Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!

Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!

Kasih sayang Bram yang dulu tulus perlahan mendingin. Luka mendalam tergores saat aku memergoki suamiku bermesraan dengan adik kandungku sendiri. Meski sempat memaafkan demi keutuhan keluarga dan masa depan anak, pengkhianatan itu justru terulang kembali setahun kemudian. Melalui pesan singkat yang vulgar, aku menyadari hubungan gelap mereka belum berakhir. Kini, aku terdesak dalam dilema besar: tetap bertahan atau menyudahi pernikahan penuh duri ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Cukup lama aku berusaha menetralkan perasaanku. Dada yang sesak, hati yang luka, bahkan jiwa yang seakan-akan terombang-ambing membuat fisikku semakin lemah. Aku benar-benar tak berdaya karena luka yang digores ini adalah ulah orang-orang yang sangat dekat denganku.

Jika bukan mereka, mungkin aku sudah mengamuk dan meluapkan emosiku agar hati ini plong. Namun, kembali aku berpikir jika aku bersikap bar-bar maka ibukulah yang akan menjadi korban.

Mas Bram dan Yuni sudah keterlaluan. Mungkin ini bukan yang pertama kali karena tadi di dalam pesan yang dikirim oleh Nur, ia mengatakan sudah sering kali melihat Mas Bram kembali ke sini dan itu artinya Mas Bram sudah sering kembali ke rumah ibuku untuk bertemu Yuni.

Astaghfirullahalazim ..., aku benar-benar merasa telah ditipu mentah-mentah oleh dua orang yang sangat dekat denganku.

Setiap minggu selalu dengan alasan memancing, Mas Bram selalu saja menyibukkan dirinya di luar pada hari liburnya. Bahkan tak jarang ia menginap dan mengaku kelelahan sehingga memutuskan tidur di tenda darurat bersama teman-temannya.

"Dek, maafkan aku!" Tiba-tiba Mas Bram datang dan bersimpuh di hadapanku sambil mengucapkan kata maaf. Ia menggenggam tanganku, tetapi dengan cepat kutepis karena luka ini tak akan sembuh hanya dengan permintaan maaf semata darinya.

"Mbak Ainun, maafkan Yuni, Mbak!" Tak lama disusul pula oleh Yuni-adik kandungku.

Lengkap sudah, kedua pengkhianat hadir di hadapanku, membawa muka memelas dan berharap kata maaf dariku.

"Mbak, bicara, Mbak! Aku siap dipukul atau dihukum, dicacimaki, tapi tolong, Mbak Ainun jangan diam saja."

"Kamu mau aku bicara apa, Yun?"

"Mbak boleh marah, maki aku, hina aku, terserah, Mbak Ainun. Tapi tolong jangan diam aja, Mbak! Aku nggak mau Mbak kenapa-kanapa. Aku takut Mbak ...."

"Mati karena sakit hati? Begitu maksud kamu?"

Aku tersenyum sumbang sembari melihat wajah kedua penghianat yang ada di hadapanku ini. Rasanya sangat muak, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam.

"Bukan begitu maksudnya, Mbak. Tapi ...."

"Kenapa kalian tega melakukan ini terhadapku?"

"Maafkan aku, Dek! Aku khilaf!"

"Khilaf sudah yang keberapa kalinya?" Aku hanya bisa berbicara sumbang tanpa tau kemana arah tujuan di setiap perkataanku karena pikiran ini sudah terasa benar-benar buntu karena penghianat mereka.

"Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, Mbak. Aku menyesal. Mohon maafkan aku!"

"Apa kata maaf dariku bisa merubah semua keadaan kembali seperti semula?"

"Maaf, Dek!"

"Sudahlah, aku nggak akan kenyang dengan kata maaf dari kalian!" ucapku. Lalu aku berdiri karena percuma ada di sini. Toh semua sudah terjadi.

"Mbak mau ke mana?"

"Pulang."

"Dalam keadaan marah? Bahaya, Mbak!"

"Kalaupun aku mati maka tak akan ada yang perduli!"

"Dek, jangan bicara begitu! Kami masih sangat menyayangi kamu."

"Iya, saking sayangnya kalian terhadapku, sampai kalian tega mengkhianati rasa sayang dan cinta yang sudah kuberikan selama ini." Entah kenapa aku merasa hatiku sepertinya telah mati saat ini. Sehingga kali ini, tak setitik pun air mataku mengalir setelah menyaksikan perbuatan bejat mereka tadi. Hatiku seolah-olah sudah tak mempunyai rasa pada keduanya karena sudah terlanjur sakit dan luka.

"Mah!" Secara kebetulan Karin pun sudah kembali dari bermain dengan temannya dan aku mengajaknya untuk pulang. Karena karin sudah tahu bahwa sang nenek sedang tidak ada di rumah maka dengan mudah Karin menurut kepadaku dan kami pun naik ke motor yang kuparkir di pinggir jalan tadi lalu memutuskan untuk kembali ke rumah.

Setelah melajukan kuda besiku, barulah aku menumpahkan semua rasa sakit yang tadi berkumpul di dalam hati. Barulah semua rasa kecewa dan sejak itu berubah menjadi air mata dan mengalir deras di pipiku.

Beruntung kali ini Karina lebih memilih untuk duduk di belakang dan memeluk pinggangku dari belakang. Sehingga aku bisa bebas tanpa khawatir ia bisa melihat air mataku.

"Mama nangis?"

Astaghfirullahaladzim, baru saja aku berpikir Karina tidak menyadari bahwa aku saat ini sedang menangis, tetapi ternyata pertanyaan itu meluncur juga dari mulutnya.

"Nggak kok, Sayang. Emang kenapa?" tanyaku berubah menetralkan suaraku saat berbicara dengannya.

"Ini, kok dari tadi, Karin merasa perutnya Mama seperti gerak-gerak. Kayak waktu Karin kalau sedang nangis, pasti perut Karina juga gerak-gerak gitu," jawabnya sambil berusaha untuk mengintip wajahku.

"Kamu tuh, ya! Mama lagi nyanyi jadi mungkin karena itu Karin merasa perut Mama gerak-gerak." Dengan cepat kuhapus air mataku menggunakan lengan baju panjang yang saat ini kukenakan, lalu aku sedikit menolehkan wajahku sambil tersenyum untuk meyakinkan dirinya bahwa saat itu aku tidak sedang menangis.

"Oohh ..., kirain Mamah lagi nangis kangen sama nenek karena tadi kita ke sana tapi nenek belum pulang." balasnya lagi.

"Nggak kok, Sayang. Kamu aja yang salah sangka sama Mamah," sambungku.

Setelah percakapan itu akhirnya kami pun kembali diam dan tanpa terasa kini kuda besiku sudah tiba di halaman rumah tempat kami tinggal selama enam tahun belakangan ini.

Setelah menyimpan motorku di teras lalu kami masuk dan kami sama-sama membersihkan diri di kamar mandi yang ada di kamar kami masing-masing.

Karin sudah berusia hampir tujuh tahun dan sudah kubiasakan untuk mandi sendiri karena aku ingin mendidik dirinya menjadi anak yang mandiri dan tidak manja.

Setelah mandi aku keluar dari kamar mandi hanya dengan membalut tubuhku deng handuk. Namun, aku terpaku di depan pintu kamar mandi karena saat itu ada seorang pria yang berdiri di hadapanku dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.

"Dek, aku benar-benar minta maaf! Aku khilaf, Dek. Tolong jangan pernah tinggalkan aku!" Mas Bram langsung memelukku sambil menangis terisak. Bahkan aku bisa merasakan tubuhnya yang bergetar karena tangis yang sedang menguasai dirinya.

Seperti apa ya... tanggapan Ainun setelah di khianati?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Nafsu
7.9
Kehidupan Ayu sempat terbelenggu oleh nafsu bejat mertuanya sendiri. Kini, ia berjuang meniti masa depan bersama Alfons, cinta sejatinya, di tengah ancaman dendam Maharani yang gelap mata. Meski dikelilingi kekejaman dunia mafia berseragam yang penuh intrik, kesucian cinta mereka tetap tak ternoda. Hubungan ini membawa keduanya melintasi berbagai belahan dunia, bertahan hidup dari kejaran musuh demi menjaga ketulusan perasaan yang mereka miliki.
Sampul Novel Bukan Istri Idaman
9.3
Terus-menerus direndahkan oleh keluarga mertua membuat Karmila bertransformasi. Ia tak lagi pasrah menanti belas kasihan sang suami, melainkan bangkit demi masa depan anak-anaknya. Bertekad membuktikan kekuatannya, ia menyulap barang bekas menjadi kerajinan bernilai tinggi. Di tengah tekanan batin, Karmila memilih jalannya sendiri untuk meraih sukses dan kemandirian. Akankah kreativitas dan kerja kerasnya mampu membungkam semua hinaan yang selama ini ia terima?
Sampul Novel Chasing Your Love
9.4
Carissa kabur dari rumah demi menghindari perjodohan paksa dengan duda oleh ayahnya, tanpa tahu itu muslihat ibu dan adik tirinya untuk merebut warisan. Di tengah kemalangan saat pelarian, ia diselamatkan oleh Fabian. Pria itu meminta Carissa berpura-pura menjadi tunangannya guna menghindari perjodohan dari sang ibu. Namun, Fabian terkejut saat tahu calon aslinya adalah mantan kekasihnya. Kini Carissa jatuh hati, sementara ia harus berjuang merebut kembali haknya.
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO
8.5
Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari garis takdir yang tak terelakkan. Sepasang kekasih terjebak dalam dilema besar saat cinta tulus mereka terbentur tembok perbedaan yang nyata. Di tengah tangis dan dekapan erat, sang pria berusaha meyakinkan bahwa perasaan mereka tidaklah salah. Namun, perbedaan keyakinan menjadi ujian berat bagi masa depan mereka. Di dunia di mana jodoh dan maut telah tertulis, mampukah mereka bertahan saat takdir seolah memaksa untuk menjauh?
Sampul Novel DICERAI SUAMI DINIKAHI BOS KEJAM
9.3
Tiga tahun Hana mengabdi sebagai istri penurut bagi Bima, namun hatinya tetap dingin. Pernikahan tanpa sentuhan itu akhirnya kandas setelah kakek Bima wafat, membuat Hana diceraikan demi kekasih pilihan suaminya. Di tengah keterpurukan, takdir mempertemukannya dengan Matheo. Sebuah kesalahpahaman fatal membuat Hana dituduh sebagai mata-mata oleh bos kejam tersebut, sebuah pertemuan yang lantas menjungkirbalikkan seluruh sisa hidupnya.
Sampul Novel KAMU SINI DONG DEKETAN
8.3
Darwis, seorang wartawan, terjebak konflik asmara rumit saat kekasihnya, Wulan, harus berobat ke luar negeri. Ia menikahi Marlenna yang ternyata mengandung anak Marcel, sementara benih cinta tumbuh antara Darwis dan Arini sebelum maut memisahkan mereka. Situasi kian pelik ketika Wulan sembuh dan Aldi kembali muncul pasca kecelakaan. Di tengah godaan cinta lama dan pengkhianatan, kehadiran bayi mungil bernama Arini menjadi pengikat kesetiaan bagi rumah tangga Darwis dan Marlenna.