menyapanya dengan kasih?
Sampul Novel Dikira Miskin Oleh Keluarga
9.6
Penampilan sederhana Gunawan sering kali membuat orang tuanya salah paham hingga mereka menganggapnya hidup dalam kemiskinan. Namun, di balik kesederhanaan yang ia tunjukkan sehari-hari, tersimpan sebuah rahasia besar mengenai status finansialnya yang sesungguhnya. Siapa sangka bahwa pria yang dipandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri ini sebenarnya adalah seorang miliarder sukses dengan kekayaan yang sangat luar biasa melimpah.
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Gadis Terbuang vs Raja Bisnis
8.7
Olivia menyusuri jalanan dengan lelah, menggenggam map lamaran kerja sambil berharap ada lowongan bagi dirinya. Saat ia bertanya pada satpam, perhatian teralih oleh kedatangan Alexander Drake, pengusaha berwibawa yang turun dari mobil mewahnya. Pertemuan singkat itu menciptakan ketegangan saat mata mereka beradu. Meski Olivia merasa rendah diri dan Alexander bersikap dingin, ketertarikan mulai muncul. Tanpa disadari, momen di gerbang kantor itu akan mengubah hidup Olivia selamanya.
Sampul Novel Godaan Cinta Sejati
8.6
Yulia terpaksa menikah ke keluarga Jayendra hanya untuk mendapati Billy, suaminya, dalam kondisi koma. Keajaiban terjadi saat Billy terbangun pasca pernikahan, namun ia justru bersikap dingin dan berniat menceraikan Yulia karena tak mengenalnya. Saat Yulia hamil dan berencana pergi diam-diam, Billy yang semula membencinya justru berubah posesif. Ia menolak perceraian dan mendekap Yulia erat, menegaskan bahwa wanita itu adalah miliknya selamanya.