
TAWANAN CEO DINGIN
Bab 2
“Halo. Duduklah, Serenna.”
Madamme Bianca mempersilakanku untuk duduk. Sedangkan Anna meninggalkanku di ruangan ini seorang diri.
Aku menggigit bibirku, canggung lagi takut.
“Aku sudah mengetahui dirimu dari Anna. Kau belum berusia 18 tahun, kan?”
Kugelengkan kepalaku. “Saya berusia 17 tahun.”
Setidaknya, di usiaku yang tergolong belia ini, aku sudah mendapatkan kartu identitas dari pemerintah negara Westtia. Meskipun tahun depan, aku baru boleh bekerja.
Aku menganggukkan kepala.
Madamme Bianca pun mengulurkan perjanjian kontrak di depanku. Isinya adalah perjanjian pekerjaan paruh waktu. Ternyata, satu hari aku hanya akan mendapatkan satu klien dalam jangka waktu satu bulan sebagai masa percobaan. Sedangkan di bulan depannya, aku baru boleh mendapatkan klien lebih dari satu dalam satu hari.
Sebelum menandatangi kontrak, aku mencoba untuk bertanya. “Seberapa jauh ... hubunganku dengan klien nantinya? Aku tak bisa ... untuk tidur bersama dengan mereka.”
Perempuan gemuk di depanku ini tertawa. Bibir merahnya itu menganga lebar dengan tawanya. “Hahaha! Hahahah!”
Aku terdiam, merasa itu tak lucu.
Karena tanggapanku yang super dingin, Madamme Bianca pun menyipitkan mata. “Bukankah kepuasan klien adalah prioritas perusahaan?”
“Aku tetap tak bisa melakukannya.” Aku menegaskan. Sama sekali aku menjunjung tinggi keperawananku ini. Bejat mana yang mau mencabuliku, tak akan kubiarkan sedikit pun!
Lebih baik aku mati daripada berzina.
Bukannya aku sok suci, tetapi tindak keji itu hanya akan merugikanku.
“Hahaha. Rupanya kau adalah orang yang keras kepala.”
“Aku akan angkat kaki dari tempat ini sekarang, jika kau akan memberikan keleluasaan bagi klien untuk menjamah tubuhku.”
“Hahaha. Sombong sekalii kau, Nona Muda. Kau sudah kuberikan pekerjaan, tetapi kau masih menawar?”
“Kau yang akan kehilangan aset seperti diriku. Muda dan cantik. Aku yakin, kau akan mendapatkan banyak klien.”
Senyuman jahatku terpulas. Aku tak berbohong, kok. Wajahku memang cantik. Luar biasa, bahkan. Dengan kecantikanku, aku bisa menaklukan satu pria hanya dalam waktu sepuluh menit.
Jangan tanya seberapa banyak lelaki di sekolah yang menaksirku.
Madamme Bianca juga menyadari, wajah dan bentuk tubuhku yang proporsional lagi sintal bak gitar spanyol ini menggaet banyak pelanggan. Ia mendengus. “Cih. Baiklah. Aku akan memberikan peraturan khusus untukmu. Sebagai gantinya, kau hanya mendapatkan bayaran 100$ per jam.”
“Itu sudah lebih dari cukup untukku.”
Deal. Perjanjian ini selesai. Aku dan Madamme Bianca bersepakat. Perempuan gendut itu juga mengatakan kalau aku harus merahasiakan perlakukan khusus atas diriku. Karena, tak banyak ‘pria nakal’ yang meminta lebih daripada seharusnya. Mereka yang melanggar kontrak sendiri.
Dan terkhusus untuk diriku, Madamme Bianca akan mewanti-wanti klien dengan alasan aku yang masih belia.
“Kalau begitu, akan kuberikan kau kartu identitas baru nantinya. Semua orang di sini juga demikian. Mereka punya identitas baru.”
Madamme Bianca memberikan kartu nama baru untukku. Queen Aprodithe, mahasiswa Universitas S, jurusan Ilmu Komunikasi, berusia 20 tahun. Yah, profil yang cukup bagus.
Ketika aku selesai membaca kartu namaku, Anna muncul dengan wajah panik. “Ada klien baru yang mendadak datang. Ia akan membayar berapa pun untuk pertemuannya yang urgent ini.”
“Berikan saja Camelia atau Jean. Mereka sangat profesional.” kata Madamme Bianca.
Anna menggelengkan kepalanya. “Sayangnya, semua talent saat ini sedang pergi. Aku sudah membuatkan jadwal untuk mereka semua sejak kemarin.”
Madamme Bianca pun terantuk kepadaku.
Aku meringis. “Jangan bilang kalau ....”
“Tidak ada pilihan lain. Daripada menolak klien?” tanya Madamme Bianca.
Aku membuang napas panjang. Menelan ludahku sendiri. Padahal, aku tak ingin bekerja sekarang. Maksudku, sekarang ini!
Masih ada beberapa hal yang kuurus. Seperti Louise, Manager Toko yang pasti akan gencar mencariku karena aku menghilang di shift malam nanti. Setidaknya aku harus menjelaskan kepadanya.
Akan tetapi ...
“Kau harus berangkat. Sekarang juga.” Madamme Bianca memutuskan. Sebuah hal yang tak bisa diganggu gugat.
Manakala aku bangkit untuk menghadapi klien, Madamme Bianca mengingatkan.
“Ingat, nama barumu adalah ... Queen Aprodithe.”
* * *
Ketika aku keluar dari ruangan Madamme Bianca, Anna memberikan overview terkait dengan klien. Ia bernama Claude Weston. Tak kusangka, dia adalah seorang CEO muda berusia 28 tahun. Ia melanjutkan usaha orang tuanya sebagai desainer pakaian Cladius. Aku bahkan tahu, harga pakaian merk Cladius saja bisa mencapai jutaan dollar. Tak heran, Ia sangat-sangat-sangat kaya. Begitulah kata Anna.
“Kenapa orang se-kaya dia ada di sini? Bukannya orang kaya seperti dia bisa dengan mudah cari pacar?”
“Huh. Justru itu. Banyak orang kaya yang kesusahan cari pacar. Perempuan yang gila harta dan bisa menjilat, atau perempuan yang cinta setengah mati bisa menjadi bumerang bagi mereka.”
“Mereka tak mau ambil pusing. Memilih untuk pergi bersama dengan kita. Tak punya resiko.”
Aku manggut-manggut. Benar juga apa yang dikatakan oleh Anna.
Kami pun masuk ke dalam ruang tamu VVIP. Aku melihat Claude yang sudah bangkit. Kupikir, dia adalah om-om yang berjenggot dan berkumis.
Tetapi, dia malah tampan! Pakaiannya jelas branded produknya sendiri. Ia juga menggunakan jam tangan merk GUCCY yang berjuta-juta. Aku yakin, pakaiannya itu bisa untuk menghidupiku selama satu bulan. Saking mewahnya.
Karena aku bengong, Anna pun melemparkan pandangannya kepadaku. Ia mendelik.
“Ah, perkenalkan namaku Queen Aprodithe. Panggil saja Queen, Tuan.”
Tanpa kuduga, mendadak Claude menggebrak meja. Matanya itu melotot sampai mau lepas dari tempatnya. “Apa-apaan kau!? Kenapa kau membawa bocah sekecil ini?! Dia bahkan hampir seumuran dengan adikku!! Bukannya dikira berpacaran, kami seperti kakak-adik!!!”
Dia menggertak. Marah. Sangat amat menakutkan.
Jantungku bahkan berdebar saking takutnya.
Herannya, Anna tetap tenang. “Memangnya Tuan Claude mau pergi bersamaku atau atasan tempat ini yang berusia empat puluh tahunan?”
“Tetapi, kenapa aku disandingkan dengan anak sekecil dia?! Dia terlihat ringkih! Mana bisa menghadapi orang tuaku!”
“Aku tak bisa pergi dengannya!”
Seketika, tanganku terkepal. Kemarahanku menjelma. Kenapa om-om ini menolakku? Apa maksudnya aku tak bisa menghadapi orang tuanya? Dia meremehkanku?! YANG BENAR SAJA!
Rahangku bergemerutuk. Perasaan takutku melenyap. Hangus entah ke mana. Bergantian dengan amarah yang besar.
“Tuan, aku sudah berusia dua puluh tahun. Wajahku ini memang awet muda! Tetapi, jangan sampai Tuan merendahkanku hanya karena aku masih muda!”
“Oh, kau berani berkata songong padaku?!”
“Memangnya kenapa? Adakah alasan aku untuk tak bicara? Tuan sendiri tadi yang mengatakan, kalau seseorang yang dibutuhkan untuk bertemu orang tua Tuan adalah yang berani?”
“Apakah Tuan memandang nyaliku ini kurang?”
Claude menyeringai. Ia masih tampak meremehkanku. Namun, dia pun berkata. “Baiklah. Aku akan membawamu. Aku lihat sendiri apakah mulut besarmu itu bisa menghadapi orang tuaku.”
Anna mengerjap. Ia menggelengkan kepalanya.
Namun, tekadku sudah membara. Aku ini memang masih terlalu muda. Emosiku masih bergejolak dan tak stabil.
Tetapi, aku ingin membuktikan kepada si Claude sialan ini, kalau aku juga bisa menghadapi orang tuanya. Memangnya segila apa sih orang tua Claude!
“Ayo kita berangkat.”
Claude pun berjalan di depanku dengan langkahnya yang lebar.
* * *
Anda Mungkin Juga Suka





