
Terbelenggu Cinta Kakak Ipar
Bab 2
"Tutup mulutmu adik ipar, kau ingin membuat semua penghuni rumah datang ke sini dan melihat keadaan kita?" Rafan kembali melompat ke ranjang seraya membekap mulut Yuan yang berteriak ketika mendapati dirinya yang masih belum mengenakan celana.
Dengan kasar Yuan memindahkan tangan kakak iparnya dari mulutnya, "kau yang salah, dan lagipula kenapa kau naik lagi di ranjangku? Harusnya kau cepat-cepat pakai celana dan keluar dari sini. Oh Tuhan, kau membuat mataku tercemar oleh adik kecilmu itu."
Air muka Rafan berubah menjadi wajah-wajah tak terima sekaligus tercengang. Bagaimana bisa Yuan mengatakan bahwa adiknya ini kecil di saat semalam mereka menghabiskan malam panas dengan dirinya yang tak henti-hentinya memuja betapa nikmatnya adiknya ini.
"Apa kau bilang, adikku kecil? Seharusnya aku merekam kegiatan panas kita semalam supaya aku ada bukti, bahwa kau selalu memuja adik yang kau sebut kecil ini. Di setiap kali aku memberikan hentakan kau selalu–."
"Sudah cukup Rafan, hentikan! Kita akan menghabiskan waktu seharian hanya untuk berdebat, sekarang pergi dari kamarku. Dan jangan ingat-ingat kejadian semalam, kita sudah berjanji akan melupakannya."
Rafan kembali bangkit dari ranjang dan memakai celannya dengan cepat. Sungguh ia baru tahu jika adik iparnya ini cukup menyebalkan. Sudah satu tahun ini Yuan penyandang status sebagai adik iparnya, namun baru tiga bulan belakangan intensitasnya bertemu dengan Yuan jauh lebih sering lantaran dirinya yang setelah menyandang status duda kembali tinggal di rumah kedua orang tuanya.
"Jangan lupa aku adalah kakak iparmu, tidak sopan adik ipar hanya memanggil nama kakaknya," ujar Rafan sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan kamar.
Yuan hanya mencebik. Ia sangat kesal pada dirinya sendiri, betapa bodohnya ia yang selalu memberikan pujian di malam panas semalam. Kembali mengingat betapa dahsyatnya penyatuan semalam membuat wanita itu kembali menunduk memperhatikan seluruh tubuhnya, memastikan bahwa tidak ada bekas atau jejak apa pun yang ditinggalkan oleh Rafan. Untunglah hanya ada beberapa gigitan kecil yang berada di bagian tertutupnya.
Yuan memutuskan untuk membersihkan dirinya begitu menyadari bahwa ia sudah harus segera turun untuk melakukan ritual sarapan.
Setelah setengah jam berkutat pada dirinya sendiri, Yuan akhirnya turun ke lantai dasar. Hawa canggung tiba-tiba saja menyeruak saat langkahnya semakin dekat dengan meja makan. Di sana semua orang sudah berkumpul, tak terkecuali Rafan.
"Selamat pagi semuanya," sapa Yuan seperti biasa.
"Selamat pagi, Sayang. Tumben kamu bangunnya belakangan, biasanya juga duluan kamu ketimbang Ibu."
"Ah iya, Bu. Sebenarnya aku udah bangun dari tadi, tapi Mas Danish sempat telepon. Jadi aku lupa waktu," jawab Yuan sedikit gugup dan mendaratkan bokongnya di kursi.
Aroma tubuh Yuan seketika menyeruak dan memaksa masuk di indra penciuman Rafan. Pria itu sedikit kesulitan menelan ludahnya ketika aroma tubuh Yuan berjejal masuk di hidungnya. Bahkan ia sedikit gugup saat ingatannya kembali terlempar pada malam panas semalam.
Ya, ia menyebutnya malam panas. Karena di setiap gerakan, gaya, dan juga lengkuhan wanita itu mampu membuatnya terbakar oleh hasrat terpendam yang sudah lama tak ia salurkan. Ah sungguh, ia merindukan mendiang istrinya saat ini.
Merasa bahwa dirinya tidak mampu berlama-lama berada di dekat Yuan, ia segera menyudahi sarapannya dan berlalu dari meja makan dengan wajah yang menyebalkan di mata Yuan tentunya.
"Yuan," panggil Bu Veronica di sela-sela makannya.
"Iya, Bu."
"Kau belum ada tanda-tanda hamil?" tanyanya dengan hati-hati.
Bu Veronica sebenarnya tidak enak hati ketika menanyakan hal sensitif ini kepada menantunya. Tapi di sisi lain, beliau sangat ingin segera menimang cucu dari hasil pernikahan anak bungsunya ini. Mengingat usianya sudah tidak lagi muda dan beliau juga baru saja kehilangan cucu dari Rafan. Beliau ingin sekali rumah itu segera terdengar suara tangis bayi yang meramaikan hari-hari tuanya.
"Belum, Bu. Ibu yang sabar, ya. Aku juga sama kayak Ibu, kok. Aku juga maunya cepet punya momongan. Baik aku maupun Mas Danish juga punya keinginan yang sama. Mungkin belum dikasih aja."
Jika Bu Veronica merasa tak enak hati ketika bertanya, maka Yuan pun merasakan kesedihan yang dalam. Sudah satu tahun ia menikah, dan tak ada tanda-tanda kehamilan menjadi beban untuknya. Terlebih lagi mengingat kakak iparnya dulu hanya butuh waktu dua bulan saja untuk mengandung.
Mengingat kakak iparnya yang telah tiada membuatnya lagi-lagi teringat Rafan. Setiap kali ia mengingat pria itu, yang ada dalam ingatanya adalah pertarungannya di ranjang.
"Kau Kenapa Yuan? Kepalamu sakit, kau sedang tidak enak badan?" tanya Bu Veronica saat menantunya terlihat memijat pelipisnya.
"Ah nggak kok, Bu. Aku nggak apa-apa, mungkin aku lagi bosan aja karena nggak ada Mas Danish."
"Keluarlah. Ke taman, ke mall, ke salon, atau ke mana pun yang kau mau. Banyak pikiran dan stress berpengaruh juga untuk kesuburan. Pastikan pikiranmu selalu enjoy, bahagia, tenang, dan senang."
Yuan mengangguk mengiyakan perkataan ibu mertunya. Jika dipikir-pikir sudah lama ia tidak keluar rumah. Tak ada salahnya jika ia kali ini merefresh isi kepalanya yang melulu tertuju pada aktivitas panas itu.
Akhirnya pagi itu selesai sarapan ia memutuskan jalan-jalan. Ke salon adalah pilihan pertamanya. Dalam kepalanya sudah ada rencana akan berbelanja untuk dirinya sendiri dan suaminya setelah mempercantik diri. Mendengar kabar bahwa suaminya akan pulang nanti malam keinginan untuk tampil cantik sedang diujung kepala.
Selesai dengan urusan tubuh dan kecantikannya, Yuan langsung melipir ke pusat perbelanjaan. Sebenarnya ia tak terbiasa masuk ke tempat ramai dan sebesar ini seorang diri.
Tempat tujuan pertama yang ia datangi adalah deretan baju tidur yang seksi, tipis, dan menggoda. Banyak sekali lingerie dengan varian warna dan model yang tergantung di sana. Yuan menjereng beberapa lingerie sembari membayangkan bagaimana lekuk tubuhnya, apakah cukup menggoda, apakah dengan model-model dan warna yang membingungkannya bisa menggoda suaminya nanti?
"Yang mana, ya? Gini nih kalau belanja nggak bawa temen. Bingung, kan, mau pilih yang mana? Ini warnanya bagus, tapi yang ini modelnya juga bagus. Yang satu nggak suka warnanya, yang satu nggak suka modelnya." Yuan menimbang-nimbang dan mengamati dua lingerie yang berada di tangan kanan kirinya.
"Kau bingung menentukan yang mana? Bagaimana kalau ini?" Sebuah suara terdengar sangat dekat. Ia menurunkan kedua lingerie yang ia junjung setinggi ujung kepalanya. Dan seketika kedua matanya membulat.
Anda Mungkin Juga Suka





