
Tawanan Hati Sang Penguasa
Bab 2
Lavi menggigil bukan lantaran dingin yang menyapa permukaan kulitnya. Tapi karena sakit yang mendera di sekitar dada. Rasa ngilu itu membuat hampir seluruh tubuhnya terbakar. Ia bahkan tak berani sekadar melirik pada bagian luka yang terasa perih serta sakit sekali ini.
“Kurang ajar!” desisnya tak terima. Tangannya terus mengepal untuk membantu melenyapkan muak yang semakin membumbung tinggi. Hanya pada satu sosok yang meninggalkan ia begitu saja di ruangan pengap penuh dengan asap rokok itu. Pria yang sudah ia ikrarkan untuk dibenci sepanjang usianya.
Sekali lagi, ia meringis kesakitan.
Tak lama setelah ditinggalkan tadi, ada seorang wanita bertampang dingin dan kaku menghampirinya. Bukannya bertanya apa yang Lavi rasakan, malah Lavi dapatkan satu jambakan kuat hingga ia merasa, banyak helaian rambutnya lepas.
Sialan wanita itu!
Ditahan segala sakit yang dirasakan sekarang. Jangan sampai ada jeritan meminta belas kasih, karena Lavi yakin, semua orang yang ada di tempat ini tak memiliki hati.
“Gue bisa jalan sendiri!” hardik Lavi tak terima. Berusaha melepaskan diri tapi kekuatan wanita itu cukup kuat. Apa dia wanita jelmaan pria? Tapi tidak. Wajahnya dirias dengan make up yang cukup tebal. Pemilihan warna merah pada bibirnya semakin mempertegas kalau wanita ini tak ingin berurusan dengan Lavi. Apa Lavi ingin bertemu wanita ini?
Mana mungkin!
“Jangan banyak omong! Ikut saja!”
“Lepas!!!” Lavi mencekal tangan yang masih menjambak rambutnya itu.
Si wanita tadi, melirik sekilas lalu menyeringai tipis. Dalam sekali tarikan, ia sedikit membuat Lavi terhuyung dan terjatuh menubruk tembok yang ada di samping kanannya.
“Sudah gue lepas,” katanya dengan kekehan.
Lavi menatap si wanita dengan sorot tajam dan ia ingat baik-baik wajah yang kini berjalan dengan angkuhnya. Suatu saat nanti, akan ia balas perlakuan kasar wanita ini. Dari gerak jemarinya yang terkesan meremehkan, ia ingin agar Lavi mengikutinya. Lavi pun segera bangkit seraya berdecih tak suka. Meski gemetaran karena sakit yang mendera dadanya semakin terasa.
Sementara wanita tadi, Tari namanya, berjalan dengan dengusan kesal. Ia tak menyangka kalau ada wanita baru di rumah empat lantai yang dijadikan markas Naga Kembar.
Rumah milik sang penguasa Bagian Selatan, pemilik klan Naga Kembar, Benjamin Noah Prasetyo, atau yang lebih senang dipanggil ‘Pras’. Sang pemimpin yang dikenal kejam. Tak peduli apa yang menghalangi. Kalau tujuan itu sudah ia tetapkan maka kemenangan harus ada di tangannya. Pemimpin Bagian Selatan yang disegani baik kawan juga lawan. Menguasai wilayah yang cukup luas di Bagian Selatan ini.
Semua kegiatan dunia penuh dengan kegelapan; narkoba, perjudian, prostitusi, klub malam, korupsi dengan banyak pihak untuk melancarkan urusan, pembunuh bayaran, pengawal bayaran, serta banyak lagi yang lainnya, dipimpin oleh Pras langsung. Ia bahkan tak segan untuk turun tangan begitu ada masalah yang melibatkan Bagian Selatan.
Tari membenci gadis yang berjalan di belakang meski tak ia kenali namanya. Ia tak sudi berjabat tangan dengan gadis ini. Bahkan nantinya, akan ia tunjukkan siapa yang berkuasa di rumah besar ini. Terutama karena Tari adalah wanita yang paling dekat dengan Pras saat ini. Keadaan itu berjalan sudah hampir dua tahun lamanya. Tari bisa merasakan banyak keuntungan berada di dekat Pras terutama dalam hal kuasa.
Siapa yang tak mengenal Tari? Wanita dari Pras yang disegani? Pras tak pernah berkunjung ke ruangan lain selain milik Tari. Wanita yang ada di rumah ini ada beberapa, tapi semuanya patuh pada perintah Tari. Namun, ia merasa kedatangan gadis yang tadi ia temui, sangat mengganggunya.
Bagaimana tidak?
Dua jam sebelum kedatangan Lavi.
Satu demi satu Tari melucuti pakaiannya. Bergerak sesensual mungkin untuk menarik perhatian Pras yang duduk di tepian ranjang. Mata sang penguasa menatapnya lekat. Hal itu juga yang membuat Tari bersemangat untuk terus menggoda Pras. Lagi pula, sudah hampir seminggu Pras tak pulang. Katanya, ada urusan di Bagian Timur. Dan orang yang pertama dikunjungi Pras adalah Tari.
Siapa yang tak berbunga-bunga mendapatkan perlakuan sespesial ini dari penguasa yang terkenal namanya sampai penjuru wilayah?
Kimono yang dikenakan sebagai pelapis terluar dari lingerie, menyapa lantai dengan gerak yang demikian lambat. Sengaja. Meski nantinya Pras bermain dengan kasar, Tari menggoda dengan kelembutan yang ia miliki.
Dadanya yang hanya separuh terbungkus kain tipis berwarna merah, tersembul menantang. Tari tahu kalau Pras paling suka menyentuh bagian tubuh yang sedang dipamerkan itu. Bagaimana remasan serta pijatan lembut yang nantinya akan Tari terima dari Pras, sudah membuat hilang akal. Tapi Tari tak ingin segera melempar diri dan langsung menuju inti permainan mereka yang penuh dengan desah nantinya.
Sabar.
Tari masih ingin meliuk penuh godaan tepat di depan Pras. Di bawah pencahayaan lampu kamar yang temaram, justru menambah nilai intim di antara mereka berdua. sengaja Tari mengusap lengannya dengan sesensual mungkin. Kakinya yang jenjang juga ia buat melangkah dengan gerak dramatis. Hingga akhirnya langkah itu terhenti di depan Pras.
“Aku kangen,” kata Tari sembari menunduk, berbisik, dan membiarkan sorot mata Pras jatuh pada belahan dadanya. “Abang kangenkah?”
Tangan pria itu langsung menahan pinggang Tari agar tak banyak bergerak. Sedikit mengangkatnya untuk duduk di pangkuan Pras. Hal ini langsung membuat Tari tersenyum lebar.
“Enggak sabar, ya, Bang?”
Anda Mungkin Juga Suka





