Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tergoda Pesona Mafia Tampan

Tergoda Pesona Mafia Tampan

Lima tahun Wulan menderita karena mertuanya, Berti, yang meremehkan status sosial serta ketiadaan keturunan hingga ia memilih pergi. Di tengah kemandiriannya, muncul Jefri, anggota mafia yang mengincar PT WIPA. Kejutan besar terungkap saat Wulan menyadari dirinya adalah pewaris sah perusahaan tersebut. Kini ia terjepit antara Haris yang memohon ampun untuk kembali dan pesona Jefri yang berbahaya. Wulan harus memilih jalan hidupnya di tengah konflik cinta dan harta.
Bab
Bagikan

Bab 2

Wulan tidak menjawab pertanyaan suaminya. Perempuan tiga puluhan tahun itu memandang tajam ke arah Yaneta dan Davia. Kakak ipar dan adik ipar. Dua perempuan yang selama ini suka merecoki Wulan dengan kata-kata pedas, sindiran tajam, dan ejekan yang menyakitkan hati.

Yaneta dan Davia saling pandang. Kaget campur heran atas sikap Wulan. Sorot mata Wulan menusuk pusat perasaan mereka. Kalau diperhatikan, sekilas Wulan seperti orang kesurupan. Sebuah situasi yang tidak diperhitungkan istri Gendra dan istri Rian. Mereka tidak menyangka Wulan bisa semarah ini. Wulan berani melakukan tindakan nekat yang kelak bisa merenggangkan hubungan kekerabatan antaripar.

"Tak peduli ke depannya hubungan saya dengan mereka buruk," kata hati Wulan. "Kali ini semua harus tuntas. Agar besok mereka tidak kurang ajar lagi. Andai kata nantinya mereka memutus kekerabatan, saya siap! Lebih baik tidak punya saudara ipar brengsek yang selalu menyakitkan hati."

Wulan menghela napas dalam untuk mengurangi geletar tubuh akibat menahan marah yang membuncah.

"Mbak Yaneta Asami dan Dik Davia Cahyaningrum," ucap Wulan dengan nada tegas, suara pelan, dan dibuat setenang mungkin. "Kalian kira aku tidak mendengar pembicaraan kalian. Memang tidak lengkap karena kalian bisik-bisik seperti dua cecurut yang bersembunyi di selokan. Kalian jangan pengecut! Bersikaplah sebagai betina sejati yang berani bersikap! Jangan berkasak-kusuk seperti itu! Memalukan. Keluarga besar Berti Sonika – Wistara Janaloka adalah keluarga terhormat, punya harga diri, bersikap tegas, dan berani mengambil risiko."

"Wulan...," ucap Haris pelan, untuk meredam kemarahan sang istri.

"Sebentar, Mas Haris," tangkis Wulan dengan suara rendah. "Beri waktu saya untuk bicara! Selama ini saya diam. Saya diamkan mereka bicara seenak jidat mereka. Saatnya sekarang saya bicara untuk mereka dengarkan."

"Hei..., ada masalah apa, Wulan?" Yaneta nyeletuk, seolah-olah tidak ada persoalan apa pun antara dirinya dengan Wulan. "Mengapa kamu berkata seperti itu?"

"Iya nih..., sebenarnya ada masalah apa, Mbak Wulan?" tanya Davia dengan suara memelas. "Mengapa aku dan Mbak Yaneta yang jadi sasaran kemarahan Mbak Wulan?"

Wulan semakin geram karena mendapatkan pertanyaan dari dua perempuan yang selama ini membuatnya muak. Yaneta dan Davia berlagak seolah-olah antara mereka dengan Wulan tidak ada masalah apa-apa. Tapi sikap mereka selama ini terhadap Wulan, sangat menyebalkan. Belum lagi lontaran kata-kata secara langsung atau berupa sindiran, membuat Wulan ingin membungkam mulut mereka.

"Baru saja kalian bisik-bisik kalau aku tidak tahu diri, tidak punya etika, dan melanggar norma susila," tegas kata-kata Wulan tanpa ada rasa minder atau rendah diri. "Kalian selama ini juga mengataiku mandul. Kalian merasa paling punya hak untuk menegurku. Kalau merasa punya hak, wewenang, atau pun kewajiban menegurku, ayo tegur saja sekarang! Mengapa beraninya hanya bisik-bisik? Aku siap ditegur oleh siapa pun. Dan aku siap minta maaf dan memperbaiki kesalahan. Tapi dengan syarat, orang yang menegurku mesti benar-benar punya kredibilitas dalam soal moralitas. Aku tidak mau orang yang menegur tentang etika, tapi perilaku sehari-harinya amoral. Ibaratnya, aku tak ingin orang yang mengataiku dengan sebutan sundal, tapi dirinya sendiri sebenarnya seorang pelacur!"

Semua yang hadir tertegun mendengar perkataan keras yang dilontarkan Wulan. Haris, sebagai suami, merasa heran. Selama ini Wulan tidak pernah mengucapkan kata-kata yang keras, jorok, atau pun kotor. Mengapa tiba-tiba Wulan mengungkap dua kata yang menurutnya kurang pantas diucapkan dari lisan Wulan?

Pernyataan bahwa Wulan siap ditegur oleh orang yang moralitasnya lebih baik dari dirinya, membuat Yaneta dan Davia terbeliak. Kata-kata itu seolah-olah menyindir keduanya yang dalam pandangan Wulan, lebih rendah budi pekertinya. Wulan sepertinya ingin menyampaikan pesan tersirat bahwa moralitas Yaneta dan Davia lebih rendah dibandingkan dirinya.

"Hei, Wulan!" tegur Yaneta dengan nada meninggi. "Siapa yang mengataimu 'sundal'? Aku dan Davia tidak pernah menyebutmu seperti itu."

"Kalian tersinggung oleh kata itu?" Wulan tersenyum tipis. "Coba amati, cermati, dan perhatikan dengan saksama! Akiu tadi menyatakan 'ibaratnya'. Namanya saja ibarat, umpama, andaikata, seandainya, ya sesukakulah! Memangnya ada larangan membuat perumpamaan? Ini zaman merdeka, orang bebas berkata asalkan tahu batasan-batasannya!"

"Walau itu perumpamaan, jangan pakai kata-kata yang tidak pantas seperti itu!"

"O..., kamu melarang aku menggunakan kata-kata yang tidak pantas, tapi kamu dan Davia bebas sebebas-bebasnya menggunjing orang di forum keluarga! Kamu kira itu pantas? Merendahkan martabat orang lain di depan keluarga besar itu pantas?"

Yaneta ingin berkata lebih keras, tapi telapak tangan kiri Gendra memegang telapak tangan kanan sang istri. Walau dada bergemuruh karena kemarahan yang ingin dilampiaskan, Yaneta membatalkan keinginannya untuk mendamprat Wulan.

Davia ikut terdiam. Dia seperti pengikut setia Yaneta dalam hal menggunjing Wulan. Ketika Yaneta diam, Davia pun surut langkah untuk ikut andil mengeroyok Wulan. Dia menunggu momen yang tepat untuk membalas sindiran yang dilontarkan Wulan tadi.

Kata 'sundal' sungguh tidak pantas diucapkan Wulan di hadapan keluarga besar Berti Sonika-Wistara Janaloka. Davia tidak terima disindir dengan kata yang menyakitkan hati. Davia tidak terima. Secepatnya dia ingin balas dengan lontaran kata-kata yang lebih menyakiti hati!

"Tenang saja, Davia," bisik Yaneta, "si brengsek itu bakalan menerima balasan yang lebih buruk. Dia berani menyindir kita dengan kata yang tak senonoh karena suaminya paling berhasil dibandingkan suami-suami kita."

"Ya, kita harus akui itu, Mbak," sahut Davia dalam bisikan yang sangat lirih. "Mas Haris memang yang paling sukses dibandingkan Mas Gendra dan Mas Rian. Itu yang membuat Wulan sombong. Coba kalau dia dicerai Mas Haris, pasti akan nangis darah memohon-mohon supaya tidak diceraikan. Lihat saja nanti! Akan kubuat Wulan menyembah-nyembah Mas Haris supaya tidak diceraikan suami andalannya itu."

Yaneta menoleh ke kiri. Melihat wajah Davia yang terlihat serius dengan perkataannya. Ketika Davia menyinggung kata 'cerai', pemikiran yang sama terlintas dalam benak Yaneta. Sudah dua tahun lebih Berti pernah mengeluh kepada Yaneta. Berti pernah kepikiran untuk memisahkan Haris dengan Wulan. Berti diam-diam sudah mencarikan calon pengganti Wulan untuk anak tersuksesnya. Berti tidak ingin anaknya yang sukses secara ekonomi, tapi gagal memiliki keturunan.

"Hm..., aku ada akal untuk menghancurkan Wulan sampai titik paling lebur," kata hati Yaneta. "Rumahku, rumah Davia, dan rumah ini dalam kompleks yang sama. Kalau Wulan pas kerja, aku dan Davia bisa menyambangi Ibu. Ibu yang tidak suka pada Wulan sejak awal pernikahan mereka, tentu sangat mudah dipengaruhi untuk mencarikan Haris wanita lain yang lebih hebat dibandingkan Wulan. Kalau Wulan diceraikan Haris, pasti masa depannya hancur, sehancur-hancurnya."

Sebenarnya Yaneta ingin membisikkan sesuatu kepada Davia, tapi terdengar Berti berdehem beberapa kali. Itu isyarat yang mesti dipahami oleh semua yang hadir di ruang tengah rumah mewah, dalam nuansa pesta kecil. Hanya anak-anak dan menantu Berti yang hadir. Anak-anak mereka ditinggal di rumah masing-masing bersama pembantu.

"Tolong kalian tenang!" ucap Berti penuh wibawa. "Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian semua."

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Gadis Imigran
8.8
Iris Barcova terpaksa menjalani kehidupan kelam sebagai PSK demi membiayai ayah dan adiknya. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius keturunan mafia menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi medis bagi ayahnya. Meski ada dokter tulus yang mencintainya, Iris justru terjebak dalam dilema hati. Namun, kenyataan pahit mulai terungkap bahwa pria yang ia anggap penyelamat mungkin adalah dalang di balik segala tragedi dan kesialan yang menimpa hidupnya selama ini.
Sampul Novel Harga Seorang Ratu Mafia
9.5
Pernikahan politikku dengan Marco Ricci seharusnya menyatukan dua klan besar Jakarta, namun pengkhianatannya menghancurkan segalanya. Di sebuah klub, aku menyaksikan Marco memeluk Angelia, gadis yatim yang dianggap adik, dengan penuh gairah. Sadar hanya menjadi alat kekuasaan sementara hati Marco milik wanita lain, aku memilih melawan. Aku membatalkan pertunangan kami dan memutuskan menikahi Dante Wiryawan, rival terberat keluarga kami, demi aliansi baru yang tak terduga.
Sampul Novel Hukum Sang Pewaris Cacat
8.7
Damon Valenti, Don mafia yang berkuasa, menghadapi krisis saat putra bayinya, Enzo, menolak susu formula pasca kematian sang istri. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Isabella Moreno yang baru saja kehilangan bayinya. Damon menawarkan kontrak bisnis dingin: Isabella harus menjadi ibu susuan Enzo tanpa melibatkan perasaan. Namun, melihat kelembutan Isabella memicu obsesi gelap dalam diri Damon. Sang Don kini terjerat dalam gairah berbahaya pada wanita yang seharusnya hanya menjadi pekerja.
Sampul Novel Jeritan Nakal Wanita Tawanan Kamar
9.6
Akibat pengkhianatan sang ayah terhadap Limson, kelompok mafia paling berkuasa di negaranya, nyawa Arabella kini berada dalam ancaman besar. Ia terjebak dalam dilema yang mematikan. Pilihannya hanya dua: menjadi tawanan pribadi di dalam kamar Tuan Stanley, sang pemimpin tertinggi mafia yang dingin, atau melarikan diri ke dunia luar untuk diburu habis-habisan oleh anggota kelompok Limson lainnya. Arabella terpaksa menghadapi takdir yang sangat kelam.
Sampul Novel Menemukan Cinta Sejati
9.0
Demi membalas pengkhianatan, Eve Costa setuju menikahi pewaris kejam keluarga mafia Vittorine. Selama lima tahun, Eve mencintai Lucas Smith, namun pria itu justru mengabaikan nyawanya saat diculik dan malah bermain api dengan Alina. Setelah selamat dari maut, Eve kehilangan rasa cintanya. Saat Lucas melamar, Eve telah menyiapkan rencana besar untuk melepaskan diri. Ia memanfaatkan posisi barunya demi menghancurkan pria yang telah tega membuangnya demi wanita lain.