Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tarian Aksara

Tarian Aksara

Di bawah langit senja yang merona, Ara meratapi nasibnya dari atas kursi roda. Ia merasa takdir begitu kejam hingga air matanya terus mengalir. Aksa, sahabat setianya, berusaha menguatkan Ara dengan janji untuk selalu mendampingi gadis bermata hazel itu. Meski Ara merasa hidupnya kini penuh dengan ironi yang menyakitkan, Aksa memohon agar ia tidak menyerah pada keadaan. Ini adalah kisah tentang perjuangan menerima kenyataan pahit di tengah dukungan tulus.
Bab
Bagikan

Bab 1

[Hallo, iya kenapa, Ma?]

Dari arah seberang telepon tersebut, terdengar suara jawaban. [Kamu sekarang ada dimana, Kiara?]

Kiara yang masih berkutat dengan pekerjaannya juga beberapa kertas dokumen dalam genggaman tangannya, menyempatkan waktu untuk menjawab telepon dari ibunya itu. Ia selalu mengutamakan apa pun yang berasal dari keluarganya, meski saat ini bisa dibilang tengah sibuk.

Kiara mengangkat tangan kirinya yang terpasang jam tangan magnet tersebut. [Kiara masih di kantor Ma, memangnya ada hal yang mau dititipkan, kah?]

Anindita dari seberang panggilan telpon hanya menghembuskan napasnya kasar, dan tak berucap sepatah kata pun. Kiara bahkan sangat memahami apa maksud dari hal tersebut, dan terkekeh pelan.

[Mama ada perlu sesuatu yah? Bilang aja apa, nanti Kiara usahakan kok,] ucap Kiara dengan mata yang tak teralih sama sekali pada berkas yang berserakan di atas meja tersebut.

Anindita tersenyum cerah. [Beneran yah kamu, jangan bohong loh ini. Mama sebenernya lagi pengen banget tas yang branded dan itu ... udah lama sekali diincar, dan sekarang kesempatan itu akhirnya Mama dapat.]

Kiara menganggukkan kepala dan menjawab dengan deheman, untuk terus mendengar ucapan dari Anindita tersebut.

[Jadi, Kiara harus apa, Mamaku sayang,] ucap Kiara disertai napas lelah.

[Kamu bisa gak tolong ambilkan tas tersebut di salah satu toko dan letaknya itu lantai ke dua Mall City, bisa?] tanya Anindita merasa was-was.

"Sudah biasa Kiara," batin Kiara saat mendengar ucapan dari Anindita yang menyuruhnya untuk pergi dan mengambil barang pesanan tersebut, disaat pekerjaan sangat menumpuk dan banyak sekali yang harus ia lakukan kali ini.

Kiara menghela napas, untuk kemudian ia menjawab, [Habis pulang kerja aja gimana? Kalau sekarang Kiara lagi sibuk banget dan gak mungkin bisa untuk ke sana.]

[Dasar anak kurang ajar! Mama mau kamu ke sana sekarang juga, gak ada alasan lain! Itu impian Mama untuk punya barang tersebut, kamu ini gimana sih? Gak pengertian sekali dengan orangtua.]

Sambungan telepon akhirnya terputus dan Kiara tertegun dengan ucapan yang terlontar dari Anindita barusan. Apa ia salah sekarang? Ah, mungkin benar ini adalah kesalahannya, lagi pula semua pekerjaan ini akan ia selesaikan setelah selesai mengambil barang tersebut.

Kiara mengetikkan sesuatu pada layar ponsel tersebut, dan dengan cepat ia mengirimkannya. Setelah itu dengan segera ia kembali membereskan semua berkas yang ada di atas meja untuk kemudian diletakkan pada laci.

"Huh! Semoga terkejar dengan deadline besok nanti," gumam Kiara dengan napas lelahnya.

Kiara sebenarnya sedikit bingung dengan keinginan Anindita yang selalu saja tidak pernah melihat betapa sibuknya ia dengan semua pekerjaan tersebut, dan kenapa harus dan mesti untuk dilakukan setiap kali meminta sesuatu tanpa pernah ingin mengerti situasi dan kondisinya.

Kiara membuka knop pintu, dan berpapasan dengan Aksa yang hendak saja masuk ke dalam ruangannya.

"Ara, lo kenapa deh muka lemes gitu?" tanya Aksa dengan kening berkerut karena merasa aneh pada Kiara yang tumben sekali cemberut dan lesu seperti itu.

Kiara menatap malas ke ara Aksa yang tengah berhadapan dengan dirinya saat ini, dan kembali melangkahkan kaki dengan tangan kanan memegang ponsel sekaligus kunci mobil.

"Gue tuh capek banget, Aksa! Kerjaan lagi banyak dan sekarang ... Mama maksa aku untuk pergi ke toko untuk ambil tas impiannya," keluh Kiara dengan berjalan lunglai.

Aksa yang mengikuti Kiara berjalan dari sampingnya, hanya menggelengkan kepala saja. Tidak habis pikir, dan ia juga tidak mengeluarkan komentar sama sekali.

"Sabar yah," ucap Aksa dengan tangan yang menyentuh bahu Kiara dan mengelus lembut. "Atau gini aja, Ra! Lo masuk ke dalam dan kerja, untuk masalah tas itu biar gue yang ambil, gimana?"

Kiara menatap selintas Aksa yang tengah memberikan penawaran sangat menarik untuk dirinya saat ini, akan tetapi dengan cepat ia tolak karena ini adalah tanggung jawabnya sebagai anak yang harus berbakti pada orangtua.

"Makasih Aksa, udah nawarin ini sama gue. Tapi keknya gak deh, biar gue aja yang ambil," tolak Kiara dengan halus agar Aksa bisa paham dengan maksudnya.

Aksa hanya mengangguk pelan dan mengerti, ia juga tak akan memaksa apa pun yang sudah menjadi keputusan dari Kiara.

"Apa kata lo aja, Ra! Hati-hati di jalannya, dan jangan ngebut itu bawa mobil, gue tunggu di ruangan lo," ucap Aksa dengan senyum dan tangan yang mengusap puncak kepala dari Kiara.

Kiara menatap Aksa dengan lesu dan anggukan pelan. "Okey, tunggu aja di ruangan gue, pasti gue akan pulang secepatnya setelah ambil barang tersebut."

"Okey." Aksa melihat tubuh Kiara yang kini mulai menjauh dari pandangannya saat ini.

Kiara berjalan dengan cepat untuk menuju parkiran kendaraan yang ada di kantornya, memencet tombol yang ada di kunci dan terdengar suara bel dari mobilnya.

"Huh, semoga gak telat gue ke sana," gumam Kiara sembari tubuh yang menunduk dan mulai masuk ke dalam mobil, dan duduk di tempa kemudi.

Kiara mulai menyalakan mesin mobilnya itu, dan dengan perlahan tapi pasti akhirnya bergerak untuk menuju ke jalan raya.

Kiara dengan fokus dan kecepatan yang ia tinggikan agar bisa cepat sampai di tempat yang saat ini hendak ia tuju. Hati yang berdebar was-was karena dua hal yang tengah menanti dan harus ia dapatkan kini, pertama pekerjaan yang belum juga kelar, dan kedua Anindita yang menyuruhnya untuk pergi ke salah satu mall dan jarak tempuhnya cukup jauh dari kantor.

"Tuhan, semoga lancar kali ini!" Kiara dengan tatapan mata yang lurus ke depan, dan juga laju yang kini sudah di atas rata-rata.

Lampu merah mulai telihat di mata Kiara, dan anehnya ia tidak bisa sama sekali untuk menurunkan kecepatan laju kendaraannya saat ini, dan dengan panik ia menekan kuat pedal rem yang ada di bawah kakinya saat ini. Namun, tetap tak ada reaksi sama sekali, dan ia menangis di tengah kekalutan saat ini.

"Ya Tuhan! Mobil Ara kenapa ini? Kenapa tidak bisa dihentikan sama sekali?"

"Tuhan, Ara takut kalau gini ceritanya."

Beruntungnya jalanan nampak lenggang karena di jam seperti ini hanya ada beberapa orang yang ada di luar, dan selebihnya tengah sibuk bekerja.

Lampu merah sudah terpasang dengan jelas dan Kiara melihatnya dengan sangat baik. Air mata, keringat dingin, bahkan sudah keluar dan bercampur aduk seiring matanya menangkap truk yang sedang melaju dari arah yang berlawanan, dan dengan cepat ia membanting stir ke kiri untuk menghindar. Naasnya badan mobil terdorong kuat dan membuatnya terpelanting jauh hingga berguling di atas aspal.

"Tuhan! Kenapa ini?" tanya Kiara sebelum matanya berakhir tertutup dan tidak sadarkan diri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Camelia Sinesis
8.3
Tahun 1941 menjadi awal pertemuan Jean dengan Camila, seorang janda mantan istri pria Belanda. Meski Jean mengaku sebagai mantan narapidana kasus pembunuhan, penerimaan hangat Camila membuatnya merasa kembali menjadi manusia. Namun, Camila tidak menyadari bahwa korban Jean adalah suaminya sendiri. Saat fakta terungkap, segalanya sudah terlambat. Jean telah menganggap Camila sebagai rumah, sementara Camila melihat Jean sebagai sosok ayah bagi anak-anaknya.
Sampul Novel Cinta Si Kembar (TWINS LOVE)
9.0
Demi membiayai pengobatan sang ibu yang kritis, Maya terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak dari Reno. Di sisi lain, Reno sengaja memanfaatkan situasi sulit Maya untuk menjeratnya dalam ikatan legal yang menguntungkan. Bagi Reno, pernikahan ini hanyalah strategi licik untuk mengamankan harta warisan keluarga sekaligus memperkuat dominasinya di perusahaan. Mereka terjebak dalam kesepakatan gelap yang didasari oleh ambisi dan kebutuhan mendesak.
Sampul Novel Dicerai kakak Dinikahi adik
8.0
Pasca bercerai dari Win, Iyas berjuang menata kembali hidupnya yang sempat hancur. Ia mencoba bangkit dengan membuka toko bunga demi melupakan masa lalu kelam. Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Bhaga, adik kandung mantan suaminya. Meski Bhaga adalah bagian dari sumber luka lamanya, pria itu justru hadir memberikan kenyamanan. Di tengah dilema antara benci dan rasa trauma, Iyas mulai merasa kembali berharga dan layak untuk dicintai olehnya.
Sampul Novel Hold My Hand
8.0
Pasca kepergian orang tua angkat mereka, Khanza menyadari adanya getaran asmara yang tak biasa terhadap kakaknya, Barra. Meski tidak memiliki ikatan darah, status sebagai saudara membuat batin Khanza tersiksa oleh kebimbangan yang mendalam. Hubungan rumit ini semakin diuji saat mereka terjebak dalam pusaran konflik besar. Situasi kian mencekam ketika Barra terseret dalam sebuah kasus pembunuhan yang mengancam masa depan dan rahasia hati mereka berdua.
Sampul Novel I love you driver handsome
9.4
Bryan Alyson Becker, bintang sepak bola internasional yang kini berkarier di Indonesia, harus menjalani peran tak terduga sebagai seorang sopir rahasia dengan nama samaran Geo. Di balik kemudi, ia dipertemukan dengan Jesica Angeline, sosok wanita yang dikenal sangat angkuh dan sombong. Akankah pesona serta kesabaran Bryan mampu meluluhkan hati Jesica yang keras? Ikuti perjuangan sang atlet dalam menaklukkan keangkuhan wanita tersebut dalam kisah romansa modern ini.
Sampul Novel ISTRI ORANG
8.2
Ayana terjebak dalam kesepian akibat sikap dingin Devaro, suaminya. Di tengah kehampaan itu, kehadiran Javier sang bos memberikan warna baru hingga Ayana jatuh hati. Tanpa disadari, hubungan terlarang mereka adalah bagian dari rencana balas dendam Javier terhadap Devaro. Namun, niat jahat itu perlahan terkikis oleh cinta tulus yang tumbuh tak terduga. Akankah Devaro sanggup menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah berpaling pada pria yang sangat membencinya?