Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!

Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!

Kasih sayang Bram yang dulu tulus perlahan mendingin. Luka mendalam tergores saat aku memergoki suamiku bermesraan dengan adik kandungku sendiri. Meski sempat memaafkan demi keutuhan keluarga dan masa depan anak, pengkhianatan itu justru terulang kembali setahun kemudian. Melalui pesan singkat yang vulgar, aku menyadari hubungan gelap mereka belum berakhir. Kini, aku terdesak dalam dilema besar: tetap bertahan atau menyudahi pernikahan penuh duri ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudah cukup rasanya aku menumpahkan segala kekesalan yang ada di hatiku selama di perjalanan tadi. Kini harus ditambah lagi, saat aku menerima perlakuan dari Mas Bram di mana aku harus menyaksikan dirinya yang terlihat begitu menyesal atas segala apa yang telah ia lakukan.

Mas Bram memeluk tubuhku dengan begitu erat seperti enggan melepaskan, sambil menangis tergugu.

"Jangan pergi, Dek! Jangan tinggalin aku sendirian! Aku janji, aku tidak akan mengulangi semua ini lagi, ini yang terakhir kalinya, Dek." ujar Mas Bram yang menangis memelukku.

Entah mengapa, sekalipun hatiku sama sekali tak tergetar ketika mendengar ucapan maaf yang ia ucapkan. Hatiku kali ini sepertinya benar-benar telah mati untuknya, sehingga semua kini terasa begitu hambar, tak ada lagi rasa kecewa, sedih, maupun sakit hati. Semua rasa begitu datar seakan-akan sudah tak ada lagi luka yang perlu kubalut dengan air mata.

"Kenapa harus berjanji kalau kamu tidak bisa menepatinya, Mas? Kenapa tidak kau lepas saja aku? Kenapa tidak kau ceraikan saja aku? Agar kau bisa bebas melakukan apapun di luar sana agar tak ada lagi yang menahanmu!"

"Dek, dengarkan aku, kita tidak boleh egois, kita harus sama-sama memikirkan Karina. Bagaimana perasaannya nanti, jika melihat orang tuanya berpisah. Tolong, Dek, pikirkan baik-baik! Ini semua demi masa depan kita, masa depan anak-anak kita. Tolong Adek pikirkan baik-baik dan aku juga berjanji, aku tidak akan pernah mengulangi perbuatan ini lagi. Aku khilaf, Dek. Aku benar-benar khilaf, aku berjanji untuk saat ini dan seterusnya, Kamu dan Karina akan menjadi prioritasku dalam segala hal. Dan aku berjanji di setiap akhir pekan, kita akan selalu melakukan family time bersama, ke mana pun dan kapanpun yang Karina mau aku akan siap, Dek."

Panjang lebar Mas Bram menjelaskan semua keinginannya kepadaku. Namun, tak satu pun dari perkataannya yang berhasil menyentuh hatiku. Tetap saja perasaanku hanya datar-datar saja.

"Kenapa sebelum berbuat, kamu tidak memikirkan akibatnya terlebih dahulu, Mas? Kenapa baru sekarang kamu meminta untuk aku yang memikirkan masa depan kita, masa depan anak kita? Terus ..., selama ini apa yang kamu pikirkan?" Aku mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang justru membalikkan pertanyaan itu kepada dirinya.

Mas Bram memegang kedua bahuku dan ia menatap mataku dengan tajam. Sepertinya ia hendak marah tetapi tertahankan karena aku yakin ia pasti tidak mau jika aku benar-benar pergi meninggalkan dirinya dan membawa Karina. Bisa habis disembelih oleh orang tuanya dia nanti, jika aku membawa Karina pergi dari kehidupan mereka.

Aku sangat tahu, bahwa Mas Bram dan keluarganya sangat menyayangi Karina karena ia merupakan cucu satu-satunya di keluarga Mas Bram. Ia merupakan anak tunggal, sehingga jika bukan dari dirinya, maka dari siapa lagi orang tuanya akan mendapatkan cucu. Apalagi selama ini Karina sudah sangat mereka sayangi.

"Maaf, Dek! Maaf ...." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

Melihat dirinya sudah mulai lengah, dan tidak lagi memegang atau memeluk tubuhku, aku langsung bergerak dan melangkah menuju ke dekat lemari untuk mengambil pakaian yang akan kukenakan karena saat ini aku masih mengenakan handuk yang hanya melilit di tubuhku.

Setelah mengambil semua pakaian yang hendak kukenakan, lalu aku masuk kembali ke kamar mandi mengenakan pakaian di dalamnya. Aku tidak ingin Mas Bram bisa bebas melihatku berganti pakaian seperti biasa. Entahlah ..., kini aku merasa dirinya seperti orang asing bagiku.

Setelah selesai menggunakan semua pakaianku, aku kembali keluar dan melihat Mas Bram sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan mengacak-acak rambutnya. Ia terlihat seperti orang yang sedang frustasi. Pasti karena ia menyesali apa yang telah terjadi hari ini.

Aku berjalan keluar tanpa memperdulikan dirinya. Melanjutkan langkah menuju ke dapur berencana ingin memasak untuk makan malam kami di rumah ini nanti.

"Dek, nggak usah masak, ya! Kita makan di luar saja. Aku ingin mengajak Karina jalan-jalan di luar. Anggap saja sebagai penebus hutangku karena tadi siang aku sempat mengabaikan dirinya."

"Apa? Papah mau ajak aku jalan-jalan malam ini? Horeeee .... Jalan-jalan ...! Jalan-jalan ...!"

Belum sempat aku menolak ajakan Mas Bram, ternyata Karina lebih dulu mendengar kata-katanya barusan, sehingga ia berteriak kegirangan karena malam ini akan berjalan-jalan dengan papanya.

Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan mengembalikan semua peralatan dan bahan-bahan yang hendak kumasak ke tempatnya semula. Kemudian aku berlalu ke belakang dan mengangkat jemuran cucianku tadi pagi.

Aku membawa pakaian yang baru saja kau angkat masuk ke kamar dan meletakkannya di kasur lalu aku lanjut duduk dan melipat pakaian tersebut. Hanya memisahkan beberapa pakaian-pakaian penting yang akan masuk pergunakan untuk bekerja karena nanti akan kusetrika.

Mas Bram masuk kembali ke kamar ini dan sesaat pandangan kami sempat bertemu. Namun, dengan segera aku mengalihkan pandanganku dengan cara menyibukkan diri kembali pada pakaian-pakaian yang hendak masukkan di dalam lemari.

Setelah selesai dan pakaian-pakaian itu telah tersusun rapi di dalam lemari, tiba-tiba aku merasakan Mas Bram berjalan mendekat kepadaku dan langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.

"Bicara, Dek! Jangan diamkan aku seperti ini." ujarnya sembari menyusupkan wajahnya di leherku.

"Tidak ada yang perlu kubicarakan, Mas. Karena apapun yang akan kukatakan, semuanya pasti hanya akan sia-sia. Semua perkataanku hanya seperti kaleng rombeng yang ditendang ke sana ke sini dengan suara yang tak ada artinya bagi kamu." balasku sembari menahan sesak di dada.

Seperti itulah biasanya yang akan terjadi jika aku bersuara atau menyuarakan pendapat dalam rumah tangga kami. Apapun yang ku katakan semuanya seolah-olah tak berarti, tak pernah didengarkan, bahkan terkadang ucapanku justru hanya dianggap seperti celotehan anak-anak kecil yang tak ada arti baginya.

"Maafkan aku, jika selama ini aku sudah sering sekali melukai perasaanmu, Dek!" Mas Bram memelukku semakin erat. Namun kenapa, aku tak lagi bisa merasakan kehangatan hatiku seperti dulu jika ia memelukmu seperti ini. Semua rasa di hatiku benar-benar sudah hambar.

Ya Allah, maafkan aku jika kali ini aku tak lagi memiliki rasa untuk suamiku. Walaupun nanti aku bertahan, mungkin semua yang tersisa hanyalah sebatas tuntutan kewajiban semata, bukan lagi atas dasar cinta karena rasa itu telah berubah menjadi hambar dan meluap begitu saja, menghilang bersama dengan kenyataan pahit atas pengkhianatan yang dilakukan oleh suamiku dan adik kandungku hari ini

Hanya demi Karina. Ya ..., semua yang mungkin kulakukan saat ini hanyalah demi Karina. Demi kebahagiaan Karina. Karena aku belum sanggup untuk melihat kesedihan di wajahnya jika ia tahu, Mama dan papahnya akan berpisah.

Biarlah aku berkorban perasaan untuk saat ini, hingga aku benar-benar siap dan meminta Karina untuk memilih ikut bersamaku atau bersama ayahnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PCK" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PCK
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Nafsu
7.9
Kehidupan Ayu sempat terbelenggu oleh nafsu bejat mertuanya sendiri. Kini, ia berjuang meniti masa depan bersama Alfons, cinta sejatinya, di tengah ancaman dendam Maharani yang gelap mata. Meski dikelilingi kekejaman dunia mafia berseragam yang penuh intrik, kesucian cinta mereka tetap tak ternoda. Hubungan ini membawa keduanya melintasi berbagai belahan dunia, bertahan hidup dari kejaran musuh demi menjaga ketulusan perasaan yang mereka miliki.
Sampul Novel Bukan Istri Idaman
9.3
Terus-menerus direndahkan oleh keluarga mertua membuat Karmila bertransformasi. Ia tak lagi pasrah menanti belas kasihan sang suami, melainkan bangkit demi masa depan anak-anaknya. Bertekad membuktikan kekuatannya, ia menyulap barang bekas menjadi kerajinan bernilai tinggi. Di tengah tekanan batin, Karmila memilih jalannya sendiri untuk meraih sukses dan kemandirian. Akankah kreativitas dan kerja kerasnya mampu membungkam semua hinaan yang selama ini ia terima?
Sampul Novel Chasing Your Love
9.4
Carissa kabur dari rumah demi menghindari perjodohan paksa dengan duda oleh ayahnya, tanpa tahu itu muslihat ibu dan adik tirinya untuk merebut warisan. Di tengah kemalangan saat pelarian, ia diselamatkan oleh Fabian. Pria itu meminta Carissa berpura-pura menjadi tunangannya guna menghindari perjodohan dari sang ibu. Namun, Fabian terkejut saat tahu calon aslinya adalah mantan kekasihnya. Kini Carissa jatuh hati, sementara ia harus berjuang merebut kembali haknya.
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO
8.5
Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari garis takdir yang tak terelakkan. Sepasang kekasih terjebak dalam dilema besar saat cinta tulus mereka terbentur tembok perbedaan yang nyata. Di tengah tangis dan dekapan erat, sang pria berusaha meyakinkan bahwa perasaan mereka tidaklah salah. Namun, perbedaan keyakinan menjadi ujian berat bagi masa depan mereka. Di dunia di mana jodoh dan maut telah tertulis, mampukah mereka bertahan saat takdir seolah memaksa untuk menjauh?
Sampul Novel DICERAI SUAMI DINIKAHI BOS KEJAM
9.3
Tiga tahun Hana mengabdi sebagai istri penurut bagi Bima, namun hatinya tetap dingin. Pernikahan tanpa sentuhan itu akhirnya kandas setelah kakek Bima wafat, membuat Hana diceraikan demi kekasih pilihan suaminya. Di tengah keterpurukan, takdir mempertemukannya dengan Matheo. Sebuah kesalahpahaman fatal membuat Hana dituduh sebagai mata-mata oleh bos kejam tersebut, sebuah pertemuan yang lantas menjungkirbalikkan seluruh sisa hidupnya.
Sampul Novel KAMU SINI DONG DEKETAN
8.3
Darwis, seorang wartawan, terjebak konflik asmara rumit saat kekasihnya, Wulan, harus berobat ke luar negeri. Ia menikahi Marlenna yang ternyata mengandung anak Marcel, sementara benih cinta tumbuh antara Darwis dan Arini sebelum maut memisahkan mereka. Situasi kian pelik ketika Wulan sembuh dan Aldi kembali muncul pasca kecelakaan. Di tengah godaan cinta lama dan pengkhianatan, kehadiran bayi mungil bernama Arini menjadi pengikat kesetiaan bagi rumah tangga Darwis dan Marlenna.