Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tawanan Hati Sang Penguasa

Tawanan Hati Sang Penguasa

Pras bertekad menghancurkan kesombongan Lavi dan menjadikannya tawanan pemuas nafsu melalui sebuah ancaman besar. Namun, fokus sang penguasa teralih saat ia harus membalaskan kematian Tony demi prinsip nyawa bayar nyawa. Di tengah penyelidikan yang menyeret organisasi Quassano, musuh justru menjadikan Lavi sebagai tameng. Kini Pras harus memilih: membiarkan gadis itu celaka atau mempertaruhkan seluruh kekuasaannya demi menyelamatkan Lavi.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Menurut lo saja?” Tangan satunya, Pras gunakan untuk meremas dada yang sejak tadi menantangnya untuk disentuh. “Gerak di atas sini. Jangan diam,” perintah Pras.

Ucapan itu langsung disetujui oleh Tari. Akan tetapi, sebelum jemari lentik Tari berusaha untuk meraih kepala gesper yang menahan jeans yang Pras kenakan.

“Buka dulu, Abang,” bisik Tari selembut mungkin.

Pras membiarkan jemari itu melucuti celananya. Tangannya sudah menemukan mainan baru; selain dada Tari yang memang ia sukai untuk dipermainkan, jangan lupakan bokong sintal yang sejak tadi juga sudah menggodanya untuk diremas. Maka, itulah yang ia lakukan.

Begitu usahanya membuahkan hasil, Tari menyeringai. “Sepertinya, memang ada yang kangen berat.”

“Jangan terlalu banyak bicara. Cepat puaskan.” Pras langsung meraup bibir Tari dengan ciuman penuh nafsu. Tak memberi jeda sedikit pun bagi si wanita untuk sekadar mengisi paru-parunya. Ditahannya tengkuk Tari agar bisa ia perdalam ciumnya.

Sementara di atas pangkuan Pras, Tari mulai bergeliat menggoda. Membuat sesuatu yang sejak tadi sudah menegak, semakin menegang karena gerakan Tari.

Ciuman itu dilepaskan begitu saja. Sebuah keuntungan bagi Tari, karena akhirnya bisa mengambil udara sebanyak mungkin. Tapi sepertinya, Pras hanya memberi sedikit sekali kesempatan untuk Tari bernapas lega. Ketika ujung lidah Pras gunakan untuk menyapu permukaan dada Tari, ia merasa sensasi yang begitu didamba.

Permainan Pras baru dimulai.

Dan Tari tahu kapan akan berakhir. Sampai mereka berdua benar-benar kelelahan, lalu bangun esok harinya.

“Abang!” desah Tari begitu salah satu dadanya memenuhi mulut sang pria. Tangannya tak kuasa untuk menahan diri dari sekadar menyentuh rambut Pras yang ikal tebal ini. Aroma maskulin dari sang pria sudah sejak tadi memenuhi indra penciuman Tari. Serupa candu yang terus membakar Tari agar bisa mengimbangi gerak Pras, Tari semakin bersemangat untuk menggodanya.

Meski mereka belum memasuki satu sama lain, sungguh, ini sudah membuat Tari setengah gila.

Tari menggeram tertahan. Lumatan yang dadanya terima berubah menjadi isapan yang kuat. Seperti seorang bayi yang kelaparan akan makanan dari tubuh sang ibu, maka itulah yang Pras lakukan. Mengisap sekuat tenaga. Meski agak sakit, tetap memberi sensasi yang membuat Tari semakin pening.

Ia sudah tak sabar untuk segera dihujam di bagian bawah sana. Tari juga yakin kalau Pras pasti menunggu hal ini. Maka sekali lagi, jemari lentik itu ia arahkan pada bagian intim yang Pras miliki. Tegang. Mengacung tegak. Kuat. Dan pastinya membuat Tari mendesah hebat. Memenuhi kamarnya ini dengan banyak nama Pras ketika mereka bersatu nanti.

Namun ….

“Bos!”

Pintu terbuka begitu saja. Tari langsung memeluk Pras dan menyembunyikan wajahnya. Meski dirasa tak perlu, mengingat semua orang juga tahu dengan pasti apa yang mereka lakukan berdua di kamar ini, Tari tetap tak ingin diketahui wajahnya yang dibakar gairah.

“Sejak kapan masuk ke kamar ini tanpa izin?” kata Pras dengan nada tak suka. “Ganggu gue saja!”

“Maaf, Bos.” Sejak melihat apa yang bosnya lakukan, si pria tadi menunduk. Dan semakin menunduk karena suara sang bos kentara sekali kemarahannya.

“Ada apa?” Ia tak peduli dengan gangguan yang terjadi. Karena itulah Pras kembali melanjutkan kegiatannya. “Jangan berhenti bergerak, Tari. Lo tahu harus apa.”

Tari agak ragu, tapi tak mau membantah ucapan Pras. Ia pun kembali menggerakkan pinggulnya. Sementara Pras kembali mempermainkan dada Tari juga memelintir ujung puting yang sudah membusung menggoda ini.

“Kami sudah membawa gadis yang Bos incar,” kata Rudi, si pesuruh berkepala plontos dengan tindikan di telinga kanannya.

Gerak Pras berhenti begitu saja. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia menyingkirkan Tari yang ada di pangkuannya. Dengan cepat juga Pras mengancingkan kembali celana.

“Di mana dia?”

“Di ruang kerja, Bos.”

Tanpa pamit, juga tanpa mengatakan apa pun, Pras pergi meninggalkan Tari dengan ribuan tanya.

Barulah Tari tahu, gadis seperti apa yang dibawa para pesuruh Pras ke sini. Tak akan Tari biarkan gadis ini menjadi ancaman di masa depan.

Tidak akan.

Tangannya mengepal kuat disertai dengan gigi yang beradu pertanda kekesalannya memuncak semakin tinggi. Ia juga tak bisa menemukan Pras di rumah ini. Rudi bilang, Pras menuju Diskotek Flown karena ada urusan.

Andai saja tak ada gangguan dari gadis yang Tari tahu masih mengikutinya, pastilah tadi ia sudah terbang ke nirwana dunia bersama Pras.

Sial sekali!

“Masuk,” perintah Tari dengan kasar.

Menunjuk pada satu kamar yang terletak di lantai dua rumah besar ini. Banyak yang tinggal di lantai dua ini termasuk para wanita simpanan lain yang jarang Pras kunjungi. Termasuk ia tempatkan gadis yang mengganggu kesenangannya ini. Sementara ia tinggal di lantai tiga di kamar yang cukup luas dan tertata indah. Di sebelah kamarnya sudah jelas adalah milik Pras.

Lavi menatap wanita itu dengan tatapan menghunus. Ia masih terdiam di belakang sang wanita. Melongok sekilas pada kamar yang akan ia tempati entah sampai kapan. Aroma pengap serta pencahayaannya sangat minim di sini.

“Masuk, gue bilang!” Tari menarik Lavi dengan sekali sentak. “Jangan banyak ulah atau lo tahu akibatnya!”

Lavi sama sekali tak bicara. Hanya matanya yang terus menatap Tari dengan tajam. Hal ini juga membuat kemarahan dalam diri Tari semakin besar. Membuatnya melayangkan tamparan cukup kuat pada wajah Lavi. Tari berharap ada ketakutan di sorot mata Lavi karena tindakannya. Sayangnya, hal itu tak terjadi.

Lavi justru semakin menantang Tari. Meski tangannya memegangi wajah yang terasa panas karena tamparan Tari barusan.

“Lo!” tunjuk Tari dengan murkanya. “Berani lo bertingkah di sini, gue enggak akan segan bikin lo tersiksa!”

Satu dorongan kuat Lavi terima sampai ia terjerembap. Persis sekali dorongan tadi juga mengenai dadanya yang makin terasa ngilu. Lalu, pintu itu tertutup begitu saja dengan suara bantingan yang cukup keras. Baginya, pintu itu serupa dengan jalan kebebasannya. Yang kini sudah tak ada lagi cahayanya.

Sama seperti dirinya yang kini memeluk kaki. Menangis, memikirkan nasib buruk apa yang akan menimpanya. Entah sampai kapan ia akan berada di sini. Rasanya, Lavi ingin memilih untuk mati saja.

“Semua ini karena Ayah!” desisnya di antara derai air mata yang sejak tadi menguasai.

“SIALAN!!!”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MMC" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MMC
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK
9.7
Demi membalas kepedihan atas kematian sang ibu, Anggara nekat menculik Almaira. Ia bertekad menyiksa ayah gadis itu dengan cara memisahkan mereka selamanya. Namun, kedekatan yang terjalin justru menumbuhkan perasaan tak terduga di hati Anggara. Kini ia terjebak dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai bersemi. Mampukah kasih sayang menghapus dendam membara, sementara Almaira sendiri sangat membenci sosok yang telah menyekapnya?
Sampul Novel My Beloved Bastard
9.3
Cullen Kyleer adalah pria arogan yang bertindak sesuka hati. Hidupnya berubah setelah bertemu Jasmeen, penulis novel bergenre gore. Namun, Jasmeen justru terjebak dalam obsesi gelap Cullen yang posesif dan mesum. Cullen terus memaksa Jasmeen memenuhi hasratnya sambil menebar ancaman maut bagi pria lain yang mendekat. Hubungan penuh kekerasan dan pelecehan seksual ini mengikat Jasmeen dalam gairah berbahaya yang tak terkendali di bawah kuasa Cullen.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3
9.5
Pasca bersua orang tuanya, Permana Brata mengabdikan diri demi memulihkan kesehatan Ki Sasmaya. Pemilik Pedang Kebenaran Sejati ini bertekad membalas jasa sang guru. Namun, tantangan besar muncul saat gerombolan Musto Ireng menebar teror melalui aksi perampokan serta penculikan. Demi mencegah kehancuran dunia persilatan dari cengkeraman pemberontak yang kejam tersebut, Permana pun bergerak cepat untuk menumpas segala kekacauan yang sedang melanda.
Sampul Novel Purba Mahkota
8.2
Tujuh putri bersaudara yang dulu hidup rukun kini terjebak dalam konflik berdarah demi memperebutkan takhta Putri Purba. Kekacauan memuncak saat mahkota justru jatuh ke tangan Purbasari, putri yang tidak pernah menginginkan kekuasaan. Purbararang, sang kakak tertua yang ambisius, harus menelan kepahitan di balik jeruji besi. Di tengah kekalahan yang menyakitkan, ia meratapi kasih sayangnya yang tulus kepada adiknya sebagai kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Sampul Novel Racun Dokter Hancurkan Hidupku
9.4
Demi menyelamatkan pernikahan dari rasa nyeri misterius, aku mendatangi Dr. Victor. Namun, ia justru membius dan melecehkanku demi video pemerasan. Aku terjebak kecanduan aneh hingga diagnosa rumah sakit lain mengungkap fakta mengerikan: Dr. Victor sengaja meracuniku dengan stimulan dosis tinggi agar aku terus bergantung padanya. Kini, rasa takutku berubah menjadi amarah yang dingin. Aku akan kembali ke kliniknya untuk menuntut balas dendam yang setimpal.
Sampul Novel RAHASIA SANG BODYGUARD
8.3
Bukan kisah cinderella, ini tentang Kinara yang hidupnya berubah menjadi teror mengerikan. Demi keamanan, ia menyewa Satria sebagai bodyguard. Meski Satria sangat tampan, Nara tetap waspada karena ia percaya ketampanan adalah alat tipu daya. Saat Satria mencoba memikat hatinya, rahasia gelap perlahan terkuak. Identitas asli Satria ternyata adalah Ghazi Ammar Fahrezi, pria misterius yang memiliki kaitan erat dengan trauma masa lalu Nara yang sangat kelam.