
Teacher on Escape
Bab 3
Medan, Februari 2019
Hari ini sabtu, sekolah tempat Vina mengajar tidak melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasa karena sekolah menerapkan kebijakan five days school. Vina duduk bersantai di karpet sambil menonton TV bersama Andri, pacarnya. Film korea 'Parasite', setelah melalui perdebatan, akhirnya terpilih untuk ditonton hari ini.
"Ya ampun, nggak nyangka kalau di Korea ternyata ada juga daerah kumuh ya. Kirain nggak ada lagi sobat missqueen disana" Ucap Vina sambil mengelus-elus rambut Andri yang rebahan di pangkuannya.
"Pasti adalah sayang, semua negara pasti punya penduduk miskin bukan hanya di Indonesia. Bedanya orang kita lebih gampang iba dan membantu orang yang kesulitan makanya makin banyak orang yang menjual cerita sedih untuk bertahan hidup" Jawab Andri sambil me-remas pelan tangan pacarnya.
Keduanya pun kembali serius menatap layar TV sambil menikmati jalannya cerita. Sesekali Vina memberi komentar receh khas cewek-cewek yang sebisanya di jawab singkat atau terkadang hanya ditanggapi dengan "oh", " Heh", "iya yang" Oleh Andri.
Scene demi scene terus berlanjut hingga tiba pada adegan nyonya Park yang diperankan oleh aktris Cho Yeo Jeong beradegan panas dengan sang suami, Tuan Park. Tanpa sadar, tangan Andri mencengkeram tangan Vina semakin kuat, menelan ludah, hingga akhirnya dengan suara serak ia bergumam
"Yang, I feel hot"
Vina hanya mendengus sambil memutar bola matanya jengah
"So what? Aku harus bilang WOW? "
"Yaanng, Kiss me dong" Pintanya memelas
"Shut up, ayok masak. Udah kubeli tadi bahan-bahannya" Ujarnya sambil berdiri
Bukan Andri namanya kalau langsung menyerah. Sigap ia menarik tangan Vina sampai dia terduduk kembali lalu memagut bibirnya yang ranum, membungkam semua protes yang hendak terucap.
Mulanya Vina mencoba melawan, tetapi Andri dengan sabar menuntun ia menikmati kecupannya. Awalnya ciuman yang selembut kapas namun ketika Vina lengah, lidah Andri langsung menerobos masuk dan ia mulai menciumi Vina dengan intens.
Lidah Andri bergerilya, mulai dari mulut Vina lalu ke lehernya sementara tangannya mulai menyusup ke balik blouse-nya. Diremasnya pelan dada Vina yang kecil tetapi padat, napas keduanya semakin memburu dan tanpa sadar Vina mengeluarkan erangan kecil yang memalukan.
Saat mereka sedang sibuk memadu kasih, alarm di otak Vina berdering, menyadarkannya untuk tidak bertindak lebih jauh. Dia pun menahan hasratnya lalu segera menepiskan tangan Andri dari tubuhnya.
"Stop bocah tengil. Sudah sana, siram kepalanya pakai air dingin di kamar mandi"
"Hah, maaf sayang terbawa suasana" Sahut Andri dengan napas yang tersengal sambil memeluk Vina
"I know, makanya memang lebih bagus kencan di luar. Kalau kencan di rumah, ya begini kejadiannya" Vina melepaskan diri dari pelukan Andri lalu menarik tangan Andri
"Sudah sana, masuk ke kamar mandi dan cuci muka. Aduh, sempat bapak tahu aku mengijinkan diriku digrepe - grepe anak orang, bakalan datang beliau kemari sambil bawa bazoka"
"Hahaha, tenang sayang palingan aku yang mati duluan" Kata Andri sambil merangkul pundak Vina
"Isss, dikira lucu mati konyol. Udah ah, sana cuci muka habis itu bantuin aku masak lunch kita"
"Oke sayang"
Andri pun pergi ke kamar mandi sementara Vina mulai ke dapur menyiapkan bahan yang akan dimasak. Tinggallah televisi yang masih menyala sendirian di ruang tamu.
Dua tahun lalu Vina memutuskan untuk membeli rumah dengan fasilitas KPR, sudah bosan dia harus berbagi kontrakan dengan orang lain. Vina memang hidup sendirian di kota Medan.
Kedua orang tuanya tinggal di Pekanbaru, pun abangnya laki-kaki yang seorang polisi juga tinggal disana, sementara adik perempuan tinggal di Tanjung Pinang. Sudah sepuluh tahun dia merantau di kota Medan.
Niat awal hanya untuk kuliah, tak disangka dia mendapat pekerjaan dan pacar orang Medan. Jadilah Vina betah jadi warga Sumatra Utara, tak berniat lagi pulang ke Riau.
Sejurus kemudian, keduanya pun mulai sibuk dengan kegiatan memasak mereka. Andri sibuk memotong sayuran sementara Vina mengulek sambal sambil sesekali memberi instruksi.
"Nanti sayurannya langsung rebus di dalam panci yang di atas kompor ya bang. Tiga menit aja, langsung angkat, masukkan dalam baskom berisi air es batu di atas meja biar warnanya tetap cerah"
"Nggih Ndoro"
"Terus jus wortel yang didalam blender disaring ya sayang. Masukkan perasan jeruk nipis biar nggak langu. Jeruk nipis ada di dalam kulkas"
"Baik nyonya"
Setelah berkutat lebih kurang 1 jam di dapur, makan siang pun siap. Ada ayam geprek, sambal terasi, lalapan sayur, dan jus wortel.
Keduanya lahap menikmati makan siang yang sederhana namun terasa sangat nikmat.
Handphone Vina yang ada di atas meja bergetar lalu Andri membuka isi pesannya.
"Dari siapa? " Tanya Vina sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Dari grup GBHN"
"Oh, dari temanku di sekolah. Sini aku balas"
Vina mengetik beberapa kata sambil tersenyum lalu meletakkan ponselnya kembali.
"Apa itu GBHN? " Tanya Andri heran
"Oh, itu singkatan dari grup kami, Gaya Banyak Hasil Nol, hahaha"
"Aih, ada-ada aja lho kalian. Bikin nama bagusan dikitlah" Ejek Andri tak habis pikir dengan kelakuan Vina dan teman-temannya.
"Itu yang paling bagus terpikirkan otak kami yang dangkal, hahaha. Nanti antar aku ya ke Multatuli. Mau hang out sama kawan-kawan"
"Oke, jam berapa? Pulang siapa yang antar? "
"Jam tujuh sore ngumpulnya, nanti pulang di antar temanku si Hadi. Dia tinggal di daerah sini juga. Nggak apa-apa kan? "
"Nggak apa-apa, yang penting tahu batasan" Sahut Andri tegas
Keduanya pun melanjutkan makan siang yang sempat tertunda.
***
Tepat pukul 07.00 WIB, Vina tiba di kafe langganan mereka, ternyata semua anggota grup GBHN sudah nangkring manis disana. Hadi yang rakus mulai menyeruput es boba nya sedangkan yang lain masih sibuk dengan gawainya.
Vina berjalan ke arah teman-temannya dan Baskoro sigap menarik kursi yang disebelahnya untuk Vina duduki. Meja yang mereka pilih berbentuk bundar sedangkan kursinya berupa sofa yang nyaman dilapisi kulit yang lembut, bikin pengen tidur.
"Kok lama kau nyampe Say? " Winda memulai pembicaraan
"Biasa kak, kencan dulu pasti sama Bang Andri" Tukas Joyce
"Iyalah, mana mungkin nggak dapat jatah pas malam minggu" Intan menimpali
"Amboiiii, bibirnya ya. Jatah apaan? Cuma sikitnya, hahaha" Balas Vina tak mau kalah
Para pria yang semeja dengan mereka hanya tersenyum maklum. Sebagai guru yang selalu harus tampil tak bercela di sekolah, ada kalanya mereka harus melepaskan topeng 'sempurna' itu agar kembali menjadi manusia.
"Idih, sa-nge kali loh kalian bahas-bahas jatah jam segini, nanti si Baskoro pengen baru tahu kalian" Ejek Denny sok polos
"Nggak apa-apa, ada Vina kok di sebelah ku. Pasti dia nggak mau nengok aku tersiksa, ya kan Say? "
"Dih, gaya mu anak muda. Coba ada Vanny langsung mingkem lambe-mu itu" Cecar Hadi
"Entah si Baskoro Silkoro ini. Sok flirting, tapi nggak jelas. Bikin ngarep mode on" Vina menambahi
"Yakin? Nanti kau yang nggak mau sama aku? " Kata Baskoro sambil menatap mata Vina dalam-dalam
Deg.
Jantung Vina berdetak kencang. Tak bisa dipungkiri Baskoro pria yang menawan baik secara fisik dan sikap, apalagi selama ini Baskoro cukup memberi sinyal kalau dia tertarik pada Vina dan mereka juga satu iman. Andai saja belum ada Andri disisinya, mungkin Baskoro bisa menjadi pilihan. But again tidak ada seandainya yang nyata.
"Alah, udahlah ireng jadi kenyang perutku gara-gara kau, terus sok playboy. Bentar putus kau sama Vanny, bentar lagi nyambung. Habis itu flirting kau sama gadis baik-baik macam kami ini" Ujar Intan
"Kami? Nggak ada aku flirting sama kau ya, sorry"
"Hahahahaha"
Sontak mereka semua tertawa ngakak, sampai-sampai dilihatin tamu yang lain. Ini guru-guru memang nggak ada jaim nya.
"Jadi gimana woy, pesan apa kita? Dari tadi udah kenyang makan angin" Tukas Denny
"Aku mau pesan nasi sama rawon"
"Aku pesan nasi goreng komplit"
"Aku pesan nasi sama ayam goreng mentega"
Masing-masing mereka menyebutkan pesanan sementara Winda kebagian tugas mencatat semuanya sebelum menyerahkan ke waiter yang berjaga di dekat meja mereka.
"Iss, malu aku duduk sama kalian. Udah dilihatin kita sama tamu-tamu yang lain" Ucap Hadi
"Yaudah, sana duduk di emperan jadi kang parkir" Balas Baskoro
"Ngomong kau lagi ireng, ini semua gara-gara kau dari tadi. Imej ku yang sempurna jadi luruh tak bersisa"
"Kok aku pula?" Balas Baskoro tak mau kalah
"Iyalah, siapa suruh kau hitam, jadinya teruslah kau jadi kambing hitam soalnya kambing putih nggak ada" Sahut Vina galak
"Hahahaha"
Sekali lagi tawa mereka yang membahana menjadi pusat perhatian tamu-tamu kafe yang lain.
"Isss, udahan kenapa sih woy? Ribut kali lho. Diusir nanti kita dari sini" Kata Joyce
"Iya woy, agak kalem dikit kita. Jangan jadi headline news pula besok 'sekelompok guru diusir gara-gara mengkambing-hitamkan teman mereka yang hitam' kan malu kita" Kata Winda menasehati
Kali ini mereka hanya bisa menahan tawa sampai tenggorokan serasa tercekik.
Untungnya pada saat yang genting ini menu pesanan mulai diantar pramusaji. Mereka pun mulai sibuk mengunyah makanan yang dipesan, sesekali dentingan sendok terdengar beradu dengan piring dan gelas.
Acara makan malam itu diselingi dengan canda dan tawa untuk mencairkan suasana.
Dua puluh menit kemudian, satu persatu mulai menyudahi makanannya, diakhiri oleh Denny yang memang terkenal paling lelet di antara mereka. Puas makan mulailah mereka sibuk dengan gawai, ada pula yang sibuk menghitung bill.
"Jo, kok cepat kali menghitung bill? Udah mau langsung pulang kau? " Tanya Intan melihat Joyce yang mulai kasak kusuk
"Iya Say, bentar lagi pacar aku mau nelpon. Nanti kalau dia tahu aku keluar bareng cowok-cowok, aku bakal dimarahi"
"Idih, toxic kali pacarmu Jo. Ngapain dipacarin model begitu? " Tanya Baskoro yang langsung disambut dengan cubitan Vina di lengannya.
Winda pun menatap mereka semua agar tidak mempersulit situasi Joyce. Lalu ia membantu menghitung bill masing-masing sementara Vina dan yang lain membayar tagihan mereka pada Winda untuk memudahkan pembayaran.
Hanya Intan yang belum bergerak. Dia masih sibuk membongkar-bongkar isi dompetnya.
"Sini Intan, bill mu harganya 85 ribu. Kasihkan aja cepek biar ku balikkan lima belas ribu" Kata Winda sambil membuka dompetnya
Hais, nggak nyangka semahal itu bill-ku. Nggak cukup uangku soalnya ini akhir bulan. Ada yang bisa pinjamin nggak?"
"Ckckck, teruslah kau gitu Ntan. Makan-makan harus ditempat yang instagramable tapi nggak sanggup bayar. Sini kurang berapa uangmu? Uangku aja dulu pakai nanti pas gajian dibayar? " Jawab Joyce
"Nggak bisa bayarnya pake doa aja" Tanya Intan tanpa rasa malu
"Cuih, enyah dari hadapanku, hai kamu si pembuat utang. Sudah kemarikan uang mu biar ku gabung sama bill ku" Sahut Joyce ketus
Lalu masalah pembayaran pun selesai setelah mereka lelah 'meroasting' Intan.
Begitulah sahabat, saling mengejek, saling bercanda, namun saling menutupi apa yang kurang. Sejurus kemudian Joyce pun pamit pada teman-temannya.
"Guys, aku cus duluan. Maaf ya, kutinggal. Next meeting aku stay lebih lama, bye..." Sambil mengambil jaket, helm, dan tas nya ia pun berlalu.
Teman-temannya hanya bisa menatap kepergiannya dengan rasa sesal. Dulu sebelum punya pacar, Joyce pribadi yang ceria dan bebas. Sekarang setelah pacaran dia sering galau dan terkekang. Tapi lucunya Joyce nggak mau putus dari sang kekasih.
"Kasian kali aku nengok anak ini" Iba Winda
"Biarinlah, pilihan dia kok. Kemarin kutembak nggak mau dia" Seloroh Denny
"Iyalah, Wong kau cuma guru swasta kere berperut buncit, hahaha" Ejek Baskoro
"Isss, jangan kau hina si Denny itu Reng, kawan kita itu, iya kan Den" Ucap Vina sok akrab sambil mengusap perut Denny yang besar
Puas mempermainkan perut Denny, Vina menoleh pada Hadi dan menyampaikan hajatnya.
"Hadi, nanti kita pulang bareng ya"
"Oke, gampang itu. Tapi KTP ya" Cengir Hadi lebar yang membuat perasaan Vina nggak nyaman.
"Apa pula itu? Jangan aneh-anah kau Di"
"Kena Te-tek Prei"
"Isss, najis kau Di. Dasar guru Biologi cabul" Seru Vina kesal
Lalu merekapun rame-rame me-roasting Hadi dan teman yang lain, siapapun yang bisa di roasting.
Mereka memutuskan untuk pulang tepat pukul sepuluh malam setelah puas bercanda dan meng-order makanan lagi dan lagi.
Mari lupakan pacar malam ini. Hidup untuk teman.
Anda Mungkin Juga Suka





