
TAWANAN CEO DINGIN
Bab 3
Kami berdua masuk ke dalam mobil. Gila abis. Mobilnya ini sangat amat luar biasa. Desainnya begitu mewah. Kursinya nyaman dan empuk. Sudah pasti, dia ini sangat amat kaya raya!
Sepanjang perjalanan, Claude menjelaskan tugasku. Yah, tugasnya sederhana. Aku hanya perlu bertemu dengan orang tuanya. Membuktikan kalau dia bukanlah bujang lapuk.
“Sialan kedua orang tuaku itu. Dia berpikir aku ini tak laku-laku.”
“Padahal standarmu saja yang terlalu tinggi.” gumamku tanpa sadar. Lelaki semacam Claude yang dingin nan menyebalkan, mana mungkin mau dengan perempuan rendahan.
Kriterianya kujamin sangat tinggi. Cantik dengan kulit putih bersinar, kepribadian mempesona, terlebih dengan kekayaan yang setara.
Laki-laki kan mencari yang sebanding. Sedangkan wanita mencari yang lebih tinggi derajatnya.
“Cih. Kau paham juga, bocah kecil.”
Aku mendengus. Lihat apa kataku?
“Mungkin nanti orang tuamu tak akan suka padaku.”
“Tentu saja. Aku saja kalau tak terpaksa, tak ingin pergi dengan gadis miskin yang udik.”
Ingin sekali rasanya kucekik saja leher Claude. Sudah dibantu, malah tak tahu diri. Jauh-jauh deh lelaki macam dia!
Aku memutuskan untuk menutup mulutku. Tak ada gunanya berbicara dengan patung yang kejam lagi sombong. Lebih baik aku memikirkan strategi macam apa yang akan kuhadapi, tatkala bertemu dengan orang tua Claude.
* * *
BYURRR!!!
Adegan yang semula kukira hanya di televisi belaka pun benar-benar terjadi kepadaku. Aku disiram air! Aku. Disiram. Air!!!
Tuan Erick, Ayah Claude mendadak marah kepadaku manakala aku memperkenalkan diri! Dia menyimpulkan dari penampilanku yang baginya terlihat biasa saja. Dia sudah tahu, kalau pakaianku bukan merk mahal.
“Gadis miskin! Beraninya kau berpacaran dengan Claude!! Aku pikir kalau Claude berpacaran, dia akan memiliki pacar yang sepantaran!”
“Tetapi, apa ini?! Dia bahkan masih mahasiswa!! Kau hanya menghasut Claude, kan?!”
Aku tetap tersenyum pada kondisi tersebut. “Kita tak tahu masa depan seseorang, Tuan Erick.”
PLAK!!
Ia menampar pipiku. Dengan sangat keras. “Jangan berbicara apa pun, perempuan penggoda! Mulutmu itu tak pernah sekolah!!”
Seketika, Tuan Erick pun memanggil petugas. Para petugas berdatangan dengan cepat. “BAWA PERGI GADIS JALANG TAK TAHU DIRI INI!!”
Kuberikan seringai terburukku. “Aku tak akan pernah melepaskan Claude. Sedikit pun.”
Erick berubah kalap. Ia menjambak rambutku. “Apa kau bilang?!!!”
Situasi di sini berubah sangat runyam. Aku tetap diam saja. Sedangkan Odeth, Ibu Claude dan anaknya itu bersikeras melerai kami.
Tetapi, tarikan rambut dari Tuan Erick sangat kencang. Kepalaku terasa pedas. Kulit kepalaku tertarik. Aku menahan diri untuk tak menangis.
Tuhan, kenapa pekerjaanku juga semenyedihkan ini? Aku harus direndahkan dan terluka.
Sungguh, ini adalah sebuah pertemuan yang gagal. Gagal total.
* * *
“Sudah kuduga Ayahku akan begitu.” kata Claude manakala kami berdua bisa terbebas dari Tuan Erick. Para petugas menenangkan Tuan Erick, sementrara Claude membawaku pergi secepat mungkin.
Beberapa karyawan mencuri-curi pandang ke arahku. Apalagi kalau bukan tampilanku yang acak-acakan. Rambutku yang basah menjuntai ke sana kemari. Dan lagi, pakaianku juga ikut basah.
Claude melirik ke arah tubuhku. Ah, sudah pasti bajuku menerawang. Mau bagaimana lagi. Toh nanti juga aku tinggal naik taksi untuk pulang.
PLUK.
Mendadak sebuah jas pun jatuh ke tubuhku. “A-apa ini?”
“Di sini kau masih pacarku.”
Dia pasti merasa bersalah. Apalagi aku sudah ditampar, dijambak, disiram air lagi. Triple combo.
Manakala aku hendak memberhentikan taksi, ia mencegatku. “Aku antarkan saja. Masa iya aku membiarkanmu berkeliaran dengan rambut dan baju yang basah.”
Dia ingin membalas keburukan orang tuanya rupanya. Tetapi, aku menolaknya dengan halus. Bahaya jika Claude tahu rumahku.
Identitas Queen Aprodithe harus dirahasiakan. “Terima kasih, tetapi lain kali saja.”
Kutolak halus permintaan darinya. Lantas aku pun pergi dengan taksi yang muncul di depanku.
Ah, sial ...
Saat aku menyalahkan nasib di dalam taksi, sebuah pesan pun masuk. Kubuka ponselku sendiri. Pesan dari Anna.
[Tuan Claude sudah membayarkan kepada kami. Besok kau datang ke kantor untuk mengisi data rekening dan juga mengurus hal lainnya.
NB. Dia juga memberikan tip cukup banyak untukmu. Kerja bagus, Queen.]
Aku menghela napas. Semuanya memang bisa dibayarkan dengan uang ya... Bahkan termasuk harga diriku.
Ingatan mengerikan tadi memasuki otakku. “Semoga aku tak perlu bertemu dengan Tuan Erick lagi.”
Bisa gila aku kalau bertemu dengan Tuan Erick ataupun kasus yang hampir sama dengan Claude.
* * *
Ketika pulang ke indekos, aku menyalakan ponselku. Kulihat ponselku dengan banyak sekali panggilan tak terjawab. Tentu saja ini berasal dari Louise.
Manager toko toserba tempatku bekerja dulu sangat mengkhawatirkan diriku. Ia mengirimiku pesan berkali-kali. Juga mengatakan kalau Ayahku berada di sana.
“Ah ... Kenapa masalah selalu datang kepadaku tanpa aku meminta?”
“Apakah tak bisa aku bernapas sejenak?”
Sebuah telepon pun masuk. Sepertinya Louise sudah tahu kalau ponselku telah aktif. Aku menyeringai, “Halo, Louise.”
“Kau tak mau datang ke sini?” suaranya berbisik-bisik.
“Ah, soal itu ... Aku minta maaf, Louise. Aku berniat untuk mengundurkan diri dari toko. Tapi, aku belum sempat memberikan surat pengundurkan diri.”
“Kau akan keluar?! Hei, jangan bercanda!!” Nadanya yang berbisik itu berubah panik.
Mendadak, suara lain terdengar tumpang tindih. Berikutnya, aku mendengar suara dari orang yang paling kubenci. Tak lain dan tak bukan adalah ayahku yang keparat itu!!
“Wah-wah ... Kau pikir aku tak mendengarnya?! Kau mau keluar, hah?! Pulanglah, keparat!”
“Ayah!”
“Anak setan! Aku selama ini sudah menyekolahkanmu dan mengeluarkan –“
BIP!! Sengaja aku matikan ponselku. Aku masih tak mau mendengar ocehan buruk Ayahku lagi.
Aku tahu ini adalah tindakan durhaka dan paling jahat.
Namun, apa yang bisa aku lakukan jika aku mendengarkannya? Dan dia akan memarahiku lagi?
Aku tak bisa.
Sudah cukup berat dengan pekerjaanku dan masalah keuanganku sendiri. Tak perlu direpotkan lagi dengan sosok Ayah yang seperti benalu.
Ayahku masih sehat bugar, semestinya dia berpikir untuk menghidupi dirinya sendiri. Seharusnya.
* * *
Seusai pulang sekolah, aku segera datang ke Cupid Company. Aku mengurus data administrasi yang kemarin belum tuntas kuselesaikan. Dan juga mendapatkan jadwal lain pada hari ini.
Kulihat biodatanya. Namanya adalah Edwin Petterson. Tujuannya hanya ingin berjalan-jalan berdua di akuarium saja.
“Hanya ini?” tanyaku tak percaya.
“Ya. Ada banyak kok laki-laki yang ingin berjalan-jalan dengan perempuan. Salah satunya Edwin ini.”
Aku manggut-manggut. Menuju ke ruang lain untuk mengganti pakaian.
Sungguh rasanya aku bersyukur. Tak lagi bertemu dengan klien menyebalkan sebagaimana Claude kemarin. Aku bisa menikmati akuarium dengan lega nanti.
Sengaja menggunakan gaun berwarna putih dengan rok pendek di atas lutut. Memperlihatkan kakiku yang jenjang dan juga tubuhku yang indah.
Aku meringis, memberikan pulasan terakhir di bibirku supaya merona indah.
Kulangkahkan kaki dengan penuh percaya diri. Tiba di ruang tamu, aku membeliak kaget...
Ternyata ... Dia adalah Edwin. Salah satu teman satu kelas tatkala kelas X.
“Serenna?” Ia bertanya.
Aku mengerjap.
* * *
Anda Mungkin Juga Suka





