Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Teman tapi Khilaf

Teman tapi Khilaf

Dua insan terjebak dalam pusaran gairah yang membuat mereka terus melakukan kekhilafan berulang kali. Meski sadar hubungan ini berisiko dan dianggap terlarang oleh sekitar, rasa candu yang membuncah sulit untuk dipadamkan. Mereka terus saling menginginkan dengan sangat kuat, mengabaikan fakta bahwa kenikmatan tersebut mungkin hanya sesaat. Di tengah gejolak emosi yang membara, mereka kini dihadapkan pada dilema besar mengenai arah masa depan hubungan ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Entah pria gila dari mana yang Gisca tengah hadapi saat ini, yang pasti ia masih tidak habis pikir ada pria yang berstatus sebagai 'pacar orang' kini terang-terangan sedang berusaha mendekatinya.

Parahnya lagi, Saga adalah pacar dari Sela. Teman Gisca sendiri! Bukankah sangat tidak waras pria itu berusaha merayunya?

Ya, apa namanya kalau bukan merayu? Dasar playboy sinting!

Percuma tampan kalau ketampanannya digunakan untuk hal kotor seperti itu.

Gisca tentu jangan sampai terbuai. Persetan dengan wajah tampan dan tubuh yang sempurna. Seharusnya ia tidak boleh tergoda. Sangat tidak boleh!

Saat ini, tidak peduli hari sudah malam, selagi Sela belum pulang, Gisca menunggu panggilannya diangkat oleh Saga. Tentunya ia menghubungi nomor Saga yang tertera di balik kertas tadi.

"Halo, dengan Saga di sini," sapa Saga di ujung telepon sana yang sangat sok imut.

"Kamu gila?! Sebenarnya apa yang kamu rencanakan?" kesal Gisca tanpa mau berbasa-basi.

"Wah, sepertinya aku tahu siapa yang menelepon," balas Saga. "Sejujurnya aku agak kecewa, kenapa baru menghubungi sekarang padahal aku pergi dari tadi sore? Apa kamu baru menemukan dompetku?"

"Sial. Balikin dompet aku sekarang juga!"

"Tentunya kamu harus balikin dompetku juga dong," jawab Saga santai.

"Sebenarnya maksud kamu apa, sih, ngelakuin hal sekonyol ini? Apa kamu nggak mikir ... apa jadinya kalau yang menemukan dompetnya itu Sela? Dia pasti mikir yang nggak-nggak."

"Aku cuma lagi iseng aja, ngisi waktu luang dengan cara mengenal kamu lebih dekat," jawab Saga tanpa merasa berdosa. "Kamu bilang gimana kalau Sela yang nemuin? Hmm, tapi kenyataannya kamu yang nemuin, kan? Bukan Sela."

"Kamu pasti beneran nggak waras. Aku ini teman Sela. Kenapa kamu begini?"

"Loh, memangnya kenapa kalau kamu teman dari pacarku? Bukankah bagus."

"Apa? Bagus kamu bilang?"

"Iya bagus. Kenapa? Kamu mau lapor sama Sela kalau aku begini? Silakan aja kalau mau mencari masalah."

Gisca terdiam. Memang sempat terbesit keinginan untuk menceritakan apa yang dialaminya pada Sela, tapi Gisca tidak siap dengan risiko terburuk. Sekalipun menceritakan yang sebenarnya terlebih dirinya tidak salah, tetap saja Gisca takut perasaan Sela pada Saga bisa mempengaruhi jalan pikiran wanita itu.

Ya, bagaimana jika Sela lebih percaya Saga? Kalau sudah begini, harus bagaimana? Gisca jadi galau sendiri.

"Diam artinya lagi mikir. Dan aku yakin kamu setuju kalau kita ketemu lagi," tambah Saga.

Baiklah, Gisca akan menganggap pertemuannya dengan Saga untuk menukar dompet merupakan terakhir kalinya mereka bertemu.

Gisca merasa Saga adalah tipe pria yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, terbukti pria itu bisa-bisanya memiliki ide menukar dompet agar mereka bertemu lagi.

Ah, andai saja di dompetnya hanya berisi uang saja, Gisca mungkin memilih mengikhlaskannya sekalipun dirinya tidak kaya. Masalahnya adalah ... terdapat barang-barang berharga seperti kartu-kartu identitas yang akan ribet mengurusnya jika sampai kehilangannya. Sungguh, Gisca tidak mau membuang waktu hanya untuk mengurus hal-hal seperti itu.

"Foto KTP kamu cantik juga, ya?" Suara Saga kembali membuyarkan lamunan Gisca. "Eh, tapi aslinya lebih cantik, sih."

"Berisik! Enggak usah banyak omong deh. Mending kasih tahu kapan bisa balikin dompetku."

"Secepatnya dong. Bila perlu, sekarang juga bisa."

"Kamu gila?" Sumpah demi apa pun Gisca masih tidak menyangka beginilah sifat Saga, padahal tadi pria itu tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.

"Entah berapa kali kamu nyebut aku gila. Gimana kalau kamu ikutan gila juga, nemenin aku. Jadi kita gila sama-sama."

"Dasar sinting!"

Saga malah tertawa.

"Aku tunggu di basemen sekarang. Sebelum KTP punyamu aku daftarin pinjol." Saga masih terkekeh. "Buruan sekarang juga, sebelum Sela pulang."

Mengecek isi dompet Saga, Gisca ingin mengumpat saat tidak menemukan satu kartu identitas pun. Rupanya pria itu sangat niat sehingga hanya meninggalkan uang dan catatan saja.

"Dasar licik!" kesal Gisca. "Mau kamu itu apa, sih? Kamu udah punya pacar, ngapain masih ngerayu aku?"

"Ayo, aku tunggu. Aku udah sampai basemen nih." Saga sengaja mengabaikan pertanyaan Gisca.

"Gimana kalau kita ketemu Sela?"

"Itu sebabnya dari tadi aku bilang buruan, sebelum Sela pulang. Hmm, atau kamu mau dompetnya nginep di aku?"

"Astaga." Gisca terpaksa mengambil jaket yang digantung di kamar Sela. "Tunggu sebentar. Aku turun sekarang. Tapi aku cuma mau tukeran dompet aja, ya. Udah itu doang."

"Lah, memangnya mau ngapain lagi selain tuker dompet? Apa mau ngamar dulu? Aku yakin untuk sekarang kamu belum mau."

Gisca tidak menjawab pertanyaan Saga yang semakin melantur. Ia memilih memutus sambungan telepon mereka lalu bergegas menuju basemen, sambil berharap-harap cemas semoga Sela masih di kantornya. Ya, setidaknya sampai Gisca kembali ke kamar, Sela jangan sampai pulang dulu.

Sampai pada akhirnya, di sinilah Gisca berada. Di dalam sebuah mobil yang dikemudikan oleh Saga.

Tadi saat Gisca baru tiba di basemen, sebuah mobil langsung mendekat padanya. Pintu mobil pun dibuka dan Gisca dipersilakan masuk. Ah, lebih tepatnya diancam, jika tidak masuk secepatnya dikhawatirkan Sela memergoki mereka. Untuk itu Gisca terpaksa menuruti permintaan Saga untuk duduk di samping pria itu.

"Sebenarnya kita mau ke mana? Kita hanya perlu tukeran dompet, kenapa nggak di sana aja?"

Sambil menyetir dengan tenang, Saga menjawab, "Kamu serius mau ketahuan sama Sela? Dia hafal mobilku loh. Enggak lucu, kan, saat kita tukeran dompet ... Sela tiba-tiba mendekat dan memergoki kita."

"Sial. Kita nggak lagi berbuat hal vulgar. Justru kamu yang salah di sini. Bisa-bisanya kamu ngelakuin ini ke teman pacarmu yang bahkan baru kamu temui hari ini. Sumpah ya, aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu."

"Lagi berbuat vulgar atau nggak, tetap aja bahaya kalau Sela memergoki kita. Lagian tenang aja, kita nggak akan ke mana-mana, kok. Ini sekarang lagi putar balik."

"Mana dompetku?" tanya Gisca cepat.

"Sabar dong."

"Mana? Cepetan?"

"Ternyata kamu nggak sabaran ya." Sejenak Saga merogoh saku hoodie-nya. "Nih."

Secepatnya Gisca langsung mengambil alih dompetnya. Ia juga tanpa ragu langsung meletakkan dompet Saga secara sembarang di dasbor. Dan di saat yang bersamaan, ponsel Gisca bergetar tanda ada panggilan masuk.

Gawat! Itu dari Sela!

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MVR" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MVR
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Dua Pilihan
8.2
Sabrina percaya jodoh adalah rahasia Tuhan. Selama ini, ia konsisten melangitkan satu nama dalam doanya, berharap pria itu menjadi pendamping hidupnya. Namun, harapan itu pupus saat sang ayah menjodohkannya dengan Agam, pria asing yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Terjebak dalam pernikahan tanpa dasar cinta, Sabrina kini berada di persimpangan jalan. Sanggupkah ia menghapus bayang masa lalu dan membuka hatinya untuk mencintai Agam dengan tulus?
Sampul Novel CINTA YANG TERTUKAR
8.4
Kehidupan asmara Mahya, wanita kelahiran 1991, jauh dari kata sempurna karena kehadiran seorang sahabat yang manipulatif. Di balik topeng keluguan, sang sahabat terus merusak setiap hubungan cinta yang Mahya bangun. Meski sering dikhianati, Mahya yang polos tetap menaruh kepercayaan penuh pada sosok licik tersebut. Namun, sebuah kejadian tak terduga akhirnya memicu kemarahan besar dalam diri Mahya. Akankah tabir kepalsuan ini segera terungkap?
Sampul Novel Gairah Liar Dibalik Jilbab
8.7
Suasana menegang saat Arman menunjukkan hasrat terpendamnya sebelum berangkat ke Jakarta. Sang ibu terkejut ketika putranya itu mendesak dan menciumnya di atas ranjang. Meski sempat menolak dan mengingatkan tentang dosa serta hubungan darah mereka, sentuhan lembut Arman justru membangkitkan gairah yang belum pernah ia rasakan dari suaminya. Perlawanan sang ibu perlahan melemah saat ia mulai terhanyut dalam sensasi nikmat yang diberikan oleh anaknya sendiri.
Sampul Novel Hello Love Sign
8.7
Sandhya Sheina Aninditha sangat membenci keluarga Levanchois, namun terpaksa bertahan demi sebuah misi rahasia di tengah intrik kantor yang toksik. Saat ingin balas dendam dan mengundurkan diri, ia justru bertemu Samuel Clark Levanchois, pria paling berkuasa di keluarga itu. Samuel menawarkan kontrak bisnis yang menggiurkan demi membebaskan Sheina dari bos lamanya. Terjebak dalam persaingan dominasi, mampukah Sheina lepas dari jerat cinta pria yang sangat ia benci tersebut?
Sampul Novel I am Your Boss
8.2
Pasca ditinggalkan kekasih karena kondisi ekonomi yang sulit, Andra bangkit dan sukses membangun kekaisaran bisnisnya sendiri dalam enam tahun. Kini ia dikenal sebagai bos kejam dengan aturan yang sangat kaku. Namun, reputasi dinginnya mulai goyah saat seorang pelamar kerja wanita hadir di hadapannya. Pertemuan tersebut perlahan mencairkan kebekuan hati Andra dan membukanya kembali pada harapan akan cinta baru yang telah lama ia lupakan.
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Sepuluh tahun menikah, hubungan asmara antara aku dan Mas Bram tetap membara layaknya pengantin baru. Sebagai atasan perusahaan yang sibuk mengontrol cabang luar kota, ia selalu lihai menyusun alasan demi menemui diriku tanpa sepengetahuan ibunya. Pagi ini, kemesraan itu kembali hadir lewat pelukan hangat dan kecupan di leher saat aku memasak. Sosoknya yang romantis sangat memahami cara memuaskan keinginanku hingga aku tak berdaya dalam dekapan gairahnya.