Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Teman Dalam Taqwa

Teman Dalam Taqwa

Menjadi gambaran nyata tentang kekuatan hati, seorang wanita membuktikan bahwa kesabaran dan keikhlasan tiada batas adalah kunci menghadapi ujian hidup. Ia dengan lapang dada menerima takdir untuk menjalani biduk rumah tangga dalam ikatan poligami. Pengorbanan tulus yang ia tanam akhirnya membuahkan hasil yang indah, di mana ia menemukan manisnya kebahagiaan sejati yang tak terbayangkan sebelumnya sebagai balasan atas keteguhan jiwanya selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam sudah semakin larut,  aku yang saat ini tengah berada di peraduan bersama Abi Fauzan.  Entah mengapa mata ini enggan untuk terpejam, aku kembali teringat permintaan Abi Fauzan yang ingin menikah lagi. Malam yang biasanya kuhabiskan dalam lelap,  tak kutemui lagi. Mataku terjaga memikirkan setiap bait perkataan Abi Fauzan. Hati dilanda gelisah, aku seakan tak menemukan muara atas masalah yang tengah kuhadapi. 

 Kutatap lekat wajah rupawan suamiku,  salah satu ciptaan Allah yang sangat indah. Entah apa yang akan terjadi denganku apabila Abi Fauzan telah menikah lagi?  Aku seakan bimbang untuk mengizinkan poligami itu. Akan tetapi, aku tak akan membiarkan Mas Fauzan mencintai seorang wanita yang bukan mahramnya,  karena aku tahu, meski aku melarangnya untuk melakukan poligami itu, aku tidak serta merta bisa mencegah hatinya yang telah terbagi untuk tidak mencintai Humairah lagi. 

Kupejamkan mata sejenak,  membiarkan air mata ini luruh membasahi pipi.  

Aku terisak dengan lirih,  hatiku teramat sakit. Namun, harus tetap kujalani semua takdir ini. Aku harus tetap berprasangka baik pada Allah, karena yakin dan percaya, semua ini akan ada hikmahnya.  Di balik kesedihan akan ada bahagia yang menanti.  

Aku mencoba meredam semua rasa sakit ini, dengan membaca kitab suci Al Quran  yang ada di hadapanku. Setelah wajah ini telah terbasuh oleh air wudhu yang menyejukkan hati dan jiwa,  sedikit demi sedikit kesedihanku terurai seiring dengan lantunan ayat suci Al Quran yang aku lafalkan. 

Hati yang tadinya gunda dan sedih,  kini kembali terasa damai setelah melantunkan kitab suci ini. Aku tersenyum seraya menutup kitab suci ini,  setelah menyelesaikan bacaanku lebih dulu. Sebuah pelukan tiba-tiba mendarat di punggungku, membuat begitu terkejut.  Sedetik kemudian, kecupan hangat mendarat di puncak kepala dan di kening. Aku tersenyum senang, mendapatkan perlakuan itu dari Abi Fauzan yang begitu manis dan mesra. 

Kutatap lekat wajah yang masih sangat mempesona,  meski ia baru saja terjaga dari tidur. Posisi kami saat ini saling berhadapan,  sehingga aku dengan leluasa menatap wajah itu.  

“Mengapa kau menatapku begitu lekat,  Ummi?” tanya abi Fauzan. Sebuah senyuman telah tersungging indah di bibir. 

“Apa Abi akan tetap melakukan hal manis ini, meski ada bidadari lain yang akan menempati sebagian ruang hati Abi?” tanyaku. Dengan mata yang masih setia menikmati setiap inci wajah kekasih halalku. 

“Apakah ini penyebab Ummi terjaga malam ini?  Apakah Ummi memikirkan semua sikap abi pada Ummi setelah abi menikah lagi?” tanya Abi Fauzan. Sebuah usapan lembut di punggungku. 

“Apakah salah jika ummi menanyakan sikap Abi? Saat akan ada wanita  lain yang menghuni sebagian hati Abi?” tanyaku kembali. 

Abi Fauzan  semakin tersenyum lebar,  lalu membawa tubuh mungil ini ke atas pangkuannya. “Ini sudah menjadi kebiasaan Ummi, menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan kembali. Dengarkan ini baik-baik,  Ummi. Abi akan berusaha bersikap seperti biasanya kepada Ummi, sebagaimana abi bersikap setiap harinya. Ummi tidak perlu cemas, abi tidak akan merubah apa pun kebiasaan abi pada Ummi baik itu cinta dan sikap abi. Abi akan berusaha , Ummi! Jika Ummi menemukan abi mulai ingkar dan melenceng , tolong ingatkan abi kembali Ummi, karena abi hanya manusia biasa!” ujar Abi Fauzan seraya mengeratkan pelukannya. 

“Boleh Ummi menanyakan sesuatu lagi?” tanyaku kembali. Aku mengusap lembut jari jemari Abi Fauzan. 

“Tanyakan semua hal yang ingin Ummi tanyakan,  abi akan jawab semuanya.” Sebuah jawaban yang kuinginkan.

“Jika Ummi meminta Abi melupakan Humairah,  apakah Abi bisa melakukan itu?” Aku merubah posisiku,  kutatap lekat wajah suamiku yang tiba-tiba menunduk seiring pelukannya pada tubuh mungil ini mengendur. 

“Jika itu permintaan Ummi yang sesungguhnya,  abi akan berusaha melupakan Humairah meski itu sulit untuk abi lakukan!” ujar suamiku. Sebuah ucapan yang membuat hati semakin kebas, sebab rasa sakit yang tak bisa kugambarkan. 

“Apakah Abi sungguh-sungguh  dengan perkataan Abi yang ingin melupakan Humairah?” tanyaku. Aku sengaja menanyakan hal ini, sebab ingin tahu lebih dalam isi hati suamiku saat ini.

“Ya … sesuai permintaan Ummi.  Abi akan berusaha. Akan tetapi, abi tidak tahu berapa lama waktu yang abi butuhkan untuk melupakan Humairah! ” Abi Fauzan kembali menunduk. Aku bisa menebak apa yang suamiku rasakan saat ini.

Perkataannya semakin menambah perih di dalam hati. Bak luka yang disirami air garam.

“Apa sebegitu sulitnya melupakan Humairah dari dalam hati Abi? Apa yang sulit, Abi?” tanyaku kembali. 

“Entahlah, Ummi  apa yang begitu sulit. Mungkin, karena Allah sendiri yang membuat hati abi jatuh cinta kepada Humairah. Hingga, abi begitu sulit  untuk melupakan wanita itu. Cara melupakan Humairah mungkin hanya Allah yang bisa membuat abi melakukan itu, sebab rasa cinta ini, karena Dia yang memberi!” Abi Fauzan kembali tertunduk begitu dalam, setelah mengungkapkan semua yang ada di dalam hatinya.  

Aku menarik nafas panjang, menetralkan rasa sakit yang tengah menderah.  Setelah mendengar pengakuan mengenai rasa yang dimiliki untuk Humairah, aku sudah memiliki keputusan final mengenai hal ini.  

“Jika rasa cinta Abi, karena Allah.  Ummi akan mengizinkan Abi menikahi Humairah.  Ummi akan belajar mengikhlaskan Abi bersanding dengan wanita lain!” Sebuah keputusan berat yang tengah kulakukan, tanpa sadar bahu ini  bergetar menahan tangis yang begitu pilu .

“Kenapa Ummi mengizinkan abi melakukan poligami?  Padahal itu menyakiti hati Ummi sendiri?” tanya Abi Fauzan dengan serius. 

“Lantas, jika Abi tahu itu menyakiti ummi.  Lantas, mengapa Abi meminta poligami itu?” kulihat Abi Fauzan seketika terdiam, aku tahu ia tak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. 

Kuusap punggungnya dengan lembut,  lalu memegang bahunya agar lelakiku itu agar menatap ke arahku. 

“Aku tahu Abi tak bisa menjawab pertanyaan ummi,  Abi tak perlu khawatir. Ummi ridho dan belajar ikhlas menerima qadarullah yang Allah tetapkan. Mungkin, jalan inilah yang Allah pilih untukku agar menempati surga-Nya kelak.” Kusunggingkan senyuman indah di hadapannya,  agar suamiku tidak merasa cemas.

Biarlah rasa sakit ini, kutanggung sendiri. Jalan ini aku yang memilihnya, karena aku tahu  tidak ada jalan lain selain mengizinkannya. Jika cerai adalah jalan terakhirnya, maka lebih baik aku tidak bercerai.  Bukan karena aku bodoh yang mau saja di madu. Namun, banyak hal yang membuatku mempertahankan dari pada alasan untuk mengakhiri. Jika sebagian wanita memilih untuk bercerai saat lelakinya meminta poligami,  maka pilihanku berbeda aku lebih memilih bertahan, karena keyakinan hatiku pada Allah yang begitu besar. Biarlah kujalani ini dengan ikhlas sebagai bentuk bakti kepada suami yang memang pantas mendapatkannya. 

 Aku mencintai suamiku, karena Allah. Biarkan dunia mengatakan aku wanita bodoh! Aku tidak peduli akan hal itu, karena rumah tangga ini aku yang menjalani,  baik buruknya sudah kupikirkan lebih dulu. 

“Terima kasih, Ummi. Terima kasih atas segala pengorbananmu!” Abi Fauzan kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil ini. 

Tak terasa adzan subuh telah berkumandang, aku dan Abi Fauzan saling menatap, lalu menyudahi perbincangan kami tadi. 

“Ayo kita menunaikan sholat subuh dulu, Bi. Tak terasa kita berbincang hingga subuh menjelang!” Aku menarik diri dari pelukan suamiku. 

Tanpa berkata apa pun, Abi Fauzan melangkah menuju kamar mandi. Mengambil wudhu lalu melangkah keluar kamar menuju mushola rumah. Kami melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dengan khusyu. Kutinggalkan sejenak urusan duniawi yang tengah dihadapi, waktunya untuk menghadap Sang Khalik.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bercerai dengan Suami Miskin
8.0
Tiga tahun membina rumah tangga, sang istri rela menanggung seluruh biaya hidup karena mengira suaminya terlilit utang. Pria itu bahkan melarangnya membeli tas murah seharga ratusan ribu. Namun, kebohongan besar terungkap saat sang istri mengetahui suaminya memberikan hadiah kalung berlian senilai delapan miliar rupiah untuk ulang tahun cinta pertamanya. Lelaki yang dianggapnya miskin tersebut rupanya adalah pewaris tunggal dinasti konglomerat yang memiliki kekayaan triliunan rupiah.
Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Bonekamu
8.3
Ariana terjebak pernikahan tanpa cinta dengan Daniel Aldrigham demi wasiat ayahnya yang sakit. Daniel ternyata memiliki kekasih gelap, sementara ayah mertuanya sengaja memanfaatkan Ariana sebagai alat untuk memisahkan mereka. Di tengah pengkhianatan dan manipulasi keluarga kaya ini, Ariana harus memilih: menjadi boneka penurut atau berbalik melawan demi harga dirinya. Akankah ia berhasil menaklukkan hati Daniel yang dingin, atau justru hancur dalam permainan ini?
Sampul Novel Cinta Itu Luka
8.9
Hidup Nur Alia hancur setelah kehilangan lima calon buah hati akibat keguguran dan janin tak berkembang. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru didepresi dan difitnah mandul oleh suaminya sendiri. Kehadiran sosok baru yang semula menjanjikan kesembuhan malah menorehkan luka yang lebih perih. Namun, di tengah keputusasaan dan keraguan akan cinta, sebuah keajaiban datang saat Tuhan menitipkan dua malaikat kecil di rahim yang sebelumnya dianggap tak berdaya.
Sampul Novel Dua Pria, Satu Permaisuri
9.6
Meskipun kehilangan penglihatan sejak kecil, Wulan tumbuh menjadi terapis pijat ternama berkat bimbingan ibu asuhnya. Namun, kehidupannya berubah saat seorang pelanggan penting datang ke tempatnya. Pria tersebut menuntut pelayanan yang sangat berbeda dari biasanya. Tanpa ragu, ia menarik pakaian Wulan dan menuangkan minyak pijat ke atas dada sang terapis, memaksa perempuan tunanetra tersebut untuk melayaninya dengan cara yang tidak biasa.
Sampul Novel Garis Cinta
8.2
Diza sontak melayangkan protes saat merasakan perlakuan kasar dari kekasihnya. Menanggapi keluhan tersebut, Rayden segera meminta maaf dengan nada lembut. Pria itu berjanji akan melanjutkan interaksi mereka secara lebih perlahan dan berhati-hati. Sembari menenangkan suasana, Rayden mulai melonggarkan dasi yang telah melilit lehernya selama berjam-jam demi memberikan kenyamanan lebih bagi mereka berdua dalam momen intim yang penuh dengan ketegangan romantis tersebut.
Sampul Novel ISTRI LUMPUH TUAN NATHAN
8.0
Violetta harus menelan kenyataan pahit dalam pernikahannya dengan Nathan. Meski telah memberikan seluruh hatinya, ia menyadari bahwa cinta tulus yang ia harapkan tidak akan pernah terbalas. Nathan tetap menjaga jarak yang tak tertembus, membuat Violetta merasa seperti orang asing yang tak dianggap. Harapan untuk menjadi bagian utuh dari hidup pria itu sirna, meninggalkan luka mendalam bagi Violetta yang terabaikan dalam hubungan yang dingin ini.