
Teman Dalam Taqwa
Bab 3
Fajar mulai menyingsing, aku beranjak dari mushola menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk dua orang yang kusayangi, harta yang tak terhingga yang kumiliki, dialah Abi Fauzan suamiku, dan Aisyah putri kecilku yang cantik.
Aku tetap menjalani aktivitas seperti biasanya, melayani suami dengan sepenuh hati meski tahu jika hatinya saat ini telah terbagi dengan wanita lain. Terlepas dari semua itu, tak membuatku menurunkan bakti pada Abi Fauzan. Aku tetap menempatkan dia di tempat tertinggi dalam hati, tetap menghargai dan menghormatinya sebagai imamku.
Di tengah aku menyiapkan sarapan pagi, sebuah lengan tiba-tiba melingkar mesra di pinggang. Aku tetap fokus menyiapkan sarapan pagi itu, meski Abi Fauzan tetap melingkarkan tangannya di pinggang. Hingga sebuah pertanyaan terlontar di bibirnya.
“Ummi, apa ada yang bisa abi bantu?” tanya lelakiku itu.
“Ada ….” Aku berbalik menatapnya dengan lekat lalu berkata, “ Abi cukup duduk diam di sana, itu sudah membantu ummi. Sebab jika Abi berada di sekitar ummi, Abi hanya memperlambat pekerjaan ummi,” ucapku. Aku lalu menarik tangan Abi Fauzan menuju salah satu kursi meja makan, dan menyuruhnya duduk.
“Ini sih sama saja abi tidak melakukan apa pun!” gerutu abi Fauzan dengan wajah cemberut.
“Abi duduk diam di kursi itu sudah membantu ummi, kok. Jadi … Abi cukup duduk dengan manis!” jawabku disertai senyuman yang manis.
Pagi itu kami lewati dengan penuh kehangatan, hingga teriakan si kecil Aisyah mengalihkan perhatian kami berdua. Aisyah berlari ke arah kami berdua, dengan boneka kesayangan di tangannya.
“Abi, boleh Aii duduk di pangkuan Abi?” tanya Aisyah.
“ Tentu saja, sayang.” Abi Fauzan lalu mengangkat tubuh mungil Aisyah ke atas pangkuannya.
Tawa riang Aisyah menjadi melodi di pagi hari saat kami tengah berada di dapur. Mungkin, sebagian keluarga, meja makan dan dapur hanya digunakan untuk memasak dan menyantap masakan saja. Akan tetapi, tidak dengan keluarga kecilku. Hampir setiap pagi, kami menghabiskan waktu di dapur dan meja makan ini, kehangatan keluarga kecilku tercipta dan berawal di ruangan yang sederhana ini.
Keakraban yang tercipta antara suami dan anakku, menjadi salah satu poin penting agar tetap bertahan di sisi suamiku. Inilah salah satu sebab aku memilih untuk dimadu, daripada harus bercerai. Aku tak akan sanggup melihat tawa riang putri kecilku, berganti menjadi tangisan. Jika aku memutuskan untuk bercerai dari Abi Fauzan.
‘Semoga Abi Fauzan tidak berubah setelah ia memiliki istri lagi.’ Batinku seraya menatap dalam diam Aisyah dan Abi Fauzan.
Setelah menu sarapan pagi telah selesai, aku lalu menghidangkan di atas meja, dengan segelas susu coklat kesukaan Aisyah.
“Wah … nasi goreng buatan Ummi pasti enak!” teriak Aisyah dengan riang.
“Tentu saja, sayang! Nasi goreng buatan Ummi yang terenak!” ujar suamiku. Membuat senyuman tersungging dengan indah sebab, aku begitu bahagia. Saat melihat keakraban seorang Ayah dan putrinya.
“Ayo ikut sarapan bersama kami, Ummi! Kenapa Ummi hanya berdiam diri seperti itu?" tanya Aisyah. Tak lupa menarik tanganku agar duduk di kursi.
“Terima kasih, Sayang. Ummi pasti akan sarapan bersama kalian!” Aku lalu menghidangkan nasi goreng buatanku ke piring Aisyah dan Abi Fauzan. Kami menghabiskan sarapan itu dalam diam, begitu pun dengan Aisyah. Setelah memimpin doa makan, gadis kecilku tampak sudah tahu kebiasaan yang ada di rumah saat, kita akan menikmati makanan.
“Alhamdulillah …,” ujar Abi Fauzan setelah menyelesaikan sarapannya.
Saat akan meninggalkan meja makan, aku mencekal pergelangan tangannya meminta untuk duduk kembali. Sementara Aisyah, sudah sejak tadi bermain boneka di ruang tengah setelah menyelesaikan sarapannya.
kutatap wajah suamiku, masih dengan tangan yang memegang tangannya, aku tersenyum seraya berkata, “Duduklah sebentar, Abi. Ummi ingin bertanya sesuatu.”
“Apa yang ingin Ummi tanyakan?” Abi Fauzan menatapku begitu lekat
“Apakah Abi saat ini tengah sibuk?” tanyaku.
“Tidak terlalu sibuk, Ummi. Memangnya kenapa?” tanya Abi Fauzan.
“Apakah Abi bisa mengantar ummi ke rumah ayah Arsyad?” Aku menatap wajah suamiku yang tiba-tiba terkejut setelah mendengar perkataanku.
“Abi akan mengantar Ummi kesana. Akan tetapi, boleh abi tahu untuk apa Ummi ingin bertemu abi Arsyad?” tanya suamiku. Bisa kusimpulkan ada rasa cemas dan takut di sana.
“Ummi akan mengatakan niat Abi pada ayah Arsyad. Ummi ingin Ayah tahu, jika Abi hendak melakukan poligami. Ummi tidak mempunyai maksud tidak baik, Abi. Ummi hanya ingin Ayah Arsyad meridhoi keputusan Abi dan ummi, agar kelak tidak menimbulkan masalah di kemudian hari!” Raut cemas itu masih tergambar jelas pada wajah rupawab Abi Fauzan
“Abi tahu maksud, Ummi. Hanya saja….” Abi Fauzan tampak ragu melanjutkan ucapannya.
“Katakanlah, Abi. Jangan ragu, ummi akan mendengarkan Abi.” Aku mendorong kursi kayu ini agar jarak kami lebih dekat, lalu menggenggam erat tangan suamiku agar tidak ada keraguan di hatinya lagi.
“Abi tak sanggup menghadapi abi Arsyad, Ummi. Abi malu bertemu dengannya!” ungkap suamiku.
Aku tersenyum lalu mengusap lembut tangannya, “Abi sudah menentukan jalan ini. Jadi, Abi juga yang harus melewati semua rintangan yang ada di jalan itu.”
“Abi tenang saja, Ummi akan membantu Abi menjelaskan semuanya. Ummi tahu karakter ayah Arsyad, ayah Arsyad adalah lelaki bijaksana. Beliau tidak akan melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu!” Aku berusaha menyakinkan suamiku, agar mau berterus terang kepada Ayahku mengenai niatnya itu.
Terlihat Abi Fauzan menghembuskan nafas panjang, seraya menatapku begitu lekat, lalu mengusap jari jemariku dengan lembut disertai senyuman yang begitu indah.
“Baiklah! Abi akan mengantar Ummi ke rumah abi Arsyad. Ummi berkata benar, jika abi harus berani mengutarakan niat abi untuk poligami, pada abi Arsyad!” Meski ada nada keraguan, Abi Fauzan ternyata setuju untuk bertemu mertuanya.
“Kalau begitu, ummi akan bersiap-siap dulu. Ayo … Abi juga harus bersiap-siap.”Aku dan abi Fauzan melangkah menuju kamar dengan tangan yang saling menggenggam.
Sementara Aisyah, telah berada di dalam kamarnya. Menungguku di sana untuk bersiap juga.
Saat aku dan Abi Fauzan berada di dalam kamar, aku segera mempersiapkan satu stel pakaian yang akan digunakan ke rumah ayah Arsyad.Tak lupa mengambil handuk dan menyuruh suamiku masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Abi Fauzan sedang mandi, aku buru-buru melangkah menuju kamar Aisyah mempersiapkan putriku juga, karena ia akan ikut bersamaku ke rumah kakeknya.
“Hore … kita akan ke rumah Kakek. Aii senang sekali, Ummi!” Aisyah mengecup pipiku dengan tawa yang riang. Ia begitu bahagia setelah tahu kita akan berkunjung ke rumah ayah Arsyad, kakeknya.
“Ummi ….” Abi Fauzan berteriak memanggilku. Beruntung, saat ini Aisyah sudah selesai bersiap.
Aku melangkah menjauh dari dalam kamar Aisyah dan melangkah masuk ke dalam kamarku. Di dalam kamar tampak Abi Fauzan tengah bersiap.
“Ada apa Abi mencariku?” Aku melangkah menghampirinya, seraya mengambil handuk basah yang diletakkan di atas bed.
“Kebiasaan nih, si Abi. Handuk basah jangan diletakkan di sini, dong!” ujarku dengan wajah cemberut.
“Ummi cantik banget sih! Kalau lagi cemberut gini!” Abi Fauzan mengecup pipiku dengan mesra.
“Dasar mesum!” Aku mencubit gemas tangan Abi Fauzan.
“Kok, mesum sih, Ummi?” tanya Abi Fauzan. Ia menggapai tubuh mungil ini kedalam pelukannya.
“Tetaplah seperti ini, Ummi. Jangan pernah berubah.”
“Ummi tidak akan pernah merubah apa pun yang ada pada diri ummi, Abi. Akan tetapi, jika Abi merasa ummi mulai berubah, jangan tanyakan itu pada ummi. Tanyakan pada diri Abi sendiri, apa sebab ummi bisa berubah, karena perubahan sikap ummi, tergantung dari Abi memperlakukan ummi nanti, saat ada bidadari lain yang bertahta di sini!” Aku menunjuk dada kekasih halalku, dengan senyuman yang tersungging di bibir.
Kulihat Abi Fauzan tertunduk, sedetik kemudian ia mengangkat wajahnya seraya menampilkan senyuman khas miliknya.
“Abi tidak akan berubah hanya, karena seseorang. Ummi tenang saja!” ujar Abi Fauzan.
“Kita lihat saja nanti. Kalau begitu, ummi mau bersiap-siap juga, lalu ke rumah ayah Arsyad.” Aku lalu bangkit dan melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Abi Fauzan yang menatapku dalam diam.
Aku berbalik sebelum benar benar menjauh, wajah cemas itu kembali tampak di wajahnya. Membuatku menarik nafas panjang sebelum melanjutkan langkahku kembali.
“Aaakhhh ….”
Anda Mungkin Juga Suka





