
Tergoda Pesona Mafia Tampan
Bab 2
Wulan tidak menjawab pertanyaan suaminya. Perempuan tiga puluhan tahun itu memandang tajam ke arah Yaneta dan Davia. Kakak ipar dan adik ipar. Dua perempuan yang selama ini suka merecoki Wulan dengan kata-kata pedas, sindiran tajam, dan ejekan yang menyakitkan hati.
Yaneta dan Davia saling pandang. Kaget campur heran atas sikap Wulan. Sorot mata Wulan menusuk pusat perasaan mereka. Kalau diperhatikan, sekilas Wulan seperti orang kesurupan. Sebuah situasi yang tidak diperhitungkan istri Gendra dan istri Rian. Mereka tidak menyangka Wulan bisa semarah ini. Wulan berani melakukan tindakan nekat yang kelak bisa merenggangkan hubungan kekerabatan antaripar.
"Tak peduli ke depannya hubungan saya dengan mereka buruk," kata hati Wulan. "Kali ini semua harus tuntas. Agar besok mereka tidak kurang ajar lagi. Andai kata nantinya mereka memutus kekerabatan, saya siap! Lebih baik tidak punya saudara ipar brengsek yang selalu menyakitkan hati."
Wulan menghela napas dalam untuk mengurangi geletar tubuh akibat menahan marah yang membuncah.
"Mbak Yaneta Asami dan Dik Davia Cahyaningrum," ucap Wulan dengan nada tegas, suara pelan, dan dibuat setenang mungkin. "Kalian kira aku tidak mendengar pembicaraan kalian. Memang tidak lengkap karena kalian bisik-bisik seperti dua cecurut yang bersembunyi di selokan. Kalian jangan pengecut! Bersikaplah sebagai betina sejati yang berani bersikap! Jangan berkasak-kusuk seperti itu! Memalukan. Keluarga besar Berti Sonika – Wistara Janaloka adalah keluarga terhormat, punya harga diri, bersikap tegas, dan berani mengambil risiko."
"Wulan...," ucap Haris pelan, untuk meredam kemarahan sang istri.
"Sebentar, Mas Haris," tangkis Wulan dengan suara rendah. "Beri waktu saya untuk bicara! Selama ini saya diam. Saya diamkan mereka bicara seenak jidat mereka. Saatnya sekarang saya bicara untuk mereka dengarkan."
"Hei..., ada masalah apa, Wulan?" Yaneta nyeletuk, seolah-olah tidak ada persoalan apa pun antara dirinya dengan Wulan. "Mengapa kamu berkata seperti itu?"
"Iya nih..., sebenarnya ada masalah apa, Mbak Wulan?" tanya Davia dengan suara memelas. "Mengapa aku dan Mbak Yaneta yang jadi sasaran kemarahan Mbak Wulan?"
Wulan semakin geram karena mendapatkan pertanyaan dari dua perempuan yang selama ini membuatnya muak. Yaneta dan Davia berlagak seolah-olah antara mereka dengan Wulan tidak ada masalah apa-apa. Tapi sikap mereka selama ini terhadap Wulan, sangat menyebalkan. Belum lagi lontaran kata-kata secara langsung atau berupa sindiran, membuat Wulan ingin membungkam mulut mereka.
"Baru saja kalian bisik-bisik kalau aku tidak tahu diri, tidak punya etika, dan melanggar norma susila," tegas kata-kata Wulan tanpa ada rasa minder atau rendah diri. "Kalian selama ini juga mengataiku mandul. Kalian merasa paling punya hak untuk menegurku. Kalau merasa punya hak, wewenang, atau pun kewajiban menegurku, ayo tegur saja sekarang! Mengapa beraninya hanya bisik-bisik? Aku siap ditegur oleh siapa pun. Dan aku siap minta maaf dan memperbaiki kesalahan. Tapi dengan syarat, orang yang menegurku mesti benar-benar punya kredibilitas dalam soal moralitas. Aku tidak mau orang yang menegur tentang etika, tapi perilaku sehari-harinya amoral. Ibaratnya, aku tak ingin orang yang mengataiku dengan sebutan sundal, tapi dirinya sendiri sebenarnya seorang pelacur!"
Semua yang hadir tertegun mendengar perkataan keras yang dilontarkan Wulan. Haris, sebagai suami, merasa heran. Selama ini Wulan tidak pernah mengucapkan kata-kata yang keras, jorok, atau pun kotor. Mengapa tiba-tiba Wulan mengungkap dua kata yang menurutnya kurang pantas diucapkan dari lisan Wulan?
Pernyataan bahwa Wulan siap ditegur oleh orang yang moralitasnya lebih baik dari dirinya, membuat Yaneta dan Davia terbeliak. Kata-kata itu seolah-olah menyindir keduanya yang dalam pandangan Wulan, lebih rendah budi pekertinya. Wulan sepertinya ingin menyampaikan pesan tersirat bahwa moralitas Yaneta dan Davia lebih rendah dibandingkan dirinya.
"Hei, Wulan!" tegur Yaneta dengan nada meninggi. "Siapa yang mengataimu 'sundal'? Aku dan Davia tidak pernah menyebutmu seperti itu."
"Kalian tersinggung oleh kata itu?" Wulan tersenyum tipis. "Coba amati, cermati, dan perhatikan dengan saksama! Akiu tadi menyatakan 'ibaratnya'. Namanya saja ibarat, umpama, andaikata, seandainya, ya sesukakulah! Memangnya ada larangan membuat perumpamaan? Ini zaman merdeka, orang bebas berkata asalkan tahu batasan-batasannya!"
"Walau itu perumpamaan, jangan pakai kata-kata yang tidak pantas seperti itu!"
"O..., kamu melarang aku menggunakan kata-kata yang tidak pantas, tapi kamu dan Davia bebas sebebas-bebasnya menggunjing orang di forum keluarga! Kamu kira itu pantas? Merendahkan martabat orang lain di depan keluarga besar itu pantas?"
Yaneta ingin berkata lebih keras, tapi telapak tangan kiri Gendra memegang telapak tangan kanan sang istri. Walau dada bergemuruh karena kemarahan yang ingin dilampiaskan, Yaneta membatalkan keinginannya untuk mendamprat Wulan.
Davia ikut terdiam. Dia seperti pengikut setia Yaneta dalam hal menggunjing Wulan. Ketika Yaneta diam, Davia pun surut langkah untuk ikut andil mengeroyok Wulan. Dia menunggu momen yang tepat untuk membalas sindiran yang dilontarkan Wulan tadi.
Kata 'sundal' sungguh tidak pantas diucapkan Wulan di hadapan keluarga besar Berti Sonika-Wistara Janaloka. Davia tidak terima disindir dengan kata yang menyakitkan hati. Davia tidak terima. Secepatnya dia ingin balas dengan lontaran kata-kata yang lebih menyakiti hati!
"Tenang saja, Davia," bisik Yaneta, "si brengsek itu bakalan menerima balasan yang lebih buruk. Dia berani menyindir kita dengan kata yang tak senonoh karena suaminya paling berhasil dibandingkan suami-suami kita."
"Ya, kita harus akui itu, Mbak," sahut Davia dalam bisikan yang sangat lirih. "Mas Haris memang yang paling sukses dibandingkan Mas Gendra dan Mas Rian. Itu yang membuat Wulan sombong. Coba kalau dia dicerai Mas Haris, pasti akan nangis darah memohon-mohon supaya tidak diceraikan. Lihat saja nanti! Akan kubuat Wulan menyembah-nyembah Mas Haris supaya tidak diceraikan suami andalannya itu."
Yaneta menoleh ke kiri. Melihat wajah Davia yang terlihat serius dengan perkataannya. Ketika Davia menyinggung kata 'cerai', pemikiran yang sama terlintas dalam benak Yaneta. Sudah dua tahun lebih Berti pernah mengeluh kepada Yaneta. Berti pernah kepikiran untuk memisahkan Haris dengan Wulan. Berti diam-diam sudah mencarikan calon pengganti Wulan untuk anak tersuksesnya. Berti tidak ingin anaknya yang sukses secara ekonomi, tapi gagal memiliki keturunan.
"Hm..., aku ada akal untuk menghancurkan Wulan sampai titik paling lebur," kata hati Yaneta. "Rumahku, rumah Davia, dan rumah ini dalam kompleks yang sama. Kalau Wulan pas kerja, aku dan Davia bisa menyambangi Ibu. Ibu yang tidak suka pada Wulan sejak awal pernikahan mereka, tentu sangat mudah dipengaruhi untuk mencarikan Haris wanita lain yang lebih hebat dibandingkan Wulan. Kalau Wulan diceraikan Haris, pasti masa depannya hancur, sehancur-hancurnya."
Sebenarnya Yaneta ingin membisikkan sesuatu kepada Davia, tapi terdengar Berti berdehem beberapa kali. Itu isyarat yang mesti dipahami oleh semua yang hadir di ruang tengah rumah mewah, dalam nuansa pesta kecil. Hanya anak-anak dan menantu Berti yang hadir. Anak-anak mereka ditinggal di rumah masing-masing bersama pembantu.
"Tolong kalian tenang!" ucap Berti penuh wibawa. "Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian semua."
***
Anda Mungkin Juga Suka





