Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terbelenggu Cinta Saudara Tiri

Terbelenggu Cinta Saudara Tiri

Mencintai bukanlah dosa, tetapi bagi Key dan Ravano, perasaan mereka adalah awal dari prahara. Sebagai saudara tiri, mereka menjalin hubungan rahasia di balik punggung orang tua hingga terjebak dalam konflik yang pelik. Saat Key mencoba untuk mundur dan melepaskan ikatan tersebut, Ravano justru semakin terobsesi dan mendekapnya dengan erat. Hubungan mereka pun berubah menjadi lingkaran toxic yang menyesakkan dan sulit untuk diakhiri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Lantunan salah satu lagu milik Ed Sheeran yang sedang dinyanyikan itu pun terhenti. Ravano juga turut menghentikan petikan gitarnya.

"Kenapa berhenti?" Temannya yang berada di sebelahnya itu menatap Ravano bingung.

"Gue lapar. Mau ke kantin bareng gak, Kinn?" tanya Ravano sembari meletakkan gitar yang dipegangnya itu ke atas permukaan meja.

"Dengan senang hati. Gue juga lapar." Temannya itu tertawa pelan dan pergi meninggalkan kelas bersama Ravano.

Namanya Kinn Dhananjaya, teman sebangku Ravano.

"Lo yang bayar kan, Rav?" Kinn menyikut pelan lengan sahabatnya.

Ravano sontak meninju bahu Kinn. "Enak aja lo!"

Kinn tertawa. "Eh, Kak Silvi liatin lo tuh. Dia naksir kali sama lo."

Ravano melirik sejenak ke arah yang Kinn maksud. Seorang siswi yang berada di salah satu sudut koridor itu tengah memperhatikannya dengan senyuman yang sulit diartikan. Sementara teman-temannya yang berada di sana sesekali membisikkan sesuatu padanya hingga gadis itu tersenyum penuh arti.

Ravano menarik salah satu bibirnya dan berkata, "bodo amat. Lebih cantik Keanna!"

Dia kembali membuang pandangannya.

"Sikat aja, Rav. Toh Kak Silvi cantik, kan? Dia yang paling cantik se-kelas dua belas. Eh? Atau se-sekolah?"

Ravano tertawa. "Emangnya lo kira cucian, maen sikat."

Mereka berdua berjalan memasuki kantin yang saat itu sedang cukup ramai.

Kemudian mereka mendekati sang pemilik kantin untuk memesan.

"Oh, Key? Hai." Ravano tersenyum lebar kemudian melambaikan salah satu tangannya begitu dia bertemu Key di sana. Dilihatnya gadis itu juga tengah memesan  bersama Adel yang tak lain adalah sahabatnya. "Lo udah pesen?" tanyanya kemudian.

"Udah barusan," ucap Key singkat tanpa menolehkan kepalanya. Kemudian dia dan Adel berjalan menghampiri salah satu meja yang kosong.

"Baju lo masih basah, Key. Lo gak ngerasa dingin?" tanya Adel.

"Udah lumayan kering kok," jawab Key sembari memperhatikan seragam miliknya. "Lagian tadi gak terlalu basah juga sih." Key membuang napas mengingat Ravano yang rela melepas jaket untuknya. Gadis itu sempat melirik ke arah Ravano yang masih memandanginya, kemudian membuang kembali pandangannya.

"Makanya gak usah hujan-hujanan," timpal seseorang. Kedua gadis itu menoleh.

Ravano duduk di sebelah Key tanpa persetujuan gadis itu. Sementara Kinn duduk di sebelah Adel, sesekali menatap Ravano yang mulai berulah lagi. Jika sudah seperti itu, ia juga tak bisa berbuat banyak walau keduanya adalah sepasang saudara tiri. Toh mereka sedang di sekolah, jadi setidaknya Key masih bisa aman.

"Ngapain lo duduk di sini?" tanya Key dengan kedua alis yang bertaut. Tangannya diam-diam menepis tangan Ravano tanpa pengetahuan Adel.

Ravano menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Gak boleh ya?"

Key tidak menjawabnya dan membuang pandangannya ke arah lain.

Ravano tersenyum simpul. "Ehm ... nanti pulang bareng gue ya?"

"Gue bisa naik angkot."

Ravano terdiam mendengar jawaban Key. Hal yang sudah biasa baginya saat Key menolak tawarannya. Ia sempat menghela napas, lalu kembali berujar, "Sekarang kita serumah loh, Key. Gak baik pulang sendirian pake angkot."

Tak ada jawaban yang dilontarkan oleh Key. Gadis itu memilih memainkan ponselnya dan mengabaikan Ravano yang sudah memainkan ujung-ujung rambutnya dengan jemari tangan.

Tidak lama kemudian seseorang datang membawakan pesanan mereka.

"Makasih, Bi," ucap Ravano.

Adel hanya menatap kedua orang itu dalam diam. Dia paling tidak bisa berkutik ketika Key dan Ravano dalam situasi seperti saat ini. Ia tahu kalau mereka adalah saudara tiri. Tapi entah kenapa Adel merasa kalau sikap Ravano terkadang—

"Heh, Junet! Kenapa lo ngeliatin mereka mulu sih? Cemburu?" Ucapan Kinn sukses membuat Adel memelototkan kedua matanya dan berakhir menabok lengan lelaki itu.

"Ngapain gue cemburu?" Adel memutar kedua matanya. "Mereka kan-"

"Bentar lagi bel, buruan habisin bakso lo, Del." Key dengan cepat memotong ucapan Adel. Sementara sahabatnya itu mendadak gugup dan berdeham tidak jelas.

"Ngomong-ngomong nama gue tuh Zaneth, ya, Kinn! Zaneth!" protes Adel dengan kedua mata yang menatap Kinn tajam.

"Bodoamat." Kinn memakan soto ayam miliknya tanpa mempedulikan ocehan Adel.

Sementara Ravano sesekali melirik Key yang berada di sebelahnya.

*

Key berlari menuju gerbang. Gadis itu melirik ke arah jam tangannya dan membuang napas. Tugas matematika dari Bu Rima memang kelewat kompleks sampai memerlukan waktu dan fokus yang ekstra untuk mengerjakannya. Padahal tadi dia mengerjakan di perpustakaan dengan berbagai macam buku paket. Tapi itu masih tidak cukup dan hanya membuang waktu karena ujung-ujungnya dia mengerjakannya kembali di kelas setelah jam terakhir bersama teman-temannya yang lain.

"Kenapa gak ada taksi lewat sih?" gumamnya. Dia sedikit menyesal tidak menerima tawaran Adel untuk pulang bersama, meskipun arah rumah mereka berlawanan. Baru saja dia hendak melangkah, sebuah motor berhenti tepat di depannya.

"Naik," ucap si pemilik motor sembari membuka kaca helmnya.

"Gue naik taksi," ujar Key usai dirinya berdeham pelan.

"Gue tadi ke kelas lo tapi lo masih ngerjain tugas. Jadi gue nunggu di depan ruang OSIS sampai lo selesai."

"Gue gak pernah nyuruh lo."

Ravano menaikkan kedua bahunya lalu turun dari motornya dan berdiri di sebelah Key.

"Ngapain lo?" Key memandang tajam Ravano di sebelahnya.

"Nemenin lo," ucap Ravano santai. "Mana taksinya?"

Key kembali melirik jam tangannya. "Bentar lagi juga ada yang lewat."

"Oh, ya? Ya udah."

Key menoleh. "Kok lo masih diem? Pulang duluan aja."

"Lo ngusir gue?" ucap Ravano. Ia melipat kedua tangannya di depan dada seraya memutar tubuhnya hingga benar-benar menghadap Key.

"Gue gak ngusir, gue cuma nyuruh lo pulang," tegas gadis itu.

"Sama aja." Ravano menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Besok pagi lo mau berdiri lagi di depan gerbang?" tunjuknya pada gerbang sekolah yang tidak jauh dari mereka.

"Bukan urusan lo."

"Besok gue temenin deh."

Ucapan Ravano membuat Key kembali menoleh padanya. Gadis itu hendak pergi, namun Ravano dengan sigap menahan tangannya.

"Mau ke mana lo?"

"Nyari taksi."

"Lo pulang bareng gue."

"Gak usah," tolak Key sembari berusaha melepaskan tangan Ravano.

"Keanna!" Ravano semakin mencengkeram pergelangan tangan Key semakin kuat.

Key memejamkan kedua matanya rapat. Dia beralih menatap Ravano dengan kedua matanya yang tajam.

"Gue bisa pulang sendiri," tegasnya.

"Tapi mama bisa marah kalo sampai lo pulang sendiri lagi."

"Mama udah nggak ada!"

Ravano terkejut saat melihat mata Key yang berkaca-kaca. Dia pun melonggarkan tangannya, membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya. Tangan Ravano mengepal kuat.

Selalu seperti ini. Key yang sekarang selalu menolaknya, menjauhinya, bahkan mungkin membencinya. Dan Ravano benci karena alasan dari semua itu adalah dirinya.

***

Ravano membuka pintu besar rumahnya. Sesekali dia melirik ke arah gadis yang berjalan di sebelahnya dengan kepala yang menunduk.

"Lo marah?" tanya Ravano. Ia berniat merangkul Key namun gadis itu dengan segera menghindar bahkan menepis tangannya.

"Enggak," jawab Key singkat tanpa menatap Ravano dan berjalan mendahului lelaki itu. Namun saat dia menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, seorang gadis kecil berlari menghampirinya dan langsung memeluknya erat hingga Key hampir saja terjengkang jika dia kehilangan keseimbangannya walau hanya sedikit.

"Yeyyy ... Kakak pulang!" seru gadis yang berusia tujuh tahun itu dengan girang tanpa melepaskan pelukannya. Key sempat menahan napasnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum. Dia mengusap puncak kepala anak itu.

Ravano ikut tersenyum melihatnya. Walaupun senyuman itu bukan untuknya, tapi dia ikut bahagia. Setidaknya dia bisa melihat Key tersenyum begitu tulus pada adiknya.

"Kok tumben pulang telat?" Seorang wanita muncul dari arah yang sama dengan gadis kecil tadi. Salah satu tangannya terlihat membawa sebuah piring yang berisi berbagai macam buah-buahan yang telah dipotong menjadi ukuran kecil. "Kalian pulang bareng, kan?"

Ravano mengangguk ketika sang mama menatapnya. Dia menatap Key.

Senyuman Key memudar. Dia menatap sekilas ke arah wanita itu dan dengan gerakan pelan melepas pelukan Irina, yang tidak lain adalah gadis kecil tadi.

"Ngerjain tugas dulu." Key lalu menatap Irina. "Kakak mau ganti baju dulu," ucapnya lembut dan kembali tersenyum.

Dan Ravano lagi-lagi harus menahan sesak di dadanya. Senyuman itu. Senyuman yang selalu berhasil membuat dunia Ravano runtuh seketika. Ketika senyuman tulus itu hilang, lalu digantikan dengan senyuman yang amat sangat menyakitkan.

Ravano melihat Key yang berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Irina sedikit menatap Key kecewa, senyuman anak itu ikut hilang dan mata bulatnya bertemu dengan mata Ravano.

"Kakak lagi marahan, ya?" tanyanya dengan garis lengkungan ke bawah yang tercetak di bibirnya.

Ravano bungkam dan beralih menatap wanita tadi, yang tidak lain adalah mamanya. Wanita itu juga menatap Ravano, kembali menunjukkan senyuman penuh luka. Kemudian Karin berjalan menghampiri Irina yang masih memandangi Key yang sudah naik ke atas.

"Nanti main lagi, sekarang Kak Key mau ganti baju dulu," ucap Karin pada putrinya. "Sekarang makan buah, yuk? Katanya tadi mau buah."

Wajah mendung Irina seketika berubah menjadi kembali cerah. Dia mengangguk, dan langsung menggandeng tangan Karin ke sebuah sofa di depan TV.

Sementara Ravano berjalan menaiki satu per satu anak tangga. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Key. Dengan ragu dia mengetuknya pelan.

"Key," panggilnya.

Tidak ada jawaban.

"Gue tahu lo—"

"Gue lagi ganti baju. Mendingan lo pergi," jawab Key dari dalam.

Ravano mengepalkan tangannya. Dia benci ini. Dia tahu Key berbohong. Dia tahu Key tidak sedang berganti baju. Dia tahu saat ini Key tengah berada di balik pintu kamarnya, terduduk di lantai kamarnya yang dingin sambil memeluk kedua lututnya.

"Key," panggil kembali Ravano dari luar.

"Pergi, Rav!"

Ravano mengusap wajahnya kasar. Tak tahan lagi dengan situasi itu, ia segera merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kunci dari dalam sana.

Key yang menyadari kalau kunci pintu kamarnya hendak dibuka itu pun segera memasangkan kembali kuncinya namun Ravano lebih cepat dan lelaki itu berhasil menerobos ke dalam kamarnya bahkan mengunci pintunya lagi.

"Dengerin gue dulu, Key. Gue tahu lo masih sulit nerima semua ini. Jujur gue juga sama kayak lo. Tapi pernah gak sih lo berpikir kalau kita berdua juga punya hak buat bahagia, kan? Gak perlu memaksakan diri kalo emang lo gak bisa, karena gue juga sama. Kita bisa ngejalanin semuanya seperti biasa, Key."

"Rav, tapi— kita ini sekarang saudara—"

"Tiri." Ravano menginterupsi, "Kita hanya saudara tiri." Usai mengatakannya, ia segera memeluk Key dengan erat.

Key terdiam setelahnya. Mungkin terdengar salah, tapi pada kenyataannya ia memang masih kesulitan dalam membiasakan diri. Ia selalu berpikir, kalau sejak awal harusnya ia dan Ravano-lah yang berakhir bahagia, bukannya malah orang tua mereka.

Key membuang napas pelan. Tangannya sudah terangkat dan berniat mengusap punggung Ravano tapi justru berakhir dengan meremas seragam lelaki itu saat ia merasa ada benda basah yang bergerak di permukaan lehernya, bergerak sensual hingga menjalar ke telinga.

—Bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ambillah , dik !
8.3
Dokter Charlotte Swift Sterling diizinkan Kylen Brown menempuh spesialis kandungan di Jepang dengan janji pernikahan saat kembali. Namun, rencana indah itu hancur seketika saat adiknya, Jessamine, mengaku telah mengandung anak Kylen akibat hubungan terlarang. Di tengah pengkhianatan ini, Charlotte terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap menikahi tunangannya atau merelakan pria itu demi masa depan adik kandung yang sangat ia sayangi?
Sampul Novel Api Cemburu Ladyboy
7.9
Apa jadinya saat Diandra, gadis tomboy pecinta motor, dipaksa bertunangan dengan Handoko? Di balik kekayaannya, Handoko menyimpan obsesi unik untuk tampil anggun menyerupai ibunya. Meski ia berniat berubah, kehadiran Diandra justru memicu konflik besar yang mengancam hubungan mereka hingga di ambang kehancuran. Di tengah gejolak emosi dan rintangan yang ada, mampukah benih cinta yang mulai tumbuh menyatukan dua kepribadian yang sangat bertolak belakang ini?
Sampul Novel Budak Cinta
8.4
Dalam kondisi mengandung, aku terkejut mendapati kenyataan pahit bahwa Liam Barnes, kekasihku, membiarkan saudara kembarnya, Lucas, meniduriku selama tiga tahun. Liam melakukan pengkhianatan ini demi membalas dendam untuk cinta pertamanya, Vivian Quinn. Namun, saat aku mengonfrontasi Lucas yang berlutut di hadapanku, ia justru menunjukkan pengabdian yang berbeda. Sambil mencium kakiku dengan khidmat, Lucas bersumpah bahwa kesetiaannya hanya untukku.
Sampul Novel Gairah yang Tertahan
8.9
Tiga tahun menikah, tekanan ibu mertua soal anak kian menyiksa. Meski rahimku sehat, suamiku yang pasif tak pernah memuaskan hasratku. Masalah ekonomi dan kebosanan mendorongku kembali bekerja sebagai sekretaris. Aku tak menduga keputusan ini menjadi pintu pembuka skandal besar. Di balik rutinitas kantor, aku mulai mencari pelarian yang tak didapatkan di rumah. Inilah awal mula pengkhianatanku, bermain api di belakang suami demi gairah yang lama terpendam.
Sampul Novel Ketika Pernikahan Palsu Menjadi Nyata
8.1
Kapten Leon Hartmann terjebak dalam pernikahan paksa dengan Aveline Laurent akibat salah paham warga desa saat ia menolongnya di hutan. Padahal, Aveline segera menikah dengan tunangannya, sementara Leon menjalin hubungan serius dengan seorang dokter. Namun, formalitas ini justru membongkar rahasia gelap pasangan masing-masing yang selama ini tersembunyi. Di tengah pengkhianatan dan misteri, perasaan baru mulai tumbuh di antara mereka meski hati masih terikat masa lalu.
Sampul Novel Lentera Rindu
8.6
Rima, seorang gadis berusia 18 tahun, kini resmi menyandang status sebagai istri Bary. Namun, pernikahan muda ini langsung dihadapkan pada penolakan dingin saat Bary, yang usianya tiga tahun lebih muda, enggan memenuhi keinginan istrinya untuk tidur bersama. Di balik penolakan tersebut, tersimpan teka-teki tentang perasaan dan komitmen mereka. Kisah ini membawa pembaca menyelami filosofi rindu dan cinta yang melampaui kefanaan dunia melalui lentera hati.