
Tergoda Pesona Sang Duda Mafia
Bab 2
Sepasang kaki tengah berjalan di perkarangan sebuah kampus ternama dengan puluhan pasang mata tertuju ke arahnya seraya mengucapkan rasa kagum.
Kaki yang jenjang, kulit yang putih dan mulus, hidung yang mancung, dagu yang runcing, badan yang terlihat seksi dengan perpaduan pakaian yang tengah ia kenakan, serta rambut lurus sebahu berwarna coklat tergerai semakin membuatnya terlihat menggoda dan cantik.
"Wah ... itu Alea, dia sangat cantik dan seksi sekali."
"Aku sangat berharap bisa menjadi pacarnya."
"Betapa beruntungnya aku jika aku bisa memiliki pacar secantik dan seseksi Alea."
Beberapa pria saling berbisik memberikan kan pujian kepada gadis yang mereka panggil Alea.
Ya, dia adalah Alea gadis bberusia dua puluh tahun, tengah berkuliah di salah satu Universitas swasta ternama di Kota itu dengan jurusan bisnis internasional.
Alea memanglah terkenal dengan kecantikannya sesaat setelah dia memasuki kampus itu, sehingga tak sedikit para mahasiswa laki-laki berusaha untuk mencoba menggoda dan mendekatinya, akan tetapi Alea bukanlah gadis yang gampang dimiliki oleh para laki-laki itu, karena dia pun memiliki standar yang cukup tinggi, sehingga membuat para mahasiswa laki-laki itu hanya bisa mengaguminya dari jauh.
Alea sangatlah tahu dan sadar atas kecantikan yang ia miliki, sehingga dikalangan mahasiswi perempuan dia dikenal memiliki sifat yang angkuh, serta suka merendahkan orang lain.
Banyak dari mahasiswa perempuan merasa tidak suka dengan sikap angkuh yang di miliki oleh Alea, sehingga dia pun selalu menjadi bahan omongan dan di kucilkan.
Meski demikian, itu semua tak membuat Alea harus merasa berkecil hati atau pun harus merasa minder, karena selain kecantikan yang dimilikinya, dia pun juga termasuk mahasiswa pintar dan berprestasi, sehingga keberadaannya pun cukup berpengaruh di kampus itu.
Alea berjalan dengan tatapan lurus ke depan tanpa memperdulikan tatapan serta gunjingan dari beberapa orang yang ditujukan kepadanya kala itu.
"Dia sangat sombong sekali!"
"Coba saja dia tidak cantik, pastinya tidak akan ada orang yang akan mau berkenalan dengan nya."
"Berani sekali dia memakai pakaian minim seperti itu?"
"Aku sangat yakin dia pasti simpanan dari suami orang, dasar wanita murahan!"
Bisikan serta gunjingan terus ditujukan kepada Alea kala itu.
"Aw ...! Langkah Alea terhenti setelah tak sengaja di tabrak oleh seorang gadis berwajah kusam dan mengenakan kacamata yang membuat kakinya pun sedikit terinjak kala itu.
"Ma ... maaf Alea ...."
"Aku tidak sengaja," ucap gadis yang telah menabrak Alea dengan wajah sedikit ketakutan.
"Bersihkan!" gertak Alea dengan wajah marahnya.
"Ba ... baik Alea, aku akan membersihkan sepatumu," ucap gadis itu sembari berlutut untuk membersihkan sepatu Alea yang telah dibuatnya sedikit kotor.
Beberapa orang pun melihat kejadian itu, sehingga membuat Alea semakin jadi bahan gunjingan atas tingkah dan perilaku yang sedang ia perlihatkan kala itu.
"Tega sekali dia seperti itu."
"Dasar dia tidak punya hati sekali."
Bug
Alea mendorong gadis itu dengan kakinya, sehingga membuatnya pun terduduk di tanah.
"Harga sepatuku jauh lebih mahal daripada harga dirimu!"
"Gara-gara kamu moodku pun langsung buruk!"
"Jangan pernah lagi kamu muncul di hadapanku!"
"Karena kamu hanya akan membuatku sial saja nantinya!" bentak Alea dengan kejam sembari berjalan meninggalkan gadis itu.
Dari ujung jalan seseorang pun melihat dan memperhatikan kejadian itu dengan tatapan sinisnya.
***
Sebelum masuk ke dalam kelas, Alea pun memutuskan untuk duduk di sebuah cafe sembari menikmati kopi hangatnya.
"Sial! Hari ini sangat panas sekali, sampai-sampai membuat dandananku luntur saja!" tiba-tiba seorang gadis cantik pun datang menghampiri Alea.
"Kamu tidak usah mengkhawatirkan dandananmu, karena kamu akan selalu kalah cantik dari aku," sindir Alea tanpa menatap gadis itu.
"Sangat angkuh sekali wanita ini!"
"Tetap saja aku jauh lebih laku darimu Alea, sedangkan kamu yang masih saja sendiri tanpa punya pacar," balas gadis itu kepada Alea.
"Meskipun aku tidak punya pacar, tapi aku bisa dengan mudah mendapatkan laki-laki untuk bisa menemani tidurku tiap malam Sella," balas Alea kepada gadis yang ia panggil dengan nama Sella.
Sella adalah merupakan satu-satunya sahabat dari Alea, yang mana mereka telah berteman semenjak kecil, sehingga mereka pun telah saling mengenal satu sama lain dengan karakter yang mereka miliki.
Sella juga termasuk mahasiswa yang cukup terkenal di kampus itu dengan kecantikan dan keseksiannya, ditambah dengan dia yang memiliki sahabat seperti Alea, tentu saja membuatnya ikut terseret setiap kali Alea membuat masalah.
"Cuacana sekarang sudah semakin gila!"
"Aku sangat benci sekali dengan cuaca panas ini!" gerutu Sella sembari memegang sebuah kipas di tangannya.
Alea hanya sibuk menatap ke arah ponselnya tanpa memperdulikan ocehan dari sahabatnya itu.
Tak selang beberapa lama, seorang perempuan pun datang menghampiri mereka, akan tetapi kembali Alea tak memperdulikan hal itu.
"Oh ... ada senior kesayanganku," sapa Sella ramah.
"Apa kamu kekurangan bahan Sella? Kenapa bisa kamu memakai rok sependek itu," ucapnya kepada Sella.
"Oh ... apa kamu tidak lihat bagaimana menggilanya cuaca sekarang? Sudah sewajarnya aku memakai pakaian pendek dan tipis ini, karena aku sangat tidak tahan dengan panas."
"Seharusnya kamu juga pakai pakaian tipis Zila, bukan pakai pakaian berlapis seperti ini," jawab Sella dengan sangat santai.
Zila adalah merupakan senior tingkat mereka, yang mana Zila memiliki karakter yang cukup bertolak belakang dengan Alea dan Sella.
Zila memiliki karakter yang ramah, dan sangat simpel, bahkan dari segi dandanan pun ia selalu memakai pakaian yang cukup sederhana tanpa mencolok sedikit pun, akan tetapi Zila juga merupakan teman terdekat dari Alea dan Sella, karena mereka bertiga telah saling mengenal cukup lama.
"Alea, kenapa kamu tidak balas pesan aku?" tanya Zila kepada Alea.
"Buat apa aku harus balas pesanmu?" jawab Alea dengan cuek.
"Kamu mendapatkan beasiswa dari kampus, seharusnya kemaren kamu sudah mengisi berkasnya," ucap Zila kepada Alea.
"Aku tidak butuh beasiswa itu Zila! Karena uang ku masih banyak."
"Kasih saja beasiswa itu kepada anak miskin di kampus ini," jawab Alea kepada Zila.
"Beasiswa ini khusus buat mahasiswa berprestasi seperti kamu, dan ini bukan berarti kamu miskin," ucap Zila.
"Aku tidak mau! Karena aku masih punya banyak uang!" jawab Alea dengan tegas.
"Ssh ...! Kalau saja aku tidak kenal lama dengan kamu, pasti aku sudah menarik dan merobek mulut kejammu Alea," gerutu Zila dengan kesal.
"Aku setuju, dan kalau nanti kamu sempat melakukan itu kepada gadis kurang ajar ini, aku titip ya Zila," sambung Sella.
"Kalau kamu memang tidak mau, kamu pergi saja ke ruang administrasinya, dan bilang sendiri ke sana," ucap Zila sembari memberikan sebuah kertas kepada Alea.
***
Sorenya setelah selesai jam kuliah, Alea dengan penuh keterpaksaan pergi berjalan ke ruangan administrasi untuk menolak beasiswa itu, akan tetapi dia malah di arahkan untuk bertemu langsung dengan pimpinan kampus itu.
Tok ... Tok ... Tok ...
Alea berhenti di sebuah ruangan dan mengetuk pintu itu.
"Masuk," jawab seorang pria dari dalam ruangan.
Cekrek
Alea pun membuka pintu ruangan dan berjalan masuk ke dalamnya, dan ia pun melihat seorang pria dengan pakaian rapi, memiliki wajah yang tampan tengah berdiri di hadapannya, sehingga mereka pun saling bertatapan satu sama lain.
"Siapa dia ...?"
Anda Mungkin Juga Suka





